Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Kepentingan Tuan Santosh


__ADS_3

"Tidak ada rencana untuk bulan madu?.


"Untuk saat ini belum ada mbak. Pekerjaan suamiku tidak bisa ditinggalkan," jawab Sinar menjawab pertanyaan wanita muda seperti dirinya. Mereka baru saja berkenalan dan ternyata wanita itu juga anggota baru di arisan Wacana ini. Sama seperti Sinar. Wanita bernama Anna itu juga didaftarkan oleh mertuanya untuk menjadi anggota arisan di Wacana ini.


"Sebagai istri yang baik. Kita memang harus pengertian akan pekerjaan suami. Tidak semua pengantin baru itu bisa bersenang senang berbulan madu ke luar Kota atau keluar negeri. Oya, aku dengar dengar. Kamu adalah putri seorang pengusaha. Perusahaan orang tuamu bergerak di bidang apa?"


"A...apa mbak?" tanya Sinar sedikit tergagap. Dia mendengar dengan jelas pertanyaan Anna tapi Sinar terpaksa harus bertanya ulang. Dirinya bingung harus menjawab apa.


Sinar menarik nafas lega ketika Nyonya Amalia mempersilahkan para anggota Arisan itu untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan tuan rumah. Sinar merasa terselematkan hari ini tapi dirinya yakin jika pertanyaan yang sama akan muncul dari orang lain.


Sinar masih duduk di sofa di ruang tamu itu sedangkan anggota arisan lainnya sudah ada yang mengambil makanan. Seperti wanita wanita lainnya jika berkumpul, ruangan itu dipenuhi canda dan tawa.


"Sepertinya menjadi mama mertua itu membuat Nyonya Amalia sangat bahagia," kata salah satu anggota arisan itu.


"Iya benar. Yang seharusnya menjadi tuan rumah bulan ini bukan Nyonya Amalia. Tapi mungkin karena bahagia. Nyonya Amalia rela repot menjamu kita padahal pesta pernikahan putranya baru semalam terlaksana."


Sinar hanya tersenyum mendengar pembicaraan dua wanita yang belum mengambil makanan. Ketika dua wanita itu beranjak dari duduknya. Kini hanya Sinar yang duduk di ruang tamu itu. Sedangkan para anggota arisan lainnya sudah bisa dipastikan mengambil tempat makan di taman belakang karena pemandangannya lebih indah dan alami.


Sinar baru saja hendak beranjak dari duduknya. Seorang pria yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya membuat Sinar kembali duduk.


"Papa."


"Siapa papa mu. Aku bukan papa kamu."


Sinar menundukkan kepalanya mendengar suara ketus tuan Santosh. Sinar malu dan matanya sudah mulai memanas karena penolakan papa mertuanya. Seharusnya, Sinar siap dengan penolakan itu karena dia menikah dengan Danish tanpa restu tuan Santosh.


"Ma..maaf tuan."


"Jangan pernah mengatakan bagaimana kehidupan orang tuamu kepada siapapun yang mengenal baik keluarga Santosh. Jika mereka mengetahui jika kamu hanyalah seorang putri dari keluarga miskin. Maka kamu harus siap kehilangan Danish dan semua yang sudah kamu terima dari Danish dan istriku," kata Tuan Santosh tajam.


"Haruskah aku berbohong tuan. Bagaimana pun suatu hari nanti apa yang ditutupi akan terbuka juga dengan sendirinya," jawab Sinar. Bagi Sinar, lebih baik orang orang mengetahui keadaan keluarganya daripada mengarang cerita yang akhirnya bisa mempermalukan dirinya nanti.


"Apakah kamu tidak sadar jika kedatangan kamu di keluarga Santosh adalah aib bagiku. Jika orang orang mengetahui latar belakang mu yang sebenarnya. Entah cibiran seperti apa yang terdengar di pesta pernikahan kalian kemarin."


