
Video berdurasi hampir dua menit itu mampu membuktikan jika Roki benar benar bisa menemukan keberadaan Sinar. Dalam video itu, Sinar terlihat bersemangat bekerja dengan keringat bercucuran dan membawa beban berat. Danish memperhatikan baik baik tempat pengambilan video itu. Dari kayu kayu yang diangkat oleh Sinar. Danish dapat menyimpulkan jika Sinar bekerja di pabrik yang membuat perabot rumah tangga seperti lemari, meja makan dan perabot lainnya.
Danish mengusap wajahnya dengan kasar karena Roki yang terlebih dahulu menemukan Sinar dibandingkan orang orang suruhannya. Melihat Sinar bekerja keras di Kota seperti itu Danish merasa menelantarkan Sinar. Dia yang membawa Sinar ke kota. Tapi Sinar harus berjuang sendiri tanpa dirinya.
Dalam hati, Danish juga mempertanyakan apa yang dilakukan orang orang suruhannya sehingga satu minggu mencari keberadaan Sinar tidak menemukan titik terang. Apakah dibalik itu semua, ada campur tangan tuan Santosh?.
Danish mengepalkan tangannya hanya menduga campur tangan tuan Santosh akan kegagalan mencari keberadaan Sinar. Sejak, Tuan Santosh mengatakan rasa tidak sukanya kepada Sinar. Danish seperti tidak mengenal papanya itu.
Roki tersenyum puas karena berhasil membuat dua pria di hadapannya tidak berkutik karena video itu. Dia semakin merasa hebat dan pintar dibandingkan dengan Danish.
"Dasar Stupid. Jangan jangan pria ini orang kaya palsu. Sinar kabur karena mengetahui pria ini ternyata orang miskin dan lebih kaya dari Roki. Benar kan. Ayo mengaku. Bilang saja mobil yang di Sana adalah mobil rental," kata Roki. Kini bukan hanya Sinar yang direndahkan tapi juga Danish.
"Iya, aku akui kamu pintar," kata Danish pelan. Danish mengakui jika Roki pintar. Roki tertawa sombong mendengar pengakuan Roki itu. Tapi dalam hati Danish juga mencari cara supaya Roki mengurungkan niatnya untuk menikahi Sinar. Danish dapat melihat jika Roki tidak main main dengan perkataannya yang hendak membuat Sinar menderita. Danish juga melihat dendam itu jelas ada dalam diri Roki untuk Sinar.
Andaikan Danish bersama dengan Sinar saat ini. Dia sangat yakin jika Sinar juga akan melakukan cara supaya terlepas dari pria seperti Roki. Yang menjadi masalah saat ini. Sinar tidak bersama dirinya dan dia takut Roki melakukan cara apapun untuk membalas dendamnya.
"Tapi kamu akan terlihat lebih pintar jika tidak ada dendam di hati mu," kata Danish lagi.
Sebagai manusia yang sudah dikuasai iblis. Kata kata Danish tidak berarti bagi Roki. Roki menatap Danish dengan tajam.
"Kamu benar. Dendam itu akan pergi dari dalam diriku. Jika apa yang aku sudah inginkan berhasil menikahi Sinar dan berhasil membuatnya menderita."
"Dimana dia sekarang Roki. Bawa aku kepadanya," kata Kakek Joni. Meskipun Roki yang terlebih dahulu mengetahui keberadaan Sinar, kakek Joni sedikit merasa lega setidaknya Sinar dalam keadaan baik saat ini.
"Tenang saja kakek tua. Kamu tidak perlu merepotkan diri menemui Sinar. Aku yang akan membawa Sinar ke hadapan kalian." jawab Roki sambil merampas ponsel miliknya dari tangan Danish. Dia tidak tahu bahwa ponselnya itu sedangkan mengirimkan video itu ke ponsel milik Danish melalui Bluetooth.
"Tentunya setelah aku sudah membuatnya menderita dan tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi," kata Roki lagi.
"Berani kamu berbuat macam macam kepada cucuku. Maka aku juga tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang," ancam kakek Joni. Dari tadi, kakek Joni berusaha menahan diri untuk tidak marah akhirnya tidak bisa ditahan juga. Perkataan demi perkataan Roki membuat Kakek Joni marah. Andaikan dia mempunyai ilmu untuk membuat Roki menderita sekarang juga. Kakek Joni akan menggunakan ilmu tersebut untuk membuat Roki tidak berkutik. Tapi sayang, kakek tua itu hanya mempunyai ilmu mengobati tulang yang patah.
