Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Roki Berada di Kota


__ADS_3

Bersama Hana, Sinar merasakan hidupnya lebih tenang meskipun harus bekerja keras demi kelangsungan hidupnya. Penghinaan dari Tuan Santosh membakar semangat Sinar untuk hidup sukses nantinya. Lelah, tentu saja dirinya sangat lelah melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh laki laki. Tapi Sinar sudah berjanji dalam hatinya akan berjuang keras.


Kini sudah hampir tiga minggu Sinar berada di rumah Hana dan bekerja di pabrik. Dia tidak sadar jika bahaya sedang mengintai dirinya. Sepupu Roki melaporkan secara detail apa yang dilakukan Sinar di pabrik itu.


Pekerjaan Sinar saat ini tidak sekedar bekerja di pabrik. Di malam hari, dirinya harus mencari uang tambahan dengan membuat keripik ubi supaya mempunyai uang yang cukup untuk melanjutkan sekolah. Beruntung, Sinar mempunyai teman seperti Hana. Saat ini, wanita itu sedang libur semester dan Hana selalu membantu Sinar.


Seperti malam malam sebelumnya, Sinar dan Hana sedang membuat keripik ubi. Membuat keripik ubi yang menjadi pekerjaan tambahan Sinar untuk mendapatkan uang tambahan. Sinar menjual keripik ubi itu ke teman teman kerjanya di pabrik. Sejauh ini, keripik buatannya sangat disukai oleh anak anak pabrik. Untungnya memang tidak banyak tapi Sinar optimis jika suatu hari nanti, keripik ubi buatannya tidak hanya disukai oleh anak anak pabrik tapi juga masyarakat di sekitar dia tinggal. Karena Sinar berencana menitipkan keripik ubi buatannya di warung warung di sekitar situ.


Dan pagi hari ini. Sinar keluar dari rumah lebih awal dari biasanya. Sinar membawa dua kantong besar berisi keripik ubi yang akan dia jual di pabrik.


"Selamat pagi bu," sapa Sinar ke pemilik warung yang tidak jauh dari rumahnya. Pemilik warung itu tersenyum karena sudah mengenali Sinar. Segala kebutuhan kamar Mandi. Sinar membeli di warung ibu itu.


"Pagi neng. Mau beli apa?" tanya ibu Pemilik warung dengan sumringah.


"Aku tidak mau beli apa apa bu. Bu, aku mau minta tolong sama ibu."


"Minta tolong apa?" tanya ibu itu penuh selidik. Wajahnya tidak lagi berbinar seperti tadi.


"Kalau ibu bersedia. Aku mau menitipkan keripik ubi buatanku di warung ibu. Boleh kah ibu?" tanya Sinar dengan senyum kikuk. Menawarkan keripik ubi itu untuk dititipkan di warung itu sama seperti dirinya melamar pekerjaan di pabrik. Sinar takut mendapatkan penolakan. Sinar menggigit bibirnya menunggu jawaban dari ibu itu.


"Aduh, maaf ya neng. Jaman sekarang ini mana ada anak anak jajan keripik ubi. Mereka suka jajanan seperti ini," kata pemilik warung itu sambil menunjuk jajan anak anak. Sinar hampir menangis mendengar penolakan yang hampir menjatuhkan mentalnya itu. Tapi Sinar masih berusaha membujuk ibu itu supaya bersedia menerima keripik ubi itu.


"Ibu tidak mau mencoba. Ibu tidak mengeluarkan modal loh," kata Sinar lagi. Dia menjelaskan harga perbungkus keripik ubi itu dari dirinya dan terserah si pemilik warung mengambil untung untuk dirinya dari per bungkus keripik ubi tersebut. Pemilik warung itu menggelengkan kepalanya menolak keripik ubi milik Sinar.


Sinar berpikir positive jika rejekinya mungkin belum saatnya dari ibu si pemilik warung. Dia menyusuri jalan itu untuk mencari warung yang bersedia menampung keripik ubi buatannya.


"Boleh boleh saja dek. Tapi aku cicip dulu ya!" kata si Pemilik warung ketika Sinar menawarkan keripik ubinya di dekat sekolah dasar tidak jauh dari rumah kontrakannya. Sinar tersenyum senang. Dia sadar tidak selamanya rejeki datang dari orang yang dikenal. Ada kalanya rejeki itu datang dari orang yang tidak terduga dan kebanyakan seperti itu.


