Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Aku Mengalah


__ADS_3

Sinar mendekap gaun berwarna abu abu itu dengan erat. Kedatangannya ke kamar Bintang untuk mengembalikan gaun itu karena sangat tidak cocok di tubuhnya. Gaun itu memang sangat cantik. Tapi ukuran tubuh Sinar terlalu kecil untuk gaun itu. Niat hati untuk mengembalikan gaun itu ternyata membuat Sinar harus merasakan hatinya sesak menahan cemburu melihat Danish dan Bintang duduk berdekatan hampir tidak berjarak.


Sinar berusaha menepis rasa cemburu itu karena memang kenyataannya, Dia mengetahui jika Danish dan Bintang saling mencintai. Tapi hatinya tidak bisa diajak bekerja sama. Hatinya masih saja tetap sakit melihat Danish berduaan dengan Bintang.


Sinar juga mengerti. Jika apa yang dia rasakan saat ini. Begitu juga yang dirasakan oleh Bintang ketika melihat dirinya berduaan dengan Danish. Seketika, wanita itu merasa hubungan mereka bertiga akan semakin rumit jika dilanjutkan.


Sinar merasakan jantungnya tidak berdetak beraturan ketika mendengar pertanyaan Bintang kepada Danish tujuan pria itu menikahi dirinya. Sama seperti Bintang, Sinar juga ingin mengetahuinya selain karena terikat janji. Sinar menunggu tidak sabar bahkan wanita itu menahan nafas supaya keberadaannya tidak diketahui oleh Bintang dan Danish di depan kamar itu. Sinar sangat yakin, Kali ini Danish akan jujur kepada wanita yang sangat dicintainya itu.


"Aku lupa memberitahu kamu sayang. Bunga edelweiss yang kamu minta. Ada di kamarku."


"Benarkah Danish?. Aku sangat senang mendengarnya."


Sinar menghembuskan nafasnya. Meskipun perkataan Danish bukan jawaban alasan pria itu menikahi Sinar. Tapi perkataan Danish tetap menunjukkan betapa pria itu sangat mencintai Bintang. Ternyata alasan Danish mendaki gunung beberapa bulan yang lalu hanya untuk mengambil Bunga edelweiss permintaan Bintang. Sedalam itu cinta Danish kepada Bintang hingga rela melakukan sesuatu yang sangat berisiko.


Di dalam kamar. Bintang tersenyum sangat bahagia. Bunga edelweiss adalah bunga langka kesukaannya yang konon katanya melambangkan cinta sejati. Bintang memberikan tantangan kepada Danish untuk memberikan bunga Edelweis kepada dirinya sebagai pertanda keseriusan Danish kepada dirinya. Danish sudah menawarkan barang barang mewah sebagai pengganti dari bunga edelweiss tersebut karena Danish juga mengetahui resiko mengambil bunga Edelweis tanpa ijin. Tapi Bintang menolak. Dia sanggup membeli barang barang yang ditawarkan oleh Danish. Hingga akhirnya Danish nekad mengambil Bunga edelweiss itu meskipun pendakian itu berakhir dengan kecelakaan.


"Jiwa dan ragaku. Sudah aku pertaruhkan untuk membuktikan jika aku sangat serius dan sangat mencintai kamu," kata Danish. Bintang menganggukkan kepalanya. Bintang sengaja mendaratkan bibirnya ke bibirnya Danish dan berharap Sinar melihat adegan mereka.


Seperti keinginan Bintang. Sinar mengarahkan kepalanya ke dalam kamar ketika jawaban Danish tentang alasan menikahi dirinya tak kunjung terdengar. Sinar tertegun melihat adegan sepasang kekasih itu yang sedang menikmati permainan bibir dengan sangat liar. Sinar bertahan di tempat itu karena ingin mendengar jawaban Danish hari ini juga. Dia berharap, Bintang kembali bertanya tentang alasan itu. . Dia berusaha tidak memikirkan hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih itu. Sinar sangat sadar. Apa yang dilakukan oleh Danish bukanlah sebuah pengkhiatan kepada dirinya.


