
Kata kata tuduhan yang terdengar dari mulut Nathan terdengar mengerikan di telinga Bintang. Tidak ada niatnya sama sekali untuk hamil supaya ada yang menopang hidupnya. Niatnya hanya ingin meringankan beban masalah keungannya yang ada jadi menambah masalah. Bagaimana, hamil di luar nikah hanya akan menjadi beban di dalam hidupnya. Dan ternyata jalan itu salah dan Bintang baru menyadari hal itu setelah hamil.
Takdir sudah membalikkan kehidupan Bintang. Dari seorang wanita yang mapan dan mempunyai segalanya kini menjadi wanita yang menyedihkan. Dari wanita yang mandiri menjadi wanita yang menyusahkan orang. Tidak hanya kehilangan semua materi karena kasus sang papa kini dirinya juga harus kehilangan harga diri dengan beban pikirannya yang semakin banyak. Kesehatan sang mama masih saja menjadi beban pikiran yang berat kini kehamilan itu menjadi aib bagi dirinya.
Menyadari tidak ada yang bisa diharapkan dari Nathan akan pertanggungjawaban kehamilan itu. Bintang hanya bisa menarik nafas panjang berkali kali untuk menetralkan amarah yang bergemuruh di dadanya.
Marah tentu saja. Bintang marah. Apapun alasan mereka melakukan hubungan terlarang itu tapi kehadiran janin itu adalah hal yang seharusnya tidak ditolak. Janin itu bukan memilih dirinya bersemayam di rahim Bintang tapi karena Nathan dan Bintang lah yang tidak bisa menjaga iman hingga terjadi yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Bintang menatap Nathan sebentar. Sikap laki laki itu memang tidak ada niat untuk memperjuangkan nya dan juga janinnya.
Nathan juga menundukkan kepalanya. Dia menyadari jika kata katanya itu menyakitkan. Tapi dirinya juga tidak mau terus dituntut pertanggungjawaban karena hal itu membuat dirinya pusing tujuh keliling. Dia pun tidak menginginkan kehamilan di luar nikah itu terjadi sejak awal tapi dia juga tidak mampu untuk mencegahnya.
"Maafkan aku Bintang. Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak bisa bertindak tanpa restu kedua orang tuaku."
Nathan berkata pelan dan bisa didengar oleh Bintang. Hati Bintang sangat sakit, dia merasa jika dirinya memang tidak layak diperjuangkan bukan hanya karena alasan tidak cinta tapi Bintang sudah menduga jika restu yang tidak diberikan oleh kedua orang tua Nathan ada hubungannya dengan kasus pak Idrus.
"Baiklah, jika seperti itu tuduhan dan keputusan mu. Aku tidak akan menunjukkan wajahku apalagi meminta pertanggungjawaban mu lagi. Anggap saja, kita tidak pernah melakukan itu. Permisi," kata Bintang.
Tidak ada gunanya berlama lama berhadapan dengan Nathan karena laki laki itu sudah mengambil keputusan. Tidak ada pertanggungjawaban karena hubungan terlarang itu hanya hubungan saling menguntungkan. Hutang Sinar lunas dan dia akan mendapatkan anak dari hubungan saling menguntungkan tersebut. Anak yang tidak diharapkan oleh Nathan tapi Bintang ingin mempertahankan janin itu hingga lahir kedua dengan selamat.
Nathan hanya terdiam memandangi punggung Bintang yang sudah menjauh dari rumahnya. Tidak ada niatnya untuk menahan Bintang lebih lama lagi di rumahnya itu. Bukan karena membenci wanita itu tapi Nathan semakin terbebani dengan wajah sendu Bintang.
Nathan mengerti akan kesedihan dan penderitaan wanita itu tapi dia tidak berdaya untuk menghibur atau menarik Bintang dari penderitaan itu.
Setelah mendengar keputusan Bintang. Hati Nathan tidak langsung lega. Bagaimana pun, Bintang mengandung janjinya dan itu tidak diragukan lagi. Bintang masih suci ketika berhubungan dengan dirinya. Nathan tentu saja kasihan kepada wanita itu tapi tidak bisa membantu seperti dulu yang memberikan pinjaman kepada Bintang.
Mengingat pinjaman itu. Nathan mengacak rambutnya dengan kasar. Jika kenyataannya seperti ini. Nathan merasa menyesal. Andaikan waktu bisa diputar kembali. Nathan akan rela jika pinjaman itu dibayar dalam waktu lama daripada janinnya tumbuh dan berkembang tanpa pertanggungjawaban.
