
Terkadang bagi sebagian orang memaafkan itu sangat sulit. Dan bagi sebagian orang memaafkan itu adalah hal mudah. Sinar bersyukur karena dia adalah orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Sinar memaafkan Bintang dan memaafkan tuan Santosh. Walau sulit, Sinar juga berusaha melupakan sakit hati yang pernah ditorehkan Bintang dan Tuan Santosh.
Bersedia memaafkan Bintang dan Tuan Santosh membuat Sinar semakin disayang oleh suami dan mama mertuanya. Danish sangat bahagia dan bersyukur mempunyai istri yang tidak pendendam seperti Sinar. Danish juga merasa lega. Kebencian tuan Santosh berakhir sebelum Sinar melahirkan. Danish juga semakin merasa tenang. Dengan berdamai dengan Tuan Santosh. Sinar bisa menjalani kehamilan itu tanpa tekanan. Hal yang selama ini dimimpikan oleh Danish dan Sinar.
Kini untuk merayakan perdamaian itu. Keluarga itu makan malam bersama di rumah Danish. Tentu saja itu atas undangan tuan Santosh.
"Ayo, ayo dimakan Sinar, wanita hamil harus mempunyai gizi yang cukup," kata Tuan Santosh. Semua makanan yang tersaji di meja makan itu adalah makanan yang sangat baik untuk ibu hamil.
"Iya pa. Terima kasih," jawab Sinar. Mereka memang sudah berdamai tapi Sinar masih canggung bila berbicara dengan Tuan Santosh seperti saat ini.
"Bukan hanya wanita hamil yang perlu asupan gizi pa. Suaminya juga. Karena suaminya yang harus siap siaga menjaga Sinar," kata Nyonya Amalia. Wanita itu memgembangkan senyumnya melihat perhatian tuan Santosh kepada menantunya. Tidak sia sia, mulutnya hampir setiap saat mengoceh untuk menghilangkan kebencian tuan Santosh dari hatinya.
Harapannya terwujud. Kata kata yang terkadang menyakitkan membuat tuan Santosh berpikir untuk menyelidiki fitnah terhadap Sinar beberapa bulan yang lalu.
"Jangan khawatir tentang asupan gizi untuk aku ma. Walau pun Sinar hamil. Dia tetap mengurus aku dengan baik," jawab Danish. Kata kata itu mengandung pujian untuk istrinya itu membuat Sinar tersenyum.
"Danish, apakah papa dan mama sudah mengetahui tentang kehamilanku?" tanya Sinar. Danish seketika menepuk keningnya.
"Mengetahui tentang apa?" tanya Nyonya Amalia penasaran. Sinar dan Danish saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Tentang kabar bahagia. Kita selesaikan dulu makan malam ini. Baru kalian boleh mengetahui kabar bahagia yang hendak aku katakan."
"Apa tidak bisa dikatakan sekarang saja. Buat penasaran saja," kata Tuan Santosh. Dia paling tidak suka menunggu seperti ini apalagi kabar itu menyangkut cucunya.
"Paling juga tentang jenis kelamin cucuku. Aku sangat yakin. Cucuku pasti laki laki," kata Tuan Santosh lagi. Meskipun dia tidak mempunyai anak perempuan. Tuan Santosh tidak seperti istrinya yang menginginkan cucu perempuan. Tuan Santosh lebih suka jika cucu pertamanya laki laki.
"Jenis kelaminya belum diketahui pa. Kan masih empat bulan. Lagipula ketika usg terakhir. Calon cucu kalian malu malu dengan menutup kelaminnya."
"Itu artinya, cucuku perempuan," kata Nyonya Amalia senang kemudian tertawa.
"Jadi apa donk, kabar bahagia yang kalian maksud?"
"Habiskan dulu makanannya Pa. Takut nya kalian tersedak karena terlalu bahagia jika kami mengatakan sekarang."
__ADS_1
Tuan Santosh mendengus kesal tapi mempercepat memasukkan makaanan ke mulut. Hal yang sama yang dilakukan Nyonya Amalia. Ternyata sepasang suami istri itu sangat penasaran akan kabar bahagia yang akan mereka dengar nantinya. Sinar tersenyum, di bawah meja dia menendang kaki suaminya supaya ikut memperhatikan tingkah kedua mertuanya. Danish tertawa pelan melihat tingkah tuan Santosh dan Nyonya Amalia. Dia merasa senang karena berhasil mengerjai kedua orangtuanya.
"Kami sudah selesai makan. Sekarang beritahukan kabar bahagia."
"Sabar pa. Aku kan belum selasai makan," jawab Danish santai. Nyonya Amalia tertawa sedangkan Tuan Santosh sudah menatap Danish dengan tajam. Dia sadar, putranya itu sudah mempermainkan mereka.
"Papa, aku kasihan dengan Bintang. Mama berencana merekomendasikan Bintang ke salah satu teman mama yang pengusaha. Tidak apa apa kan Bintang?" tanya Nyonya Amalia. Dia sangat kasihan akan kehidupan Bintang yang sangat menyedihkan apalagi mengetahui jika mamanya Bintang sedang sakit.
"Tidak apa apa ma. Jika itu bisa meringankan beban Bintang. Aku sangat setuju. Aku menawari dia bekerja di tempat ku hanya untuk sementara saja. Jika Bintang mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus. Dengan senang hati aku melepaskan."
"Benar Bintang. Kita harus senang melihat teman kita bangkit. Mama sangat setuju dengan pemikiran kamu. Semoga saja, ada pekerjaan yang kosong di perusahaan teman mama itu."
