
"Kurang ajar," maki Tuan Santosh marah karena melihat foto foto pertunangan Danish dan Bintang di media sosial milik Bintang. Ternyata Bintang bergerak cepat mengumumkan pertunangan mereka. Banyak komentar pujian dari teman teman Bintang baik yang datang langsung ke pertunangan itu maupun yang tidak datang.
Tuan Santosh dengan cepat menghubungi wanita itu dan meminta Bintang untuk menghapus semua foto foto itu tapi dengan tegas Bintang menolak.
"Om, sampai kapanpun aku tidak akan menghapus foto foto itu. Aku sangat mencintai Danish. Bunga edelweiss itu memang permintaan aku tapi bukan berarti aku merencanakan seperti yang dituduhkan oleh tante Amalia. Maafkan aku om. Kemarin aku berkata seperti itu karena tidak bisa membayangkan papa di penjara apalagi papa mempunyai kebutuhan khusus," kata Bintang dari seberang.
"Bintang, aku tidak mau tahu dengan permasalahan yang dihadapi oleh papa kamu. Bagiku yang terpenting permasalahan itu jangan sampai disangkut pautkan dengan keluargaku apalagi Danish. Jika itu terjadi, aku tidak akan tinggal diam."
"Baiklah om. Aku tidak akan mengungkit tentang Bunga edelweiss itu asalkan pertunangan antara aku dan Danish akan tetap berlanjut ke pernikahan."
Tuan Santosh mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah mengetahui bisnis haram milik calon besannya. Tuan Santosh sudah tidak berminat melanjutkan pertunangan itu. Dia tidak perduli dengan biaya yang sudah keluar karena masalah biaya bukan masalah penting baginya. Dia hanya ingin harga diri dan nama baiknya selalu harum semerbak diantara relasi dan sahabat sahabatnya.
"Tapi jika tidak, aku akan membocorkan tentang Bunga edelweiss itu dan juga rahasia Danish yang lain. Aku juga akan membocorkan rahasia om yang aku tahu selama ini."
"Apa maksud kamu. Danish tidak mungkin mempunyai rahasia yang membahayakan dirinya sendiri. Danish anak yang baik."
"Siapa bilang dia anak yang baik. Dia terlihat baik di rumah saja. Dan apa om merasa pria yang baik baik juga?"
Tuan Santosh mengepalkan tangannya mendengar perkataan Bintang. Berhadapan dengan Bintang saat ini hanya membuat emosinya semakin memuncak. Tuan Santosh memutuskan panggilan itu secara sepihak.
"Dasar betina. Ternyata kamu tidak sebaik yang aku pikir selama ini. Menyesal aku menyetujui pertunangan itu untung saja pernikahan itu batal," kata Tuan Santosh sambil memukul meja kerjanya dengan wajah yang memerah karena marah.
"Rahasia apa yang dia maksud pa?"
Tuan Santosh terkejut mendengar pertanyaan Nyonya Amalia. Pria itu sampai memegang dadanya karena suara yang tiba tiba itu. .
"Sejak kapan kamu di situ ma?" Nyonya Amalia berdiri di depan pintu.
"Sejak kamu menghubungi Bintang," jawab Nyonya Amalia tenang.
"Oh, kenapa tidak langsung masuk saja. Mengapa harus menguping."
"Hanya dengan menguping hal yang seharusnya tidak tahu jadi bisa diketahui. Seperti saat ini, kalau tidak karena menguping aku tidak akan tahu bahwa kamu mempunyai rahasia. Justru Bintang yang mengetahui rahasia kamu," kata Nyonya Amalia dengan menatap suaminya. Rasa curiga menyelimuti hati wanita itu akan tuan Santosh.
Tuan Santosh mendekati istrinya kemudian meraih tangannya.
"Aku tidak mempunyai rahasia apapun. Bintang hanya berusaha untuk mengancam aku supaya pertunangan mereka tidak dibatalkan.
"Haruskah aku percaya begitu saja?"
"Apa aku pantas untuk diragukan?" tanya pria itu membuat Nyonya Amalia ingin percaya dengan kata kata suaminya. Tapi ketika melihat sendiri bagaimana suaminya sangat marah mendengar ancaman Bintang. Tidak seharusnya tuan Santosh marah jika dirinya benar benar mempunyai rahasia.
Tuan Santosh memang laki laki penyayang keluarga dan bertanggung jawab. Nyonya Amalia bisa merasakan itu.
