
"Garis berapa?" tanya Danish dari pintu kamar mandi. Sinar belum menarik testpack dari wadah yang berisi air seni nya. Tapi Danish sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. Mereka saat ini melakukan pemeriksaan test urine karena sudah lebih satu bulan sejak penemuan pil kontrasepsi itu. Sinar juga belum mendapatkan tamu bulanan yang seharusnya sudah dapat dua hari yang lalu berdasarkan jadwal normal siklus mentruasinya.
"Tunggu sebentar lagi. Beberapa menit lagi baru boleh dilihat," jawab Sinar. Sinar pun sebenarnya sangat penasaran hasil dari pemeriksaan urine itu tapi untuk mendapatkan hasil yang akurat. Dia harus mengikuti pentunjuk penggunaan test pack.
"Sepertinya sudah bisa," kata Danish lagi. Dia bahkan masuk ke dalam kamar Mandi.
"Sabar dikit, napa sih?" kata Sinar sedikit galak dan memukul tangan Danish yang hendak mengeluarkan test pack itu dari wadah. Danish terkekeh kemudian menggaruk kepalanya.
"Kelamaan. Kita ke rumah sakit saja sekarang."
Sinar menggelengkan kepalanya melihat ketidak sabaran suaminya. Menunggu test pack itu hanya tinggal beberapa saat lagi sedang jika pergi ke rumah sakit membutuhkan waktu beberapa jam untuk mengetuk dirinya hamil atau tidak. Perjalanan ke rumah sakit dan melakukan pendaftaran pasti membutuhkan waktu yang lumayan lama.
"Dasar manusia tidak sabar," gerutu Sinar sambil mendorong Danish keluar dari kamar Mandi.
"Duduk disana main ponsel. Aku akan memberitahukan hasilnya nanti."
Beberapa menit kemudian, Sinar keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lesu. Dia membawa test pack itu kemudian menyerahkan kepada Danish.
Danish pun tidak kalah lesu melihat hasil garis satu itu.
"Ada yang salah dengan test pack. Kamu sudah telat tidak mungkin tidak hamil," kata Danish. Sungguh, dia takut jika kenyataannya Sinar tidak hamil. Bukan perkara tidak sabar tapi dia takut tentang kualitas benih yang dia hasilkan.
"Sepertinya Kita harus bersabar dan bekerja lebih ekstra lagi," kata Sinar.
"Apa tidak sebaiknya Kita periksa saja ke rumah sakit. Bisa saja, alat rusak," kata Danish lagi. Dia berpikir akan sekalian saja berkonsultasi dengan dokter jika istrinya itu belum hamil.
Tidak ingin, suaminya kecewa akhirnya Sinar setuju untuk ke rumah sakit sekarang juga. Bergantian mereka masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Rencana tidak ingin mengulang kegiatan panas di pagi ini ternyata pemikiran Sinar salah. Setelah melihat Danish keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililit di pinggang. Wanita itu mendekat dimana Danish sedang meraih pakaian yang sudah disediakan oleh Sinar di atas ranjang.
"Sinar, jangan mengganggu ku," kata Danish. Kedua tangan Sinar sudah memeluk Danish dari belakang. Danish melarang Sinar tapi hatinya sangat senang diperlakukan istrinya seperti itu.
"Apakah kamu bisa terlambat ke kantor saat ini?. Kalau aku sih, tidak apa apa terlambat. Hana sudah bisa menangani pekerjaanku," bisik Sinar lembut di telinga Danish.
"Kamu menginginkan ku?" tanya Danish dengan tersenyum. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya. Dia sangat senang melihat wajah Sinar yang malu malu. Sinar menganggukkan kepalanya. Entah mengapa, dirinya sangat menginginkan Danish pagi ini.
"Ternyata kamu bisa saja menggoda."
"Menggoda suami sendiri tidak apa apa kan?"
"Aku justru senang kamu seperti ini."
Sinar tersenyum dan tidak berani menatap Danish. Dia mendorong tubuh Danish hingga pria itu terduduk di tepi ranjang.
Sepertinya pagi ini Sinar tidak hanya sekedar menggoda. Dia juga ingin mengendalikan permainan. Dia Naik ke pangkuan Danish dan memulai permainan. Sungguh, Danish menyukai cara Sinar seperti ini.
