Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Ancaman Bintang


__ADS_3

Masuk ke dalam rumah yang pernah ditinggal kan tanpa pamit tentu saja membuat Sinar merasa canggung untuk bertemu dengan si Nyonya rumah. Tapi Danish meyakinkan Sinar dengan menggandeng tangan wanita itu. Sinar masih saja gugup bercampur malu. Meskipun bukan ini yang pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah ini. Membandingkan perbedaaan statusnya dengan status Danish. Sinar terkadang merasa tidak pantas untuk pria itu. Tapi demi alasan cinta, Sinar tidak bisa menolak Danish apalagi pria itu juga menginginkan dirinya.


Begitu memasuki ruang tamu. Sinar melihat wanita yang pernah menganggap dirinya ada di rumah ini. Wanita baik yang sudah memberikan dukungan dan semangat kepada dirinya. Sinar masih jelas mengingat bagaimana nasehat Nyonya Amalia kepada dirinya. Bukan hanya nasehat. Nyonya Amalia juga mendukung Sinar untuk menjadi istri satu satunya untuk Danish.


Sinar memperhatikan wanita itu. Pergi tanpa pamit menimbulkan rasa bersalah yang dalam di hatinya. Jika tahu harus kembali ke rumah ini dan bersedia menjadi istri Danish. Mungkin Sinar akan berpikir dua kali untuk meninggalkan Nyonya Amalia tanpa pamit.


"Halo ma," sapa Danish pada Nyonya Amalia yang sedang fokus menatap layar ponselnya. Wanita itu spontan mendongak dan terlihat terkejut tapi kemudian tertegun memperhatikan Sinar. Wanita itu terlihat mengucek matanya sendiri kemudian mencubit tangannya sendiri. Sadar jika kejadian ini bukan mimpi. Wanita itu kembali memperhatikan Sinar.


"Sinar."


Nyonya Amalia masih merasa bermimpi dan tidak percaya dengan Sinar yang kini berdiri di hadapannya. Dan bahkan sudah berjalan menghampiri dirinya. Nyonya Amalia meletakkan ponselnya di meja dan bangkit dari duduknya. Dia menerima uluran tangan Sinar setelah mereka saling berhadapan. Sinar sungguh merasa dihargai dan disayang oleh calon mertuanya.


"Nyonya."


Nyonya Amalia menarik Sinar dalam ke dalam pelukannya. Selama enam bulan, wanita itu memikirkan Sinar. Dia merasa senang karena pada akhirnya bisa melihat Sinar kembali.


"Darimana saja kamu Sinar?" tanya Nyonya Amalia setelah mereka duduk di sofa. Nyonya Amalia juga memanggil pelayan untuk menyajikan minuman dan cemilan untuk wanita yang menjadi penolong putranya.


"Masih di sekitar kota ini Nyonya," jawab Sinar. Nyonya tidak bertanya lebih banyak lagi. Baginya melihat Sinar di rumah ini sudah cukup untuk membuktikan jika nantinya Danish dan Sinar akan berjodoh.


"Dia menenangkan diri ma. Dan sudah tiba saatnya untuk memperlihatkan dirinya kepada Kita," kata Danish tersenyum. Sinar hanya menundukkan kepalanya.


"Ya sudah. Jangan terlalu larut dengan masalah yang lalu. Sekarang pikirkan Masa depan kalian."


"Benar ma. Sebelum kemari. Kami sudah membicarakan itu terlebih dahulu," jawab Danish. Sinar semakin menundukkan kepalanya. Tidak enak rasanya, lama sudah menghilang tiba tiba sudah membicarakan tentang masa depan. Benar mereka sudah membicarakan itu tadi. Itu antara mereka berdua. Sinar merasa malu jika pembicaraan mereka tadi diketahui orang lain meskipun itu mama kandung Danish sendiri. Kesannya seperti terburu buru. Dan Sinar tidak ingin ada anggapan jika dirinya yang seolah menginginkan pernikahan itu dilakukan dalam waktu dekat ini.


