Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Lupa


__ADS_3

Bintang merasakan sakit di area pribadinya. Sepertinya janjinya kepada Nathan. Malam ini, dia datang ke rumah Nathan dan memberikan tubuhnya sebagai pelunas utang. Seharusnya dia datang dua malam yang lalu tapi karena kesehatan sang mama Bintang akhirnya datang di malam ini. Nathan tidak mendesak karena bukan dirinya yang menawarkan melainkan Bintang


Bintang meringis. Mereka baru saja melakukan kegiatan terlarang itu. Di sebelah Bintang, Nathan sedang berbaring. Sisa sisa kenikmatan yang baru saja dia dapatkan dari gadis bersegel masih jelas terlihat di wajahnya. Nathan merasakan kepuasan yang tidak pernah dia dapatkan dari wanita malam.


"Sekali lagi," kata Nathan ketika Bintang hendak duduk. Bintang terlihat pasrah menerima serangan dari Nathan. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membayar hutang selain menjual tubuhnya. Di sela sela kegiatan itu. Bintang meneteskan air matanya. Air mata itu bukan karena rasa sakit di area pribadinya. Melainkan karena rasa sesak di dadanya.


Dia pernah memberikan kesuciannya kepada Danish karena alasan cinta tapi sekarang dirinya kehilangan kesucian itu karena terhimpit ekonomi.


"Kita sudah impas kan. Aku tidak mempunyai hutang lagi kan?" tanya Bintang setelah Nathan turun dari atas tubuhnya.


Nathan tidak menjawab. Pria itu terlihat lelah dengan keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya.


"Jawab Nathan," desak Bintang. Dia ingin kepastiaan akan pelunasan hutang itu. Dia tidak ingin setelah ini. Nathan merasa masih mempunyai piutang terhadap Bintang. Karena sejujurnya, Bintang tidak mempunyai uang untuk membayar hutang itu. Bahkan saat ini, dia juga bingung untuk mendapatkan uang supaya dirinya tidak mengharapkan pinjaman. Kasus pak Idrus sungguh membuat Bintang tidak bisa melakukan hal apapun untuk membuat rekeningnya selalu terisi.


"Tujuh puluh juga untuk membuka segel apakah itu tidak terlalu Mahal. Aku rasa aku perlu memakai kamu satu malam supaya kita impas."


Bintang melebarkan matanya mendengar perkataan Nathan. Bagi Bintang, justru uang segitu masih sedikit untuk membuka segelnya. Seorang mucikari sudah memberikan penawaran kepada dirinya untuk menjual kesuciannya seharga seratus juta. Bintang tidak mau karena tidak ingin kesuciannya diambil oleh orang yang tidak dikenalnya. Jika ditanya apakah dirinya terpaksa memberikan kesuciannya itu kepada Nathan. Jelas karena terpaksa.


"Satu malam, apa maksud kamu?" tanya Bintang.


Nathan memandang langit langit kamarnya dengan tersenyum. Dia tidak menyangka jika dirinya bisa tidur dengan Bintang seperti ini.


"Tidur lah disini malam ini," kata Nathan. Bintang menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia harus menjaga mamanya karena pekerja di rumah nya juga sudah diberhentikan sejak beberapa bulan yang lalu karena tidak sanggup membayar gajinya.


"Aku tidak bisa Nathan. Aku harus pulang. Sekarang, katakan!. Kita sudah impas kan?" tanya Bintang.


"Kalau menurut kamu sudah impas. Ya impas."


Mendengar perkataan Nathan. Bintang menarik nafas lega. Dia melilitkan sprei ke tubuhnya kemudian turun dari ranjang. Bintang merasakan sakit di area itu tapi terus melangkahkan kakinya. Bintang sadar, tidak ada gunanya dia bermanja karena dirinya bukan lagi tuan putri seperti dulu. Lagi pula, dia juga sadar. Apa yang mereka lakukan tadi bukan atas dasar cinta.


Dari atas tempat tidur, Nathan memperhatikan gerak gerik Bintang. Dia juga mengetahui jika wanita itu saat ini kesakitan tapi tidak ada niatnya untuk menolong. Nathan merasa jika rasa sakit yang dialami oleh Bintang saat ini adalah resiko karena memberikan tubuh kepada dirinya.


Beberapa saat kemudian, Bintang keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Dia mengambil tas kemudian melangkah hendak keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Tunggu Bintang," kata Nathan. Bintang terdengar menarik nafas panjang. Dirinya sudah diliputi kekhawatiran akan keadaan sang mama tapi sepertinya Nathan berusaha memperlama dirinya di rumah itu.


"Apalagi Nathan. Mau satu ronde lagi?" tanya Bintang kesal. Nathan bangkit dari tempat tidur itu setelah memakai celana secara asal kemudian bergerak ke arah meja.


"Terima lah ini. Dan aku menyarankan kamu menggunakannya untuk membuka usaha kecil kecillan. Jangan rendah dirimu lagi dengan menjual tubuh mu hanya karena uang," kata Nathan sambil mengulurkan amplop berisi uang kepada Bintang.


Nathan meletakkan uang itu ke tangan Bintang.


"Terima kasih Nathan," kata Bintang dengan mata yang berkaca kaca karena terharu. Tidak ada alasan menolak pemberian Nathan itu karena dirinya memang sangat membutuhkan uang saat ini.