"Entah lah," jawab Nyonya Amalia.
"Jika kamu berpikir yang macam macam tentang rahasia yang dikatakan Bintang. Aku tidak mempunyai rahasia sama sekali. Sekarang kita fokus bagaimana supaya Bintang tidak memaksakan pertunangan itu sampai ke pernikahan. Apa sudah ada kabar dari Danish?" tanya tuan Santosh.
__ADS_1
"Danish masih disana. Dia ingin memastikan kesehatan ibunya Sinar sebelum kembali ke kota ini. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya Sinar saat ini. Aku ingin menemuinya. Tapi karena Sikap kepada Sinar. Aku tidak mempunyai keberanian untuk menemui wanita itu."
"Sudah. Biar saja. Danish yang berurusan dengan keluarga itu."
"Mudah kamu berbicara seperti itu pa. Sinar belum diketahui keberadaannya. Tapi kamu bisa setenang ini?" tanya Nyonya Amalia.
Nyonya Amalia tidak habis pikir akan sikap suaminya itu. Sudah satu minggu, Sinar pergi dari rumah itu dan selama satu minggu itu juga nyonya Amalia tidak bisa tidur nyenyak. Dia selalu memikirkan Sinar. Apakah wanita itu makan. Dimana dia tinggal saat ini. Apakah dia baik baik saja?. Pertanyaan itu selalu menghantui pikiran nyonya Amalia setiap mengingat nama Sinar.
Bukan hanya terbebani pikiran. Nyonya Amalia juga akan merasakan jantungnya berdetak kencang jika melihat berita di televisi tentang krimanal kepada seorang wanita atau melihat berita serupa di media social. Nyonya Amalia akan merasa lega jika mengetahui identitas korban kriminal yang ternyata bukan Sinar. Di setiap doanya. Nyonya Amalia selalu berdoa Sinar dalam keadaan baik dan mendapatkan kenudahan dalam hal apapun.
"Sinar bukan siapa siapa bagiku. Jadi mengapa aku harus khawatir berlebihan seperti yang kamu tunjukkan?" tanya tuan Santosh sinis. Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya pertanda dirinya tidak senang dengan perkataan tuan Santosh.
"Kamu melupakan kebaikan hanya karena Danish hendak menikahinya," kata Nyonya Amalia.
"Kebaikannya sudah dibayar mahal."
"Tuan, Nyonya."
Kedatangan seorang pekerja menghentikan perdebatan Tuan Santosh dan Nyonya Amalia.
"Tuan, Nyonya. Ada tamu."
Tanpa menjawab pekerja itu. Sepasang suami istri itu bersamaan keluar dari ruang kerja milik Tuan Santosh. Mereka menuju ruang tamu karena kedatangan tamu itu karena undangan tuan Santosh dan Nyonya Amalia.
"Selamat pagi pak Santosh. Selamat pagi Ibu Amalia," sapa pria itu sambil berdiri.
Tuan Santosh menceritakan apa yang menjadi tujuannya mengundang sang pengacara itu.
"Menurut Saya, Jalan terbaik untuk memutuskan pertunangan itu secara sepihak hanya dengan cara Danish menikah dengan wanita lain secepatnya. Otomatis Bintang pasti akan menyerah," kata pengacara itu memberikan pendapat setelah pembicaraan tentang Sinar dan Danish.
"Aku juga sudah memikirkan hal itu. Danish memang harus menikahi wanita lain supaya Bintang menyerah. Aku tidak ingin lagi mempunyai menantu seperti Bintang yang ternyata sangat licik," kata Tuan Santosh.
Nyonya Amalia tidak percaya jika Bintang akan menyerah jika Danish menikahi wanita lain. Bintang rela berpoligami itu artinya Bintang pasti menginginkan pernikahan dengan Danish meskipun Danish menikah dengan wanita lain.
"Kalau sudah ada calon, sebaiknya jangan ditunda terlalu lama Pak, Bu. Bintang tidak menuntur campur tangan kalian untuk membebaskan papanya karena sampai saat ini pak Idrus masih bisa membantah bisnis gelap. Tapi juga sudah ada bukti nyata tentang bisnis itu. Aku sangat yakin, Bintang dan keluarganya akan memanfaatkan pertunangan itu untuk meminta bantuan bapak membebaskan pak Idrus."