Bintang tersenyum puas. Lewat ekor matanya. Dia melihat Sinar. Setelah tujuannya melakukan adegan itu tercapai. Bintang melepaskan dirinya dari Danish.


"Danish, kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Pertanyaan apa?"


"Apa alasan kamu menikahi Sinar selain karena terikat janji. Apa kamu juga mencintai wanita itu seperti kamu mencintai aku?"


"Aku hanya mencintai kamu. Hanya kamu. Hanya namamu yang terukir di hatiku. Aku menikahi Sinar karena aku ingin membalas budi atas pertolongannya kepada diriku."


Deg


Sinar merasakan tubuhnya gemetar. Matanya memanas dan jantungnya bergemuruh. Gaun abu abu terjatuh dari tangannya. Ternyata dirinya selama ini salah mengartikan perhatian Danish kepada dirinya. Tidak ada cinta di hati pria itu untuk dirinya. Alasan menikahi dirinya hanya karena balas budi. Sinar merasakan hatinya sangat sakit. Jauh lebih sakit dibandingkan perbuatan Roki kepada dirinya. Sinar merasa menyesal karena bersedia menerima ajakan Roki ke kota ini. Ternyata bukan kebahagiaan yang dia dapat tapi kenyataan yang sangat menghancurkan mentalnya.


"Danish, aku tidak sabar memiliki kamu dalam ikatan resmi. Jika aku harus menunggu ikatan resmi itu satu tahun lagi. Biarkan kita saling memiliki saat ini juga. Aku mengijinkan kamu melakukan apa saja di tubuhku."


"Itu dosa sayang. Rasa cintaku suci kepada kamu. Aku tidak akan mengotori cinta suciku dengan perbuatan dosa."


Sinar tersenyum sinis mendengar pembicaraan sepasang kekasih itu. Ternyata masih ada yang unggul di dalam dirinya dibandingkan dengan Bintang. Sinar berusaha mati matian menjaga harga dirinya dari Roki yang saat itu masih berstatus sebagai kekasihnya. Sedangkan Bintang menawarkan dirinya kepada Danish sang kekasih.


"Dasar murahan," umpat Sinar dalam hati. Kekagumannya kepada Bintang sirna setelah mendengar wanita itu menawarkan dirinya kepada Danish. Wanita yang berpendidikan dari keluarga terhormat merendahkan dirinya karena atas nama cinta. Sedangkan Sinar yang berasal dari keluarga tidak mampu menjunjung harga dirinya.


"Ayo ke kamar kamu sayang. Aku ingin melihat bunga Edelweis yang kamu katakan tadi."

__ADS_1


"Ayo. Kamu pasti senang melihatnya."


Sinar panik. Dia ingin mencari tempat persembunyian karena dirinya tidak ingin ketahuan jika sudah menguping pembicaraan sepasang kekasih itu. Tapi baru saja dirinya hendak melangkah. Danish dan Bintang sudah berdiri di depan pintu kamar.


Danish tertegun melihat Sinar berada di tempat itu.


"Sinar."


Sinar diam dan memalingkan wajahnya dari Bintang dan Danish. Sinar berlalu dari tempat itu. Dia tidak ingin berbicara kepada Danish. Sinar malu dan kecewa karena terlalu percaya diri mengartikan perhatian dan tatapan Danish sebagai wujud cinta kepada dirinya.


"Tunggu sebentar ya Bintang. Aku menemui Sinar sebentar," kata Danish. Bintang menganggukkan kepalanya.


Bintang tersenyum puas. Keinginannya saat ini sudah tercapai. Dia sangat yakin apa yang didengar oleh Sinar membuat wanita hancur. Bintang memandangi tubuh Danish yang berusaha berjalan cepat tapi terkendala oleh kakinya kanannya.


Di dalam kamarnya. Sinar berkali kali menghembuskan nafasnya. Sinar sedih, hancur dan kecewa. Tapi wanita itu bertekad tidak akan menangis karena itu. Sinar merasa, jika pernikahan itu tidak terjadi. Tidak ada yang rugi pada dirinya. Dirinya masih suci.