Perlahan tapi pasti, akhirnya sepasang suami istri itu mendapatkan kepuasan pagi ini. Terpancar kebahagiaan di wajah keduanya.
"Kamu makin pintar sayang," puji Danish.
__ADS_1
"Kamu senang?"
"Tentu saja," kata Danish.
Sinar tersenyum. Setidaknya dengan memberikan kepuasan kepada Danish pagi ini bisa mengobati kekecewaan suaminya itu karena test pack itu masih bergaris satu.
Danish mengendarai mobil sendiri membawa Sinar ke rumah sakit. Mereka kini sedang di jalan menuju rumah sakit langganan para orang kaya di kota itu.
Sinar memandangi jalanan. Meskipun, test pack itu bergaris satu. Dia berharap di pemeriksaan Dokter nanti. Dirinya dinyatakan positif hamil. Sinar mengelus perutnya sendiri.
Apa yang dilakukan oleh Sinar itu terlihat oleh Danish. Rasa khawatir menyusup di hatinya. Sinar mengatakan jika dirinya memakai pil kontrasepsi setelah dua minggu pernikahan mereka. Itu artinya selama dua minggu berhubungan dengan Sinar. Benihnya tidak berhasil membuahi sel telur milik Sinar. Dalam hati, Danish berdoa semoga saja impian mereka segera menjadi kenyataan. Karena tanpa sepengetahuan Sinar. Danish mengkonsumsi makanan sehat yang bisa meningkatkan kesuburan laki laki.
"Coba berhenti Danish," kata Sinar tiba tiba. Danish pun menghentikan mobilnya.
"Ada apa sayang?.
"Coba perhatikan. Sepertinya itu Bintang," kata Sinar sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan.
"Iya benar. itu Bintang," kata Danish biasa. Sejak kedatangan Bintang di pernikahan mereka baru kali ini Sinar dan Danish melihat Bintang. Meskipun Danish mengetahui masalah antara Bintang dan Nathan. Danish tidak berminat untuk mempertemukan sahabat dan mantan kekasihnya itu untuk mencari jalan keluar atas masalah mereka. Sampai saat ini.
"Aku temui dia sebentar. Boleh?" tanya Sinar. Mendengar Bintang hamil di luar nikah tidak membuat Sinar merasa puas akan penderitaan Bintang. Sinar justru prihatin kepada wanita itu. Apalagi melihat keadaan Bintang saat ini yang sepertinya sudah mulai kehilangan aura kecantikannya. Bintang terlihat lebih kusam dari pertama kali mereka bertemu.
"Untuk apa. Biar saja seperti itu. Dia sudah menabuh genderang perang terhadap kita. Untuk apa kita sok baik kepada dia."
"Kamu masih marah atau benci kepadanya?" tanya Sinar.
"Tidak mungkin. Pasti ada rasa itu yang tertinggal walau secuil."
"Kamu ingin buktinya?" tantang Danish. Sinar menganggukkan kepalanya. Dia ingin memastikan jika Danish tidak mempunyai rasa sedikit pun kepada mantan kekasihnya itu.
Baru saja, sepasang suami istri itu hendak turun menghampiri Bintang. Penglihatan mereka terhalang oleh anggkutan umum yang berhenti tepat di hadapan Bintang. Dan wanita itu naik ke anggkutan umum tersebut.
"Keluarga Bintang benar benar jatuh miskin karena kasus pak Idrus," kata Danish setelah mobil angkutan itu bergerak dan Danish pun menjalankan mobil kembali.
"Aku kasihan kepada dia Danish," kata Sinar.
"Aku juga sebenarnya kasihan. Murni kasihan. Tapi Bagaimana lagi. Mungkin begitulah caranya untuk menunjukkan seberapa buruk keluarga Bintang," kata Danish jujur. Sebagai sesama manusia, wajar jika kasihan itu ada pada diri Danish mengingat sebelum Danish dan Bintang menjadi sepasang kekasih. Mereka juga berteman biasa sebelumnya.
Mendengar perkataan Danish. Sinar tidak merasa cemburu atau marah. Dia justru semakin mengagumi sikap suaminya itu yang masih bisa kasihan kepada seseorang yang sangat menyakiti dirinya dan bahkan hendak menjerumuskan dirinya ke penjara karena bunga edelweiss itu.
