
"Tidur lah Danish, ini sudah larut malam," kata Sinar. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan karena dirinya tidak ingin memberikan harapan. Biarlah Danish menyimpulkan jawaban Sinar dari perkataannya itu.
Sinar hanya ingin menurut pada perkataan ayahnya. Dia tidak ingin lagi membantah perkataan pak Ilham. Dia akan tetap di perkampungan itu bahkan berada di dalam rumah sesuai dengan perkataan sang ayah hingga keputusan damai ada antara dirinya dan keluarga Roki.
Satu minggu adalah waktu yang tergolong singkat. Tapi bagi, Sinar satu minggu ini adalah waktu yang lumayan lama menunggu kabar dari sang ayah. Jika mengingat perbuatan Roki kepada dirinya. Sinar sebenarnya ingin cepat pulang dan menjelaskan kepada semua orang bahwa dirinya terpaksa melakukan hal itu. Tapi mengingat keadaan Roki saat itu. Sinar merasa takut sendiri. Hingga saat ini, dirinya belum mendapatkan kabar tentang perkembangan kesehatan Roki.
Hampir setiap malam, Sinar berdoa untuk kesembuhan Roki. Sinar juga bahkan terkadang menangis mengingat darah yang banyak keluar dari kepala Roki. Sungguh, Sinar sangat ketakutan jika nyawa Roki tidak tertolong karena kejadian itu.
"Baiklah Sinar. Selamat malam. Semoga mimpi indah."
Akhirnya Danish tidak lagi meminta Sinar untuk menghubungi kedua orang tuanya. Pria itu cukup tahu diri karena sudah sangat banyak menyusahkan Sinar dan kakek Joni. Danish pasrah. Dia hanya berharap kedua orang tuanya bisa melewati ujian ini.
Sinar menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Sinar melihat Danish yang sedang berusaha berbaring. Ada rasa yang semakin sedih ketika melihat wajah sedih Danish dan mendengar ucapan selamat malam dari Danish.
"Selamat malam juga Danish. Kamu juga semoga mimpi indah," jawab Sinar. Hampir setiap malam sejak mereka di rumah ini. Danish selalu mengucapkan selamat malam kepada dirinya menjelang tidur. Dan baru kali ini Sinar membalas ucapan itu.
Sinar masuk ke dalam kamar. Ternyata penolakannya akan permintaan Danish membuat Sinar tidak bisa tidur. Entah mengapa, Sinar sangat merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan Danish. Sinar sadar jika apa yang dialami oleh Danish tidak mudah bagi pria itu.
Pagi menjelang, Sinar bangun dari tidurnya ketika pekerjaan rumah sudah selesai dikerjakan oleh kakek Joni. Karena terbiasa melakukan pekerjaan rumah, kakek Joni tidak mengharapkan bantuan Sinar mengurus dirinya. Sarapan untuk mereka bertiga sudah tersedia bahkan sudah di hadapan kakek Joni dan Danish.
__ADS_1
"Duduk lah Sinar. Mari kita sarapan bersama," kata Kakek Joni begitu Sinar muncul di depan pintu kamar.
Sinar bergabung dengan Danish dan kakek Joni setelah mencuci muka terlebih dahulu.
"Terima kasih," kata Sinar. Meskipun Danish merasakan sakit yang luar biasa di kakinya. Pria itu berusaha untuk mengerjakan hal sekecil apapun di rumah itu. Kali ini, Danish menyendok nasi untuk kakek Joni dan Sinar. Hal itu lah membuat kakek Joni menyukai Danish. Melihat bagaimana Danish selalu berusaha untuk membantu dirinya di rumah itu. Kakek Joni menyimpulkan jika Danish adalah laki laki pekerja keras.
Mereka bertiga sarapan dalam diam. Hingga mereka menghabiskan sarapan itu tidak ada suara diantara mereka.
