Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Sinar yang Diinginkan


__ADS_3

Setelah memastikan keadaan Sinar baik baik saja, tuan Santosh dan Nyonya Amalia menuju ruang bayi. Mereka berdua antusias ingin melihat cucu cucunya. Sebagai orang tua yang berpengalaman mengurus bayi prematur. Tuan Santosh dan Nyonya Amalia tidak terlalu khawatir akan kelahiran prematur tersebut. Apalagi setelah melihat keadaan cucu cucunya. Kondisi bayi kembar itu tergolong sangat bagus. Bayi kembar tersebut terlihat cerah menandakan jika kondisi jantung mereka dalam keadaan baik.


"Suster, bayi kembar ini adalah cucu kami. Apakah mereka sudah minum susu?" tanya Nyonya Amalia.


"Belum bu, seharusnya memang sudah harus minum susu sekarang. Kami harus konfirmasi terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya. Apakah mereka diperbolehkan minum susu formula," jawab suster yang menjaga ruang bayi itu.


"Mereka lahir prematur suster. Asi ibunya pasti belum keluar. Mereka harus minum susu formula khusus," kata Nyonya Amalia menegaskan. Tidak mungkin menunggu asi Sinar keluar yang belum tentu Asi nya langsung lancar dalam dua hari ini.


Akhirnya salah satu suster yang berjaga itu. Keluar dari ruangan bayi untuk mengkonfirmasi pemberian susu formula untuk bayi kembar itu ke dokter.


Beberapa menit kemudian, Nyonya Amalia menyaksikan sendiri cucu cucunya itu minum susu formula khusus. Bayi kembar itu terlihat belajar menelan susu itu. Melihat cucu cucunya yang seperti bayi lahir tepat umur. Nyonya Amalia memgembangkan senyumnya. Dia sangat yakin jika cucu kembarnya itu akan bertumbuh dengan normal sama seperti Danish dahulu.


Tuan Santosh hampir tidak berkedip melihat cucu kembarnya. Pria itu seakan tidak percaya jika saat ini. Dirinya sudah menjadi seorang kakek. Kakek dari dua bayi laki laki. Sesuai dengan keinginan Tuan Santosh. Cucunya berjenis kelamin laki laki.


"Cucu kembarku," gumam Tuan Santosh pelan. Pria itu merasa paling beruntung di dunia ini. Tuan Santosh tidak pernah membayangkan akan mempunyai cucu dua sekaligus.


"Mama, selamat untuk kita berdua," bisik Tuan Santosh di telinga istrinya.


"Selamat untuk apa?"


"Selamat karena kita sudah menjadi Kakek Nenek."


Nyonya Amalia memeluk suaminya. Nyonya Amalia sangat bahagia karena kelahiran cucu kembarnya. Dia saat Sinar dan suaminya sudah berdamai.


"Itu bayi kembar kita sayang?" kata Danish menunjuk dua suster yang memberikan bayi kembar mereka minum susu.


Sinar menitikkan air mata bahagia. Sejak dilahirkan tadi malam. Ini yang pertama kalinya dia melihat bayi kembarnya. Melihat bayi kembar dikasih minum susu formula oleh suster. Sinar spontan menyentuh area dadanya. Sinar berkeinginan menyusui bayi kembar itu. Tapi sayang. Asi nya belum keluar.


Sinar dan Danish dipersilahkan masuk ke dalam ruangan itu. Sinar menyentuh putranya satu persatu. Dan meletakkan salah satu dari putranya itu di pangkuannya. Dan bayi satunya di pangkuan Nyonya Amalia. Sedangkan tuan Santosh dan Danish menatap bayi bayi itu dengan binar bahagia.


"Kamu sudah menghubungi mertuamu Danish?" tanya Tuan Santosh.

__ADS_1


"Sudah pa."


Bersamaan dengan Danish menjawab. Ponselnya berdering. Orang yang baru saja ditanyakan oleh Tuan Santosh memanggil di ponselnya. Danish menjawab panggilan video itu dan langsung mengganti kamera menjadi kamera belakang kemudian menyapa mertuanya.


"Cucu cucu ku. Selamat datang di dunia. Selamat untuk kalian berdua ya. Sudah menjadi orangtua."


Suara Pak Ilham terdengar sedangkan di layar ponsel terlihat wajah pria itu dan istrinya.


"Selamat untuk kita juga pak Ilham. Kehadiran cucu cucu kita tidak hanya membuat Sinar dan Danish orang tua tapi membuat kita juga menjadi kakek dan nenek."


Tuan Santosh yang menjawab dan hal itu membuat Sinar memgembangkan senyumnya. Selain Danish yang akrab dengan ayahnya. Sinar juga senang melihat papa mertuanya akrab dengan papanya. Kalau Nyonya Amalia dan ibunya. Jangan ditanya lagi bagaimana keakraban mereka. Sejak pernikahan Sinar dan Danish. Komunikasi antara Nyonya Amalia dengan ayah ibunya sudah terjalin.


"Benar pak Santosh. Kita sudah menjadi Kakek."