"Boleh bu," kata Sinar bersemangat. Dia membuka satu kantong plastik dan mempersilahkan si ibu Pemilik warung mengambil sendiri keripik ubi tersebut.


"Enak," puji si pemilik warung. Sinar tersenyum dan menjelaskan tentang harga keripik ubi itu dan keuntungan si Pemilik warung.


"Baiklah aku setuju," kata si Pemilik warung itu. Mereka sepakat jika Sinar harus menanggung kerugiaan sendiri jika keripik ubi itu tidak terjual.


"Terima kasih ya bu," kata Sinar. Satu kantong plastik sudah dititipkan di warung itu. Sedangkan satu kantong lagi untuk dijual di pabrik. Sang Pemilik warung tersenyum. Ibu itu memuji Sinar dalam hati. Selain kegigihan Sinar mencari uang dengan menjual keripik ubi itu. Si Ibu Pemilik warung menyukai sikap Sinar yang sangat sopan. Dan bisa menghasilkan uang dari usahaa sendiri.


Sinar meninggalkan warung itu dengan bersemangat. Dia bahkan bersiul dengan langkah yang terburu buru karena takut terlambat tiba di pabrik. Semakin banyak warung tempat dirinya menitipkan keripik ubi maka keuntungan yang didapatkan juga semakin banyak. Selera orang memang berbeda beda tapi Sinar sangat yakin jika masih banyak orang kota yang menyukai keripik ubi.


Dan ketika langkahnya hendak menyebrangi jalan. Sinar tidak sengaja melihat ke arah sebuah mobil yang pemiliknya sedang menutup kaca mobil. Sinar sampai mengucek matanya untuk memastikan bahwa pria itu adalah pria yang dia Kenal. Tapi sebelum dirinya melihat wajah pria itu, pintu kaca mobil sudah tertutup sempurna.


"Mungkinkah. Aku pasti salah melihat. Tidak mungkin Roki ada di kota ini apalagi mempunyai mobil sebagus itu," batin Sinar. Mobil itu masih berhenti di seberang jalan dengan kaca mobil yang tertutup. Roki memang orang kaya di kampungnya tapi Sinar tidak yakin Roki bisa mempunyai mobil sebagus itu. Roki mempunyai mobil itupun keluarga tahun lama.


Merasa penasaran, Sinar mengamati mobil itu dan tidak jadi menyebrang. Sinar mengerutkan keningnya. Mobil itu seperti mobil Danish tapi si pria tadi yang sedang menutup kaca mobil mirip seperti Roki.

__ADS_1


"Tidak, baik mobil maupun pemiliknya bukan lah Danish dan Roki. Mungkin mirip saja," kata Sinar dalam hati. Sinar semakin yakin jika mobil itu bukan mobil Danish karena baru saja ada mobil lewat dengan mobil yang sama warna dan merek dengan mobil yang masih berhenti di seberang jalan. Sinar semakin yakin jika baik mobil maupun pemiliknya bukan Danish maupun Roki karena Mobil itu sudah bergerak dan berlalu dari tempat itu.


Mengingat Roki. Sinar juga mengingat kedua orang tuanya. Sinar merasakan matanya memanas mengingat hari pernikahannya yang batal karena dirinya kabur dari rumah Danish.


"Mereka pasti malu karena aku dan Danish tidak pulang dan tidak menikah," kata Sinar dalam hati. Dia sangat yakin jika tuan Santosh pasti mengirimkan utusan ke kampungnya untuk memberitahukan jika pernikahan antara dirinya dan Danish tidak akan pernah terjadi.


Membayangkan hal itu, kedua mata Sinar memanas. Pernikahan itu pasti sudah dipersiapkan dan kedua orang tuanya harus menanggung malu. Sinar akhirnya tidak bisa menahan tangisnya. Sambil berjalan, Sinar menangis. Dia membayangkan jika keluarganya akan menjadi bahan pembicaraan di desa itu. Karena dirinya mengetahui sedikit watak dari para tetangganya. Tidak semua bisa menilai sesuatu itu dari segi positif pasti banyak yang menyalahkan dirinya.


"Maafkan aku ayah. Ibu. Doakan aku bisa pulang secepatnya," kata Sinar lagi dalam hatinya. Mengingat kedua orang tuanya. Kerinduan Sinar akan mereka semakin tidak bisa terbendung. Sinar ingin bertemu secepatnya dengan kedua orang tuanya dan kakek Joni.


Keinginannya itu diungkapkan Sinar kepada Hana setelah mereka pulang bekerja.