"Kalian sudah sepakat untuk menikah kan?" tanya Nyonya Amalia tidak sabar. Seharusnya, dia bertanya kabar Sinar terlebih dahulu. Tapi karena melihat Sinar terlihat lebih cantik daripada sebelumnya. Nyonya Amalia tidak menanyakan itu karena dia sangat yakin jika Sinar dalam keadaan baik baik saja selama ini.


Saat ini Sinar terlihat tidak seperti pertama kali menginjakkan kakinya di Kota. Sinar sudah terlihat berubah meskipun wajahnya polos tanpa riasan. Pakaian yang dikenakan oleh Sinar saat ini sudah ke kinian ditambah dengan kulitnya yang bertambah cerah. Wajahnya juga sudah mulus menandakan wanita itu sudah sering menggunakan perawatan wajah.


"Sudah ma," jawab Danish menganggukkan kepalanya dengan pasti sedangkan Sinar terlihat tersenyum malu malu.


"Syukurlah, mama senang mendengarnya. Kalau mama sih jangan lama lama nikahnya. Kalau bisa dua tiga bulan lagi."


"Itu ma, masih kelamaan. Kalau bisa sih bulan depan sudah sah jadi suami istri," kata Danish. Nyonya Amalia tertawa sedangkan Sinar masih dengan sikap malu malunya.


"Kamu Kira mempersiapkan pernikahan itu mudah. Aku mau pernikahan putraku adalah pernikahan yang mewah. Jadi tidak secepat itu," kata Nyonya Amalia. Danish hanya tersenyum kemudian menggaruk kepalanya karena dia membenarkan perkataan sang mama dalam hati.


Benar kata Nyonya Amalia. Jika ingin mengadakan pernikahan yang mewah. Perlu persiapan.


Sinar menatap Nyonya Amalia yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Ternyata Danish tidak berbohong, jika sang mama memang sering sakit sakitan akhir akhir ini. Sinar merasa prihatin dengan wanita baik itu.


"Nyonya agak kurusan," kata Sinar.


Nyonya Amalia menganggukkan kepalanya kemudian menarik nafas panjang. Permasalahan yang ditimbulkan oleh Bintang mengganggu pemikirannya sehingga mengganggu kesehatannya pula.


"Akhir akhir ini. Aku sering tidak enak badan dan sulit tidur Sinar. Tapi melihat kamu sudah bersama dengan Danish. Beban pikiranku pasti sudah berkurang."

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri jika kepergian Sinar dari rumah juga membuat Nyonya Amalia terbebani pikiran. Wanita itu sadar, jika Danish yang membawa Sinar ke kota ini maka Sinar dibawah tanggung jawab putranya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Sinar itu artinya suatu saat nanti putranya akan menerima karma karena menelantarkan wanita yang sudah menolongnya.


Seketika Sinar dan Danish diliputi perasaan yang bersalah. Sinar merasa bersalah karena tidak keluar baik baik dari rumah itu sedang Danish merasa bersalah karena tidak jujur tentang keberadaan Sinar selama enam bulan ini yang sudah dia ketahui.


"Maafkan aku Nyonya."


"Tidak apa apa Sinar. Aku memaklumi apa yang kamu lakukan," kata wanita itu. Jika dirinya di posisi Sinar. Nyonya Amalia juga pasti melakukan seperti itu. Karena dirinya sangat tidak mau dimadu. Bukan hanya dirinya, bisa dipastikan setengah dari wanita di dunia ini pasti tidak ingin mempunyai madu. Jika ada wanita yang mampu dimadu. Yang pasti bukan Nyonya Amalia atau Sinar wanita itu.


"Maafkan aku ya ma," kata Danish. Mengingat bagaimana sang mama sering sakit membuat Danish merasa menyesal karena menyembunyikan Sinar selama ini. Padahal niatnya supaya Tuan Santosh tidak mengetahui keberadaan Sinar. Selain itu, Danish juga ingin memberikan waktu kepada Sinar untuk berjuang supaya wanita itu tidak dipandang sebelah mata oleh tuan Santosh.


Niat Danish itu ternyata berhasil. Berkat kegigihan Sinar berjuang di Kota. Wanita itu mampu menghidupi dirinya sendiri. Danish bangga akan pencapaian Sinar itu. Dalam jangka waktu enam bulan termasuk waktu yang singkat bagi Sinar menyesuaikan hidup di Kota.