Bangunan rumah sakit sudah terlihat dari dalam mobil milik Danish. Sinar mengamati jalanan di depannya dan mobil angkutan umum yang membawa Bintang berhenti juga di depan rumah sakit yang mereka tuju. Bintang terlihat turun dari dalam mobil angkutan tersebut dan berjalan ke arah lobby rumah sakit sedangkan mobil milik Danish juga memasuki area parkir. Seorang petugas parkir mengarahkan Danish untuk memarkirkan Mobil supaya bisa merapatkan dengan Mobil lainnya.
Sinar dan Danish turun dari dalam mobil. Mereka masih melihat Bintang masih di lobby rumah sakit tersebut. Ketika jarak mereka semakin dekat. Bintang berbalik dan hendak meninggalkan rumah sakit itu.
"Bintang," sapa Sinar. Bintang terlihat terkejut dan menatap Sinar dan Danish saling bergantian. Seketika dia merasa malu karena rumah sakit itu adalah rumah sakit ibu dan anak yang dikhususkan untuk menangani ibu yang bersalin dan anak yang sakit. Bintang juga spontan menutup perutnya dengan tas karena dia merasa malu. Bintang merasa jika dua orang yang ada di hadapannya belum mengetahui kehamilannya.
"Tidak jadi masuk ke dalam?" tanya Sinar ramah. Danish bersikap biasa di hadapan Bintang. Pria itu tidak langsung bersikap mesra kepada Sinar untuk membuat mantannya itu cemburu. Sikap Danish benar benar biasa seperti Bintang bukan mantan kekasihnya.
"Aku salah rumah sakit Sinar. Kalian mau ke dalam. Silahkan," kata Bintang sedikit gugup. Benar dia salah rumah sakit. Bukan salah karena jenis pelayanan dari rumah sakit tersebut tapi salah rumah sakit dari segi biayanya. Pernah menjadi orang kaya, Otak Bintang langsung tertuju ke rumah sakit ini ketika dirinya berencana hendak memeriksakan kehamilan ke dokter untuk yang pertama kali setelah usia kandungnya dua bulan.
__ADS_1
Bintang langsung berbalik setelah menyadari jika dirinya masuk ke rumah sakit yang salah. Dia sungguh tidak menyangka bertemu dengan Sinar dan Bintang. Di saat terpuruk dan menyedihkan seperti ini. Bintang sungguh malu bertemu dengan mereka apalagi mengingat sikap sombongnya dahulu kepada Sinar.
"Tunggu Bintang," panggil Sinar ketika Bintang sudah berjalan melewati Sinar dan Bintang. Sungguh dia tidak tega melihat keadaan Bintang saat ini. Wajah Bintang terlihat sangat kusam karena mungkin wanita itu tidak berpikir lagi untuk menggunakan skin cara mahal karena kebutuhan perut lebih penting.
Sebenarnya Bintang tidak ingin berhenti. Tapi panggilan lembut Sinar terdengar bersahabat di telinganya. Bintang berhenti kemudian menarik nafas panjang setelah Sinar berdiri di hadapannya. Lewat ekor matanya, dia melihat Danish menuju kursi ruang tunggu tapi mengawasi pergerakan Sinar.
"Bisa Kita berbicara Bintang. Bagaimana Kabar mu?" tanya Sinar.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Bintang. Tidak mungkin dirinya menjawab kabar baik padahal keadaan dirinya sangat berbanding terbalik ketika mereka bertemu pertama Kali. Bintang menatap wajah Sinar sebentar kemudian mengalihkan pandangannya. Keadaan mereka sungguh terbalik saat ini. Kalau dulu, Bintang yang mempunyai wajah cerah dan bening. Kini Sinar yang memiliki wajah yang cerah dan bening. Sinar terlihat sangat cantik hari ini. Ternyata kecerahan kulit mempengaruhi kecantikan wajah seorang wanita.
"Ayo, kita cari tempat untuk bersantai," ajak Sinar.