"Hana, aku merindukan kedua orang tuaku," kata Sinar sedih. Satu hari ini, dirinya tidak bersemangat bekerja karena keinginannya untuk bertemu kedua orang tuanya sangat kuat.


"Kalau rindu kan tinggal pulang," kata Hana. Sinar menarik nafas panjang. Benar yang dikatakan oleh Hana tapi tidak semudah itu bagi Sinar. Hana berkata seperti itu karena Sinar tidak menceritakan tentang Roki kepada Hana.


"Iya. Aku juga berencana pulang. Kira kira ada bus gak ya yang jalan malam ke kampungku?" tanya Sinar.


"Kamu tahu Naik bus apa ke kampung mu?. Sinar menganggukkan kepalanya.


"Mawar Pelangi."


"Tunggu sebentar ya," kata Hana. Jari jarinya sudah menari indah di layar ponsel miliknya. Mencari informasi tentang bus yang disebutkan Sinar.


"Kapan rencana kamu pulang kampung?" tanya Hana.


"Hari jumat."


Sinar berencana hanya satu hari di kampungnya dan minggu pagi harus kembali ke kota ini. Kepulangan Sinar bukan hanya untuk melepas rindu kepada tiga orang yang sangat disayanginya tapi Sinar memang harus pulang kampung karena dia butuh berkas berkas untuk melanjutkan pendidikannya. Ketika dirinya berangkat bersama Danish. Sinar tidak membawa berkas apapun selain hanya kartu tanda penduduk.


"Aku akan mengantarkan kamu sampai terminal."


Sinar mengembangkan senyumnya. Dia sebenarnya tidak ingin merepotkan Hana tapi dirinya tidak bisa menolak. Dia termasuk orang baru yang tidak mengetahui liku liku kota ini dan Sinar benar benar butuh bantuan Hana. Untuk Naik ojek online sebenarnya bisa saja. Tapi Sinar lebih nyaman bersama dengan orang yang dia kenal apalagi dia akan melakukan perjalanan malam.


Besok paginya. Sinar merasakan jantungnya hampir copot ketika melihat seseorang yang tidak jauh dari pabriknya sangat mirip dengan Roki. Pria itu membelakangi dirinya dan Sinar mengenal lawan bicara pria yang mirip seperti Roki itu. Postur badannya sangat mirip dengan Roki.


"Tidak mungkin," kata Sinar.


Sinar mengamati punggung pria yang mirip Roki itu. Ketika lawan bicara Roki itu menyadari tatapan selidik dari Sinar. Pria itu meninggalkan lawan bicaranya dan berlari ke arah gerbang dimana Sinar masih berdiri sedangkan pria mirip Roki itu masih berdiri di sana dengan membelakangi Sinar. Hingga lawan bicara Roki tiba di hadapan Sinar. Pria itu masih membelakangi dirinya.


"Apa yang kamu lihat Sinar?" tanya pria itu. Pria itu adalah teman satu kerja Sinar itu. Dan dia adalah sepupu Roki. Sinar tidak sadar jika pria ini berbahaya.


"Dia teman mu?" tanya Sinar penuh selidik.

__ADS_1


"Iya. Kamu mengenalnya?. Sinar menggelengkan kepalanya. Sinar merasa dirinya salah lihat dan tidak mungkin pria itu Roki. Roki tidak suka pakai topi sedangkan pria itu memakai topi. Dan tidak mungkin Roki mempunyai teman di kota ini.


Di tempat yang terpisah. Danish berkali Kali melihat layar ponselnya. Dua hari yang lalu. Gps yang terpasang di dalam mobilnya yang kini sudah di tangan Roki menunjukkan keberadaan mobil itu berada di kota ini. Tapi itu hanya sebentar. Dan saat ini, Danish tidak bisa mengetahui keberadaan mobil itu karena sepertinya gps nya sudah diketahui Roki.


"Ternyata dia lumayan pintar juga," kata Danish kepada Nathan temannya. Mereka saat ini berada di kantor Danish.


"Kalau lawan mu lumayan pintar. Maka kita harus lebih pintar," jawab Nathan. Nathan sudah mengetahui jika mobil Danish berada pada Roki karena Danish telah menceritakannya dan meminta bantuan Nathan.


"Kamu benar. Kita harus membuat pengaduan Mobil hilang bukan?" tanya Danish. Nathan menganggukkan kepalanya dan menjentikkan jarinya.


Dua pemuda itu bergerak cepat. Mereka berdua langsung keluar dari ruangan Danish.


