Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Aku sangat suka kamu yang seperti ini," bisik Danish sambil memeluk Sinar dari belakang. Mata mereka bertemu di cermin. Sinar baru saja merias wajahnya dengan riasan yang tipis.


"Benarkah?" tanya Sinar. Danish menganggukkan kepalanya. Sinar berdiri kemudian berbalik hingga berhadapan dengan Danish dengan jarak hanya beberapa senti saja. Sinar tersenyum. Secepat kilat dia mencium pipi suaminya kemudian meninggalkan Danish di depan meja rias itu.


"Aku tunggu kamu di bawah Danish," kata Sinar. Hari ini mereka berencana ke rumah orang tua Danish. Setelah menikah, hampir akhir pekan, Sinar dan Danish berkunjung ke rumah tuan Santosh. Meskipun Sinar merasakan tidak nyaman berada di sekitar tuan Santosh. Sinar tidak pernah melarang atau menolak jika diajak ke rumah itu. Sinar tidak ingin karena pernikahan itu, dirinya dianggap melarang Danish bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Siap sayang," kata Danish. Pria itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Di ruang tamu, Sinar merasa kebingungan. Dia bingung hendak membawa buah tangan seperti apa kepada mertuanya. Jika membawa buah buahan. Nyonya Amalia selalu membuat stok buah di kulkas. Jika membawa kue atau makanan dari olahan tepung, baik Nyonya Amalia dan Tuan Santosh mempunyai pola makan yang sehat. Mereka menghindari makanan seperti itu apalagi makanan yang mengandung pengawet makanan maupun pewarna makanan.


"Ada apa?" tanya Danish begitu tiba di ruang tamu. Danish bisa melihat kegelisahan di wajah istrinya.


"Aku bingung mau bawa buah tangan seperti apa ke rumah mama. Gak bawa, rasanya tidak enak," kata Sinar.


"Bawa buah saja. Nanti kita singgah di supermarket buah."


"Di rumah mama, semua jenis buah hampir ada."


"Ya sudah. Tidak bawa oleh oleh juga tidak apa apa. Kita kesana, sudah membuat papa dan mama senang," kata Danish. Sinar menarik nafas panjang. Dia tidak setuju dengan perkataan suaminya tapi dirinya juga bingung hendak membawa apa.


"Oya, bagaimana kalau bawa keripik ubi saja?" tanya Danish lagi. Sinar terlihat ragu. Tanpa mendengar persetujuan Sinar. Danish melangkah ke ruang makan. Dia masih mempunyai stok keripik ubi yang selalu disediakan Sinar di rumah itu.


"Ayo!.


"Apa kamu yakin kita membawa makanan kampung itu?" tanya Sinar ragu.


"Makanan kampung tapi rasanya sangat enak. Tak mengapa mencoba. Mereka suka syukur. Kalau tidak suka, aku siap menghabiskan keripik ini," kata Danish. Sinar akhirnya setuju.


Tiba di rumah tuan Santosh. Danish dan Sinar disambut hangat oleh Nyonya Amalia. Tuan Santosh pun seperti itu tapi kerinduannya hanya pada Danish. Di hadapan Danish dan Nyonya Amalia. Tuan Santosh bersikap biasa kepada Sinar.

__ADS_1


"Apa kami sudah boleh mendapatkan kabar bahagia dari pernikahan kalian. Ini sudah satu bulan loh," kata Tuan Santosh santai. Pria itu duduk berdampingan dengan Nyonya Amalia dengan badan yang bersandar dan kaki yang disilangkan. Di hadapan mereka. Danish dan Sinar juga duduk bersebelahan.


Sinar menundukkan kepalanya. Benar, usia pernikahan mereka sudah satu bulan. Bagi sebagian pasangan, mungkin sudah ada tanda tanda kehamilan bagi si istri sedangkan Sinar dengan sengaja menunda kehamilan itu.


Dalam hati, Sinar merasa bersalah. Andaikan kehamilan yang diinginkan dari dirinya tidak mempunyai maksud tertentu mungkin dengan penuh harap dirinya juga menginginkan kehamilan itu secepatnya. Sinar menendang kaki Danish supaya pria itu yang menjawab pertanyaan papa mertuanya.


"Pa, membuat anak itu kan tidak seperti membuat adonan. Sekarang diadon dua jam lagi sudah menjadi donat."


Sinar hampir tersenyum mendengar jawaban Danish yang sama dengan perkataannya ketika Danish pernah berkata menginginkan Sinar hamil secepatnya.


"Siapa bilang membuat anak itu seperti membuat adonan. Papa rasa, papa menanyakan itu sekarang adalah masih tahap kewajaran. Papa tidak bertanya ketika usia pernikahan kalian masih satu minggu kan?"


"Benar pa. Kalau sudah ada tanda tanda kehamilan itu. Kami akan mengabari papa dan mama," jawab Danish.


"Jadi kalian sudah pernah test?" tanya Nyonya Amalia. Danish menggelengkan kepalanya.


"Baik ma," jawab Danish cepat supaya pembicaraan tentang kehamilan itu berakhir. Danish dan Sinar tidak akan melakukan test itu karena tanpa test itu. Mereka berdua sudah mengetahui jika hasil olahraga mereka tiap malam tidak berhasil karena saat ini Sinar sedang datang bulan.


"Kamu tidak sedang menggunakan pil kontrasepsi kan?" tanya tuan Santosh membuat Sinar mendongak menatap wajah mertuanya kemudian kembali menundukkan kepalanya. Sinar merasakan detak jantungnya tidak beraturan hanya mendengar pertanyaan yang seperti sudah menebak dirinya sedang menggunakan pil kontrasepsi.