"Sinar, boleh aku masuk?" tanya Danish dari depan pintu kamar.


"Masuk lah Danish," jawab Sinar.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Sinar lagi. Danish berdiri tak jauh dari ranjang tempat Sinar duduk.


"Aku dan Bintang saling mencintai..."


"Aku tahu. Kamu sudah pernah mengatakanya. Hanya saja, aku merasa kamu pria yang paling jahat di dunia ini. Kamu bangga dengan rasa cinta kalian. Tapi kamu tega menghadirkan diriku diantara kalian," kata Sinar memotong perkataan Danish.


"Menyalahkan kamu. Siapa yang menyalahkan kamu. Kamu mengatakan alasan menikahi aku karena balas budi. Apa aku pernah menuntut balasan dari pertolongan yang aku lakukan. Aku menolong kamu saat itu ketika aku tidak tahu siapa kamu. Itu murni aku lakukan karena panggilan jiwa. Bukan mengharapkan balasan."


"Maafkan aku jika perkataanku menyakiti kamu. Tapi jujur, aku juga menyayangi kamu," kata Danish lembut.


"Jangan menggombal di hadapanku Danish. Itu hanya akan menurunkan penilaianku kepada kamu."


"Apa kamu tidak bisa merasakan rasa sayangku kepada mu?"


"Aku mau pulang Danish. Tolong antarkan aku ke bus sekarang juga."


Sinar sangat serius dengan perkataannya. Dia tidak tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh Nyonya Amalia lagi. Jika pernikahan poligami itu saja belum terjadi, situasinya sudah rumit dan menyesakkan apalagi jika pernikahan poligami itu sudah terjadi. Sejak awal dirinya tidak tertarik dengan pernikahan poligami itu. Hanya tawaran dari Nyonya Amalia yang membuat Sinar mencoba untuk setuju.


"Sinar, jangan seperti ini. Kita sudah sepakat bukan. Jika pernikahan kita akan diadakan setelah dua hari pertunanganku dengan Bintang," kata Danish gelisah.


"Lanjutkan pertunangan atau sekalian saja pernikahan antara kamu dan Bintang. Aku menyerah dan mengalah Danish. Aku tidak menuntut kamu untuk menepati janji untuk menikahi aku. Aku tidak mau menikah dengan kamu Danish."


Sinar tegas mengambil keputusan itu. Biarlah dia mengubur rasa cintanya kepada Danish. Perlahan, rasa cinta itu akan terkikis jika Danish sudah menjadi milik Bintang. Sinar tidak ingin, dirinya menikah hanya satu atau dua tahun. Sinar ingin menikah dengan pria impiannya sepanjang masa hidupnya. Pria yang dia cintai dan mencintaiku dirinya. Ternyata dirinya salah pernah menempatkan Danish sebagai pria impiannya itu. Dia pernah berpikir jika Danish adalah pria yang bisa menyelamatkan dirinya dari Roki. Ternyata Sinar salah. Danish hanya ingin membalas budi.

__ADS_1


"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Danish. Sinar menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Lebih baik aku sekarang terluka daripada mencoba menjalani pernikahan yang tanpa ada cinta di dalamnya. Setidaknya, jika sekarang aku terluka dan tidak dicintai. Setidaknya, masih ada hal yang berharga yang aku persembahkan kelak kepada pria yang tulus mencintai aku," kata Sinar dengan suara yang bergetar.


Sinar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bersedih. Bayang bayang perlakuan Roki kepada dirinya dan alasan Danish menikahi dirinya terbayang di pikirannya. Sinar merasa tidak ada pria yang tulus menginginkan dirinya sebagai wanita penghuni hati. Roki hanya menginginkan tubuhnya dan Danish juga hanya karena balas budi.


