
Sinar menatap tangannya yang digenggam oleh Nyonya Amalia. Tatapan memohon dari nyonya Amalia membuat Sinar merasa bersalah. Dirinya tidak mau dimadu. Dan Nyonya Amalia sudah merancang supaya pernikahan poligami itu tidak terjadi nantinya. Meskipun begitu. Masih ada rasa takut di hatinya. Bukankah menurut dengan rencana nyonya Amalia pernikahan itu hanya sebagai ajang percobaan?. Sinar takut, pada akhirnya dirinya nanti kalah dan poligami itu benar benar terjadi.
"Tolong Sinar. Tolong ikutlah dengan rencana ku ini. Apapun yang kamu inginkan. Aku akan berusaha memberikan. Asalkan, Danish tetap di rumah ini."
Sebagai seorang ibu. Nyonya Amalia ingin selalu berdekatan dengan putranya. Jika Danish menikahi Sinar itu tanpa menikahi Bintang, Nyonya Amalia mengetahui konsekuensi yang harus diterima oleh Danish. Danish bisa dicoret dari daftar penerima warisan dan bahkan bisa diusir dari rumah itu. Nyonya Amalia tidak menginginkan itu. Danish adalah hartanya yang paling berharga melebihi harta benda yang dia punya.
Keluarga Santosh tidak hanya keluarga terhormat. Keluarga Santosh juga keluarga yang berpengaruh di negeri itu. Apapun tentang keluarganya pasti selalu ingin diketahui oleh masyarakat umum. Termasuk tentang istri Danish nantinya. Inilah yang tidak disukai oleh Santosh. Dia tidak ingin mempunyai menantu yang tidak jelas bibit, bebet dan bobotnya. Sinar tidak mempunyai bibit atau garis keturunan yang sama seperti mereka. Sinar tidak berasal dari Garis keturunan dari keluarga kaya. Apalagi dengan bebet atau status ekonomi. Sinar berasal dari keluarga miskin. Sedangkan dari segi bobot juga Sinar jauh kalah dibandingkan dengan Bintang. Sinar tidak mempunyai pendidikan yang tinggi.
Santosh masih menekankan 3B itu untuk mencari pasangan hidup bagi putranya Danish. Dan semua kriteria itu ada pada Bintang.
Santosh juga memandang pertolongan Sinar atas Danish adalah sesuatu yang bisa dihargai dengan uang. Santosh tidak perduli jika Danish mempunyai janji menikahi Sinar karena pertolongan wanita itu. Bagi Santosh, pertolongan dan bantuan Sinar bisa dihargai dengan sejumlah uang. Santosh bisa menerima Sinar sebagai menantunya jika wanita itu bersedia dipoligami. Santosh sudah merancang rencana. Sinar menjadi istri Danish yang tidak dipublisikan sedangkan Bintang menjadi istri yang diperkenalkan ke masyarakat umum.
Ternyata pemikiran Santosh dan Nyonya Amalia sangat jauh berbeda. Nyonya Amalia sangat berterima kasih atas pertolongan Sinar akan putranya. Bagi nyonya Amalia, tanpa Sinar putranya tidak mungkin kembali pulang ke rumah. Pertolongan yang tidak bisa dihargai oleh apapun termasuk dengan sejumlah uang yang sangat banyak.
Baginya tidak apa apa Danish menikahi Sinar meskipun tanpa menikahi Bintang. Itulah sebabnya. Nyonya Amalia mempunyai rencana tersendiri untuk menjadikan Sinar sebagai istri satu satunya bagi Danish. Bibit dan bebet Sinar memang tidak bisa diubah. Tapi bobot masih bisa diubah dengan mengajari Sinar banyak hal dalam satu tahun pernikahan yang direncanakan nyonya Amalia sehingga Sinar nantinya mempunyai pengetahuan yang luas dan pendidikan sehingga nantinya layak diperkenalkan ke masyarakat umum.
"Bagaimana kalau rencana Nyonya gagal?" tanya Sinar ragu. Keraguan Sinar bukan dirinya yang tidak bisa belajar. Sinar ragu, dirinya bisa belajar seperti keinginan Nyonya Amalia. Tapi Danish tetap menikahi Bintang.
