Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Pemberian Nyonya Amalia


__ADS_3

Sikap tuan Santosh memang menyakiti hati Sinar. Tapi tidak dengan Danish dan Nyonya Amalia. Pernikahan antara Danish dan Sinar tidak hanya membuat pengantin baru itu berubah status menjadi suami dan istri tapi juga merubah hidup Sinar. Dan Danish menghendaki perubahan itu dalam diri istrinya. Dia tidak ingin Tuan Santosh meremehkan Sinar dalam hal apapun termasuk dalam hal penampilan dan pergaulan.


Tiba di rumah baru mereka. Sinar dan Danish disambut dua pelayan di depan pintu. Dua pelayan itu membungkuk hormat kepada sang tuan dan Nyonya rumah. Sinar yang tidak pernah diperlakukan seperti itu tentu saja merasa canggung. Sinar merasa hal itu berlebihan sedangkan bagi Danish hal itu adalah hal biasa. Tanpa diperkenalkan, dua pelayan itu tentu saja mengetahui jika Sinar adalah Nyonya muda mereka. Hal yang sama juga dilakukan oleh dua pelayan itu menyambut kedatangan kedua orang tua Sinar dan kakek Joni yang datang dengan menggunakan mobil yang berbeda.


Beda dengan Sinar yang merasa canggung. Kedua orang tua Sinar membalas Sikap dua pelayan itu dengan membungkukkan tubuh juga membuat dua pelayan tersebut bingung. Pak Ilham, ibu Yanti dan kakek Joni tentu saja mengenal jika sikap dua pelayan tersebut adalah sikap hormat dan mereka sengaja membalas seperti itu karena pak Ilham merasa dirinya setara dengan pelayan tersebut. Mempunyai menantu orang kaya tidak membuat kedua orang tua Sinar merasa orang kaya.


Sinar mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Rumah baru itu terlihat tidak jauh berbeda dengan rumah kedua orang tua Danish. Segala perabotan adalah perabotan pilihan yang menunjukkan kemewahan dan unik.


"Mau lihat kamar kita?" tanya Danish setelah pria itu menunjukkan kamar untuk pak Ilham dan ibu Yanti. Dan juga kakek Joni.


Sinar menganggukkan kepalanya. Danish menuntun Sinar untuk menaiki tangga.


"Ayo masuk," kata Danish. Pria itu membuka pintu dan mempersilahkan Sinar untuk masuk terlebih dahulu. Sinar melangkah masuk dalam kamar. Matanya langsung tertuju pada ranjang yang sudah bertabur bunga aneka warna. Di tengah ranjang, bunga dibentuk berbentuk hati dan nama Danish dan Sinar dalam hati tersebut.


Sinar menutup mulutnya. Rasa bahagia dan terharu menjadi satu. Hari ini, dirinya sudah resmi menjadi istri dari Danish maka dirinya juga otomatis akan menyerahkan dirinya pada sang suami. Pernah membayangkan membuat kamar pengantin bertabur bunga dengan Roki dan kini dia mendapatkannya dari pria yang melebihi Roki dari segi apapun. Danish adalah pria terbaik yang pernah dikenalnya.


"Ranjang kita, malam ini harus menjadi malam yang bersejarah bagi kita berdua," bisik Danish tepat di telinga Sinar hingga wanita itu merasa kegelian. Sinar tersipu, Sinar tentu saja mengetahui maksud suaminya itu. Hingga beberapa detik kemudian, Danish mengangkat tubuh Sinar dan membawanya ke ranjang.


"Jangan rusak hatinya," kata Sinar dengan cepat ketika Danish hendak meletakkannya di ranjang. Sinar tidak rela jika bunga berbentuk hati itu rusak secepat itu. Danish meletakkan Sinar di tepi ranjang. Pria itu dengan cepat tapi lembut mendaratkan bibirnya di bibir Sinar. Sinar tidak menolak. Wanita itu mengijinkan Danish melakukan hal apapun pada dirinya karena itu sudah menjadi kewajibannya. Sinar bahkan membalas apapun yang dilakukan Danish pada dirinya. Kini mereka terbuai dengan permainan itu.


Suasana kamar itu memanas dengan aktivitas dua anak manusia yang sudah halal dalam pernikahan suci. Mereka menyalurkan rasa rindu walau belum sampai ke inti permainan. Saling berbagi air liur dan saling menyentuh membuat keduanya larut dalam permainan itu.


