
Jatuh cinta, dua kata yang selalu dirasakan dua orang manusia yang berbeda jenis kelamin untuk memulai suatu hubungan. Jatuh cinta juga bisa diartikan proses alami yang terjadi antara dua orang karena adanya ketertarikan baik dari segi fisik maupun dari tingkah laku. Dan sepertinya, Sinar sudah merasakan jatuh cinta kepada Danish.
Wanita mana yang tidak jatuh cinta kepada pria seperti Danish. Dari segi fisik. Ternyata Danish mempunyai wajah yang sangat tampan. Ketampanan pria itu terlihat setelah luka luka di wajah hampir sembuh. Selain itu, Danish juga mempunyai postur tubuh yang tinggi dengan kulit warna sawo matang yang bersih.
Bukan hanya fisik yang membuat Sinar jatuh cinta kepada pria itu. Cara Danish menerima Sinar apa adanya membuat Sinar merasa dihargai. Sinar sudah menceritakan latar belakang keluarga dan pendidikannya kepada Danish. Sinar siap dan tidak keberatan jika karena latar belakang keluarganya, Danish mengurungkan niat untuk menikahi dirinya. Tapi Danish berkata dengan tegas dan mantap akan tetap menikahi dirinya.
Dalam hal hal kecil di rumah itu. Sinar juga dapat merasakan jika Danish selalu mengutamakan kepentingan Sinar daripada dirinya. Sungguh, semua sikap yang diperlihatkan oleh Danish adalah kriteria pria impian Sinar.
Sinar merasa jika Danish juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Tidak jarang, Danish tertangkap basah memperhatikan gerak gerik Sinar dengan senyuman manis di bibirnya.
Seperti saat ini, Danish sedang berdiri di dekat jendela dengan pandangan ke luar. Di halaman rumah, Sinar sedang membersihkan rumput rumput liar yang sedang tumbuh diantara bunga bunga yang ada di halaman rumah itu.
Danish menatap Sinar dengan senyuman manis. Dari jendela itu, Danish mengajak Sinar berbicara dan wanita itu juga menjawabnya.
"Istirahat dulu Sinar, matahari sudah mulai meninggi," kata Danish. Sinar menghentikan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Wanita itu langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci tangannya. Sinar mengetahui jika tatapan Danish masih ke arah dirinya tapi wanita itu pura pura tidak tahu. Sebagai wanita yang sedang jatuh cinta, terkadang dia juga merasa gugup jika berhadapan dengan Danish.
"Tunjukkan telapak tangan mu Sinar," kata Danish setelah mereka duduk berhadapan. Sinar menunjukkan telapak tangannya.
"Aku tidak bisa berlari ke arah mu tadi ketika melihat tangan mu terkena daun berduri itu," kata Danish sambil meneteskan betadine ke luka memanjang yang ada di telapak tangan Sinar.
__ADS_1
Sinar tersenyum, Ternyata ketika dirinya tidak sengaja menarik rumput liar yang berduri, Danish memperhatikannya. Sinar merasa tersanjung dan disayang karena perhatian dari Danish itu. Ini bukan yang pertama kali Sinar mendapatkan perhatian dari Danish. Sejak di malam dimana Danish berjanji akan menikahi Sinar. Sejak saat itu, Sinar dapat merasakan jika perhatian dan cara Danish memperlakukan dirinya layaknya calon istri impian.
Sebagai wanita normal tentu saja, Sinar merasa bahagia mempunyai calon suami yang penyayang dan perhatian. Sinar hanya berharap jika mereka nanti kelak menikah, perhatian dan kasih sayang Danish tidak berubah kepada dirinya.
Dibalik perasaannya yang sudah dalam kepada Danish. Terkadang juga Sinar merasa ragu. Ragu karena belum mengetahui latar belakang keluarga Danish. Dan khawatir jika dirinya tidak bisa diterima oleh keluarga Danish. Bagaimana pun kehidupan di desa dan di kota sangat jauh berbeda.
"Kamu tahu Sinar, melihat kamu terluka seperti ini. Kamu tahu apa yang menjadi keinginan terbesarku saat ini?" tanya Danish.
"Aku kan tidak bisa membaca pikiran kamu. Ya mana ku tahu."