"Mengapa kamu meminta maaf?" tanya Nyonya Amalia sambil mengerutkan keningnya. Dia merasa Danish tidak mempunyai kesalahan. Danish pun akhirnya menceritakan jika dirinya sudah sejak enam bulan lalu mengetahui dimana Sinar tinggal.


"Dasar ya kamu ya Danish. Pantas saja kamu terlihat tenang ternyata kamu sudah mengetahui keberadaan Sinar. Kamu tidak tahu bagaimana mama setiap membaca berita kriminal yang korban seorang wanita sangat ketakutan," kata Nyonya Amalia terlihat kesal. Wanita itu menarik kuping Danish karena mengingat bagaimana dirinya ketakutan jika membaca atau mendengar berita kriminal yang korban wanita. Nyonya Amalia takut jika korban tersebut adalah Sinar mengingat Sinar adalah pendatang baru di kota ini.


"Lepas ma. Lagian pemikiran mama sangat kejauhan itu. Sinar dan putra mu ini akan berumur panjang dan memberikan cucu cucu yang lucu untuk kalian nanti," kata Danish. Spontan, Nyonya Amalia melepaskan kuping Danish dan tersenyum. Sedangkan Sinar menundukkan kepalanya. Menikah saja belum, tapi Danish sudah menjanjikan cucu untuk orang tuanya membuat Sinar merasa malu.


"Iya, kamu benar. Mama juga ingin cucu secepatnya. Kalau kalian menikah dua bulan lagi. Berarti, satu tahun lagi. Mama sudah menimang cucu."


"Doakan ya ma."


Sinar tidak ikut pembicaraan antara mama dan putranya itu. Dia tidak ikut ikutan menjanjikan memberikan cucu karena baginya. Seorang anak itu lahir bukan karena kehendak orang tuanya tapi karena kehendak Penciptanya. Sinar takut menjanjikan yang hal di luar kuasanya. Baginya kehadiran sang anak bukan seperti membuat adonan. Pintar membuat adonan maka kue yang dihasilkan juga akan bagus.


Nyonya Amalia menganggukkan kepalanya dengan cepat. Rasanya sangat bahagia hanya membicarakan tentang cucu. Bagaimana kalau sudah mempunyai cucu. Pasti lebih bahagia dari sekarang ini. Sudah lama dirinya ingin melihat Danish menikah. Kalau tidak karena kecelakaan itu, seharusnya Danish sudah menikah dengan Bintang. Tapi takdir berkata lain. Danish mengalami kecelakaan dan bertemu dengan Sinar ditambah dengan terbongkarnya kejahatan keluarga Bintang.


"Benar itu ma. Satu bulan pasti bisa," kata Danish semangat. Mereka adalah keluarga kaya yang mempunyai uang yang banyak dan relasi yang segan kepada mereka. Pasti tidak akan ada yang menolak siapapun Pemilik wedding organizer yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan tersebut. Jangan ditunjuk, jika diketahui Danish mempunyai rencana untuk menikah pasti pihak wedding organizer berlomba lomba menawarkan diri untuk bekerja sama dengan keluarga tuan Santosh membuat pernikahan itu meriah dan mewah.


"Bagaimana Sinar?" tanya Nyonya Amalia. Ternyata wanita itu menghargai pendapat calon menantunya meskipun keinginan mempunyai cucu itu tidak terbendung lagi.


"Aku ikut kalian saja Nyonya," kata Sinar pasrah. Dia sudah terlanjur setuju menikah dengan Danish. Maka dia pun menurut apapun kemauan Danish dan Nyonya Amalia. Danish seketika memeluk Sinar. Dia menyukai jawaban itu yang dia artikan tidak akan menolak jika pernikahan itu diadakan secepatnya. Sinar berkata seperti itu karena dirinya juga takut jika sewaktu waktu Roki keluar dari penjara akan kembali berniat jahat kepada dirinya. Selain alasan cinta tentunya.