"Apa yang bisa kamu lakukan pak tua. Kamu saja sudah bau tanah. Jangan menambah dosa dengan marah marah. Perbanyak saja berdoa. Urusan Sinar jangan terlalu kamu ambil pusing. Sinar adalah wanita yang pantas menderita," kata Roki.
"Roki, jangan keterlaluan kamu. Jangan merasa senang dulu karena kamu bisa mengetahui keberadaan Sinar. Sinar tidak selemah yang kamu pikirkan. Aku percaya, berurusan dengan kamu. Sinar bisa menjaga dirinya sendiri," kata Danish. Dia tidak akan membiarkan Roki merasa mudah untuk membuat Sinar menderita.
"Diam kamu. Jangan banyak berbicara. Apa aku perlu mematahkan kaki kananmu itu supaya mulut mengaduh less dan tidak banyak berbicara?" kata Roki. Pria itu benar benar pandai memancing amarah lawan bicaranya sekaligus membuat Danish tidak berkutik.
"Coba saja kalau kamu berani. Maka kamu akan mengalami tidak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya," kata Kakek Joni sambil berdiri kemudian mengangkat bangku yang tadi dia duduki.
Roki mundur dan berlari melihat bangku yang siap dilemparkan oleh kakek Joni ke arah kepalanya. Ternyata apa yang dilakukan Sinar pada waktu itu membuat Roki trauma. Ancaman kakek Joni membuat Pria itu naik ke atas motornya dengan cepat.
"Sini kamu, jangan sebut namaku Joni kalau bangku kayu ini tidak mendarat di kepala kamu itu," kata Kakek Joni sambil berjalan ke arah motor Roki. Pria itu dengan cepat memutar kunci kontak dan kemudian pergi dari tempat itu.
"Ternyata nyali hanya segitu saja," kata Kakek Joni setelah Roki pergi.
Danish mengamati video itu sebentar kemudian mengirimkan ke temannya untuk melacak alamat pabrik kayu tersebut. Dia tidak menyuruh orang orang suruhannya lagi Karena khawatir para orang orang suruhannya itu sudah di bawah kuasa tuan Santosh.
Kakek Joni kembali duduk berhadapan dengan Danish. Kakek tua itu menatap Danish yang terlihat sangat sibuk dengan ponselnya. Meskipun Danish sudah menyakiti Sinar. Dibandingkan dengan Roki. Kakek Joni lebih merestui Danish yang akan menikahi Sinar.
"Aku sudah meminta temanku untuk melacak tempat itu kakek. Semoga secepatnya, kita mengetahui tempat tinggal Sinar," kata Danish supaya kakek Joni merasa tenang. Kakek tua itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Di atas motor miliknya, Roki terus mengeluarkan kata kata umpatan untuk kakek Joni. Setelah merasa dirinya aman. Pria itu berhenti dan menghubungi seseorang.
"Biarkan dia merasa tenang beberapa hari ini dulu. Aku akan menjadikan Sinar sebagai lahan uang untukku. Setelah itu baru aku akan bertindak sesuai rencana," kata Roki. Melihat mobil Danish. Roki berencana memiliki mobil tersebut.
"Oke. Lalu bagaimana dengan bagian ku?" tanya dari seberang.
"Kamu tenang saja. Aman itu."
Roki memutuskan panggilan itu. Dia berencana akan memeras Danish dan kedua orang tua Sinar sebagai awal pembalasan dendam dirinya kepada Sinar.
Roki merasa dirinya manusia yang paling beruntung. Mendapatkan tiga juta hari ini hanya dengan menunjukkan video keberadaan Sinar. Ternyata uang tiga juta itu lah awal ketamakan Danish dan dirinya ingin mendapatkan lebih dari tiga juta itu.
Roki tertawa di tepi jalan itu. Dia tidak menyangka bisa mendapatkan yang banyak setelah berusaha merenggut kesucian Sinar dengan paksa. Uang perdamaian yang dia terima dari keluarga Sinar tergolong lumayan banyak dan setengahnya tidak habis untuk biaya pengobatannya di rumah sakit.
Dan kini setelah uang perdamaian itu. Roki kembali mendapatkan keuntungan. Roki merasa apa yang dilakukan Sinar dengan melarikan diri dari rumah Danish adalah number rejeki bagi dirinya.