"Aku tidak bisa lama lama Sinar. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Lagi pula, kamu bersikap baik seperti ini kepadaku. Apa kamu tidak takut aku merebut Danish dari kamu?" tanya Bintang. Tidak ada niatnya sebenarnya untuk menjadi pelakor bagi hubungan Sinar dan Danish. Bintang sengaja berkata seperti itu supaya cepat terhindar dari Sinar. Bintang tidak mengetahui jika perkataannya itu membuat Sinar merasa cemburu.
"Tidak. Apa yang harus aku takutkan. Suami ku adalah pria bijak sana yang bisa menentukan Sikap dengan siapa dia berhadapan. Kamu bisa saja masih mempunyai rasa kepada suamiku. Tapi lihat, suamiku bersikap biasa di hadapan kamu. Itu artinya dia sudah melupakan kisah kalian," kata Sinar tegas. Dia sengaja berkata seperti itu supaya Bintang tahu diri.
Sinar dan Bintang bersamaan menoleh ke arah Danish. Tapi tatapan Danish kepada Sinar. Pria itu menunjuk ke dalam rumah sakit yang artinya dia akan melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Sinar menganggukkan kepalanya pertanda setuju dan terlihat Danish beranjak dari duduknya dan melangkah ke dalam rumah sakit.
"Maaf Sinar. Aku tidak bermaksud serius dengan apa yang aku katakan," kata Bintang kemudian. Dia meralat perkataannya karena tidak ingin menyakiti Sinar lagi. Rasa sakit yang dia berikan kepada Sinar saat itu kini dia merasakan yang jauh lebih sakit dari yang dirasakan oleh Sinar.
"Aku percaya kamu tidak sejahat itu Bintang. Buka lah hatimu ke hal hal baik supaya kamu juga mendapatkan kebaikan. Aku berharap, apapun masalah mu saat ini. Bisa kamu atasi dan cepat terselesaikan," kata Sinar sambil melirik perut Bintang yang masih rata.
Sinar percaya dengan kehadiran janin di rahim Bintang akan menjadi awal kebahagiaan bagi wanita itu jika Bintang bisa mengubah dirinya menjadi yang lebih baik. Sinar tidak menyinggung kehamilan Bintang sama sekali karena tidak ingin ikut campur hal pribadi wanita itu.
"Amin. Aku juga berharap semua masalahku cepat terselesaikan terutama masalah tentang janin ini."
Bintang langsung menutup mulutnya karena keceplosan berbicara tentang janinnya. Dia menyembunyikan wajahnya dari Sinar karena sangat malu membuka aibnya sendiri tanpa sengaja. Meskipun dirinya sudah nekad akan menjalani kehamilan itu seorang diri. Tapi jauh di lubuk hatinya. Bintang merindukan sosok suami dan ayah untuk dirinya dan sang janin.
"Pasti terselesaikan Bintang. Asalkan kamu mau mendekat diri kepada sang Pencipta. Dia yang bisa mengubah semua hati manusia termasuk hati Nathan."
"Kamu mengetahui jika ayah dari janin ini adalah Nathan?" tanya Bintang terkejut. Sinar menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin menyembunyikan kenyataan yang dia ketahui.
"Jangan takut Bintang. Mulut ku tidak ember. Kamu mau memeriksa kehamilan kan. Ayo, Kita sama sama ke dalam," ajak Sinar.
"Kamu juga hamil?" tanya Bintang.
"Belum pasti. Tapi sudah telat."
"Kamu pernah merasakan mual di pagi hari tidak?" tanya Bintang. Sinar menggelengkan kepalanya karena dia tidak pernah merasa mual.
"Kalau pening?" tanya Bintang lagi. Sinar menganggukkan kepalanya karena terkadang dia merasakan pening tapi hanya sebentar.
"Sepertinya kamu juga sudah hamil. Kehamilan ku masih belum satu bulan. Aku sudah merasakan pening di pagi hari."
Bintang dengan semangat menceritakan pengalamannya di awal kehamilan. Dia lupa. Lawan bicaranya adalah orang yang pernah sangat dia benci.
"Semoga saja Bintang. Aku juga berharap begitu," jawab Sinar.
Dua wanita yang pernah menjadi calon istri dari Danish itu berbicara seperti mereka tidak pernah bermasalah sama sekali di masa lalu.
__ADS_1