"Ya ampun, aku benar benar brengsek. Aku menjadikan Bintang semakin menderita," kata Nathan dalam hati. Menyadari itu hal itu, Nathan meraih ponselnya dan menghubungi orangtuanya.
Meskipun Nathan sudah memutuskan untuk tidak ada pertanggungjawaban dari dirinya untuk kehamilan Bintang. Nathan kembali membujuk kedua orangtuanya untuk merestui dirinya bertanggung jawab dan menikahi Bintang.
__ADS_1
Nathan berpikir tidak apa apa jika dirinya dan Bintang tidak saling mencintai yang penting restu kedua orangtuanya menyertai hubungan mereka kedepan nya.
Usaha Nathan sia sia. Kedua orangtuanya tidak melarang Nathan untuk bertanggung jawab secara materi akan janin yang dikandung oleh Bintang tapi tidak akan mengijinkan untuk menikahi wanita itu. Alasan sangat jelas karena tidak ingin mempunyai besan yang cacat hukum.
Nathan mengacak rambutnya lagi. Tapi kemudian menuruti perkataan kedua orangtuanya untuk memberikan pertanggungjawaban secara materi saja kepada janin yang dikandung oleh Bintang.
Nathan sudah selesai mengirimkan sejumlah uang untuk pertanggungjawaban bagi si janin selama satu bulan ini.
"Aku akan bertanggung jawab sepanjang hidupku untuk calon janin itu. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Maaf."
Nathan mengirimkan pesan itu kepada Bintang.
Bintang turun dari ojek online tepat di depan rumahnya. Dia tidak menggunakan mobil lagi karena mobilnya sudah terjual. Baru saja, Bintang hendak mendorong pintu. Suara notifikasi dari ponselnya menghentikan langkahnya. Bintang menatap datar ke layar ponselnya yang memperlihatkan sederat angka rupiah yang masuk ke dalam rekeningnya. Kemudian membaca pesan Nathan.
"Papa mu mengirimkan uang nak. Meskipun kamu kelak tidak lahir dari pernikahan yang sah. Mama berharap, papamu mengakui kamu dan menyayangi kamu," kata Bintang sambil mengelus perutnya. Bintang memang sudah memutuskan akan melahirkan janin itu sejak mengetahui keberadaannya di dalam rahim.
Hanya itu harapan Bintang saat ini. Tidak bisa dipungkiri jika pertanggungjawaban Nathan kepada janin itu akan meringankan beban hidupnya. Bintang tidak menolak karena Nathan yang berinisiatif. Tapi untuk meminta, seperti perkataannya tadi. Dia tidak akan meminta pertanggungjawaban laki laki itu lagi.
"Maafkan aku ma," kata Sinar pelan. Andaikan sang mama dalam keadaan sehat dan mengetahui kehamilan Bintang entah bagaimana kemarahan dan Kesedihan wanita itu. Dengan sekuat tenaga. Bintang mengangkat tubuh mamanya ke tempat tidur.
Bintang menangis melihat keadaan mamanya yang belum menunjukkan perkembangan kesehatan. Sudah diterapi dan rutin makan obat. Kondisi wanita itu masih seperti dahulu ketika keluar dari rumah sakit. Bintang pun menduga jika sang mama masih terus memikirkan kasus pak Idrus dan kesulitan ekonomi yang mereka hadapi saat ini segini menghambat kesedihannya.
"Mama,.aku mohon sembuh lah secepatnya. Aku butuh teman berbagi ma," kata Bintang pelan kemudian mencium kening wanita itu.
Bagaimana pun kesalahan mamanya yang mendukung Bintang melakukan rencana licik kepada Danish tentang Bunga Edelweiss itu. Bintang tetap menyayangi mamanya. Dia mengetahui bagaimana mamanya menyayangi dirinya hanya jalan saja yang salah. Bintang sadar, ada andil sang mama sehingga dirinya harus berpisah dari Danish. Tapi kini, Bintang perlahan bisa mengerti jika semua yang dia lalui selama ini hanyalah perjalanan takdir.
Bintang keluar dari kamar dengan Mata yang masih basah.
"Puas papa melihat kami berdua seperti ini pa?" kata Bintang setelah keluar dari kamar mamanya. Kini, Bintang berdiri di ruang tamu dan mendongak ke dinding dimana foto besar papanya tergantung di dinding itu. Di foto itu terlihat pak Idrus sangat berwibawa sangat berbeda dengan keadaan yang kini meringkuk kedinginan di dalam tahanan.
