Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Imbalan Balas Budi


__ADS_3

Danish merasakan panik yang luar biasa ketika menyadari Sinar tidak ada lagi di sekitar rumahnya. Begitu juga dengan Nyonya Amalia. Wanita itu merasa menyesal karena mengijinkan Bintang ke kamarnya. Sedangkan Tuan Santosh, Bintang dan kedua orang tua Bintang terlihat senang mengetahui hal itu.


"Dia memilih pergi. Jadi biarkan saja," kata Tuan Santosh ketika Danish melewati mereka. Danish menghentikan langkahnya sedangkan Nyonya Amalia tidak memperdulikan perkataan Suaminya dan masih fokus menghubungi nomor Sinar sambil berjalan ke arah dapur.


"Darimana papa tahu sinar pergi?" tanya Danish tajam. Dirinya belum memberitahukan tentang hal itu kepada papanya. Tapi tuan Santosh sudah mengetahuinya.


"Bu... bukankah kamu tadi mencari sinar?" tanya Tuan Santosh gugup.


"Dengar ya pa. Jika kepergian Sinar ada hubungan dengan papa. Aku tidak akan tinggal diam," ancam Danish kemudian meninggalkan empat orang itu.


"Dia tidak membawa apapun," kata Nyonya Amalia sedih ketika Danish sudah masuk ke dalam kamar Sinar. Semua pemberian Nyonya Amalia dan uang satu juta dari tuan Santosh tersimpan rapi di lemari.


Danish mengusap wajahnya dengan kasar. Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga. Sejak melihat sikap biasa yang ditunjukkan oleh Sinar kepada dirinya. Sebenarnya, Danish sudah curiga jika Sinar sedang merencanakan kabur dari rumah ini. Danish berpikir, tidak mungkin Sinar tidak membenci dirinya atas cara paksa yang pernah hampir dia lakukan. Itulah sebabnya, dia memperketat pengamanan dan tidak memperbolehkan Sinar melewati gerbang atas alasan apapun kecuali dengan dirinya.


Danish merasakan kepalanya hampir pecah memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Baru saja dirinya dikecewakan karena sikap Bintang. Kini dirinya dihadapkan dengan ketakutan yang luar biasa karena kepergian Sinar.


"Ma, bagaimana ini. Sinar pergi. Dia buta akan Kota ini. Bagaimana pertanggungjawabanku kepada kakek Joni dan kedua orang tua Sinar."


"Diam kamu Danish. Kamu sudah dewasa. Seharusnya sebagian laki laki yang bertanggung jawab. Kamu tidak sekedar bertanggung jawab. Kamu bisa memutuskan apa yang terbaik bagi kamu. Seharusnya kamu sadar. Jika bukan karena Sinar kamu tidak selamat. Kamu berjanji menikahi dirinya tapi juga menikahi wanita lain. Kamu benar benar serakah. Asal kamu tahu tidak ada wanita yang bersedia dipoligami kecuali Bintang atas nama cinta. Sinar pun sebenarnya tidak setuju dengan permintaan poligami ini. Aku juga penasaran mengapa Bintang bersedia di poligami dan mendesak adanya pernikahan hari ini."


Bukannya menenangkan Danish, Nyonya Amalia semakin membuat pria itu terbebani pikiran. Dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa karena Sinar tidak mempunyai sanak saudara di Kota ini. Dia juga sudah bertanya kepada Tino tapi wanita tomboi itu juga tidak memberikan keterangan yang bisa membuat Danish lega.

__ADS_1


"Mungkin kertas ini untuk kamu Danish," kata Nyonya Amalia sambil menarik sebuah kertas yang tersimpan di casing ponsel yang diberikan oleh Nyonya Amalia kepada Sinar saat itu.


Danish dengan cepat menarik kertas itu dari tangan Nyonya Amalia.


"Danish, terima kasih karena membawa aku ke kota ini. Tanpa kamu mungkin aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini. Aku memilih pergi, karena suasana kota tidak cocok untuk aku. Tidak perlu mencariku. Karena aku bisa pastikan, akan akan baik baik saja. Tentang balas budi. Kamu tidak perlu merasa terbebani dan terikat janji. Aku membawa kalung pemberian kamu sebagai imbalan pertolongan yang pernah aku lakukan kepada kamu. Aku minta maaf, jika ada kata dan tindakanku yang tidak berkenan selama aku di rumah kamu. Sekali, terima kasih. Titip Salam untuk Nyonya Amalia."