Rasanya pasti kurang berkesan jika mereka melakukan kewajiban itu sekarang di saat ada kedua orang tua Sinar di bawah yang mungkin saja menunggu mereka berdua. Menyadari hal itu, Danish melepaskan dirinya dari Sinar.


Sinar menundukkan kepalanya. Berciuman dengan Danish bukan ini yang pertama tapi berciuman kali ini lebih lama durasinya dan lebih hot. Wajah Sinar sudah memerah karena menyadari jika dirinya membalas permainan Danish tadi.


"Sebaiknya aku membersihkan diri dulu," kata Sinar tanpa menatap wajah suaminya. Danish tersenyum melihat tingkah istrinya kemudian menganggukkan keeps. Danish keluar dari kamar itu setelah terlebih dahulu membantu Sinar membuka gaun pengantinnya.


Dan apa yang dipikirkan Danish ternyata benar. Di ruang tamu. Kedua orang tua Sinar dan kakek Joni sudah duduk dan sepertinya mereka sudah selesai membersihkan tubuh. Wajah mereka terlihat segar.


"Danish, apa rumah ini tidak terlalu besar untuk kalian berdua?" tanya pak Ilham. Rumah baru itu memang besar dan dua lantai. Sebagai pengantin baru. Pak Ilham menilai rumah itu terlalu besar untuk menantu dan putrinya.


"Awalnya juga aku ingin rumah minimalis pak. Tapi rumah ini adalah rumah pemberian mama kepada Sinar sebagai kado pernikahan kami. Rumah ini atas nama Sinar."

__ADS_1


"Apa?" tanya ibu Yanti tidak percaya. Danish menganggukkan kepalanya untuk menegaskan apa yang sudah keluar dari mulutnya tadi.


Pak Ilham dan kakek Joni hanya terdiam. Orang tua mana yang tidak senang putrinya dinikahi oleh orang kaya. Tapi bagi pak Ilham. Danish sangat kaya dan Nyonya Amalia terlalu berlebihan. Pak Ilham takut, Sinar tidak bisa seperti harapan Nyonya Amalia nantinya.


"Dan mama juga memberikan sesuatu untuk bapak dan ibu. Mama meminta aku untuk memberikannya langsung kepada kalian," kata Danish lagi. Pria itu menyerahkan sebuah kunci mobil kepada pak Ilham.


"Apa ini nak?" tanya pak Ilham.


"Aku hanya diminta mama memberikan ini kepada bapak. Mohon diterima pak. Mobil itu sudah atas nama bapak."


Mobil yang dimaksudkan oleh Danish adalah mobil yang menjemput kedua orangtua Sinar dari kampung. Dan mobil itu juga dipakai membawa pak Ilham dan istrinya juga kakek Ilham ke gedung pernikahan tadi dan juga ke rumah ini.


"Jangan Danish. Ini sudah berlebihan menurutku. Bagi ku, Sinar bahagia dan diterima dengan baik oleh keluarga mu. Itu sudah cukup bagiku," tolak pak Ilham. Tapi Danish langsung meletakkan kunci mobil itu ke telapak tangan pak Ilham.


"Bapak tenang saja. Aku akan membahagiakan Sinar semampuku. Tentang pemberian mama ini. Ini tidak seberapa dibandingkan lelah kalian membesarkan dan mendidik Sinar hingga menjadi gadis yang baik dan tulus," kata Danish. Pak Ilham tidak kuasa lagi menolak karena Danish mengatakan, diterima atau tidak diterima hari ini. Mobil itu akan tetap milik pak Ilham dan akan diantarkan ke kampung secepatnya.


"Danish, sebenarnya kami tidak mengharapkan pemberian seperti ini. Sinar bahagia. Itu adalah kebahagiaan kami. Kamu menghargai dan mencintai Sinar setulus hati. Itu lebih berharga dari semua pemberian kalian ini. Danish, anggap saja kami sudah menerima pemberian dari ibu Amalia. Biarlah Mobil ini tetap disini. Kalian yang memakai," kata Kakek Joni. Pak Ilham dan Ibu Yanti menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan kakek itu.


"Jadi bagaimana ini?" tanya Pak Ilham bingung dan menatap kunci mobil yang berada di tangannya.


"Sudah sangat jelas pak. Itu sudah milik bapak," jawab Danish.


