
"Sinar, kamu dipanggil Tuan dan Nyonya ke ruang tamu," kata salah satu seorang pelayan yang baru saja mengantarkan minuman dan aneka kue ke ruang tamu.
"Kamu dipanggil non. Dengar tidak?" tanya Tino kepada Sinar yang duduk bersebelahan. Kini Sinar tidak ada bedanya dengan para pekerja itu. Sinar lebih sering di taman belakang membantu Tino. Dan untuk sarapan, makan siang dan juga makan malam. Sinar juga makan di dapur itu dengan para pekerja. Dirinya tidak dilarang makan bersama di meja makan dengan keluarga Danish. Tapi Sinar yang semakin minder dengan keluarga itu.
Sinar berpikir sebentar sebelum ke ruang tamu. Kata kata Danish yang baru saja dia dengar tentang ungkapan cinta pria terhadap Bintang. Membuat Sinar merasa malu berhadapan dengan pria itu.
"Pergi Sana. Jangan buat calon mertua menunggu terlalu lama. Nantinya restunya di tarik kembali," kata Tino bercanda. Dua pelayan yang mendengar perkataan Tino terlihat menatap Sinar dengan sinis. Mereka merasa Sinar tidak pantas menjadi menantu di rumah itu. Sinar lebih pantas menjadi pembantu di rumah itu. Mereka juga senang melihat Sinar yang tidak lagi sarapan bersama dengan Danish.
Dengan berat hati Sinar melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Kedatangannya di ruang tamu itu disambut hangat oleh Danish. Pria itu menepuk sofa di sebelahnya supaya Sinar duduk di tempat tersebut. Sedangkan nyonya Amalia bersikap biasa saja dan Santosh menunjukkan wajah datarnya. Dari wajah Santosh masih terlihat jika dirinya masih kurang menerima kehadiran Sinar.
"Sudah makan?" tanya Danish lembut begitu Sinar sudah duduk di sebelahnya.
"Sudah."
Danish tersenyum sambil menatap Sinar dengan lembut. Siapapun yang melihat tatapan Danish kepada Sinar. Orang akan berpikir jika Danish sangat mencintai Sinar. Begitu juga dengan Sinar. Tatapan lembut dari Danish selalu dia artikan sebagai bentuk rasa cinta.
"Papa dan mama ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan kita berdua," kata Danish lagi. Ketika berkata seperti itu Danish menyentuh tangan Sinar meskipun tidak menggenggamnya.
"To the point saja Sinar. Ini tentang dan pernikahan antara kamu dan Danish. Dan juga pertunangan Danish dengan Bintang. Tentang pertunangan Danish dan Bintang itu menjadi urusan kami. Sedangkan pernikahan kamu dan Danish itu sudah menjadi urusan keluarga kamu. Kami sudah mengirimkan uang yang sangat banyak kepada kakek dan kedua orang tua kamu. Aku rasa uang itu cukup untuk membuat pesta yang sangat meriah di desa kamu," kata tuan Santosh lantang tapi terkesan seperti merencanakan harga diri Sinar.
"Mengirimkan sejumlah uang kepada kakek dan kedua orang tuaku?" tanya Sinar tidak percaya. Baru satu jam yang lalu. Sinar mendengar pembicaraan antara Nyonya Amalia, Danish dan tuan Santosh tentang persetujuan Bintang dan Sinar dipoligami. Secepatnya itukah mereka bertindak dan menginginkan pertunangan dan pernikahan itu dilaksanakan?"
"Ya Sinar. Papa baru saja mengutus asisten pribadinya ke desa kamu mengantarkan uang itu," jawab Danish memperjelas.
"Boleh aku ikut bersama mereka Danish. Aku rindu kedua orang tuaku," kata Sinar cepat. Kerinduannya kepada kedua orang tua dan desanya mengalihkan pikiran Sinar dari pembahasan pernikahan itu.
__ADS_1
"Mereka sudah berangkat setengah jam yang lalu."
"Secepatnya itukah mereka bertindak?" tanya Sinar dalam hati.
Sinar seketika lemas. Lagi lagi kesempatan kembali ke desanya kandas hanya karena dirinya terlambat mendapatkan informasi. Sebentar lagi orang tuanya akan menerima uang itu. Dan akan mempersiapkan pernikahannya. Itu artinya, di desa itu akan tersiar kabar jika Sinar akan menikah dengan pemuda kota.
"Uang itu tidak hanya uang untuk persiapan pernikahan kalian berdua. Uang itu juga sudah termasuk uang balas budi atas permohonan kamu kepada Danish. Jika orang tuamu pintar mengelola uang. Mereka bisa membangun rumah yang layak pakai."
