Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Bintang Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Sinar."


Sinar mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara. Seorang wanita yang sangat cantik berdiri di sana dengan senyuman manis dan melambaikan tangannya ke arah Sinar. Sinar membalas Bintang dan tersenyum. Wanita cantik itu berjalan dengan anggun menghampiri Sinar. Sikapnya persis seperti seorang teman yang sudah lama saling kenal.


"Apa yang kamu lakukan disini Sinar. Ini bukan pekerjaan kamu," kata Bintang sambil memperhatikan tangan Sinar yang sedang memegang alat cangkul kecil. Dengan cangkul kecil itu Sinar membersihkan rumput rumput liar yang mengganggu keindahan taman itu.


"Membantu Tino. Daripada rebahan di kamar hanya untuk menimbun lemak."


"Sinar, aku membawa sesuatu untuk kamu," kata Bintang sambil memberikan dua paper bag kepada Sinar.


"Apa ini."


"Ambil dan lihat isinya."


Sinar melihat isi paper bag tersebut. Sebuah gaun warna abu abu yang sangat cantik.


"Ini untuk aku Bintang?"


Bintang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bukan hanya gaun. Aku juga memberikan kamu skincare supaya kamu semakin cantik."


"Terima kasih Bintang," kata Sinar dengan sangat senang. Sinar mengamati gaun itu yang dihiasi dengan mutiara mutiara kecil.


"Jangan lupa pakai skincare. Kalau kamu tidak mengerti cara pemakaiannya. Jangan sungkan bertanya kepada ku."


"Baik Bintang. Sekali lagi terima kasih."


Sinar sangat bersyukur mempunyai teman seperti Bintang yang sangat perduli dan perhatian kepada dirinya. Skincare yang diberikan oleh Bintang adalah barang yang sudah lama dia inginkan. Menjelang pertunangan Bintang dan Danish. Sinar merasa perlu merawat diri supaya terlihat segar di pesta pertunangan itu nantinya. Saat pertunangan nanti, Bintang yang meminta Sinar yang mengantarkan Bintang nantinya ke hadapan Danish.


Tanpa diminta. Bintang memberikan yang diinginkan oleh Sinar termasuk tentang gaun itu. Gaun abu abu pilihan Bintang akan menjadi gaun Sinar nantinya di pertunangan itu.

__ADS_1


"Aku ingin mengajak kamu jalan jalan melihat keramaian kota sore ini Sinar."


"Maaf. Aku tidak bisa Bintang. Aku sudah berjanji kepada Tino untuk membantu dia satu hari ini," tolak Sinar.


"Yeaah, padahal sudah sangat berharap tadi jalan jalan dengan kamu sore ini. Ayo lah Sinar. Membantu Tino masih bisa lain kali. Iya kan Tino. Tidak apa apa kan. Kalau Sinar aku ajak jalan sore ini?"


Tino yang tidak jauh dari Sinar dan Bintang hanya mengacungkan jempolnya. Pertanda dirinya tidak keberatan jika Sinar tidak membantu dirinya hari ini. Tapi ajakan Bintang ditolak oleh Sinar dengan alasan tidak enak kepada Tino karena sudah berjanji. Bintang terlihat sangat kecewa tapi tidak bisa memaksa Sinar.


"Aku pergi dulu ya. Jangan lama lama bermain dengan matahari. Nanti kulit mu gosong," kata Bintang lagi. Sinar menganggukkan kepalanya.


"Tunggu Bintang," panggil Sinar cepat. Bintang menghentikan langkahnya.


"Apa kamu yakin dengan kehidupan yang kita jalani nantinya?" tanya Sinar.


"Tentang poligami itu?.


Sinar menganggukkan kepalanya. Sinar memang sudah mengetahui ketulusan Bintang untuk menerima pernikahan poligami itu. Tapi bukan dari mulut Bintang sendiri melainkan dari Nyonya Amalia. Melihat bagaimana Bintang sangat baik kepada dirinya. Sinar juga ingin mendengar sendiri tentang kesediaan wanita itu hidup berbagi suami dengan dirinya.


Sinar mengerutkan keningnya mendengar jawaban Bintang. Jawaban yang sangat masuk akal tapi nada bicaranya kurang enak di dengar telinga.