Nathan menganggukkan kepalanya kemudian mempersilahkan Bintang untuk pulang dari rumahnya. Sebagai teman, dia ingin yang terbaik untuk Bintang.


Di waktu yang bersamaan di rumah Danish. Suami istri itu juga baru saja melakukan kewajiban suami istri. Sebagai pengantin baru, Danish tentu saja tidak bosan dan terus menginginkan tubuh istrinya.


"Tidur lah Danish," kata Sinar. Mereka sudah membersihkan diri. Sinar sengaja mengelus kepala Danish supaya suaminya itu cepat terlelap.


"Sebentar lagi sayang. Kita sama sama sibuk. Sebaiknya sebelum tidur seperti ini kita harus mempunyai waktu untuk berbincang sebentar."


"Kamu belum mengantuk kan?" tanya Danish. Sinar menggelengkan kepalanya. Dia menginginkan Danish secepatnya karena ingin menggunakan pil kontrasepsi itu secepatnya. Dia tidak ingin menunda sampai pagi karena dirinya takut lupa.


"Bagaimana kegiatan mu sepanjang hari ini. Kamu kemana saja," tanya Danish.


"Biasa saja. Aku hanya ke rumah kontrakan Hana. Setelah itu pulang," jawab Sinar. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang pil kontrasepsi itu.


"Yakin hanya ke kontrakan Hana saja?"


Sinar terdiam sejenak. Berbohong bukan hal biasa bagi dirinya. Tapi untuk saat ini sepertinya. Dia harus berbohong.


"Tadi bapak menghubungi aku."


"Ada ada saja si ayah. Aku yang putrinya. Mengapa Kamu yang dihubungi. Ayah bilang apa?"


"Bapak dan kakek berharap kita memberikan kabar bahagia secepatnya."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Mereka menginginkan kamu secepatnya hamil."


Sinar menghentikan tangannya dari kepala Danish. Hamil seperti dilema bagi dirinya. Tidak hamil maka dirinya siap menjadi sasaran kebencian tuan Santosh sedangkan jika dirinya hamil. Dia takut membayangkan anaknya nanti. Sungguh, dia tidak mau dipisahkan dengan anaknya kelak.


"Hamil bukan seperti membuat adonan. Sekarang diadon, dua jam lagi sudah menjadi donat. Kehadiran anak adalah pemberian sang Pencipta jadi seharusnya mereka harus bersabar."


"Tapi terkadang manusia juga menolak pemberian sang Pencipta loh," kata Danish.


"Maksudnya?" tanya Sinar bingung.


"Banyak pasangan yang belum siap mempunyai anak menunda atau menolak dengan kontrasepsi," kata Danish. Sinar tersentil dengan perkataan Danish itu karena dirinya juga sudah berencana hendak menunda kehamilan terlebih dahulu.


"Bagaimana tanggapan tentang itu?" tanya Sinar.


"Bagi yang sudah mempunyai anak banyak aku rasa memang sewajarnya mereka menggunakan kontrasepsi untuk menolak kehamilan itu. Tapi bagi pasangan baru seperti Kita. Aku rasa kurang tepat?"


"Kenapa kurang tepat?" tanya Sinar.


"Karena tidak alasan dan menurut ku dan tidak disarankan. Selagi kita masih muda seharusnya produktif termasuk produktif anak. Karena kita tidak tahu kapan Sang Pencipta memberikan kepercayaan kepada kita untuk mempunyai anak."


Sinar menjadi ragu untuk menggunakan pil kontrasepsi itu setelah mendengar perkataan Danish. Sinar khawatir, Danish akan marah nantinya jika ketahuan menggunakan pil kontrasepsi itu. Tapi beberapa detik kemudian, Sinar membulatkan tekadnya untuk menggunakan pil kontrasepsi itu.


"Aku mengantuk. Kita tidur saja ya."


Sinar berkata seperti itu supaya Danish secepatnya tidur. Dan dia berpura pura tidur tapi menahan diri jangan sampai terlelap. Berkali kali dirinya mengintip Danish dan pria itu justru memainkan ponselnya. Ternyata setelah beberapa menit pura pura tidur. Sinar akhirnya terlelap.


Besok paginya Sinar terbangun. Begitu bangun pikirannya langsung tertuju pada pil kontrasepsi itu.


"Aduh. Kok bisa sampai lupa sih makan pil kontrasepsi nya," kata Sinar dalam hati sambil memukul kepalanya. Seharusnya dia minum pil kontrasepsi tadi malam karena pertama Kali dirinya minum pi kontrasepsi itu di malam hari. Jika seperti ini. Itu artinya Sinar tidak teratur menggunakan pil kontrasepsi itu dan resiko hamil ada.


Di tempat yang lain. Nathan juga terkejut ketika masuk ke dalam kamar mandi. Dia sedang mengeluarkan sampah dari tempat sampai."

__ADS_1


"Aduh sialan," kata Nathan ketika melihat pengaman hanya satu di tempat sampah. Seharusnya dua karena mereka melakukan kegiatan itu dua kali.


"Ya ampun. Bagaimana aku bisa melupakan pengaman itu. Bagaimana kalau dia hamil" Tanya Nathan dalam hati. Nathan menggelengkan kepalanya..


__ADS_2