Danish memberikan kertas itu kepada Nyonya Amalia dengan lesu. Dia tidak menyangka jika kalung pemberiannya dijadikan Sinar sebagai imbalan balas jasa yang dia terima dari wanita itu. Dia sadar, jika kalung pemberiannya itu tidak seberapa dibandingkan dengan pertolongan Sinar kepada dirinya. Bahkan dengan uang yang sangat banyak pun tidak akan cukup membalas kebaikan Sinar.


"Kata kata yang sederhana tapi menggambarkan ketulusan hatinya," kata Nyonya Amalia setelah membaca isi surat itu. Dia suka dengan kata kata Sinar yang apa adanya tanpa berusaha untuk mengambil simpati dengan menceritakan sakit hatinya karena perbuatan Danish dan juga tawaran pernikahan poligami itu. Sinar juga tidak menyinggung apapun tentang hubungan Danish dan Bintang. Sinar benar benar menempatkan kata kata itu untuk menyelesaikan hubungannya dengan Danish.


"Aku yakin, kepergian Sinar ada hubungan dengan papa. Apa uang satu juta itu dari mama?" tanya Danish. Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya. Nyonya Amalia juga berpendapat seperti itu. Dengan cepat, Danish mengambil uang satu juta itu dan berjalan ke luar kamar.


"Aku tidak tahu apa apa. Mengapa kamu berpikir jika kepergian Sinar dari rumah ini karena aku. Dia yang memilih pergi tapi aku yang kena semprot."


"Terjadi sesuatu dengan Sinar. Aku tidak akan memaafkan papa," ancam Danish lagi. Tuan Santosh terkekeh. Tentu saja tuan Santosh meremehkan Danish karena dirinya merasa lebih hebat dari putranya itu. Jika dia mau, Dia bisa menyuruh seseorang untuk membawa Sinar kembali ke rumah ini sekarang juga. Tapi dirinya tidak akan mau melakukan itu karena bagi tuan Santosh hanya Bintang yang cocok jadi menantunya. Putri dari keluarga terhadap yang mempunyai harta banyak meskipun hartanya lebih banyak.


"Semoga kamu menjadi santapan preman Sinar," kata Bintang dalam hati. Kedua orang tua Bintang juga senang karena kepergian Sinar tapi mereka berdua bisa menyembunyikan rasa senang itu. Mereka sangat yakin, jika hanya Bintang lah yang akan menjadi menantu di rumah ini.


"Sudah lah Danish. Sinar sudah dewasa dan dia yang memutuskan pergi. Jangan karena perempuan. Hubungan kamu dengan papamu rusak karena sinar. Bagaimana pun Sinar orang lain di rumah ini," kata Pak Idrus.


"Aku tidak butuh pendapat apapun om. Aku hanya menginginkan Sinar kembali ke rumah ini karena lusa kami akan menikah."

__ADS_1


"Danish, dimana akal sehat kamu berkata seperti itu. Apa kamu tidak menyadari jika kata katamu itu menyakiti hati putriku?" tanya mamanya Bintang.


Danish tidak memperdulikan perkataan mamanya Bintang.


"Wanita yang layak diperjuangkan itu seperti Bintang, Danish. Lihatlah ketulusan hatinya mencintai kamu. Dia rela menjadi yang kedua asalkan kalian tetap bersatu. Tindakan Sinar keluar dari rumah ini adalah tindakan yang egois. Yang memikirkan dirinya sendiri. Dia pergi karena merasa berjasa pada kamu dan menginginkan hanya dirinya yang menjadi istrinya. Sungguh tega bukan memisahkan orang yang saling mencintai," kata Pak Idrus.


"Entah lah di Danish ini. Sudah ada wanita modern masih saja menginginkan wanita kampungan."


Danish hendak menjawab perkataan tuan Santosh tapi kedatangan pihak yang berwajib yang berjumlah empat orang di ruangan itu membuat Danish terdiam. Danish bertanya dalam hati, siapa yang dijemput paksa diantara mereka.


"Selamat siang pak," sapa salah satu dari pihah berwajib itu sambil memberikan hormat.


"Selamat siang pak. Silahkan duduk," jawab tuan Santosh. Dia bingung akan kedatangan pihak berwajib itu. Dirinya merasa tidak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.


"Itu orangnya. Tangkap," kata salah satu pihak yang berwajib itu sambil menunjuk pak Idrus yang sedari tadi menundukkan kepala mulai dari pihah berwajib itu terlihat olehnya.


Pak Idrus terlihat takut dan hendak melarikan diri. Tapi dua orang pihak yang berwajib itu dengan cepat menangkap pak Idrus.


Tuan Santosh dan yang lainnya hanya tertegun melihat penangkapan itu.


"Pak, sebenarnya ada apa ini?" tanya tuan Santosh tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2