
"Ini Sinar istriku kan?" tanya Danish and melihat Sinar yang sedang berdiri di hadapannya.
"Iya donk. Kan gak mungkin mbak kunti," jawab Sinar dengan memajukan bibirnya beberapa senti. Danish tertawa kemudian mencubit pipi Sinar dengan pelan. Di usia kehamilan yang sudah empat bulan. Sinar terlihat lebih berisi dan terlihat lebih cantik.
Kecantikan Sinar semakin terpancar dengan riasan tipis di wajahnya. Selama ini, Sinar memang berdandan seadanya saja. Tapi Hari ini, wanita itu memadukan warna yang serasi di wajahnya.
"Kamu tidak suka dengan riasanku," tanya Sinar. Danish tertawa. Dalam keadaan seperti apapun Sinar. Danish tentu saja menyukainya. Danish tidak menuntut Sinar untuk seperti yang diinginkan. Danish membebaskan istrinya itu melakukan hal apapun sejauh itu masih hal yang positive. Termasuk hari ini, Sinar yang sedang memakai riasan.
"Kalau riasannya masih tipis seperti ini. Aku pasti suka sayang."
Sinar tersenyum. Ternyata benar kata Bintang. Danish pasti senang jika dirinya berdandan tipis seperti ini. Tidak sia sia ilmu yang diajarkan Bintang kepada Sinar. Bintang berusaha membalas kebaikan Sinar dengan mengajari wanita itu berdandan.
Sepasang suami istri itu berpisah di halaman rumah mereka. Danish masuk ke dalam mobilnya. Sinar juga masuk ke dalam mobil yang siap mengantarkan dirinya ke rumah kontrakan Hana dimana usaha keripik ubinya berada.
Sinar mengerutkan keningnya setelah tiba di rumah kontrakan Hana. Hana, Bintang dan empat orang ibu ibu lainnya berada di luar rumah. Seharusnya mereka berada di dalam rumah saat ini dan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.
"Ada apa ini?" tanya Sinar bingung. Bukan hanya keberadaan teman temannya itu yang berada di luar rumah yang membuat Sinar bingung tapi ada juga suara suara yang terdengar dari dalam rumah.
"Rumah ini sebenarnya sedang dijual Sinar. Dan orang yang di dalam itu adalah pemilik rumah dan calon pembeli," jawab Hana. Sinar terkejut mendengar informasi itu.
"Tidak masalah jika rumah ini dijual. Tapi seharusnya Pemilik rumah menghargai kita sebagai pihak yang mengontrak. Harusnya kita yang terlebih dahulu mendapatkan informasi itu. Jika kita tidak sanggup membeli baru ditawarkan kepada orang lain," kata Sinar kecewa. Dari luar rumah, Sinar dapat mendengar jika rumah itu sudah terjual.
"Bu, minta waktunya sebentar," kata Sinar kepada Pemilik rumah. Pemilik rumah dan pembeli keluar bersamaan dari rumah. Dan pembeli itu ternyata tetangga sekitar rumah itu juga.
"Maaf Sinar. Aku buru buru. Kamu berurusan dengan pemilik baru ya. Karena sebenarnya, rumah ini sudah dilunasi oleh dia. Dan sertifikat juga sedang dalam proses pergantian kepemilikan," jawab Pemilik rumah itu. Sinar dan Hana masih ingin berbicara tapi wanita itu langsung buru buru pergi. Sinar dan Hana terlihat sangat kecewa dengan sikap pemilik lama itu yang kurang bertanggung jawab.
"Jadi begini bu. Sebenarnya kami sudah mengontrak rumah ini untuk dua tahun dan masih berjalan sekitar enam bulan."
"Aku tidak mau tahu tentang itu Sinar. Yang pasti sekarang aku adalah pemilik rumah ini. Aku juga memberikan waktu satu minggu untuk mengosongkan rumah ini," jawab wanita itu.
"Tidak masalah kalau soal mengosongkan rumah bu. Tapi sisa uang kami harus dikembalikan," kata Hana cepat.
"Kalau masalah pegembalian uang itu bukan urusan ku. Karena memberikan uang itu kepada Pemilik lama. Jadi kalian berurusan saja dengan dia."
Sinar dan Hana saling berpandangan. Antara pemilik lama dan pemilik baru sepertinya tidak ingin bertanggung jawab atas pegembalian uang kontrakan rumah yang masih tersisa.
"Bukankah ibu tadi mengatakan kami berurusan dengan ibu?" tanya Sinar.
__ADS_1
"Benar. Urusan kalian dengan aku. Ya itu tadi tentang pengosongan rumah."
Sinar tidak terima dengan sikap pemilik lama dan pemilik baru itu. Mungkin karena dirinya dan Hana masih muda. Pemilik rumah itu merasa Sinar dan Hana akan menerima apapun keputusan mereka.
Sinar mengirimkan pesan kepada Danish menceritakan apa yang mereka alami saat ini.