"Aku sangat yakin dengan kamu Sinar. Aku sangat yakin kamu bisa belajar dan menjadi wanita yang pintar dan berkelas. Kamu juga cantik. Hanya dipoles sedikit saja. Aura kamu pasti akan terlihat. Percaya padaku, Sinar."
"Baiklah Nyonya. Aku akan mencoba," jawab Sinar dengan berat hati.
"Mulai hari ini, kamu boleh mengurus Danish. Sinar."
"Mengurus Danish?" tanya Sinar bingung.
"Danish seperti aku. Dia tidak menyukai orang lain masuk ke dalam area pribadinya. Danish pernah membawa kamu ke kamarnya. Itu artinya dia percaya kepada kamu. Sejak masa remaja. Danish tidak memperbolehkan orang lain masuk ke dalam kamarnya jika dia tidak berada di kamar itu. Dia juga lebih sering membersihkan kamar sendiri. Sebagai calon istri Danish. Aku meminta kamu setiap pagi membersihkan kamar Danish dan juga pakaiannya. Kamu bisa Sinar?" tanya Nyonya Amalia.
Sinar mengerutkan keningnya. Tapi setelah Nyonya Amalia menceritakan alasannya. Sinar akhirnya setuju. Nyonya Amalia melakukan itu supaya Danish dan Sinar mempunyai waktu dan alasan untuk bertemu dan berkomunikasi. Sebagai ibu yang mengerti kesibukan Danish. Nyonya Amalia ingin Danish dan Sinar selalu mempunyai waktu berduaan. Danish sudah diketahui umum mempunyai Bintang sebagai calon tunangannya. Membawa Sinar jalan jalan ke tempat keramaian hanya akan menjadi tanda tanya khayalak ramai dan akhirnya bisa membuat gosip yang mengganggu ketenangan keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah Nyonya," jawab Sinar setuju. Sinar memang tidak tinggal di kamar Danish lagi. Sinar sudah menempati kamar belakang atas perintah Santosh. Kamar yang bersebelahan dengan kamar para pekerja.
"Sinar, karena kamu setuju dengan apa yang aku rencanakan. Kamu boleh melakukan apapun di rumah ini. Sebentar lagi kamu akan sah menjadi istri Danish. Anggaplah rumah ini seperti rumah kamu sendiri," kata Nyonya Amalia lagi.
"Terima kasih Nyonya," jawab Sinar. Selama satu minggu ini. Sinar hanya berada di kamar. Wanita itu terlalu sungkan masuk ke dapur atau ke taman belakang rumah.
Nyonya Amalia menarik nafas lega melepas Sinar keluar dari kamar itu. Sedangkan Sinar, keluar dari kamar itu dengan hati yang tidak menentu. Sinar merasa tidak puas jika belum mengetahui tanggapan Danish tentang pertunangannya dengan Bintang maupun pernikahan poligami yang sangat disetujui Santosh.
"Bisa saja, keluarganya lebih miskin dari kita kita yang bekerja sebagai pelayan di rumah ini. Lihat saja pakaian dia ketika baru tiba di rumah ini. Lebih bagus pakaian rumahan kita. Warna pakaiannya sudah kusam. Padahal ya, kalau bepergian itukan pasti pakai pakaian yang terbaik."
"Iya benar. Wajahnya juga biasa saja. Tidak cantik dan tidak jelek. Tapi kok mau ya tuan muda Danish menjadikan dia calon istri. Kalah jauh lah dengan non Bintang."
Sinar menghentikan langkahnya. Dia mendengar pembicaraan dua pekerja yang sedang berada di dapur. Sinar sadar, ternyata kehadirannya di rumah ini hanya bisa diterima oleh Nyonya Amalia. Bahkan para pekerja membiarkan tentang keadaan keluarganya. Sinar jadi memaklumi sikap Santosh yang kurang menerima dirinya sebagai menantu.
"Mbak, mau ambil air minum. Dimana ya?" tanya Sinar. Dia memutuskan masuk ke dapur itu. Bagaimana pun dirinya tidak bisa seperti selama satu minggu ini. Sinar merasa perlu berbaur dengan penghuni rumah itu termasuk kepada para pekerja.
"Air minum di kamar mu sudah habis ya non. Nanti aku antar ya!" jawab seorang wanita muda yang duduk di pojok dapur itu dengan segelas kopi terletak di atas meja di depannya. Jika dilihat dari gaya rambut dan pakaiannya. Dia seperti laki laki. Tapi tonjolan dua gunung kembar di dadanya menunjukkan dia adalah seorang wanita.