Nyonya Amalia sudah terlihat sedang berbalas pesan dengan teman pengusaha nya itu.
"Bagaimana ma. Ada yang lowong?" tanya Sinar tak sabaran. Sinar sangat senang jika pekerjaan itu ada. Bagaimana pun, Bintang sangat membutuhkan banyak uang saat ini untuk persiapan persalinan nya nanti. Sinar tidak bisa memberikan gaji lebih kepada Bintang karena itu akan menimbulkan kecemburuaan bagi anggota lainnya.
"Belum ada jawaban. Temanku itu masih mengetik."
Nyonya Amalia memandangi layar ponsel. Satu menit menunggu rasanya berjam jam menunggu balasan dari temannya itu. Bintang yang direkomdansikan untuk mendapatkan pekerjaan. Nyonya Amalia yang tidak sabar menunggu balasan dari temannya itu.
"Bagaimana ma?" tanya Sinar. Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya. Temannya itu tidak bersedia memperkerjakan Bintang karena kasus pak Idrus.
"Pa, bagaimana kalau Bintang bekerja di kantor mu saja. Kasihan Bintang," kata Nyonya Amalia. Tuan Santosh memang masih aktif bekerja. Tuan Santosh adalah pemilik perusahaan itu. Nyonya Amalia berpikir jika akan mudah menerima Bintang bekerja di perusahaan suaminya.
"Bintang bukan wanita yang istimewa sehingga aku harus mempekerjakan dia di kantor milikku. Jangankan di kantor ku. Sama Sinar saja dia bekerja aku tidak suka. Tapi seperti perkataan kalian. Aku tidak boleh melarang Sinar berbuat baik. Aku bisa apa?. Bagi ku, Bintang tetap lah ular. Hanya saja, saat ini dia ular yang jinak. Tapi tidak tertutup kemungkinan jika suatu saat nanti dia akan kembali menjadi ular yang ganas. Jadi Sinar, aku tidak melarang kamu berteman dengan Bintang. Tapi kamu harus jaga batas. Apalagi dia pernah mencintai Danish. Jangan sampai ada istilaha ditikung teman."
Sinar dan Nyonya Amalia tidak bisa berkutik dengan perkataan tuan Santosh.
"Benar Sinar. Jaga batasan kamu berteman dengan Bintang."
Kini Nyonya Amalia ikut was was. Dia tidak ingin ada sesuatu apapun yang mengganggu rumah tangga putranya.
Iya mama," jawab Sinar singkat. Tidak Ada gunanya membantah perkataan kedua mertuanya karena Sinar sadar, tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Sinar mengartikan perkataan kedua mertuanya sebagai bentuk kasih sayang kepada dirinya.
__ADS_1
"Kalian kira aku laki laki yang tidak punya pendirian. Aku bukan seperti itu. Kalian boleh membicarakan Bintang tapi jangan libatkan namaku dalam pembicaraan itu. Ayo, kita ke ruang tamu supaya lebih santai," kata Danish. Bukan mengalihkan pembicaraan tentang Bintang tapi Danish merasa risih karena namanya dilibatkan dalam pembicaraan tentang Bintang itu.
Anggota keluarga lengkap itu beranjak dari tempat duduk masing masing kemudian melangkah ke arah ruang tamu.
"Cepat katakan kabar bahagia yang kalian maksud."
Danish tertawa mendengar perkataan sang papa. Sudah berganti topik pembicaraan tadi ternyata tidak membuat tuan Santosh akan kabar bahagia yang sudah dijanjikan oleh Danish sebelumnya.
"Kalian sudah siap mendengarkan kabar bahagia itu?"
"Ya ampun, mengapa harus diperlama," gerutu tuan Santosh. Dia sadar, Danish sengaja memperlama memberitahukan Kabar bahagia itu. Tuan Santosh menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan tatapan ke arah Danish yang masih tertawa.
"Mama dan papa tidak ingin menebak?"
"Kalau bukan karena calon cucuku. Aku tidak mau menunggu kabar bahagia yang kamu bilang itu," kata Tuan Santosh semakin kesal.
"Sebenarnya, Sinar mengandung anak kembar ma, pa."
"Kembar?" tanya Tuan Santosh dan Nyonya Amalia bersamaan. Danish menganggukkan kepalanya. Nyonya Amalia menutup mulutnya seakan tidak percaya tapi tubuhnya beranjak ke arah Sinar dan memeluk menantunya itu dengan senang. Dia memperhatikan perut Sinar yang sudah terlihat besar di usia kehamilan yang masih empat minggu.
"Ya ampun. Kebahagiaan kita berlipat ganda. Terima kasih Sinar," kata Tuan Santosh terharu. Sinar tersenyum melihat kebahagiaan di wajah kedua mertuanya.
"Iya papa. Kebahagiaan kita berlipat ganda. Mama terharu dan sangat bahagia."
"Mengapa baru memberitahukan nya sekarang," kata Tuan Santosh.
"Karena baru hari ini papa kembali ke jalan yang benar. Andaikan papa masih di jalan yang salah..Aku tidak akan memberitahukan kabar bahagia ini sampai lahiran."
"Iya. Iya jangan dibahas lagi."
Tuan Santosh sangat malu jika Danish mengungkit kebodohannya yang langsung percaya pada fitnah itu.
"Semoga bulan depan, jenis kelamin cucu cucuku diketahui. Dan semoga laki laki. Sinar, Danish. Bagaimana kalau kalian tinggal saja di rumah ini.
__ADS_1
Sinar dan Danish saling berpandangan.