Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Lahir Prematur


__ADS_3

Restu orang tua itu sangat penting dalam sebuah pernikahan. Sinar menyadari hal itu. Sejak tuan Santosh sudah bisa menerima dirinya sebagai istri Danish. Sinar merasakan kebahagiaan yang nyaris sempurna. Benar kata orang jika kebahagiaan itu tidak ada yang sempurna begitu juga kebahagiaan yang dirasakan oleh Sinar. Sinar tidak bisa mengingkari jika perbedaaan pendapat antara dirinya dan Danish terkadang membuat mereka berdebat. Tapi sikap dewasa yang dimiliki oleh Danish dan sikap mengalah yang dimiliki Sinar membuat perdebatan itu tidak berujung perkenalkan. Justru sebaliknya, dari perbedaaan pendapat itu. Baik Sinar dan Danish semakin mengetahui karakter masing masing.


"Sayang, apa Bintang tidak cerita kepada kamu. Kemana dia pergi?" tanya Danish. Sepasang suami istri itu sedang duduk bersandar di ranjang mereka.


"Mengapa kamu tiba tiba bertanya tentang Bintang?" tanya Sinar penuh selidik. Wanita itu menatap wajah suaminya.


"Jangan berpikiran yang lain lain sayang. Tadi Nathan mengirimkan pesan kepadaku untuk bertanya tentang Bintang kepada mu. Nathan yang menginginkan informasi keberadaan Bintang saat ini bukan diriku."


Danish mengulurkan tangannya meraih ponsel miliknya yang tidak jauh dari ranjang.


"Lihat ini, kalau tidak percaya."


Mungkin karena kehamilannya. Sinar menerima Ponsel milik suaminya untuk membuktikan jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar.


"Maaf Danish," cicit Sinar pelan. Hatinya diliputi perasaan bersalah karena tidak percaya pada suaminya itu.


"Bintang hanya mengundurkan diri dan berencana akan menetap di luar Kota," kata Sinar lagi. Tiga minggu yang lalu. Bintang mengundurkan diri dari usaha Sinar. Sinar tidak bisa menahan Bintang untuk tetap bekerja pada dirinya karena Bintang mengatakan butuh suasana baru untuk melupakan perjalanan hidupnya yang menyedihkan di kota ini. Bintang juga mengatakan, dirinya akan lebih tenang menghadapi persalinan yang diperkirakan satu minggu yang lalu. Itu artinya Bintang sudah melahirkan.


"Ya sudah. Kita tidur saja kalau begitu. Besok jika Nathan masih bertanya tentang Bintang. Aku akan mengatakan seperti yang kamu ceritakan."


Danish membelai perut istrinya kemudian mencium perut tersebut.


"Selamat malam Istriku dan anak kembar ku. Baik baik di perut mama ya!"


Sinar menganggukkan kepalanya meskipun dia belum mengantuk. Entah mengapa, Sinar merasa gelisah tapi tidak tahu mengapa hatinya bisa gelisah. Baru beberapa menit berbaring, Danish sudah terlelap.


Sinar masih berusaha memejamkan matanya. Perut yang membuncit dengan dua janin kembar di usia kandungan tujuh bulan membuat Sinar tidak leluasa berganti posisi untuk berbaring.

__ADS_1


Baru saja, Sinar hampir terlelap, sesuatu yang tidak diperintah oleh otaknya keluar dari inti tubuhnya. Sinar terkejut dan gemetar ketika menyadari jika pakaian sudah basah. Sinar tidak membuang air kecil.


"Danish, bangun."


Sinar berusaha tenang. Tangannya bergerak membangunkan suaminya. Mungkin karena sangat kelelahan sepanjang hari membuat Danish tidak langsung bangun.


"Danish bangun. Kita harus ke rumah sakit sekarang," kata Sinar mulai panik, perutnya sudah mulai sakit.


Danish menggeliat dan samar samar mendengar suara Sinar. Mungkin karena masih hitungan menit baru tertidur. Danish masih juga belum membuka matanya.


"Danish, bangun. Sakit."


Danish seperti terbangun dari mimpi. Dia membuka mata dan melihat istrinya sedang meringis kesakitan. Danish tidak bertanya, melihat pakaian Sinar dan sprei yang basah. Danish langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari ke ruangan sebelah tempat lemari pakaian mereka berada.