Danish tertawa sambil menatap wajah Sinar. Sikap Danish seperti ini lah salah satu yang disukai oleh Sinar. Meskipun dirinya menjawab pertanyaan Danish dengan jawaban yang tidak jelas. Danish tidak pernah marah.
"Kamu tidak mencoba untuk menebak?. Sinar menggelengkan kepalanya.
Sinar tersipu mendengar perkataan Danish. Dia juga berharap Danish secepatnya sembuh. Bukan karena dirinya sudah bosan merawat pria itu. Tapi karena Sinar dapat melihat jika Danish sepertinya sudah sangat merindukan keluarganya. Terkadang tanpa sepengetahuan Danish. Sinar sering melihat Danish termenung.
Di sisi lain, Sinar juga merasa khawatir jika Danish sembuh dan kembali ke kotanya. Janji menikahi dirinya hanyalah harapan palsu semata. Sinar khawatir, jika Danish tidak akan pernah membawa keluarganya untuk melamar dirinya.
Sinar menundukkan kepalanya supaya raut wajahnya yang sudah berubah tidak dilihat oleh Danish. Cinta yang bersemi di hatinya tidak membuat Sinar merasa tenang. Dirinya dan Danish sudah hampir satu bulan tinggal satu atap di rumah kakek Joni. Sinar khawatir jika kebersamaan mereka hanya sebatas di rumah itu saja.
__ADS_1
Kekhawatiran Sinar bukan hanya itu. Jatuh cinta kepada Danish. Sinar takut mengalami patah hati untuk yang kedua kalinya. Berkali kali Sinar ingin jujur tentang Roki tapi mulutnya seakan terkunci untuk berterus terang. Apalagi keadaan Roki yang saat ini masih dirawat di rumah sakit. Dan informasi yang dia dapat tentang Roki. Pria itu tidak sadarkan diri hingga tiga minggu. Dan baru beberapa hari yang lalu sadarkan diri. Ternyata pukulan dari bangku kayu yang mendarat di kepala Roki membuat sebagian syaraf syaraf di kepala Roki terputus dan harus dioperasi.
Sinar merasa lega karena mendengar Roki selamat. Tapi yang membuat Sinar ketakutan adalah perdamaian yang ditawarkan pak Ilham diterima oleh keluarga Roki dengan syarat Sinar dan Roki harus dinikahkan. Pada akhirnya, keluarga Roki memang menjilat ludahnya sendiri. Tapi Sinar sangat yakin jika syarat yang diajukan oleh keluarga Roki pasti berhubungan dengan kesehatan pria itu.
"Kamu tidak menginginkan aku cepat sembuh?" tanya Danish yang melihat Sinar tertunduk dan tidak menanggapi perkataannya.
"Itu yang sangat aku harapkan Danish. Aku ingin kamu cepat sembuh," jawab Sinar.
"Calon istri yang baik," kata Danish sambil mencubit pipi Sinar dengan lembut. Lagi lagi Sinar tersipu mendapatkan pujian itu.
"Aku juga ingin, kamu bisa secepatnya bertemu dengan keluarga kamu Danish. Mereka pasti sangat merindukan kamu," kata Sinar lagi. Danish menganggukkan kepalanya.
"Kamu benar Sinar. Aku juga sangat merindukan mereka," jawab Danish pelan. Wajahnya berubah sendu.
"Hei, mengapa jadi melow begini. Semangat donk. Aku juga sudah tidak sabar bertemu dengan calon mertua," kata Sinar bercanda. Tapi raut wajah Danish belum juga berubah. Bahkan tatapan pria itu terlihat menerawang seakan membayangkan sesuatu.
Melihat Danish seperti itu. Sinar juga terdiam. Sinar membiarkan Danish bermain dengan pikirannya sendiri. Sinar berpikir jika Danish seperti itu karena rasa rindu terhadap kedua orang tuanya.
"Sinar,. ada satu hal yang harus kamu ketahui tentang aku," kata Danish. Tatapan Danish masih terlihat seperti menerawang.
__ADS_1
"Apa itu."
"Sebenarnya nanti malam adalah malam yang yang sudah direncanakan untuk pertunangan antara diriku dan kekasihku."