Ya, bayang bayang Roki menculik dirinya saat itu masih terekam di otaknya. Dia takut jika sewaktu waktu Roki keluar dari penjara dan berencana kembali untuk menodai dirinya. Sebelum itu terjadi. Sinar juga sudah menikah sehingga Roki tidak bisa lagi mengganggu dirinya nanti.


"Besok, begitu papa mu pulang. Kita akan membicarakan tentang lamaran," kata Nyonya Amalia. Danish menganggukkan kepalanya setuju.


Pembicaraan yang membuat Nyonya Amalia itu berbahagia ternyata menyakitkan bagi orang lain. Orang itu adalah Bintang. Kedatangannya ke rumah itu, untuk memeras tuan Santosh. Sejak, Pak Idrus di penjara. Bisnis haramnya otomatis tidak beroperasi Untuk menghindari pihak yang berwajib menemukan bukti karena pak Idrus bersikukuh jika dirinya tidak pernah menjalankan bisnis tersebut. Dia menyebut dirinya menjadi tersangka karena difitnah.


Hati wanita mana yang tidak sakit jika pria yang dicintai dan didambakan menjadi suaminya akan menjadi milik wanita lain. Dia yang dikenal sebagai tunangan dari pria itu tapi tidak dinikahi. Dia yang rela dimadu walau hanya di mulut saja tapi tetap tersisihkan.


Penyesalan itu memang datang terlambat. Dia berpikir karena Danish sangat mencintai dirinya akan mengikuti semua keinginannya. Ternyata Bintang salah besar. Danish memang serius membuktikan cinta sucinya tapi tidak rela jika dimanfaatkan.


Mengingat kisah manis dan bagaimana Danish mencintai bahkan menjaga dirinya. Bintang menangis di balik tembok yang menjadi pemisah ruang tamu dengan ruangan lainnya. Bintang merasakan hatinya sangat sesak. Andaikan pak Idrus tidak terlibat dalam menjalankan bisnis haram itu bisa saja cintanya dan Danish berujung pernikahan saat ini.


Bintang akhirnya merasa malu untuk berhadapan dengan Danish. Mungkin, dia akan berusaha keras melupakan pria itu tapi yang membuat dirinya bingung saat ini, bagaimana dirinya harus membiayai para pengacara yang menangani kasus pak Idrus. Uang yang sangat banyak di rekening mereka, sudah hampir habis untuk memberikan suap kepada orang orang yang mengetahui bisnis haram pak Idrus supaya tidak buka mulut.


Ada pepatah yang mengatakan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifat jahat pak Idrus ternyata turun ke Bintang. Dia menyesal karena memanfaatkan cinta Danish tapi dia tidak akan membiarkan ayahnya terpuruk di penjara. Sudah terlanjur kehilangan Danish. Maka dia tidak ingin kehilangan harga dirinya. Dia harus membersihkan nama baik keluarganya bagaimana pun caranya. Bintang merasa dirinya boleh kehilangan cintanya tapi keluarganya tidak boleh kehilangan nama baik.

__ADS_1


Dengan kasar, wanita itu mengusap air matanya. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi untuk membantu ekonomi keluarganya selain memeras keluarga Danish. Sepertinya, relasi pak Idrus semuanya menjauh setelah mengetahui kasusnya sehingga tidak ada yang bisa membantu Bintang untuk mengeluarkan pak Idrus dari penjara.


Kehadiran Bintang di ruang tamu itu membuat Nyonya Amalia, Danish dan Bintang terkejut. Tapi sesaat kemudian, Danish menatap wanita itu dengan sinis. Andaikan tuan Santosh berada di ruang tamu itu. Danish akan mengajak Sinar meninggalkan rumah itu karena muak melihat Bintang. Tapi Danish tidak tega membiarkan Nyonya Amalia menghadapi Bintang. Danish dapat melihat Bintang semakin licik.


Bintang memperlihatkan rasa tidak suka kepada Sinar. Tapi Sinar bersikap biasa. Tidak senyum dan tidak sinis kepada wanita yang pernah menawarkan pertemanan kepadanya itu. Ternyata hal itu yang membuat Bintang semakin tidak suka dengan Sinar. Dia ingin wanita itu marah atau bersikap memalukan supaya Danish merasa ilfill kepada wanita itu. Ternyata tidak. Kehadirannya di ruang tamu itu tidak mengganggu pandangan Sinar sama sekali. Sinar bisa bersikap seolah olah tidak pernah mengenal Bintang.