"Papa adalah sumber dari penderitaan ini," kata Bintang lagi. Bintang menyadari kerakusan papanya akan uang hingga menjalankan bisnis haram itu yang berakhir di penjara. Berkali kali Bintang dan sang mama menasehati papanya untuk tidak terlibat dengan bisnis haram itu. Tapi papanya Bintang sangat keras kepala dan merasa paling pintar. Pak Idrus sangat yakin jika bisnis itu dijalankan dengan rapi dan tidak akan tercium oleh pihak yang berwajib. Pak Idrus lupa akan pepatah sepandai pandainya tupai melompat sekali Kali akan terjatuh juga. Itulah yang dialami oleh pak Idrus saat ini. Setelah sekian tahun menjalankan bisnis haram tanpa mencurigakan akhirnya dirinya bisa menjadi tersangka.
__ADS_1
"Aku mengandung tanpa suami pa," kata Bintang. Dia mengeluarkan isi hatinya yang menyakitkan di hadapan foto papanya. Bintang bahkan memukul dadanya karena terasa sesak dengan tangisan tertahan itu dan juga karena menyadari kebodohan nya.
"Papa jahat pa. Papa egois. Papa pernah meminta aku untuk menyerahkan diri kepada Danish dan harus hamil untuk memperkuat hubungan kami supaya tidak terpisahkan. Dan jika itu terjadi papa yang diuntungkan karena akan mendapatkan perlindungan dari om Santosh. Tapi Lihat, aku pa..Aku hamil dan bukan anaknya Danish melainkan anaknya sahabatnya. Papa hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan ku."
Perpisahan dengan Danish bukan hal yang mudah bagi Bintang. Apalagi perpisahan itu tidak sekedar perpisahan biasa. Danish Lang mengadakan pernikahan dan terlihat sudah bisa melupakan dirinya. Sedangkan Bintang harus menderita karena keadaan ekonomi dan terpuruk karena kehamilan tanpa suami.
Bintang menangis. Kini dia sadar apa yang terjadi dalam hidupnya karena keserakahan dan keegoisan sang papa. Andaikan papanya Bintang menjalankan bisnis halal nya. Mungkin Danish akan tetap menjadi miliknya dan bisa saja mereka akan menjadi keluarga yang bahagia saat ini.
Bintang semakin menangis mengingat semua kenangannya dengan Danish. Pria itu adalah pria yang mempunyai hati yang lemah lembut. Menjaga dirinya dengan baik dan memberikan apapun yang diminta oleh Bintang. Berpacaran dengan Danish. Bintang bisa merasakan dirinya diperlakukan seperti ratu. Danish menjaga kesucian cinta mereka dan tidak pernah melampaui batas selama berpacaran.
Kenangan demi kenangan bersama Danish melintas di pikiran Bintang. Kenangan itu muncul begitu saja membuat penyesalan itu semakin menyakitkan di hati Bintang. Danish bukan lagi miliknya dan sudah menjadi milik Sinar.
"Aku kehilangan semuanya karena papa. Aku sangat membenci mu pa," kata Bintang lagi.
Hal yang wajar jika Bintang membenci pak Idrus saat ini. Itu artinya, Bintang sudah sadar akan kejahatan papanya. Kejahatan yang tidak hanya menimbulkan aib keluarga tapi juga membuat Bintang harus kehilangan kebahagiaannya.
Sinar mengusap pipinya, dia menatap layar ponselnya yang berdering.
"Halo Bintang."
"Ya Pak."
"Mohon maaf ya Bintang. Kami tidak dapat lagi mendampingi pak Idrus. Kamu bisa mencari orang lain untuk mendampingi pak Idrus."
Bintang hendak menjawab, sambungan panggilan sudah diputus secara sepihak dari Sana. Bintang tentu saja mengetahui alasan pengacara itu mundur pasti berkaitan dengan uang.
'Maaf pa, aku tidak bisa mencari pengacara lain," kata Bintang. Bintang menyerah membiarkan papa Idrus sidang tanpa pengacara. Uangnya tidak cukup lagi untuk membayar jasa pengacara.
Bintang ingin fokus akan kehidupan nya dan sang mama saat ini. Bintang pun berpikir jika seharusnya yang orang jahat itu harus di hukum. Bukan bermaksud durhaka kepada Papanya. Bintang hanya berharap dengan mendapatkan hukuman. Pak Idrus menyadari kejahatannya dan kembali ke jalan yang benar.
Sejahat apapun pak Idrus. Dan bagaimana Bintang membenci papa nya itu saat ini. Bintang sadar jika selamanya laki laki itu adalah papa kandungnya. Bintang merindukan dimana papanya berumah menjadi orang baik dan kembali ke rumah. Bintang merindukan kehangatan keluarga.
__ADS_1