Ya, awalnya Roki iseng iseng menceritakan apa yang dia alami selama ini Dan keadaan Sinar kepada sepupunya yang berada di kota. Ternyata sepupunya itu bekerja di pabrik yang sama dengan Sinar. Ketika Roki menyebut nama Sinar, sepupu Roki itu juga menceritakan jika ada anak baru di pabrik tempat dia bekerja bernama Sinar. Roki mengirimkan foto Sinar ke sepupunya itu dan ternyata benar. Sinar yang diceritakan oleh Roki adalah Sinar yang sama dengan anak baru yang dimaksudkan sepupu Roki itu.
Roki berpikir cepat untuk memanfaatkan hal itu. Dia meminta sepupunya untuk mengirimkan video Sinar yang sedang bekerja dan berencana untuk menggunakan video itu menekan pak Ilham supaya memberikannya tambahan uang perdamaian yang dia minta. Ternyata, sebelum dirinya meminta uang tambahan itu. Dia sudah mendapatkan rejeki dari Danish. Kini sasaran Roki bukan hanya pak Ilham lagi tapi juga Danish.
Roki kembali memutar motornya. Rasa tamak itu merajela di hatinya dan Roki tidak ingin menunggu waktu lama. Kalau boleh hari ini, dia akan mendapatkan apa yang dia mau.
"Untuk apa lagi kamu datang?" tanya kakek Joni melihat Roki yang kembali menghentikan motornya di halaman rumah pak Ilham.
"Tenang pak tua. Aku ingin membuat penawaran dengan pria setengah cacat itu," jawab Roki tenang tapi belum turun dari atas motornya. Pria itu memastikan situasi aman terlebih dahulu sebelum turun dari atas motor.
Danish tersenyum sinis mendengar perkataan Roki. Dia sudah menebak apa yang akan direncanakan Roki dengan dirinya.
"Penawaran tentang Sinar."
"Cucuku bukan barang. Sehingga kamu tidak perlu melakukan penawaran apapun dengan dia atau dengan siapapun."
"Biarkan saja dia masuk kakek. Kita lihat apa yang akan dia katakan tentang penawaran yang dia maksud," kata Danish. Kakek Joni berpikir sebentar kemudian menggerakkan tangannya menyuruh Roki mendekat.
"Berani kamu berkata tidak sopan. Bangku ini ke kepala kamu," kata Kakek Joni mengancam sambil berdiri dan menunjuk bangku yang dia duduki sebelumnya setelah Roki berdiri di hadapan mereka.
"Iya. Iya kek," jawab Roki spontan mundur. Dia kembali mendekat setelah kakek Joni kembali duduk.
"Penawaran apa yang kamu maksud?" tanya Danish tenang sambil jari telunjuknya mengetuk meja.
"Aku akan memastikan Sinar aman. Jika kamu memberikan apa yang aku mau," kata Roki.
"Bagaimana kalau aku tidak bersedia memberikan?" tanya Danish.
"Orang orang ku berada di sekitar Sinar. Jika aku mau. Malam ini aku bisa membalaskan dendamku kepada Sinar meskipun bukan aku pelaku utamanya," kata Roki.
"Orang orangku itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah preman preman kota yang sudah kamu tahu bagaimana mereka akan bertindak buas jika mendapatkan mangsa seempuk Sinar."
Danish mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mempercayai perkataan Roki mengingat bagaimana pria itu bisa bergerak cepat mendapatkan informasi keberadaan Sinar. Dia tidak akan membiarkan Sinar berada di tangan preman preman itu. Jika dengan Roki, Danish merasa Sinar bisa menghadapi pria itu. Tapi dengan preman preman kota?.
__ADS_1
Danish menggelengkan kepalanya membayangkan hal buruk menimpa Sinar. Sedangkan kakek Joni tidak bisa berkata apa apa mendengar ancaman Roki.
"Apa permintaan mu?" tanya Danish tanpa berpikir panjang. Baginya Sinar yang terutama. Danish mengingat bagaimana Sinar mempunyai pendirian kuat menjaga kehormatanya. Jika kehormatannya hilang, entah apa yang terjadi dengan wanita itu.
"Aku menginginkan mobil kamu. Jika kamu memberikan. Sinar aman dari preman kota dan bahkan menjaganya," kata Roki.
Danish dan Kakek Joni bersamaan menatap Roki.
"Jangan memeras dia Roki," bentak Kakek Joni. Pria itu kembali spontan mundur.
"Baiklah, kalau kalian tidak bersedia. Aku tinggal cari kontak dan memberikan perintah. Malam ini semuanya akan terjadi dan besok pagi Sinar akan terbangun tanpa semangat hidup. Alisa mayat bernyawa," kata Roki dan bersiap meninggalkan tempat itu.
