Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Pertunangan Danish dan Bintang


__ADS_3

"Jangan buat aku menjadi seorang teman yang buruk bagi kamu Bintang. Seorang teman harus menepati janjinya bukan?" jawab Sinar menyindir Bintang. Kerja sama Bintang bersama dua pelayan untuk membuat dirinya tidak betah di rumah itu sudah diketahui Sinar dari Tino. Sinar masih bisa diam karena kerja sama Bintang dan dua pekerja itu tidak sampai menyakiti fisiknya.


"Tidak aku tidak bermaksud seperti itu. Kamu bersedia membantu pihak catering itu sudah lebih menepati janji kepadaku. Kepuasan tamu tamu akan jamuan nanti adalah kebahagiaan bagi aku dan Danish."


"Tuan Santosh pasti memakai jasa catering yang professional. Fokuslah ke acara pertunangan mu hari ini. Bagian yang lain sudah ada yang mengatur dan menjalankan. Ayo, aku antar kamu ke bawah," kata Sinar. Bintang hendak berbicara tapi tangan Sinar sudah menarik tangan Bintang dengan lembut. Persis seperti Sinar membantu Danish berjalan, begitu juga Sinar menggandeng tangan Bintang keluar dari kamar itu. Bintang terlihat sangat tidak nyaman dan gugup.


Sinar tersenyum dalam hati. Dia menunjukkan perlawanannya kepada Bintang dengan terang terangan untuk menunjukkan bahwa dirinya apa adanya dan tidak munafik. Apa yang ada di hatinya. Begitulah yang keluar dari mulutnya. Sinar bukan seperti Bintang. Yang bersikap manis di hadapannya tapi di belakangnya memusuhi dirinya.


Dari tangga teratas itu, Sinar melihat ke bawah. Beberapa pasang mata mendongak ke arah mereka menunggu calon tunangan Danish turun. Dan di bawah tangga, Danish dengan gagah menunggu pujaan hatinya. Senyum manis terukir di wajah pria itu sambil menatap dua wanita yang dianggap akan menjadi miliknya. Bintang melangkah menuruni tangga dengan senyum dan tatapan yang tertuju pada Danish. Sinar juga melakukan hal yang sama. Dia tersenyum manis meskipun dia tahu bahwa dirinya bukanlah bagian dari acara pertunangan itu.


Tatapan kagum dari keluarga inti dan kerabat kedua belah pihak yang sudah duduk di lantai bawah mengiringi langkah Bintang dan Sinar menuruni tangga itu. Sinar dan Bintang harus hati hati menuruni tangga itu karena gaun mereka berdua yang panjang sampai ke mata kaki. Dua wanita itu terlihat cantik dengan kelebihan mereka masing masing. Semua mengakui itu dalam hati. Mereka saling berbisik membicarakan keberuntungan Danish dan Bintang yang bisa melanjutkan hubungan mereka sampai ke tahap ini. Dua keluarga yang sama sama terhormat dan terpandang akan menjadi keluarga yang dinamakan besan. Dan dibalik rasa kagum itu. Timbul tanda tanya di hati mereka akan sosok Sinar.


Rasa kagum itu bukan hanya dari keluarga dan kerabat. Rasa kagum itu juga dirasakan oleh Danish. Dia menatap dua wanita yang sama sama memberikan dirinya senyum manis. Kedua mata Danish menatap Bintang dan Sinar bergantian. Danish merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya melihat dua wanita yang terlihat sangat akur yang akan menjadi istrinya kelak.


Sambil menatap, Danish mengagumi sikap dua wanita yang sangat mencintai dirinya. Dia merasa pria yang sangat beruntung karena dicintai oleh dua wanita yang rela berbagi suami demi hidup bersama dirinya.


Senyum Danish semakin mengembang ketika jarak Bintang dan Sinar semakin dekat dengan dirinya. Danish sangat senang karena Sinar bersedia memakai hadiah kalung yang dia berikan sebagai permintaan maaf atas tindakan bodoh yang dia lakukan.


"Terima kasih Sinar," kata Danish ketika tangan Sinar menarik tangan Bintang dan memberikannya kepada Danish. Sinar hanya mengantarkan Bintang sampai di tempat itu karena selanjutnya Danish yang akan membawa Bintang ke tempat duduknya yang berada di tempat yang sudah khusus disediakan untuk keluarga pihak perempuan.


Danish dan Bintang saling bertatapan lama. Pancaran mata mereka seakan menggambarkan perasaan bahagia yang mereka rasakan bersama. Tangan mereka yang saling bertautan juga saling meremas lembut. Dunia seperti milik berdua saat ini. Sinar memalingkan wajahnya. Meskipun Danish sering memberikan senyuman manis kepada dirinya. Tapi dia tidak pernah melihat senyuman Danish semanis saat ini dengan sorot mata yang berbinar.