"Jadi kapan kalian ke kota. Kita harus merayakan kebahagiaan ini bersama sama," kata Tuan Santosh lagi.


Pak Ilham terdengar tertawa.


"Mungkin nanti malam. Kalau pagi ini masih menunggu kakek. Kakek harus mencari daun daunan yang bisa memancarkan ASI terlebih dahulu."


Mendengar perkataan ayahnya. Sinar semakin senang. Di kampung nya ada jenis jenis sayuran yang biasa digunakan ibu baru melahirkan untuk memperlancar asi. Jika orangtuanya dan kakek Joni membantu sayuran itu. Bisa dipastikan asinya akan cepat keluar.


"Bawa yang banyak ya ayah. Nanti bisa disimpan di kulkas," kata Sinar. Pria itu menganggukkan kepalanya seakan Sinar bisa melihatnya. Kamera itu masih kamera belakang.


Panggilan itu diakhiri karena jam berkunjung ke ruang bayi itu sudah habis. Sinar keluar dengan Danish mendorong kursi roda.


"Nathan, sejak kapan kamu disini?" tanya Danish. Karena terlalu larut dalam kebahagiaannya dan berbicara dengan mertuanya. Danish tidak menyadari bahwa sudah beberapa menit. Nathan berdiri di luar ruangan bayi dan memperhatikan kebahagiaan Danish dan keluarganya dari dinding kaca.


"Lebih kurang Lima menit Danish. Selamat untuk kalian ya," kata Nathan. Pria itu mengulurkan tangannya bersalaman dengan Sinar dan Danish kemudian bersalaman dengan Tuan Santosh dan Nyonya Amalia.


"Terima kasih," jawab Danish dan Sinar bersamaan. Nathan melayangkan pandangannya ke ruang bayi dan memperhatikan bayi bayi milik sahabatnya. Hanya bayi bayi Danish yang ada di ruang bayi itu.

__ADS_1


Nathan bisa merasakan kebahagiaan Danish. Dan dia juga senang melihat kebahagiaan keluarga sahabatnya. Tapi dalam hati, Nathan menangis. Dirinya tidak seperti Danish. Danish mempunyai bayi bayi lucu itu dalam ikatan pernikahan sedangkan dirinya juga mempunyai bayi di luar pernikahan.


Yang paling membuat Nathan sangat sedih. Selain karena bayinya terlahir di luar pernikahan. Nathan sangat sedih karena dirinya belum melihat seperti apa rupa bayinya. Sampai saat ini, dirinya tidak mengetahuinya keberadaan Bintang. Bintang menghilang seperti ditelan bumi.


"Kalian dimana Bintang. Kamu pasti sudah melahirkan bayi kita kan?" tanya Nathan dalam hati.


"Temani Nathan disini Danish. Biar mama dan papa kamu yang membawa Sinar ke dalam ruangannya," kata Nyonya Amalia. Sinar menganggukkan kepalanya jika dirinya tidak masalah jika kedua mertuanya yang membawa dirinya ke dalam ruangan.


Nathan kembali membandingkan kehidupannya dengan Danish dalam hati. Andaikan orang tuanya seperti orangtua Danish. Mungkin saat ini, dirinya sudah bersama dengan Bintang dan bayinya.


"Andaikan salah satu orang tuaku mendukung pernikahan antara aku dan Bintang. Mungkin saat ini kita sama sama pria yang sedang berbahagia Danish," kata Nathan pelan dan pandangannya masih ke bayi bayi Danish di ruangan sana.


Danish hanya menepuk punggung Nathan untuk menguatkan hati sahabatnya itu. Danish tidak tahu harus mengatakan apapun untuk menghibur hati Nathan.


"Rasanya aku adalah pria yang paling malang di dunia ini Danish," kata Nathan lagi.


"Jangan berkata seperti itu Nathan. Mungkin saat ini kamu belum berjodoh dengan Bintang. Tapi percaya lah. Jika kalian berjodoh. Takdir akan membawa Bintang dan bayi mu kepadamu. Tapi sebelum itu. Tolong, perbaiki sikap kamu," nasehat Danish. Nathan menganggukkan kepalanya.


"Aku pamit ya Danish. Sekali lagi selamat," kata Nathan.


Danish berhenti di depan ruangan istrinya. Mendengar tawa kedua orangtuanya setelah menceritakan masa kelahiran Danish.


"Danish persis seperti putra putranya sewaktu baru lahir. Seperti pinang dibelah kampak," kata Tuan Santosh.


"Masa sih pa," kata Sinar tidak percaya.


"Kamu tidak percaya Sinar?. Andaikan di jaman kelahiran Danish sudah ada ponsel modern seperti sekarang ini. Kamu bisa melihat videonya," kata Tuan Santosh lagi.


"Iya. Benar yang diceritakan papa mertua mu Sinar," kata Nyonya Amalia.


Sinar tertawa. Di luar ruangan, Danish juga tertawa. Danish merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda hari ini. Istrinya Sinar kini sudah menjadi menantu yang diinginkan.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2