"Danish."


Danish dan Nathan baru saja melangkah dari ruangan Danish. Di hadapan mereka sudah ada Bintang.


"Aku tunggu di mobil Bro," kata Nathan. Danish menganggukkan kepalanya. Dia ingin memberikan waktu berdua bagi Bintang dan Danish untuk berbicara.


"Ada apa Bintang?" tanya Danish dingin.


"Mengapa kamu menghindari aku Danish. Apa kamu lupa jika Kita sudah bertunangan?" tanya Bintang. Sejak hari pertunangan mereka. Danish dan Bintang tidak pernah bertemu. Pesan pesan Dan panggilan Bintang tidak pernah mendapatkan balasan bahkan kini nomornya sudah diblokir oleh Danish.


Danish yang tidak ingin menjadi tontonan rekan kerjanya akhirnya menyuruh Bintang untuk menunggu dirinya di kafe langganan mereka nanti malam jam delapan.


"Aku tidak mau. Aku ingin kita berbicara sekarang juga. Aku butuh penjelasan mu sekarang juga," kata Bintang dengan wajah yang marah. Dia susah payah untuk bertemu dengan Danish. Begitu bertemu dirinya diminta untuk menunggu nanti malam.


Danish menatap Bintang. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu. Sudah jelas dirinya dan kedua orang tuanya mengetahui alasan dibalik pertunangan itu tapi Bintang seolah olah pihak yang diabaikan. Atau jangan jangan Bintang berpikir jika Tuan Santosh dan Nyonya Amalia tidak menceritakan tentang Bunga edelweiss itu.


"Jadi kamu ingin mendengar penjelasanku?" tanya Danish. Bintang menganggukkan kepalanya.


"Rasa cintaku hilang tak tersisa setelah pertunangan itu. Jadi kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri kan, sampai dimana hubungan kita?" kata Danish pelan tapi terdengar jelas di telinga Danish. Wanita itu terlihat tertegun mendengar penjelasan Danish.


Danish meninggalkan Bintang begitu saja setelah mengucapkan perkataan itu. Dia sengaja tidak menyinggung tentang penangkapan pak Idrus dan juga tentang Bunga edelweiss itu karena sama sama berisiko jika diketahui orang lain. Saat ini, mereka berada di kantornya sendiri dan Danish tidak akan membiarkan dirinya malu karena hal itu.


"Kamu tidak bisa seperti ini Danish. Kamu tidak bisa. Berani kamu memutuskan pertunangan Kita. Aku akan membongkar semua rahasia mu," teriak Bintang sehingga para karyawan yang sedang sibuk bekerja mencari sumber suara dan mereka melihat Bintang yang terlihat marah di depan ruangan Danish. Tak jauh dari Bintang, Danish juga menghentikan langkahnya. Dia sudah berkata pelan supaya para karyawannya tidak mengetahui permasalahan antara dirinya dan Bintang tapi kini wanita itu dengan sengaja berteriak kencang seperti wanita yang tidak tahu malu.


Danish merasa sangat malu atas teriakan Bintang itu. Apalagi mendengar kata rahasia yang keluar dari mulut Bintang. Danish ingin secepatnya keluar dari kantor itu tapi teriakan Bintang kembali membuat Danish menghentikan langkahnya. Danish marah tapi pria itu berusaha bersikap dengan tenang.


"Apa aku mengatakan rahasia mu sekarang juga?" tantang Bintang. Danish menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bintang yang seperti hilang kewarasannya.


"Kembali lah bekerja," kata Danish kepada para karyawan itu. Para karyawan itu terlihat duduk kembali dan bekerja tapi memasang kuping baik baik untuk mendengar perkataan Bintang selanjutnya.


Danish kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Dia tidak perduli dengan teriakan Bintang yang juga mengejar langkahnya. Ketika Danish sudah berada di luar gedung itu. Bintang juga sudah berada di belakangnya. Bintang menarik kemeja Danish dengan kasar sehingga pria itu hampir terjatuh.

__ADS_1


"Bintang, aku tahu kamu banyak masalah saat ini. Tolong jaga kewarasan mu. Kesampingkan masalah pribadi mu. Fokuslah untuk menangani masalah yang di hadapi oleh pak Idrus. Tentang Bunga edelweiss itu. Aku tidak takut jika kamu membocorkan kepada orang orang termasuk ke pihak yang berwajib," kata Danish pelan kemudian meninggalkan Bintang dan masuk ke dalam mobil Nathan.


__ADS_2