"Papa."
"Papa."
Nyonya Amalia dan Danish sama sama berusaha menghentikan perkataan pria itu supaya tidak mengeluarkan kata kata yang menyakiti Sinar. Ternyata meskipun tuan Santosh mendukung pernikahan poligami itu. Dirinya masih kurang bisa menerima Sinar. Sinar semakin tidak mengerti sifat calon mertuanya itu.
"Danish, antar Sinar ke kamarnya," kata Nyonya Amalia. Nyonya Amalia menatap Sinar dengan sendu karena Sinar juga terlihat tersinggung dengan perkataan tuan Santosh .
Nyonya Amalia sambil melihat Sinar yang sedang membantu Danish berjalan. Bukan Danish yang mengantarkan Sinar ke kamarnya. Tapi Sinar lah yang mengantarkan Danish ke kamarnya.
"Aku tahu apa yang keluar dari mulutku. Sebelum aku berkata. Otakku terlebih dahulu berpikir. Jadi jangan menasehati aku. Aku tahu orang seperti apa Sinar dan keluarganya itu," kata Tuan Santosh. Setelah mengatakan itu. Pria itu meninggalkan istrinya di ruang tamu.
Perdebatan singkat antara Nyonya Amalia Dan Suaminya. Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di kamar Danish. Pria itu terlihat memeluk Sinar dengan erat seakan dirinya penuh kebahagiaan. Sinar tidak kuasa menolak pelukan itu karena tidak bisa dipungkiri jika pelukan itu adalah pelukan pertama kalinya bagi mereka dan pelukan yang bisa menenangkan hati Sinar akibat perkataan tuan Santosh tadi.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi. Aku akan menepati janjiku kepada mu Sinar. Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku," kata Danish sambil menggerakkan tangannya membuat kepala Sinar menengadah menatap wajahnya.
Sinar tidak menjawab. Dia hanya menatap kedua mata Danish mencari ketulusan di sana. Dan anehnya. Sinar dapat menemukan ketulusan itu di mata Danish.
__ADS_1
"Danish, aku mau pulang," kata Sinar pelan.
"Ssst. Jangan berkata seperti itu. Kebahagiaan kita sudah di depan mata."
"Lebih tepatnya kebahagiaan kamu Danish. Karena kamu akan mendapatkan dua wanita sekaligus," pancing Sinar.
"Tapi kamu adalah wanita yang pertama yang menjadi Istriku."
"Istri pertama yang akan disembunyikan karena tidak berpendidikan dan berwasasan luas," kata Sinar lagi.
"Istri pertama yang tersembunyi di hatiku. Istri pertama yang memberikan status pertama kali kepadaku sebagai suami. Istri pertama yang melayani aku untuk pertama kalinya di ranjang. Bukankah istri pertama itu sangat istimewa. Jadi jangan berkecil hati karena itu," kata Danish sambil membelakangi wajah Sinar.
Sinar memejamkan matanya menikmati belaian lembut tangan Danish di wajahnya. Kata kata Danish bisa meluluhkan hatinya untuk tidak pulang ke desanya.
"Katakan kamu mencintai aku Sinar," kata Danish. Sinar membuka matanya. Sinar sudah berusaha menyembunyikan rasa cintanya itu selama ini. Kini Danish meminta dirinya untuk mengatakan cinta.
"Kamu mencintai aku kan?" tanya Danish. Sinar seperti terhipnotis dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih atas cintamu. Teruslah mencintai aku karena aku bahagia dengan rasa cinta mu itu. Jangan ragu melangkah bersama ku. Aku akan membahagiakan kamu," kata Danish penuh perasaan. Sinar kembali seperti terhipnotis. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Otaknya ingin meminta Danish juga mengatakan cinta kepada dirinya. Tapi mulutnya serasa terkunci.
Hingga akhirnya, Danish mendaratkan bibirnya sangat lembut di bibir Sinar. Kedua bibir wanita itu terbuka. Sinar terbuai dengan penjelajahan bibir Danish di bibirnya. Rasanya sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh Roki saat itu.
"Nanti setelah menikah kita lanjutkan," kata Danish setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Sinar. Sinar tersipu malu malu. Ketika Danish mendaratkan bibirnya di kening Sinar. Sinar semakin yakin jika perasaan Danish kepada dirinya adalah cinta yang sesungguhnya.
"Kamu bahagia dengan rencana pernikahan ini?"
__ADS_1
Sinar masih saja bertanya meskipun dirinya sangat yakin jika Danish mencintai dirinya.
"Sangat. Dan aku tidak sabar untuk menunggu waktu itu tiba. Aku bahagia Sinar."