"Jangan panik sayang," kata Danish sambil mengganti pakaian Sinar. Ponselnya diletakkan begitu saja setelah melakukan panggilan kepada dokter kandungan Sinar.


"Dokter, istri sedang kesakitan. Dan ada air keluar dari jalan air. Dipastikan bukan urine," kata Danish setelah panggilan tersambung.


Sepantasnya perjalanan, Sinar meringis kesakitan. Danish tidak tega melihat wajah pucat istrinya. Dalam hati, Danish merasa khawatir karena usia Kandungan Sinar belum sembilan bulan. Jika apa yang dialami oleh Sinar saat ini tanda tanda akan melahirkan. Itu tandanya Sinar akan melahirkan prematur. Danish berusaha menyembunyikan kekhawatiran itu karena tidak ingin Sinar melihatnya.


"Sabar ya sayang. Semuanya pasti baik baik saja."


"Sakit Danish," kata Sinar sambil mengerang kesakitan. Apa yang dikhawatirkan oleh Danish. Itu juga yang dikhawatirkan oleh Sinar dalam hatinya.


Danish memeluk tubuh istrinya. Berkali kali dia mencium pucuk kepala Sinar. Apa yang dia lakukan itu tentu saja tidak bisa mengurangi rasa sakit yang dialami oleh Sinar saat ini. Wanita itu hanya focus akan rasa sakit itu.


"Bisa lebih kencang lagi pak?" tanya Danish. Sungguh, dia tidak tega melihat kesakitan Sinar. Danish akan merasa tenang sedikit jika Sinar sudah ditangani pihak medis.

__ADS_1


"Ini sudah kecepatan maksimum Tuan," jawab Pak supir. Kecepatan Mobil itu sudah sangat kencang ditambah jalanan sepi. Tapi bagi Danish itu masih kurang kencang.


Setelah hampir dua puluh menit di jalanan. Akhirnya mobil itu tiba di rumah sakit. Danish menarik nafas lega. Dokter kandungan dan dua orang perawat sudah bersiap menunggu kedatangan mereka. Sinar langsung dibawa ke kamar tindakan.


"Ketubannya sudah pecah dan sudah buka jalan," kata dokter itu.


"Buka jalan, maksudnya apa Dokter?" tanya Danish bingung. Dokter kandungan itu menjelaskan jika sudah tiba saatnya Sinar melahirkan meskipun kelahiran ini adalah kelahiran prematur.


"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak anakku dokter," kata Danish pasrah. Kelahiran prematur itu tidak bisa dicegah lagi. Danish hanya berharap kelahiran prematur itu tidak berdampak buruk bagi Sinar dan anak anaknya.


Sinar menurut dengan saran dokter untuk melahirkan normal saja karena pembukaan itu sudah pembukaan tujuh.


Seketika, Danish merasakan keringatnya bercucuran melihat Sinar yang lebih kesakitan dibandingkan sebelumnya.


"Dokter, apa tidak sebaiknya di Caesar saja?"


"Rasa sakit itu hal biasa untuk ibu yang hendak melahirkan pak Danish. Itulah perjuangan seorang ibu."


"Tapi aku takut dokter."


"Daripada takut. Lebih baik Pak Danish berdoa mohon kelancaran persalinan istri Anda."


Danish menganggukkan kepalanya. Karena rasa khawatir itu membuat Danish lupa berdoa kepada Penciptanya.


Setengah jam bayi pertama laki laki lahir. Danish Hampir tidak percaya dengan pemandangan itu. Karena berat bayi itu yang tergolong rendah Dan lahir prematur membuat sang bayi itu diletakkan di inkubator. Setengah jam kemudian, bayi kedua berjenis kelamin laki laki juga lahir dengan kondisi seperti anak pertama dan langsung dimasukkan ke dalam inkubator.


Danish mencium kepala istrinya setelah kelahiran itu. Meskipun kondisi janinnya lemah. Danish sangat bersyukur karena Sinar bisa melewati proses persalinan itu.

__ADS_1


"Anak anak kita baik baik saja kan?" tanya Sinar. Bukan tanpa alasan Sinar menanyakan hal itu. Bayi bayi nya tidak menangis tidak kencang membuat Sinar merasa khawatir.


"Anak anak kita baik baik saja. Jangan khawatir," jawab Danish. Sinar memejamkan matanya. Dia mencoba untuk berusaha tenang dan menyakini perkataan suaminya.


__ADS_2