"Aib?" tanya Sinar pada dirinya sendiri dalam hati. Dia ingin marah karena disebut sebagai aib. Namun Sinar berusaha menahan dirinya untuk tidak marah. Dia hanya berharap, seseorang muncul di ruang tamu itu supaya Tuan Santosh berhenti mengeluarkan kata kata yang menyakiti hatinya.


"Ingat Sinar. Aku memberikan kamu waktu tiga bulan. Jika dalam waktu tiga bulan ini kamu tidak kunjung hamil. Jangan salahkan aku memisahkan kamu dari Danish."


Sinar semakin tidak mengerti dengan perkataan tuan Santosh.


"Sepertinya tuan sangat menginginkan cucu dari pernikahan kami. Bukankah dulu tuan pernah berkata jika tidak menginginkan cucu dari diriku sendiri?"


"Ternyata kamu sudah mulai berani ya. Satu yang harus kamu ingat. Aku mengijinkan Danish menikahi kamu untuk kepentingan diriku sendiri. Jadi jangan merasa di atas angin dulu."


Sinar tersenyum pilu. Memutuskan menikah dengan Danish tanpa restu dari tuan Santosh bukan hal yang mudah bagi Sinar. Sinar pernah berpikir jika seiring waktu, dia akan mendapatkan restu itu dari Tuan Santosh. Sinar masih memikirkan bagaimana bersikap supaya Tuan Santosh merestui dirinya tapi pria itu sudah mematahkan semangat Sinar terlebih dahulu.


"Sinar, kemari," panggil Nyonya Amalia dari ruang makan. Sinar menatap Tuan Santosh sebentar. Kemudian beranjak dari duduknya.


"Maaf tuan. Aku ke sana dulu."

__ADS_1


Bagaimana pun sikap Tuan Santosh kepada dirinya. Sinar berusaha untuk sopan. Ketika Tuan Santosh menganggukkan kepalanya. Sinar baru berlalu dari ruang tamu itu.


"Apa ada kata kata beliau yang menyakiti mu?" tanya Amalia. Kini hanya mereka berdua yang ada di ruang makan itu karena anggota arisan lainnya sudah berpindah tempat ke taman belakang.


"Tidak ada ma. Beliau hanya mengatakan semoga aku dan Danish secepatnya memberikan kalian cucu."


Sinar menyembunyikan kata kata menyakitkan dari tuan Santosh dari mama mertuanya. Dia tidak ingin kedua mertuanya itu berdebat jika dirinya menceritakan apa yang sebenarnya dikatakan oleh tuan Santosh.


"Semoga saja ya Sinar. Mama juga berharap seperti itu."


Sinar menganggukkan kepalanya.


"Ayo, isi piring kamu. Kita menyusul mereka ke taman belakang."


"Biar aku saja yang bawa punya mama," kata Sinar. Sinar meletakkan makanan milik Nyonya Amalia di atas baki beserta makanan miliknya.


Nyonya Amalia tersenyum menerima perhatian kecil yang diberikan Sinar untuk dirinya. Mereka berdua berjalan bersebelahan menuju taman belakang dan bergabung dengan para wanita yang sudah terlihat santai menikmati makanan masing masing di bangku taman.


Tidak ingin mempermalukan mama mertuanya. Sinar juga berusaha bersikap anggun seperti anggota lainnya.


"Jus buasnya Nyonya muda," kata seorang pelayan membuat Sinar tersentak.


"Tino," pekik Sinar sambil mengusap sudut bibirnya. Sinar berbinar melihat Tino. Seketika dirinya mengingat kebaikan gadis tomboy itu.


"Iya Nyonya muda. Silahkan diambil mana yang anda suka," kata Tino lagi.


"Jangan panggil Nyonya muda. Panggil aku seperti biasa. Setelah acara ini selesai. Aku akan menemui kamu," bisik Sinar.