"Jangan terlalu yakin dengan apa yang kamu rasakan, kamu lihat dan kamu dengar Sinar," kata Tino membuat Sinar tersadar dari lamunannya karena memikirkan nada bicara Bintang yang tidak seperti biasanya. Tapi kemudian wanita itu berpikir jika Bintang bersikap seperti itu mungkin karena ajakannya ditolak.


"Apa maksud kamu Tino?" tanya Sinar tidak mengerti.


"Jangan terlalu polos untuk mengartikan kebaikan orang."


Sinar semakin tidak mengerti maksud perkataan Tino.


"Tidak ada wanita di dunia ini yang rela berbagi suami. Kalau pun ada pasti karena terpaksa. Kalian belum terikat satu sama lain dengan pernikahan tapi sudah bersedia hidup berbagi suami nantinya. Kalian berdua waras?" tanya Tino. Tino mengetahui rencana hidup berpoligami itu karena diceritakan oleh Sinar. Tino sudah seperti sahabat bagi Sinar. Diantara para pekerja di rumah itu hanya Tino yang bersedia berteman dengan Sinar.


Sinar merenungkan kata kata Tino. Benar yang dikatakan oleh wanita tomboi itu. Sinar bersedia menjalani apa yang direncanakan oleh tuan Santosh karena janji Nyonya Amalia yang akan membentuk dirinya menjadi wanita yang mempunyai wawasan luas dalam satu tahun pernikahan hingga Danish tidak perlu menikahi Bintang nantinya. Lalu bagaimana dengan Bintang. Apa yang membuat dirinya bersedia berbagi suami dengan dirinya. Apakah Nyonya Amalia menjanjikan sesuatu seperti kepada dirinya atau Tuan Santosh yang menjanjikan sesuatu.

__ADS_1


Pertanyaan itu berputar putar di pikiran Sinar. Apalagi mendengar nada bicara Bintang tadi membuat Sinar merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh wanita itu.


"Menurut kamu. Apa kami berdua waras?" tanya Sinar balik. Tino menggelengkan kepala dengan cepat.


"Setengah waras mungkin. Makanya bersedia menjalani hal yang paling tidak disukai oleh sebagian besar wanita di dunia ini," jawab Tino kemudian terkekeh.


Sinar kembali membenarkan kata kata Tino dalam hatinya.


"Menurut kamu. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sinar. Dia merasa sangat butuh saran dari Tino.


"Pikirkan matang matang sebelum pernikahan itu tiba. Kamu harus bisa bersikap dengan tegas."


"Kamu benar. Terima kasih Tino."


"Aku ke dalam dulu ambil air minum. Kamu mau juga?" tanya Tino. Sinar menganggukkan kepalanya. Dia juga mendadak haus hanya karena memikirkan kata kata Tino yang semuanya masuk akal.


Tino tertegun di balik pintu dapur itu. Pemberian antara Bintang dan dua pekerja di dalam dapur itu.


"Ih non. Katanya rival. Kok si anak kampung itu dikasih skincare. Kalau dia makin cantik. Bagaimana non?"


"Biar saja dia makin cantik. Nanti kalau sudah dicampakkan. Setidaknya ada pria lain yang suka ama dia."


"Yakin dicampakkan non. Kalau makin dicintai bagaimana?"


"Pasti dicampakkan. Aku sangat yakin itu. Kami saling mencintai. Aku membiarkan pria yang aku cintai menepati janjinya. Tapi tidak akan aku biarkan dia bersama wanita itu di sepanjang hidupnya. Kami sudah pernah merencanakan masa depan dengan anak anak yang banyak. Kami akan menua bersama."


"Tenang saja non. Kami pasti membuat dia tidak betah di rumah ini. Hanya si tomboi itu saja yang mau berteman dengan dia."


"Bagus dong, dia berteman dengan si tomboi. Dengan begitu wajah kampungnya itu akan tetap terpelihara. Kan si tomboi. Kerjanya di alam terbuka."


Tino mendengar Bintang dan dua pekerja itu tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Harusnya kamu yang mendengar pemberian mereka Sinar. Biar kamu tahu sifat asli dari wanita yang menawarkan pertemanan dengan kamu," kata Tino dalam hati.


__ADS_2