"Duduk lah dulu Sinar. Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Kakek Joni ketika melihat Sinar hendak masuk kembali ke dalam kamar setelah membereskan piring kotor. Sinar menurut. Dia kembali duduk di antara Danish dan kakek Joni.
Sinar mendengarkan baik baik apa yang dikatakan oleh kakek Joni. Ternyata kakek Joni mendengar pembicaraan antara dirinya dan Danish tadi malam.
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan Danish. Dan aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kedua orang tuamu saat ini. Terlalu beresiko jika Sinar yang pergi ke desa seberang dan menghubungi kedua orang tuamu," kata Kakek Joni tanpa menjelaskan apa yang menjadi resiko bagi Sinar jika gadis itu yang pergi ke seberang.
"Iya kakek. Maafkan aku karena terlalu banyak merepotkan Sinar dan kakek."
"Kamu jangan khawatir Danish. Kakek sendiri yang akan mengabari kedua orang tuamu tentang keadaan mu saat ini."
Danish dan Sinar sama sama menatap kakek Joni. Danish senang mendengar perkataan kakek Joni sedangkan Sinar menunjukkan wajah yang kurang berterima.
__ADS_1
Perkataan kakek Joni berarti jika pria tua itu yang akan pergi ke desa seberang. Itu artinya, kakek Joni akan meninggalkan Sinar dan Danish berduaan di rumah itu.
Sinar duduk dengan gelisah. Keberadaan dirinya dan Danish di rumah itu belum diketahui oleh penduduk lainnya. Jarak rumah kakek Joni yang tersendiri dari rumah penduduk lainnya yang berkelompok membuat penduduk lainnya belum mengetahui tentang Sinar dan Danish. Tapi tidak tertutup kemungkinan jika nanti atau besok, penduduk lainnya mengetahui keberadaan mereka berdua di rumah itu.
Jika hal itu terjadi ketika kakek Joni ada di rumah tidak akan menimbulkan masalah. Yang menjadi masalah, bagaimana kalau penduduk mengetahui keberadaan mereka di saat kakek Joni tidak ada di rumah.
Sinar mengetahui dengan jelas bagaimana adat di perkampungan terilosi itu. Mereka masih lumayan primitive. Hukum adat masih berlaku bagi orang yang melanggar. Apalagi jika seorang wanita dan seorang laki laki tinggal dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan maka akan dianggap zina.
"Terima kasih Kakek," kata Danish senang. Dia menuliskan nomor ponsel orang tuanya di kertas yang disodorkan oleh kakek Joni kepada dirinya.
"Kakek, apa tidak bisa lain kali saja?" tanya Sinar protes. Sinar berpikir jika menghubungi kedua orang tua Danish bisa saja setelah dirinya dan keluarga Roki berdamai.
"Kakek ke desa seberang bukan khusus untuk menghubungi kedua orang tua Danish. Tapi ada hal lain," jawab kakek Joni.
"Lalu bagaimana jika ada orang datang atau lewat dari depan rumah dan melihat kami berduaan di rumah kakek. Apa kakek tidak memikirkan hal itu?"
Sinar akhirnya mengatakan apa yang ada di pikirannya. Pergi ke desa seberang lebih baik ditunda daripada dirinya dan Danish nantinya dituduh penduduk melakukan hal terlarang di rumah itu ketika kakek Joni tidak ada di rumah.
"Kakek tidak akan lama. Kakek akan mengusahakan sudah ada di rumah sebelum sore."
__ADS_1
Sinar akhirnya tidak bisa mencegah kepergian kakek Joni ke desa seberang. Gadis itu hanya berharap, kakek Joni cepat pulang dan tidak ada masalah ketika kakek Joni tidak ada di rumah.
Sedangkan Danish menunjukkan wajah yang senang ketika melihat kakek Joni sudah pergi dari rumah. Bantuan kakek Joni saat ini sangat berarti untuk dirinya terutama untuk kedua orang tuanya.