"Baik Nyonya muda. Kalau begitu. Aku berkeliling dulu," kata Tino. Sinar menganggukkan kepalanya dan memandangi Tino yang sudah menghampiri para wanita itu satu persatu dan menawarkan jus buah.


"Dengar dengar. Katanya pak Santosh mendaftarkan Danish sebagai Calon Direksi di Global Anugerah Group. Apa benar seperti itu?".


"Sepertinya untuk menduduki. Danish belum memenuhi kriteria. Yang aku tahu syarat untuk menjadi Direksi di Global Anugerah group selain sudah menikah juga harus mempunyai anak."


"Artinya Danish bisa memenuhi syarat jika istrinya secepatnya hamil. Rapat tahunan masih lama beberapa bulan lagi."


"Jika Danish terpilih. Itu artinya, Danish adalah Direksi termuda sepanjang Global Anugerah Group berdiri."


Global Anugerah group adalah Perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti pertambangan, property dan juga kelapa sawit. Tuan Santosh termasuk pemegang saham tertinggi urutan kedua dalam Global Anugerah Group.


Sinar menyimak pembicaraan dua wanita yang duduk membelakangi dirinya. Dia menghubungkan pembicaraan dua wanita itu dengan apa yang dikatakan tuan Santosh tadi.


Sinar menyimpulkan dalam hati, tuan Santosh mengijinkan Danish menikahi dirinya supaya suaminya itu memenuhi kriteria untuk menjadi calon Direksi. Sekarang, yang menjadi pertanyaan Sinar dalam hati. Apakah Danish dan Nyonya Amalia menginginkan pernikahan itu secepatnya juga mempunyai tujuan yang sama dengan Tuan Santosh?. Sinar menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sungguh, dia tidak ingin Danish menikahi dirinya hanya karena calon Direksi itu.


"Tidak mungkin. Danish dan mama sangat berbeda dengan Tuan Santosh," kata Sinar dalam hati.


Acara para wanita wanita itu tidak sampai hanya makan saja. Setelah acara makan itu selesai mereka masih berada di taman itu. Masing masing orang merasa bebas melakukan apa yang mereka mau. Di Gazebo, sudah terlihat beberapa wanita bernyanyi dan berjoged bersama. Sedangkan tidak jauh dari Sinar. Beberapa wanita termasuk Anna sedang berkumpul memperhatikan beberapa perhiasan yang dikeluarkan seorang wanita dari dalam tasnya.


"Sinar kemari," panggil Anna teman baru Sinar. Sinar beranjak dari duduknya dan bergabung bersama mereka. Sinar juga ikut memperhatikan perhiasan perhiasan cantik dan mewah itu tanpa menyentuhnya.

__ADS_1


"Menantu Nyonya Amalia memang wanita yang paling beruntung diantara kita," kata salah seorang wanita. Wanita itu menatap ke arah leher Sinar. Sinar spontan meraba lehernya. Dia takut, tanda cinta yang dibentuk oleh Danish tadi malam di sekitar lehernya terlihat oleh wanita itu.


"Maksudnya?" tanya Anna tidak mengerti.


"Jarang jarang seorang mertua memberikan Berlian asli kepada menantunya," kata wanita penjual perhiasan itu. Dia sudah terbiasa dengan perhiasan sehingga dirinya bisa membedakan Berlian asli dengan Berlian yang tidak asli. Penjual perhiasan itu menyimpulkan jika perhiasan yang saat ini dipakai oleh Sinar pemberian Nyonya Amalia karena perhiasan yang dipakai oleh Sinar saat ini adalah perhiasan yang dibeli oleh Nyonya Amalia dari dirinya.


"Berlian asli?. Jadi yang sekarang kami pegang ini bukan Berlian asli?" tanya Anna bingung.


