Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Ancaman Bintang


__ADS_3

"Lima belas juta?" kata Sinar terkejut. Setelah mereka berkeliling dari satu toko emas ke toko emas yang lain. Akhirnya ada juga toko emas yang bersedia membeli kalung itu tanpa adanya surat.


"Ya mbak."


"Mbak, tidak bisa ditambah sedikit lagi," kata Hana. Sinar langsung menyentuh lengan Hana dengan siku tangannya supaya tidak minta tambahan harga lagi. Dia sudah setuju dengan harga yang jauh dari perkiraannya itu.


"Tidak mbak. Kalau kalian merasa tidak cocok. Bisa dicoba ke toko emas yang lain."


"Mbak aku setuju dengan harganya," kata Sinar dengan cepat. Dia takut Pemilik toko emas itu berubah pikiran. Jika itu terjadi, Dia tidak akan mendapatkan uang hari ini Dan kesempatan bekerja di pabrik akan hilang.


Sinar menerima uang Lima belas juta itu dengan perasaan biasa saja. Supaya dirinya nyaman dan aman tinggal di rumah kontrakan Hana. Sinar ikut membayar uang kontrakan rumah bulan ini Dan juga membayar biaya makan untuk satu bulan ke depan. Sinar adalah orang yang tahu membalas budi. Bukan hanya membayar uang kontrakan dan uang makan. Sinar juga berniat mengganti uang minyak Hana ketika menjemput dan mengantarkan dirinya menjual kalung itu.


"Kalau yang itu aku ihklas. Jadi tidak perlu dibayar. Sinar."


"Aku juga ihklas memberikannya kepada mu Hana. Tolong diterima."


"Kamu boleh membayarnya setelah kamu mendapatkan pekerjaan nantinya. Sekarang simpan uang kamu."


Sinar menyimpan uangnya kembali. Hana terlihat sangat tulus membantu dirinya. Dia berharap, Hana tidak seperti Bintang.


"Kalau begitu. Aku yang membayar makanan ini ya. Jangan ditolak," kata Sinar. Setelah mendapatkan uang hasil penjualan kalung itu. Mereka makan bakso di pinggir jalan. Hana menganggukkan kepalanya.


"Simpan uang kamu baik baik. Jangan sampai dirampok. Seperti di sinetron. Sudah jatuh tertimpa tangga," kata Hana bercanda.


"Aman itu."


Sinar sangat merasa lega. Dalam hati dirinya berterima kasih kepada Danish karena memberikan kalung itu sehingga dirinya mempunyai bekal di kota ini sebelum mendapatkan pekerjaan.


Sinar masuk ke dalam kamar yang dulunya di tempati oleh Tino. Meskipun suasana kamar itu jauh dari kata sederhana. Sinar merasa senang. Besok pagi begitu dirinya keluar dari kamar dia tidak ketakutan lagi bertemu dengan Tuan Santosh dan dua pekerja yang selalu mengejek dirinya. Tidak satu atap dengan Tuan Santosh. Sinar merasa dirinya seperti manusia yang bebas dari tekanan. Di kamar itu.

__ADS_1


Hal yang berbeda yang dirasakan oleh tuan Santosh dan Bintang. Tuan Santosh diliputi rasa sangat penasaran akan kesalahan yang dilakukan oleh pak Idrus sehingga calon besannya itu dijemput paksa oleh pihak yang berwajib.


"Mau kemana kamu Danish?" tanya tuan Santosh kesal ketika Danish melewati ruang tamu dan belakangnya seorang pekerja membawa ransel milik Danish.


"Aku mau ke kampung halaman Sinar pa."


Tuan Santosh menunjukkan wajah masam tapi Danish tidak perduli. Bintang dan mamanya yang masih berada di rumah itu juga terlihat menahan Danish tapi keinginan pria itu tidak bisa ditunda.