"Aku sedang meeting sayang. Mama yang akan datang ke tempat itu membantu kamu ya. Mama sudah on the way."
Sinar menarik nafas lega membaca balasan pesan dari Danish. Setidaknya dengan ada Nyonya Amalia nantinya. Uang mereka akan dikembalikan.
Beberapa menit kemudian. Sinar lebih terkejut lagi melihat siapa yang menemani mama mertuanya. Tuan Santosh turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Nyonya Amalia. Belum sempat, Sinar untuk menyuruh Bintang pulang terlebih dahulu. Kedua mertuanya sudah tiba disana. Lewat ekor matanya, Sinar dapat melihat jika Bintang sudah melangkah ke dalam rumah dengan menutupi wajahnya dari sampai dengan memakai tas. Semoga saja kedua mertuanya itu tidak melihat Bintang di tempat ini.
"Jadi masalah nya seperti apa. Mana pemilik rumah kontrakan?" tanya Tuan Santosh tanpa basa basi. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa. Membuat siapa saja yang mendengarnya tidak bisa berkutik.
Sinar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi setelah terlebih dahulu menunjukkan siapa yang menjadi pemilik baru.
"Aku ingin bertemu dengan pemilik lama. Dalam hitungan sepuluh menit. Dia harus ada disini. Kalau tidak masalah ini akan saya bawa ke ranah hukum," kata Tuan Santosh lagi.
"Ba..baik Pak. Saya hubungi sekarang," jawab pemilik baru itu. Cepat cepat dia menghubungi pemilik lama dan mengatakan ulang apa yang dikatakan oleh tuan Santosh.
Sinar meremas tangannya ketika melihat tuan Santosh memperhatikan sekeliling lingkungan itu. Kemudian memperhatikan ke dalam rumah lewat jendela. Jangan sampai tuan Santosh melihat Bintang di dalam rumah.
Nyonya Amalia duduk. Tuan Santosh masih betah berdiri dan tidak menerima kursi pemberian Sinar.
"Papa masih kuat berdiri Sinar. Duduklah, wanita hamil tidak baik lama berdiri," kata Tuan Santosh pelan. Nyonya Amalia menyentuh tangan Sinar yang membuat wanita itu tersadar dari rasa terkejut.
Sinar menurut untuk duduk karena tidak bagus membantah perkataan papa mertuanya. Sinar tidak lagi tertarik menunggu kedatangan pemilik rumah kontrakan lama itu dia kini lebih tertarik memikirkan sikap Tuan Santosh yang sangat berubah. Papa mertuanya itu tadi berkata pelan tapi lembut dan Sinar merasakan ada perhatian di setiap kata kata itu.
"Semoga saja, papa bersikap seperti ini bukan karena di depan umum," kata Sinar dalam hati. Meskipun jika seperti itu kenyataannya. Sinar akan berterima kasih kepada laki laki itu karena tidak menunjukkan rasa tidak sukanya di hadapan umum.
Orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Tuan Santosh langsung bertanya ke inti permasalahan.
"Untuk urusan rumah ini, bukan urusan saya lagi melainkan pemilik baru."
"Aku sudah membayar rumah itu. Untuk urusan pengembalian uang mereka bukan urusan ku. Kami sudah membicarakan itu sebelumnya. Dan ibu ini setuju," kata pemilik baru.
"Aku tidak mau tahu. Uang menantu saya harus kembali sekarang juga. Sebenarnya uang segitu sangat kecil bagiku. Tapi aku tidak terima kalian memperlakukan menantu dan temannya seperti ini," kata Tuan Santosh tegas.
__ADS_1
"Atau aku membuat penawaran. Bagaimana kalau aku membeli rumah ini dari anda. Aku akan menaikkan harga dua puluh juta dari harga yang anda beli dari dia," kata Tuan Santosh lagi. Pemilik baru itu membelalakkan matanya. Hitungan Hari, dirinya mendapatkan untung dua puluh juta. Siapa yang tidak mau. Lagi pula dia membeli rumah itu bukan untuk ditempati saat ini hanya untuk investasi saja. Dia menyuruh Sinar dan temannya mengosongkan rumah itu karena dia berencana juga untuk membuka usaha seperti usaha Sinar dan tidak tahu entah kapan mulai. Masih dalam tahap rencana. Tapi mendengar uang dua puluh juta. Pemilik rumah itu, lupa akan tujuannya membeli rumah itu.
"Saya, Saya mau tuan," kata pemilik rumah itu. Tuan Santosh langsung mengirimkan setengah dari jumlah harga yang mereka sepakati ke nomor rekening wanita itu. Dan akan dilunasi jika surat sudah berganti nama.
"Kepemilikannya atas nama Sinar," kata Tuan Santosh lagi membuat Sinar semakin terkejut sedangkan Nyonya Amalia tersenyum. Mungkinkah tuan Santosh sudah menerima aku?. Pertanyaan itu berputar putar di kepala Sinar. Tapi wanita itu tidak langsung senang. Sikap tuan Santosh sulit untuk ditebak. Dia masih mengingat ketika lamaran dulu. Tuan Santosh sangat baik kepada keluarganya ternyata mempunyai maksud tertentu.