Tuan Santosh menganggukkan kepalanya. Dia juga berpikir seperti itu. Sampai saat ini. Pak Idrus masih bisa membantah dirinya tidak mempunyai bisnis gelap karena bukti belum ada. Dia tangkap atas informasi dari salah satu buronan yang berhasil ditangkap dan menyebut pak Idrus sebagai pimpinan mereka.
"Semoga Sinar cepat ditemukan. Mungkin memang harus seperti ini lah yang kita alami supaya Danish bisa menikahi Sinar dan tidak perlu berpoligami," kata Nyonya Amalia setelah pengacara itu pergi.
"Tidak ada pernikahan antara Sinar dan Danish," kata Tuan Santosh lantang. Penolakannya terhadap Sinar masih jelas terlihat di wajahnya.
"Apa yang salah dengan Sinar pa. Karena dia wanita miskin?. Untuk apa menantu kaya, terhormat dan cantik tapi licik. Seperti itu yang kamu mau?" tanya Nyonya Amalia marah. Dia tidak bisa menahan amarahnya ketika Tuan Santosh menegaskan tidak ada pernikahan antara Danish dan Sinar.
"Sampai kapanpun aku tidak akan merestui wanita kampung itu menjadi menantuku."
"Kamu restu atau tidak. Danish akan menikahi Sinar setelah wanita itu ditemukan. Aku pastikan itu," kata Nyonya Amalia. Dia tadi berpikir jika Tuan Santosh berubah pikiran ketika mendengar pendapat sang pengacara ternyata hati suaminya itu masih keras seperti batu.
__ADS_1
Di tempat berbeda. Danish sedang duduk di rumah milik pak Ilham. Dia memutuskan menunggu kesembuhan ibu Yanti setelah itu baru kembali ke kota. Meskipun dirinya bisa duduk tenang di rumah itu. Pikirannya terus memikirkan Sinar. Sama seperti pak Ilham, kakek Joni dan Nyonya Amalia yang tidak bisa tidur tenang. Danish juga seperti itu. Rasanya bersalahnya berlipat ganda melihat kesehatan ibu Yanti yang belum sembuh karena keberadaan Sinar belum diketahui.
"Belum ada kabar?" tanya kakek Joni sambil meletakkan botol obat oles hasil ramuannya sendii di atas meja yang ada di depan Danish. Danish menggelengkan kepalanya dengan lesu. Meskipun dirinya berada di rumah Sinar. Pencarian Sinar lewat orang orang suruhan Danish terus dilakukan.
"Semoga dia dalam keadaan baik," kata Kakek Joni. Kemudian menyuruh Danish untuk meluruskan kaki kanannya bertumpu ke atas meja. Kakek Joni mengoleskan obat oles itu ke kaki kanan Danish yang belum sembuh sempurna.
Hal seperti ini lah yang membuat Danish semakin kecil di hadapan keluarga Sinar. Setelah apa yang dia dan Papanya lakukan kepada Sinar. Kakek Joni dan pak Ilham masih memperlakukan dirinya dengan baik.
"Terima kasih Kakek," kata Danish. Kakek Joni hanya berdehem.
Danish tidak tahu lagi berkata apa. Dirinya memang diperlakukan baik di rumah ini. Tapi hubungan dengan kakek Joni tidak seakrab dulu seperti di perkampungan terilosi itu.
Baru saja kakek Joni hendak meninggalkan Danish di teras rumah itu. Suara bising motor milik Roki membuat Kakek Joni akhirnya duduk kembali di bangku itu.
"Selamat pagi kakek, selamat pagi orang kaya," sapa Roki dari atas motornya. Sikapnya seperti orang kaya kampung yang merasa dirinya paling hebat.
"Aku mempunyai kabar gembira untuk aku sendiri," kata pria itu kemudian tertawa. Danish dan Kakek Joni bersikap cuek. Karena setiap pria itu datang hanya untuk memancing Danish berkelahi. Tapi Danish cukup tahu diri. Dia tahu kesehatannya tidak memungkinkan jika membalas Sikap Roki yang selalu kurang ajar kepada dirinya.
"Kamu terlalu tampan untuk Sinar. Biar aku saja jadi suaminya," kata Roki kembali memancing Danish untuk marah. Supaya dirinya tidak terlalu menyimak perkataan Roki. Danish menonton video di ponselnya.
"Roki, bisakah kamu bersikap lebih dewasa?. Kalian sudah setuju dengan uang perdamaian. Mengapa kamu masih saja mengganggu kami? tanya kakek Joni.