"Bintang, om tidak mau tahu. Apa yang terjadi dengan papa kamu tidak boleh diketahui oleh umum. Jadi berusaha lah untuk secepatnya membebaskan papamu," kata Tuan Santosh. Pria itu merasakan cemas yang luar biasa jika relasi kerjanya mengetahui putranya bertunangan dengan putri dari seorang pria yang cacat hukum.


"Om, aku mohon. Tolong bantu aku membebaskan papaku. Om mempunyai banyak relasi di instansi itu. Dengan campur tangan Om. Papaku pasti bisa dibebaskan."


"Aku akan berusaha. Tapi aku juga harus tahu terlebih dahulu masalahnya. Jika karena difitnah. Itu masalah gampang. Tapi jika masalahnya berat. Aku tidak bisa berbuat apa apa," kata Tuan Santosh. Tangannya sudah bermain di layar ponsel untuk mencari nama kontak salah satu pejabat yang bertugas di kepolisian.


"Apa?" tanya tuan Santosh terkejut dan seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Informasi yang dia dapat dari relasinya itu tentang kejahatan pak Idrus bukan kejahatan yang biasa. Ternyata bisnis yang sedang dijalankan pak Idrus selama ini hanya bisnis bayangan untuk menutupi bisnis haram.


"Aku tidak bisa membantu pak Idrus Bintang. Tolong kalian berdua meninggalkan rumahku," kata Tuan Santosh. Dia ingin sendiri saat ini. Dalam hati, tuan Santosh menyesali adanya pertunangan Danish dan Bintang hari ini. Andaikan pak Idrus lebih awal ditangkap. Tuan Santosh tidak akan menginginkan pertunangan itu. Bagaimanapun, tuan Santosh pasti tidak ingin mempunyai besan seorang penjahat.


"Om, jangan seperti itu. Aku percaya dengan campur tangan om. Papa pasti bebas. Tolong papa om," kata Bintang memohon. Tapi dengan tegas Tuan Santosh menolak membantu. Kejahatan pak Idrus tidak bisa ditoleransi oleh siapapun termasuk tuan Santosh. Pak idrus terlibat perdagangan obat obat terlarang.


Tuan Santosh tidak akan mengambil jalan berisiko yang bisa menghancurkan reputasinya. Dia dikenal masyarakat umum sebagai sosok yang berwibawa dan mempunyai keperdulian yang tinggi kepada kepentingan masyarakat umum dan generasi muda di negeri ini. Kejahatan pak Idrus sangat jelas menghancurkan generasi muda yang bertentangan dengan hati nurani tuan Santosh.


"Maaf Bintang. Om tidak bisa."


Bintang terlihat meneteskan air matanya. Dia


juga sadar kejahatan papanya sangat fatal. Meskipun seperti itu, dirinya tidak ingin pak Idrus dihukum. Rasa sayang dan bakti kepada papanya membuat Bintang menutup mata akan dampak dari pekerjaan pak Idrus. Sebagai seorang anak. Dia sangat menyayangi papanya bagaimanapun kondisi pak Idrus saat ini.


"Bunga edelweiss," bisik mamanya Bintang tepat di telinga putrinya.

__ADS_1


Bintang menganggukkan kepalanya sambil menatap Tuan Santosh dengan sinis. Jika pernikahan antara dirinya dan Danish batal hari ini, tidak ada jalan lain untuk menunjukkan bakti nya kepada sang papa. Mereka menginginkan pernikahan itu cepat terlaksana supaya keluarga Bintang mendapatkan perlindungan dari Tuan Santosh.


"Baiklah om. Jika om tega melihat papaku di penjara. Maka sepertinya, aku juga harus tega melihat Danish di penjara. Apa om tidak mengetahui jika Danish mencuri bunga edelweiss yang sangat banyak dari pegunungan di pendakian terakhir ini?" kata Bintang pelan tapi bisa membuat jantung Tuan Santosh hampir berhenti berdetak.