Mengingat itu, Sinar menjadi ragu bahkan sedikit ketakutan. Dia takut, dibalik Sikap baik yang ditunjukkan oleh papa mertuanya saat ini. Ada maksud tertentu di dalamnya.
"Atas nama Danish saja pa," jawab Sinar. Sinar merasa tidak enak menerima rumah itu dari papa mertuanya mengingat hubungan mereka sebelumnya. Dia takut rumah ini hanya sebagai alat untuk menekan dirinya. Tuan Santosh tidak menghiraukan perkataannya. Bahkan laki laki itu kembali menegaskan jika kepemilikan rumah itu atas nama Sinar..
"Jadi masalah sudah beres kan Pak. Kalau begitu saya mohon pamit," kata pemilik rumah lama.
"Siapa bilang yang urusan kamu sudah beres. Kembalikan dulu uang menantuku. Karena seharusnya itu adalah tanggung jawab kamu bukan tanggung jawab ibu ini," jawab tuan Santosh. Wajah wanita itu berubah masam. Dia berpikir karena rumah itu sudah menjadi milik Sinar maka uang sisa Kontrak itu tidak perlu lagi dikembalikan. Dia juga merasa iri kepada wanita yang menjadi pembeli sebelumnya. Jika dia mengetahui ternyata Sinar atau keluarganya mampu membeli rumah itu. Dia tidak akan menawarkan kepada wanita itu. Dia memang tidak mengetahui bahwa Sinar mempunyai mertua yang kaya. Dan dia juga tidak pernah melihat Sinar diantar jemput pakai mobil mewah ke tempat itu.
Dengan berat hati, akhirnya ibu itu mengembalikan sisa uang kontrak rumah itu.
Sinar berpikir dengan kembalinya uang sisa Kontrak itu. Masalah sudah berakhir. Ternyata tidak. Setelah urusan uang itu selesai. Tuan Santosh dan Nyonya Amalia masuk ke dalam rumah dan ingin melihat sendiri bagaimana proses pembuatan keripik ubi itu.
Sinar tidak bisa menolak. Dia mempersilahkan kedua mertuanya masuk ke dalam rumah. Yang dia khawatirkan adalah kedua mertuanya melihat Bintang bekerja pada dirinya. Sinar tentu saja mengetahui bagaimana kebencian tuan Santosh dan Nyonya Amalia kepada Bintang.
"Silahkan duduk ma, pa," kata Sinar setelah kedua mertuanya itu sudah di dalam rumah.
"Apa ada keripik yang sudah bisa dimakan Sinar?" tanya Tuan Santosh. Sinar tersenyum kikuk. Tuan Santosh berbicara dengan dirinya seperti tidak ada masalah diantara mereka sebelumnya.
"Belum ada pa. Ini mau digoreng. Hanya menunggu beberapa menit saja," jawab Sinar. Sinar langsung meminta Hana untuk menggoreng keripik untuk tuan Santosh dan Nyonya Amalia.
"Terus sambalnya?" tanya tuan Santosh lagi. Nyonya Amalia tertawa.
"Sudah tidak sabar lagi pa, makan keripik ubinya?" tanya Nyonya Amalia. Tuan Santosh menganggukkan kepalanya.
"Sambal sudah beres pa. Sudah aku siapkan dari rumah," kata Sinar. Sinar menunjuk sambal dalam wadah besar yang terletak di atas meja tidak jauh dari tuan Santosh dan Nyonya Amalia duduk.
Sinar semakin bertanya tanya dalam hati. Apakah papa mertuanya itu benar benar sudah menerima dirinya. Perubahan sikap Tuan Santosh sangat mendadak Dan masih di hadapan umum. Sinar akan yakin dengan perubahan Tuan Santosh jika laki laki itu bersikap baik jika berbicara berdua dengan Tuan Santosh.
Menyadari perubahan Tuan Santosh. Sinar semakin khawatir jika keberadaan Bintang di rumah itu akan membuat sikap papa mertuanya kembali ke sikap semula. Dia memang sudah mengirimkan pesan kepada Bintang untuk tidak keluar dulu selama kedua mertuanya itu masih di rumah itu. Tapi Sinar masih takut jika sewaktu waktu ada hal yang membuat keberadaan Bintang di rumah itu diketahui.
"Bintang, Ayo kerja. Jangan tidur kamu."
__ADS_1
Baru saja Sinar mendapatkan balasan pesan dari Bintang. Salah satu ibu yang menjadi karyawan Sinar memanggil Bintang dan bahkan mengetuk pintu kamar dimana Bintang berada. Sinar
seketika menatap kedua mertuanya yang juga sedang menatap dirinya penuh tanda tanya.