"Itu karena aku tidak ingin melihat Sinar bahagia atas apa yang dia lakukan kepadaku. Bisa kalian bayangkan, hampir tiga minggu aku tidak sadarkan diri gara gara wanita sialan itu. Kalian lihat ini?" tanya Roki sambil membuka topinya kemudian menunjukkan bekas luka jahitan di kepalanya sebelah kanan. Bekas luka jahitan itu memang tidak enak dipandang mata.
Danish mengalihkan pandangannya dari layar ponsel miliknya dan melihat kepala sebelah kanan Roki. Entah mengapa dirinya ingin tertawa melihat itu tapi Danish berusaha menahan diri. Danish hanya berpikir jika Sinar melakukan itu karena terpaksa. Kepada dirinya, Sinar masih berbicara baik baik ketika dirinya hendak melakukan cara paksa itu.
Mengingat cara paksa itu, Danish membandingkan Sinar dan Bintang. Sinar sangat menjaga kehormatanya sedangkan Bintang berkali kali dengan sukarela memberikan kehormatannya.
"Kamu adalah wanita terhormat Sinar," kata Danish dalam hati. Kerinduannya akan canda tawa bersama Sinar merasuki hatinya dan Danish ingin bertemu dengan Danish secepatnya. Mengingat kenangan mereka, Danish hanya menarik nafas panjang.
"Roki, aku minta maaf atas apa yang dilakukan Sinar kepada kamu. Tapi coba ingat dengan jelas. Mengapa Sinar melakukan itu kepada kamu. Jika kamu sadar dengan perbuatan kamu. Harusnya kamu malu dan tidak memperlihatkan dirimu di hadapan kami apalagi bersikeras hendak menikahi Sinar."
Kakek Joni berkata pelan dan seharusnya Roki sadar dengan perbuatannya dulu. Tapi dasar, anak muda yang sok jago dan merasa benar. Pria itu masih saja menyalahkan Sinar.
"Sinar datang ke rumahku. Karena aku tidak memberikan apa yang dia minta. Dia melakukan kekerasan kepadaku. Dasar wanita miskin mata duitan. Aku sudah memberikan dia cincin tapi dia minta satu set," kata Roki memfitnah Sinar. Dia ingin Sinar terdengar buruk di mata Danish. Tapi Danish tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Roki karena selama tiga bulan bersama di atap yang sama. Danish bisa menilai jika Sinar bukan gadis yang mata duitan.
"Kamu kira, kami percaya dengan cerita bohong kamu itu?" tanya Danish sinis.
"Kalian tidak perlu percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi ketika aku membawa Sinar ke hadapan kalian. Dia pasti mengakui semua kesalahannya. Asal kalian tahu. Aku sudah menemukan Sinar. Jadi duduk manis saja kalian di sini menunggu kedatangan Sinar," kata Roki.
Danish menatap Roki penuh selidik. Kali ini, Danish dapat melihat jika pria itu berkata jujur. Danish merasakan hatinya cemas. Tapi pria itu berpikir keras bagaimana caranya Roki bisa memberikan bukti jika pria itu benar benar menemukan Sinar. Mengingat Roki juga di desa ini selama Danish berada di desa ini.
"Dasar pembohong kamu bro. Mana mungkin kamu bisa menemukan Sinar sedangkan aku orang kota belum juga menemukan Sinar. Kamu hanyalah pemuda desa. Tahu apa kamu tentang Kota?. Aku bisa saja mempercayai kamu jika kamu menunjukkan bukti," tantang Danish. Dia sengaja merendahkan Roki supaya pria itu ingin menunjukkan kehebatannya dalam mencari keberadaan Sinar.
"Dasar pemuda kota sombong tapi ternyata stupid. Meskipun aku pemuda desa. Tapi kamu masih jauh di bawahku dalam hal apapun."
"Kalau begitu tunjukkan buktinya. Tunjukkan kehebatanmu. Ada imbalan bagi orang orang hebat," kata Danish semakin menantang Roki dengan meletakkan uang tiga juta rupiah di atas meja. Danish tersenyum kala melihat umpannya dilirik oleh Roki dengan wajah berbinar. Danish bahkan membiarkan Roki mengambil yang itu kemudian memasukkan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Kamu mau bukti. Ini lihat, buka mata kalian lebar lebar," kata Roki sambil menunjukkan video Sinar bekerja mengangkat kayu kayu dari truk dan membawanya ke dalam sebuah gudang.