"Tidak mungkin Sinar menggunakan itu pa. Sinar juga ingin hamil secepatnya. Jika hasilnya masih belum hamil itu karena Kita belum dipercaya untuk mempunyai anak secepat ini," bela Danish. Sinar semakin tidak tenang mendengar pembelaan Danish atas dirinya. Dia takut jika sewaktu waktu Danish mengetahui dirinya sedang menggunakan pil kontrasepsi entah bagaimana kemarahan pria itu nantinya.


"Semoga saja. Papa tidak pernah percaya kepada orang yang terlihat dari tampilan luarnya saja. Banyak orang orang yang terlihat baik tapi nyatanya setan berwujud manusia."


Danish menggelengkan kepala mendengar perkataan papanya yang dia pikir lari dari topik pembicaraan.


"Aku berani jamin. Sinar tidak menggunakan pil kontrasepsi itu pa," kata Danish lagi.


"Mama juga percaya pada Sinar. Sinar tidak mungkin menggunakan pil kontrasepsi. Lagi pula masih satu bulan. Masih wajar jika belum hamil. Sinar juga mengetahui kerinduan mama mempunyai cucu secepatnya. ? Iya kan, Sinar?" tanya Nyonya Amalia. Sinar menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Papa juga sangat berharap Sinar tidak menggunakan pil kontrasepsi itu. Tapi jika kenyataannya seperti itu. Papa tidak terima. Dia harus dihukum," kata Tuan Santosh lagi.


"Apa Tuan Santosh menyuruh mata mata untuk memantau gerak gerikku," batin Sinar. Hanya membayangkan jika Tuan Santosh mengetahui dirinya menggunakan pil kontrasepsi itu. Sinar dilanda ketakutan yang luar biasa. Andaikan Sinar menegakkkan kepalanya. Danish dan nyonya Amalia juga tuan Santosh dapat melihat wajah Sinar yang sudah seperti kapas.


Sinar menggelengkan kepalanya dengan pelan dengan kaki yang gemetar. Dia takut jika kenyataannya memang seperti itu. Yang lebih dia takutkan adalah Danish dan Nyonya Amalia akan kecewa kepada dirinya.


Sinar sangat merasa bersalah kepada Danish dan Nyonya Amalia. Dia merasa mengkhianati kepercayaan yang sudah diberikan dua orang itu terhadap dirinya. Untuk menebus kesalahannya. Sinar berjanji dalam hati akan membuang pil kontrasepsi itu dan siap untuk hamil. Untuk masalah yang akan datang. Sinar berharap seiring dengan waktu tuan Santosh akan merestui dirinya.


"Dihukum?, ada ada saja papa ini. Sinar adalah istriku dan tanggung jawabku. Tidak ada yang boleh menyakiti dia. Sudah lah pa, Jangan mencari kesalahan Sinar hanya karena dia belum hamil. Harusnya, aku yang memeriksakan diri ke dokter. Bisa saja ada masalah di dalam tubuhku. Bagaimana pun aku pernah kecelakaan. Aku takut kecelakaan kala itu menimbulkan dampak buruk bagi alat reproduksi."


"Tidak mungkin. Kamu sudah pernah memeriksakan itu ke dokter dan hasilnya sangat bagus. Itu artinya kecelakaan itu tidak membuat organ reproduksi bermasalah," kata Tuan Santosh.


Danish menarik nafas panjang. Mengetahui Sinar masih dapat tamu bulanan dua hari yang lalu. Danish merasa jika dirinya yang bermasalah.


"Dokter hanyalah manusia biasa pa. Bisa saja, dokter mengatakan seperti itu karena alatnya tidak bisa mendeteksi penyakit itu," kata Danish lagi.


"Kalau begitu, sebaiknya kamu harus periksa ulang Danish. Lebih cepat masalah kesehatan kamu terdeteksi, itu lebih bagus supaya Kita bisa mengambil tindakan. Mama akan membawa kamu berobat sampai ke ujung dunia manapun asal kamu bisa mempunyai keturunan. Mama tidak perduli dengan biaya," kata Nyonya Amalia.


Sesuatu yang belum diketahui kebenarannya atas dugaan Danish terhadap kesehatan organ reproduksinya sudah membuat Nyonya Amalia panik.


Sinar semakin merasa bersalah. Danish menyalahkan dirinya sendiri karena dirinya belum hamil sementara Sinar sendiri yang belum bersedia hamil. Tapi tidak mungkin, Sinar mengakui bahwa dirinya memang menggunakan pil kontrasepsi itu. Karena hal itu sama saja cari mati.


Sinar memberanikan diri menatap mama mertuanya. Jelas terlihat kekhawatiran di wajah cantiknya. Kini, Danish terlihat menundukkan kepalanya. Sedangkan Tuan Santosh masih duduk tenang seakan apa yang dikatakan oleh Danish tidak mengganggu pikirannya. Sinar semakin yakin jika tuan Santosh menyuruh seseorang untuk memantau gerik geriknya.


"Ini minuman tuan, Nyonya," kata pelayan yang mengantarkan minuman dan juga cemilan ke ruang tamu itu.


"O iya ma, pa. Kami bawa ini tadi. Ayo di coba pa, ma," kata Danish. Dia merasa beruntung karena kedatangan pelayan itu. Dia berharap tidak ada lagi pembicaraan tentang kehamilan itu.


"Aku tidak mengharapkan apa apa dari kalian. Aku hanya mengharapkan generasi penerusku secepatnya. Makanan rendahan seperti itu, pabriknya pun bisa aku beli," kata Tuan Santosh ketus.

__ADS_1


__ADS_2