"Suamiku, tidak ada di rumah. Datang lah lain waktu atau jika boleh tidak perlu datang lagi," kata Nyonya Amalia ketus. Melihat Bintang di rumah itu. Suasana hati Nyonya Amalia berubah. Nyonya Amalia seakan anti melihat Bintang yang pernah menjadi calon istri putranya.


"Nomor om Santosh tidak aktif tante."


Hari ini, Bintang membutuhkan uang ratusan. Bintang tidak butuh bertemu dengan Tuan Santosh. Dia hanya butuh berkomunikasi dengan pria itu kemudian seperti biasa mengancam dan memeras untuk menghasilkan uang. Tape sayang, setelah berkali kali mencoba menghubungi tuan Santosh. Nomor nya tidak aktif membuat Bintang nekad datang ke rumah ini.


"Sampai kapan, kamu memeras suamiku?" tanya Nyonya Amalia dengan sorot mata yang memerah. Wanita mana yang tidak akan marah berhadapan dengan wanita licik seperti Bintang. Kalau tidak Karena memikirkan adanya hukum di negeri ini. Nyonya Amalia sudah melemparkan vas bunga itu ke kepala Bintang.


"Aku tidak memeras Tante. Ini demi nama baik dua keluarga. Aku harus pintar pintar menyembunyikan informasi tentang pencurian bunga Edelweis itu karena seseorang mengetahui tentang pencurian Bunga Edelweiss itu beserta bukti Danish sangat mencintai aku. Om dan tante pasti tidak ingin Danish di penjara kan tante. Aku hanya butuh ratusan kok tante. Tidak sampai milyaran. Aku rasa itu kecil lah untuk kalian."


Bintang berusaha berkata santai di tengah rasa sakit hatinya.


Danish menatap Bintang dengan tajam dengan tangan terkepal sedangkan Sinar semakin percaya bahwa apa yang diceritakan Danish sebelumnya ternyata benar. Di hadapannya, Bintang sedang berusaha mendapatkan uang dengan cara memeras keluarga Danish. Dan sepertinya wanita itu tidak takut sama sekali dengan perbuatannya itu.


Danish tidak berdaya untuk membantah Bintang. Bintang sudah mengirimkan sebuah video ketika Danish memetik bunga Edelweis itu di puncak gunung. Danish juga sudah dibantu Nathan untuk menyelidiki siapa diantara mereka yang mendaki itu yang membuat video tersebut. Dan alibi para teman temannya tidak menunjukkan jika salah satu diantara mereka yang merekam pencurian bunga Edelweis itu. Danish menduga, jika Bintang dan Pak Idrus mengirim orang lain untuk merekam dirinya. Dan video itu juga yang membuat Tuan Santosh tidak bisa berkutik.


Danish seketika merasa dirinya kurang beruntung dilahirkan sebagai anak dari pejabat yang menangani Lingkungan dan Kehutanan. Andaikan dirinya bukan anak dari pejabat tersebut. Danish rela dihukum karena perbuatannya itu. Biarlah nama baiknya tercemar sementara daripada Bintang menjajah keluarganya.


"Dasar penjajah kamu Bintang. Keluar dari rumah ku sekarang juga," bentak Danish. Danish menggerakkan tangannya menunjuk pintu.


"Keluar?. Boleh, boleh saja. Tapi aku harus mendapatkan apa yang aku mau terlebih dahulu. Kalau tidak, video video ini akan aku kirim ke pihak yang berwenang. Oya, tante. Selain mencuri bunga Edelweis itu ternyata Danish juga menjualnya. Ilegal itu tante. Ada undang undang gak ya?" kata wanita itu tenang sambil menekan jari telunjuk ke kening seperti orang yang sedang berpikir.