Pak Ilham sangat terharu menerima pemberian Nyonya Amalia itu. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah bermimpi akan mempunyai Mobil pribadi. Tapi lewat ketulusan hati Sinar yang mendapatkan suami orang kaya. Dengan mudah, dia mendapatkan mobil tersebut.


"Bapak, ibu dan kakek tidak pernah meminta ini ya Danish. Ini murni inisiatif ibu Amalia," kata Pak Ilham lagi. Dia mengatakan itu untuk menegaskan bahwa dirinya bukan orang gila harta dan tidak mengharapkan materi apapun karena pernikahan Sinar dan Danish.


"Iya Pak. Aku tahu bagaimana hati kalian. Diterima ya Pak, bu, kakek," kata Danish. Akhirnya Pak Ilham dan kakek Joni menganggukkan kepala hampir bersamaan.


Danish naik kembali untuk melihat istrinya. Dia juga sebenarnya ingin secepatnya membersihkan diri juga. Bisa saja sebenarnya tadi dia dan Sinar mandi bersama tapi Danish tidak melakukan itu karena dia berniat memulai hal seperti itu setelah malam pertama mereka nanti.


Danish terpana melihat Sinar yang sudah selesai mandi. Wanita itu terlihat sangat segar. Aroma sabun dari tubuh Sinar menarik Danish untuk mendekati istrinya itu. Danish mencium pucuk kepala istrinya. Dan Mata mereka bertemu di cermin meja rias itu.


"Danish, mandilah terlebih dahulu sebelum kita makan malam," kata Sinar.

__ADS_1


"Ada yang lebih penting dari mandi. Ayo ikut aku sayang," kata Danish sambil menarik tangan Sinar. Sinar menurut.


"Ruangan apa ini?" tanya Sinar ketika Danish membuka pintu yang masih terletak dalam kamar itu.


Sinar terpana begitu menginjakkan kakinya di ruangan itu. Ruangan itu seperti ruangan pribadi Nyonya Amalia. Hanya saja ruangan nyonya Amalia lebih besar dari ruangan itu. Lemari besar dan lemari yang terbuat dari kaca itu itu berisi gaun gaun indah dan juga pakaian lainnya. Lemari itu penuh. Sinar mendekat ke lemari itu dan memperhatikan pakaian yang tersusun rapi itu. Bukan hanya gaun. Segala model pakaian ada di lemari itu. Di lemari yang lain. Beberapa tas tersusun rapi. Di sudut ruangan itu juga terdapat lemari kecil yang berisi beberapa pasang sepatu.


"Kamu suka?" tanya Danish. Danish meletakkan tangannya di bahu istrinya.


"Kamu yang menyediakan ini semua?" tanya Sinar balik. Matanya terus bergantian melihat lemari lemari itu.


"Iya benar. Siapa lagi."


"Ini terlalu banyak bagiku Danish."


"No. Jangan berkata seperti itu. Kamu adalah Nyonya Danish dan harus memiliki semua ini."


"Tapi aku tidak terbiasa memakai sepatu seperti itu."


Sinar menunjuk beberapa sepatu hak tinggi. Hanya membayangkan memakai saja, Sinar sudah merasakan sakit di area kakinya. Dia tidak terbiasa memakai sepatu seperti itu karena sehari hari dia memakai sepatu flat.


"Harus belajar sayang. Kamu harus bisa berubah. Kamu istriku. Kamu harus terbiasa dengan ini semua. Sebagai seorang istri dari Danish. Ada kalanya nanti kamu mendampingi aku bertemu klien atau makan malam dengan mereka."


Danish merasa harus bisa mengubah penampilan Sinar mulai dari hari ini. Bukan tidak ingin melihat Sinar apa adanya tapi Danish juga tidak ingin Sinar minder dengan istri Istri para relasi kerjanya.


"Harus seperti itu ya," kata Sinar polos. Danish menganggukkan kepalanya.


"Aku juga berencana mendaftarkan kamu ke arisan ibu ibu para istri relasi kerjaku."


"Arisan?" tanya Sinar lagi. Danish menganggukkan kepalanya. Danish ingin Sinar menjelma menjadi wanita sosialita.


"Harus kah seperti itu?" tanya Sinar. Untuk ikut menjadi wanita sosialita tidak pernah terpikir olehnya.


"Harus Sinar. Aku akan sedikit memaksa dalam hal ini. Aku tidak ingin papa meremehkan kamu." jawab Danish tenang.

__ADS_1


__ADS_2