Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Dia Calon Istriku


__ADS_3

Danish melepaskan pelukannya dari Bintang calon tunangannya. Pertanyaan sang mama membuat Danish mengingat keberadaan Sinar di rumah itu. Karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan ketiga orang yang sangat disayanginya. Danish melupakan Sinar.


Danish terlihat gugup menyadari situasi saat ini. Dia tidak menyangka jika kedatangannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ternyata Bintang calon tunangannya ada juga di rumah itu.


Kini Danish merasa bingung. Bingung menjaga perasaan dua wanita yang dia akui sebagai calon tunangan dan calon istri itu. Dia tidak ingin menyakiti hati kedua wanita itu. Tapi sepertinya salah satu dari mereka harus tersakiti hari ini.


Danish semakin tidak bisa berkata apa apa ketika Bintang bergelayut manja di lengannya. Dia menatap Sinar yang menundukkan kepalanya. Bukan salah Bintang bersikap seperti itu atau salah Sinar yang terlihat cemburu melihat kemesraan antara dirinya dan Bintang.


Danish dengan lembut menjauhkan kepala Bintang dari lengannya. Danish berjalan pelan ke arah Sinar.


"Mama, Papa. Perkenalkan. Wanita ini adalah Sinar. Wanita yang menolong aku dari arus sungai yang deras."

__ADS_1


Danish menarik tangan Sinar dengan lembut ke arah kedua orang tuanya. Sinar mengulurkan tangannya bersalaman dengan kedua orang tua Danish dan disambut baik oleh orang itu.


"Terima kasih banyak ya Sinar. Kamu telah menolong putraku," kata mamanya Danish. Sinar hanya tersenyum gugup dan menganggukkan kepalanya.


"Duduk, duduk Sinar," kata papanya Danish mempersilahkan Sinar untuk duduk. Danish pun mendorong tubuh Sinar dengan lembut untuk duduk di sofa yang sangat mewah itu. Setelah Sinar duduk. Danish juga duduk. Pria itu sengaja duduk sofa tunggal untuk menjaga perasaan dua wanita itu.


Sinar sangat jelas terlihat gugup. Melihat penampilan dirinya dan penampilan kedua orang tua Danish dan juga Bintang. Disebut pelayan dirinya pun tidak layak. Sinar membandingkan dirinya dengan pelayan yang baru saja menyajikan minuman di hadapan mereka jauh lebih modis dibandingkan dirinya. Sinar merasa rendah diri dan merasa tidak pantas di rumah itu. Sinar merasa malu bertatapan dengan mereka.


"Papa, mama. Sinar adalah wanita calon Istriku."


Sinar kembali menundukkan kepalanya. Dia mengerti mengapa Bintang melakukan hal itu alasannya pasti karena terkejut dan sakit hati karena kekasih hatinya memperkenalkan wanita lain sebagai calon istri.

__ADS_1


"Apa maksud dari perkataan mu itu Danish?" tanya papanya Danish tajam. Pertemuan yang mengharukan itu kini terlihat tegang. Sedangkan mamanya Danish terlihat menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Setidaknya kamu menjaga perasaan bintang. Tidak seharusnya kamu mengatakan itu di hadapan Bintang," kata mamanya Danish lesu.


"Papa, mama. Kami lelah dalam perjalanan. Aku akan mengantarkan Sinar ke kamar tamu," kata Danish tanpa berniat menceritakan alasan mengapa Sinar menjadi calon istrinya.


Sinar terlihat ragu ragu meninggalkan ruang tamu itu. Dia takut tingkahnya yang menurut kepada Danish disalah artikan oleh kedua orang tua Danish.


"Ayo Sinar," ajak Danish. Sinar beranjak dari duduknya ketika melihat mama Danish menganggukkan kepalanya. Sinar juga membungkuk tubuhnya dengan hormat ketika berlalu dari hadapan kedua orang tua Danish.


Sinar memegang tangan Danish ketika menaiki tangga. Kaki Danish belum terlalu kuat untuk menaiki tangga itu. Sinar mengetahui mereka berdua diperhatikan oleh kedua orang tua Danish dari ruang tamu.

__ADS_1


"Ke sana," kata Danish sambil menunjuk pintu kamar yang terletak di paling sudut ruangan itu.


Sinar menahan tangan Danish ketika hendak membuka pintu itu. Suara tangisan jelas terdengar dari kamar itu Dan Sinar sangat yakin jika suara tangisan itu adalah suara Bintang.


__ADS_2