"Tunggu Roki," teriak Danish. Roki menghentikan langkahnya dan tersenyum kemudian berbalik. Menunggu kata kata dari Danish yang akan memberikan permintaannya.
"Bagaimana, kamu setuju memberikan permintaanku?"
"Baiklah. Aku akan memberikan. Tapi dengan satu syarat. Sinar aman dan aku juga harus mengetahui dimana keberadaan Sinar."
"Itu hal yang gampang. Kamu bisa bertanya kepada salah satu preman preman itu," kata Roki.
Roki sudah memikirkan rencana ini matang matang dan menduga Danish akan meminta hal itu.
"Jadi kita Naik apa pulang tuan?" tanya supir Danish ketika Danish memerintahkan memberikan kunci mobil kepada Roki dan meminta supir itu untuk mengambil barang barang mereka dari dalam mobil.
"Berikan saja, tentang kepulangan Kita nanti. Itu adalah urusanku," jawab Danish. Dengan berat hati supir itu memberikan kunci mobil ke tangan Roki sedangkan Roki bersorak dalam hati mendapatkan yang dia mau.
Setelah kunci mobil di tangannya, Roki melakukan panggilan kepada sepupunya. Roki tidak memberikan Danish dan sepupunya untuk berbicara langsung. Roki yang bertanya kepada sepupunya itu dimana alamat dari pabrik itu.
"Kamu sudah mendengar langsung kan?. Jadi mobil kamu sudah menjadi milikku. Mana STNK nya?" kata Roki sambil mengulurkan tangannya.
"Masih dalam pengurusan. STNK nya menyusul."
"Jangan kamu anggap aku bodoh. Aku tahu STNK itu ada di dompet kamu."
"Pertemuanku dengan Sinar karena dia menolongku ketika terseret arus sungai. Saat itu dompet hilang saat kecelakaan itu dan STNK mobil itu ada di dompet tersebut," kata Danish sambil membuka dompetnya dan menunjukkannya kepada Roki. Roki percaya karena isi dompet itu hanya uang lembaran merah yang dia duga lebih banyak dari tiga juta yang dia dapatkan tadi dari Danish.
"Dasar bodoh. Gampang ditipu," kata Roki setelah masuk ke dalam mobil. Dia memilih membawa Mobil itu terlebih dahulu dan menyuruh seseorang untuk mengambil motornya.
Roki tertawa sambil membawa Mobil itu. Apa yang dia tanyakan pada sepupunya tadi jawabannya tidak benar.
"Apa kamu yakin memberikan mobil itu Danish?" tanya kakek Joni.
"Kakek tenang saja. Kita ikuti permainan Roki. Dengan mobil itu, dia akan mendapatkan semua imbalan atas apa yang sudah dia lakukan kepada Sinar dan kepada Kita," jawab Danish tenang. Dia bukan orang bodoh yang gampang ditipu oleh Roki. Uang tiga juta tadi hanya untuk pancingan dan ternyata Roki terpancing. Danish juga mengetahui jika alamat yang dia dengar ketika Roki menghubungi yang dia sebut preman tidak lah benar. Dia mengetahui di sepanjang alamat yang disebutkan itu tidak ada pabrik kayu.
Sementara Roki sudah mendapatkan apa yang dia mau. Sinar harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa. Jam kerja, tenaga dan beratnya pekerjaan tidak sebanding dengan apa yang dia terima. Dia terpaksa menerima pekerjaan itu karena lowongan yang sebelumnya dikatakan oleh Hana ternyata sudah dilamar orang lain. Sinar bersedia kerja borongan karena berharap dirinya akan diprioritaskan jika ada lowongan di dalam pabrik.
"Bagaimana, terasa capek nya?" tanya Hana ketika mereka bertemu di jam makan siang. Sinar mengusap keringatnya dengan handuk kecil kemudian menganggukkan kepalanya. Hana merasa kasihan akan teman barunya. Tapi dia tidak bisa membantu Sinar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih ringan karena pekerjaan Sinar saat ini sebenarnya untuk para laki laki saja.
"Sabar ya Sinar, Demi masa depan memang harus rela menderita seperti ini. Oya, bagaimana dengan rencana untuk melanjutkan pendidikan mu. Jadi kan minggu depan kamu mendaftar?" tanya Hana.
__ADS_1
"Jadi," jawab Sinar sangat yakin. Meskipun dirinya masih bekerja borongan. Sinar sudah melihat peluang lain di pabrik itu dan lingkungan tempat dia tinggal untuk mendapatkan uang tambahan.