"Apa maksud mu Bintang?" tanya Tuan Santosh. Pria itu lupa jika mamanya Bintang sudah menceritakan tentang Bunga edelweiss itu ketika membicarakan pernikahan tadi.


"Ya om. Jika om tidak mau membantu papaku bebas. Maka aku juga akan menceritakan kepada masyarakat umum jika Danish pencuri bunga edelweiss. Om tahu kan, undang undang tentang Bunga edelweiss dan berapa lama ditahan di penjara," kata Bintang tenang tapi kata katanya bernada mengancam


Tuan Santosh menegakkan kepalanya menatap wanita yang diidamkan menjadi menantunya. Bintang seperti tidak dia kenal sebelumnya yang anggun dan lembut. Wanita itu sudah berani mengancam dirinya.


"Itukah tujuan kamu meminta putraku mengambil Bunga edelweiss itu. Danish hampir celaka karena membuktikan cintanya kepadamu ternyata itu alat untuk membuat kami dibawah kuasamu," kata Nyonya Amalia yang tiba tiba muncul di tempat itu. Sejak tadi dirinya sudah menguping pembicaraan suaminya dan Bintang dan saat ini dirinya tidak dapat menahan diri hanya untuk menguping. Ternyata apa yang dia pikirkan sebelumnya memang seperti itu kenyataannya.


"Bukan tante. Ini hanya kebetulan saja."


"Bohong," kata Nyonya Amalia kencang sambil menatap Bintang dan mamanya secara bergantian.


"Kamu pasti sudah mengetahui kejahatan pak Idrus. Meminta Danish untuk membuktikan keseriusanya ternyata perangkap supaya kami tidak berkutik. Kamu sengaja ingin masuk secepatnya ke keluarga ini supaya keluarga kamu mendapatkan perlindungan dari keluarga kami kan?" tanya Nyonya Amalia penuh kemarahan. Mengingat Danish hampir mati karena bunga edelweiss itu ternyata hanya untuk mempermudah Bintang dan keluarganya untuk menjalankan rencana jahat mereka.


"Pergi sekarang dari rumahku," usir Nyonya Amalia marah.


"Kami akan pergi. Dan aku meminta tuan Santosh untuk memikirkan permohonanku. Jika tidak kalian tanggapi. Aku tidak akan main main dengan perkataanku. Danish bisa dipenjara karena mencuri bunga edelweiss," kata Bintang kemudian beranjak dari duduknya dan mengajak mamanya keluar dari rumah ini.


"Lebih baik aku stroke daripada membantu pak Idrus," kata Tuan Santosh. Terlihat penyesalan di wajahnya tapi tidak berdaya dengan ancaman Bintang. Danish terbukti mencuri bunga edelweiss itu Dan semua buktinya ada pada Bintang.


"Itulah sebabnya sebelum kata keluar dari mulut. Otak terlebih dahulu berpikir. Takdir sudah mempertemukan Danish dan Sinar supaya Bintang tidak jadi bertunangan dengan Danish. Tapi ingat, apa yang kamu lakukan terhadap Sinar. Kamu menghinanya dan membuat dia tertekan di rumah ini. Yang lebih parah kamu bersikeras untuk mengadakan pertunangan bahkan mendesak pernikahan secepatnya. Andaikan otak kamu sama dengan otakku. Entah seperti apa kita saat ini," kata Nyonya Amalia panjang lebar untuk menyadarkan suaminya itu atas semua kesalahannya kepada Sinar.


"Sekarang pikirkan jangan sampai putraku masuk penjara karena bunga Edelweis itu," kata Nyonya Amalia lagi.


"Itu masalah gampang," kata Tuan Santosh. Yang menjadi masalah baginya saat ini adalah bagaimana jika penangkapan pak Idrus diketahui oleh umum dan disangkut pautkan dengan dirinya karena pertunangan Danish dan Bintang sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2