Sinar akhirnya tidak dapat membendung air matanya. Tapi wanita itu sengaja membelakangi tubuh Danish supaya pria itu tidak melihat dirinya sedang menangis. Sinar merasa tidak diinginkan oleh siapapun termasuk Danish.


"Apapun yang kamu katakan saat ini. Tidak berpengaruh kepadaku. Aku akan tetap menikahi kamu," kata Danish. Sinar dengan cepat menoleh kepada pria itu dengan marah.


"Egois kamu Danish. Aku tidak mau menikah dengan kamu. Aku mau pulang," kata Sinar dengan suara yang lumayan kencang.


"Aku tidak akan mengingikari janjiku," jawab Danish dingin.


"Danish, jangan seperti ini. Aku mohon. Menikah dan berbahagia lah dengan Bintang. Aku ihklas. Jika kamu ingin membalas budi akan pertolonganku. Cukup doakan aku saja. Doakan aku mendapatkan pria yang tulus mencintai aku," kata Sinar dengan linangan air mata.


Danish merapatkan giginya dan menatap tajam kepada Sinar. Danish mendekati Sinar.


"Diam, jangan menangis," kata Danish. Pria itu mengulurkan tangannya untuk memeluk Sinar. Tapi Sinar langsung bergerak cepat menghindar dari Danish. Dia tidak akan membiarkan pria itu untuk memeluk dirinya. Bagi Sinar, Danish bukan siapa siapa lagi baginya sejak mendengar alasan pria itu.


Danish menurunkan tangannya yang sudah terangkat. Dia menatap Sinar dengan sendu. Danish bisa melihat jika apa yang dikatakan oleh Sinar bukan gertakan melainkan keseriusan.


"Aku pernah berpikir. Jika kamu mengerti posisiku saat ini Sinar," kata Danish terlihat frustasi.


"Karena aku mengerti posisi kamu. Maka sebab itu aku memilih mengalah. Aku tidak pernah memaksa kamu untuk menikahi aku. Itu adalah keinginan kamu sendiri," jawab Sinar.


"Danish. Aku mohon. Aku mau pulang," kata Sinar lagi. Danish sudah melangkah ke arah pintu kamar.


"Tidak ada yang mengijinkan kamu pulang. Kita tetap akan menikah."


"Tapi aku tidak mau."


Sinar berjalan cepat mengejar Danish hingga ke depan pintu. Hanya ada satu hal di dalam pikirannya saat ini yaitu pulang ke rumah orang tuanya.


"Aku mohon. Aku mau pulang Danish."


"Bibi," teriak Danish kencang dan tidak menghiraukan perkataan Sinar. Bibi yang dipanggil oleh Danish muncul di tempat itu dan terlihat heran melihat Sinar yang sedang menangis. Tapi beberapa detik kemudian, Bibi itu tersenyum karena merasa puas melihat Sinar menangis.


"Bibi, paksa Sinar masuk ke dalam kamar. Jangan biarkan dia keluar dari kamar," perintah Danish. Bibi itu menganggukkan kepalanya dan menarik Sinar supaya masuk ke dalam kamar. Sinar meronta dan masih saja meminta untuk pulang. Tapi kekuatannya kalah oleh dua pekerja yang menarik dirinya masuk ke kamar.


"Kunci kamarnya," perintah Danish lagi. Bibi itu mengunci kamar Sinar dan menyerahkan kuncinya kepada Danish.


Danish masih berdiri di depan kamar Sinar. Suara teriakan Sinar memang tidak terdengar lagi. Tapi isakan tangis wanita itu masih terdengar.

__ADS_1


"Maafkan aku Sinar. Aku terpaksa mengurung kamu. Aku tidak bisa mengingkari janjiku," kata Danish dalam hati.


Di tempat yang tidak jauh dari depan pintu kamar Sinar. Bintang terlihat sangat kecewa. Dia menguping pembicaraan Danish dan Sinar. Awalnya, Bintang sangat senang karena Sinar memilih mengalah tapi perkataan Danish sangat menghancurkan hatinya yang masih tetap pada janjinya untuk menikahi Sinar.


__ADS_2