Meskipun Sinar ditempatkan di kamar bersebelahan dengan kamar pekerja. Kamar Sinar berbeda dengan kamar pekerja lainnya. Kamar Sinar sudah dilengkapi dengan kamar mandi dan juga dengan fasilitas lainnya seperti televisi, dispenser dan juga kulkas. Sinar bisa dipastikan tidak kekurangan makanan di kamar itu.
Sinar menatap dua wanita yang dia duga yang sedang membicarakan dirinya tadi. Dari cara mereka tidak menjawab pertanyaan Sinar. Sinar merasa dirinya tertolak.
"Mbak, ada yang bisa ku bantu. Aku bosan kalau hanya berdiam diri di kamar," tawar Sinar lagi. Wanita yang sedang sibuk mengupas bawang itu hanya menatap sinis kepada Sinar. Begitu juga dengan wanita yang satu lagi. Wanita itu sedang membuat adonan kue. Dia tidak menjawab pertanyaan Sinar.
"Non Sinar, mau bantu bantu. Mau bantu aku?" tanya wanita itu. Sinar menganggukkan kepalanya.
"Tunggu ya non. Aku habiskan dulu kopinya," kata wanita tomboy itu sambil meraih gelas kopinya. Sinar merasa senang. Karena akhirnya ada yang bisa diajak berbicara nantinya.
"Jangan panggil non. Panggil saja Sinar."
__ADS_1
"Ya benar. Tak seharusnya dipanggil non. Kan belum tentu juga jadi istrinya tuan Danish. Kan masih calon," celutuk wanita yang membuat adonan kue. Sinar hanya terdiam menatap wanita itu.
"Sebenarnya lebih cocok pembantu," sahut wanita yang sedang mengupas bawang.
"Diam kalian. Kalau Tuan Danish mengetahui kalian berbicara seperti itu kepada dia. Kalian pasti dapat hukuman."
"Dan pasti tuan Santosh akan membebaskan kami dari hukuman itu," kata wanita yang sedang membuat adonan kue.
"Mungkinkah ini cara tuan Santosh supaya aku tidak betah di rumah ini?" tanya Sinar dalam hati.
"Yuk non, kita ke taman belakang," ajak wanita tomboy itu. Sinar menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah pria itu.
"Bagaimana aku memanggil mu?" tanya Sinar setelah mereka di taman belakang.
"Panggil sajaTino. Non." Sinar mengerutkan keningnya. Tino seperti nama laki laki baginya. Tapi Sinar tidak bertanya mengapa nama wanita itu Tino. Sinar takut dia tersinggung. Tino sudah mau berteman dengannya. Sinar sangat bersyukur.
"Jangan panggil non. Panggil saja Sinar. Sepertinya kita seumuran."
"Kalau lagi berdua aku panggil Sinar. Tapi kalau ada orang lain. Aku tetap panggil non. Takut dapat hukuman."
"Baiklah terserah kamu saja. Apa yang bisa aku bantu," kata Sinar. Dia menatap taman belakang itu yang sepertinya baru dibersihkan tapi tumpukan daun daun kering belum di buang ke tempat pembuangan sampah.
"Jangan pegang itu. Biarkan saja nanti aku yang membuangnya. Kamu duduklah disini," kata Tino sambil menunjukkan sebuah bangku kayu kepada Sinar.
"Aku hanya duduk saja?"
"Kalau kamu tidak keberatan. Bisa kamu pegang ponsel ini. Dan rekam semua kegiatan yang aku lakukan," jawab Tino sambil memberikan ponsel kepada Sinar yang sudah siap merekam.
"Mulai ya," kata Tino memberikan aba aba kepada Sinar. Sinar pun merekam kegiatan Tino yang sepertinya sedang melakukan stek pada bonsai bonsai indah yang ada di taman itu.
__ADS_1
Sinar tersenyum. Setidaknya dengan seperti ini. Dia tidak berdiam diri di kamar. Bagaimanapun lebih enak mempunyai teman daripada hanya menonton televisi di dalam kamar. Sinar mematikan mode merekam itu ketika Tino memberikan kode kepada dirinya untuk tidak merekam lagi.
"Terima kasih ya Sinar."