"Apa maksud kamu?" tanya Danish panik Dan tidak mengerti. Dia merasa tidak pernah menjual bunga Edelweis itu. Mencuri iya. Tapi untuk menjual untuk apa dia melakukan itu. Dia bukan orang yang kekurangan duit.


"Perlu aku kirim buktinya?" tantang Bintang.


Bintang terlihat membuka layar ponselnya dan beberapa saat kemudian ponsel Nyonya Amalia berdering. Nyonya Amalia membuka ponselnya, Dan wanita itu terkejut melihat pesan masuk. Ternyata Bintang mengirimkan bukti yang dia katakan itu ke ponsel Nyonya Amalia karena Danish sudah memblokir nomornya.


"Kamu memang benar benar licik Bintang. Dasar biadab," maki Danish. Bukti yang dikirimkan Bintang adalah sebuah screenshot bukti chatting jual beli bunga Edelweis. Dan setalah Danish memperhatikan ternyata transaksi itu terjadi ketika mereka berlibur satu minggu sebelum pertunangan. Itu artinya, Bintang berhasil menggunakan ponsel Danish untuk melakukan jual beli itu.


Danish hanya bisa menatap Bintang dengan tajam penuh kebencian. Ternyata liburan yang direncanakan oleh Bintang saat itu bukan hanya liburan biasa. Selain direncanakan untuk menjebak dirinya juga direncanakan untuk membuat scenario jual beli bunga edelweiss itu. Seketika itu juga Danish menyesal karena terlalu percaya kepada Bintang. Dia ingat, pasti Sinar sakit hati karena liburan itu.


"Semuanya akan aman jika kalian memberikan aku uang. Pernikahan kalian juga akan lancar jaya. Tapi jika tidak memberikan aku uang sekarang juga. Maka pernikahan kalian akan ditunda beberapa tahun lagi. Dan kamu Sinar, kamu pasti tidak sabar ingin menikmati kekayaan Danish kan. Bujuk calon suami dan calon mertua mu untuk memberikan aku uang," kata Bintang. Dalam situasi seperti ini. Bintang juga berusaha menjatuhkan. Tapi Sinar hanya tertawa kecil mendengar perkataan Bintang itu. Lebih tepatnya mengejek Bintang.


"Bintang, nama mu sangat cantik. Di malam hari. Orang orang akan merindukan Bintang di langit. Selain untuk menerangi malam. Bintang akan terlihat indah. Tapi Bintang yang ada di hadapan ku tidak lebih dari seorang pengemis kejam. Ketahui lah Bintang. Saat ini, kamu boleh mengancam Danish dan keluarga ini dengan bukti bukti yang ada padamu. Tapi, ingat. Danish melakukan itu karena apa. Jika kamu merasa Danish bersalah. Tapi kamu yang lebih bersalah. Kamu mengetahui undang undang tentang edelweiss itu tapi kamu memaksa Danish untuk mengambilnya. Danish dan keluarga bisa saja mengalami kerugiaan materi karena perbuatannya. Dan seharusnya, kamu juga harus memikirkan kerugiaan apa yang terjadi padamu karena memaksa Danish melakukan itu."


Sinar akhirnya berbicara dengan Bintang setalah namanya disebut wanita itu. Sinar merasa perlu berbicara supaya Bintang tidak menganggap dirinya orang bodoh.


"Banyak bicara kamu Sinar. Jangan senang dulu karena Danish memilih kamu saat ini. Bisa saja suatu saat nanti kamu akan dicampakkan. Lihat dirimu. Kamu tidak cantik seperti aku. Kamu tidak pintar seperti aku. Jadi apa yang akan kamu banggakan di hadapan Danish."


"Bintang, aku memang tidak cantik seperti kamu. Tapi aku bukan wanita licik yang menghalalkan cara untuk mendapatkan uang. Aku juga memang tidak pintar seperti kamu. Tapi aku terlahir dari orang tua yang baik. Aku bisa bertumbuh karena orang tuaku menghidupi aku dari uang yang halal. Bukan seperti kamu yang hidup dari uang halal."

__ADS_1


Kata kata Sinar berhasil membuat Bintang terdiam tapi matanya terlihat menyeramkan menatap Sinar.


__ADS_2