"Berlian itu banyak jenisnya. Yang dipakai oleh Sinar itu adalah jenis yang White Diamond sedangkan berlian yang kalian pegang ini adalah jenis Synthetic diamond. Meskipun Synthetic diamond adalah Berlian buatan manusia tapi tetap cantik dan juga mahal meskipun lebih mahal white diamond. Sekilas nampak tidak berbeda kan?" kata penjual perhiasan itu membandingkan perhiasan yang sedang dia tawarkan dengan perhiasan yang dikenakan oleh Sinar.


Sinar tidak lantas berbangga diri ataupun sombong karena mempunyai perhiasan Berlian asli. Meskipun para wanita itu menatap kagum pada perhiasan yang saat ini dia pakai.


Sinar tercengang ketika wanita penjual perhiasan itu menyebutkan harga setiap perhiasan. Jika perhiasan miliknya lebih mahal dari perhiasan yang sedang diperjualbelikan itu. Sinar tak sanggup membayangkan harga perhiasan miliknya.


"Apakah mereka ini yang dikatakan dengan wanita wanita sosialita?" tanya Sinar dalam hati. Dia melihat sendiri bagaimana para wanita itu membeli perhiasan perhiasan itu seperti membeli pisang goreng tanpa menawar terlebih dahulu.


Sinar memisahkan diri dari para wanita itu. Rasanya tidak sabar ingin berbicara dengan Tino. Wanita itu berjalan cepat ke arah dapur karena dia sangat yakin jika Tino pasti saat ini berada di dapur.


Dan benar saja, Sinar melihat Tino sedang duduk santai di dapur itu.


"Tino."


Sinar langsung memeluk Tino dengan erat melepaskan kerinduan akan sahabatnya itu.


"Mengapa tidak datang ke pestaku?" tanya Sinar. Sinar sudah menduga apa yang menjadi alasan Tino tidak hadir di pernikahannya. Tapi Sinar sengaja menanyakan itu untuk menunjukkan jika dirinya sangat menginginkan kehadiran Tino saat itu.


"Lupakan tentang ketidakhadiran ku. Yang penting acara itu lancar tanpa kendala. Kamu sangat cantik Sinar," puji Tino tulus. Tino memperhatikan penampilan Sinar dari atas kepala sampai kaki.


"Yang namanya perempuan ya cantik Tino tidak mungkin tampan kan?.


"Jangan menyindir aku kamu," kata Tino. Sinar tertawa.


"Kalau rakyat jelata itu mau dinikahi pangeran sekalipun. Sifat jelata nya itu pasti sudah dihilangkan. Seperti ini nih."


Sinar spontan berhenti tertawa mendengar perkataan dari salah satu pelayan yang selalu mencari masalah kepada dirinya sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.


"Ssst, jangan berkata seperti itu. Dia sudah menjadi Nyonya muda kita," kata pelayan lainnya.


"Nyonya Muda hanya untuk sementara," jawab pelayan itu sinis.


Sinar mendekati dua pelayan itu.


"Siapa namamu?" tanya Sinar kepada pelayan yang mengejek dirinya. Wanita itu terlihat cuek dan tidak menjawab pertanyaan Sinar.


"Kalau aku Mawar, Nyonya muda."


"Aku tahu mbak mawar. Aku juga mengetahui nama si mbak yang satu ini. Aku sengaja bertanya namanya ternyata dia lupa namanya sendiri. Pantas saja dia mengatakan aku rakyat jelata karena dia juga lupa jika dirinya sama seperti ku berasal dari rakyat jelata," kata Sinar. Dia sudah tidak tahan mendengar perkataan pelayan itu apalagi mengatakan jika dirinya hanya Nyonya muda untuk sementara.


Dalam hati Sinar juga menghubungkan perkataan tuan Santosh tentang pernikahan dirinya dan Danish demi kepentingan Tuan Santosh dengan perkataan si pelayan yang mengatakan dirinya sebagai Nyonya muda sementara.

__ADS_1


"Apa setalah Danish berhasil menjadi Direksi maka aku akan dipisahkan dari suamiku?" tanya Sinar dalam hati.


__ADS_2