"Semoga pertunangan kalian lancar dan selanjutnya diberkahi kebahagiaan. Aku akan mengucapkan kata selamat lebih awal kepada kalian berdua. Selama berbahagia ya," kata Sinar dengan suara yang serak sambil mengulurkan tangannya ke arah Bintang dan disambut wanita itu. Cara paksa yang pernah hampir dilakukan oleh Danish kepada dirinya memang bisa mengikis rasa cintanya kepada pria itu. Tapi untuk menyaksikan sendiri bagaimana keromantisan Danish dan Bintang menjelang pertunangan itu. Tetap juga membuat Sinar merasa sakit hati, tersisihkan dan juga tertolak.


Danish menatap wajah Sinar dan mengabaikan tangan Sinar yang sudah siap bersalaman dengan dirinya.


"Selamat ya Danish. Akhirnya impian kamu bertunangan dengan wanita yang sangat kamu cintai terwujud," kata Sinar untuk mengalihkan tatapan Danish dari wajahnya.


"Iya, terima kasih Sinar," jawab Danish. Danish menerima uluran tangan Sinar. Sinar berusaha melepaskan tangannya dari tangan Danish. Tangan mereka tidak seperti bersalaman melainkan Danish menggenggam tangan Sinar.


"Dua hari lagi. Kita juga akan mengadakan acara yang lebih sakral dari acara ini Sinar. Kamu juga pasti akan merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang kami berdua rasakan," kata Danish dalam hati. Sekuat apapun Sinar menyembunyikan kesedihan. Danish bisa melihat kesedihan itu.


"Danish, pembawa acara sudah meminta kita untuk menempati tempat duduk masing masing," kata Bintang. Senyum wanita itu memudar melihat Danish memperlakukan Sinar di hadapannya. Danish spontan melepaskan tangannya dan menoleh ke arah pihak keluarga masing masing yang sudah duduk berhadapan dengan jarak tiga meter sebagai pemisah. Sebelum acara tukar cincin dilakukan. Ada serangkaian acara yang diadakan. Dan saat acara itu dilakukan. Danish dan Bintang duduk diantara keluarga masing masing.


"Sinar, terima kasih karena sudah bersedia mengantarkan aku kepada takdirku," kata Bintang. Sinar hanya memamerkan senyumnya. Kata takdir yang keluar dari mulut Bintang seakan menekankan jika Danish hanyalah miliknya sendiri. Sinar tidak memperdulikan perkataan itu karena dirinya sudah bertekad jika hari ini lah hari terakhir bagi dirinya bertatapan dengan Danish.

__ADS_1


Sinar menganggukkan kepalanya ketika Danish menatap dirinya. Anggukan kepala yang merelakan dua insan mengikat janji untuk hubungan yang lebih serius lagi. Sinar dapat melihat senyuman penuh kemenangan di wajah Bintang sebelum melangkah meninggalkan dirinya.


Sinar memandangi punggung Bintang dan Danish yang terlihat sangat serasi menjauh dari hadapan menuju tempat acara. Untuk kedua kalinya. Sinar harus menghapus nama yang pernah memberikan dirinya sebuah harapan.


Sinar juga akhirnya mengambil tempat duduk tempat yang disediakan untuk tamu undangan. Ketika dirinya mendaratkan tubuhnya di kursi. Dia melihat tatapan tajam tuan Santosh ke arahnya. Sinar memilih bersikap cuek dan duduk santai di tempat duduk itu. Sinar sengaja duduk di tempat itu supaya saat acara itu. Danish bisa melihatnya. Benar saja, masih beberapa menit dirinya duduk di tempat itu. Berkali kali, Sinar dapat melihat, Danish selalu melihat ke arah dirinya.


Sinar memasang kupingnya baik baik akan bisikan bisikan para tamu undangan yang merasa janggal acara pertunangan diadakan di rumah pihak laki laki.


"Bukankah seharusnya, pertunangan biasanya diadakan di rumah pihak perempuan?"


"Biasanya seperti itu. Mereka lain dari yang lain."


"Kalau aku jadi perempuannya. Aku tidak mau mengadakan acara pertunangan di rumah pihak laki laki."


"Mungkin hubungan mereka sudah dalam. Jadi apapun keinginan pihak laki laki terpaksa dituruti pihak perempuan."


"Ini acara pertunangan. Tapi gaun yang dikenakan oleh Bintang lebih cocok dikenakan di acara resepsi pernikahan."


Sinar membenarkan kata kata para tamu itu dalam hati. Bukan hanya para tamu itu yang membicarakan tentang gaun yang dikenakan oleh Bintang tapi juga nyonya Amalia. Tadi ketika mereka sedang dirias, Nyonya Amalia protes tentang gaun itu tapi Bintang tidak bersedia memakai gaun lain yang lebih sederhana. Tentang tempat acara yang diadakan di rumah ini. Sinar sangat yakin ada hubungannya dengan dirinya.


Suara pembawa acara yang bergema di ruangan itu membuat pikiran Sinar tidak bisa konsentrasi. Dua pasang mata yang selalu mengawasi Sinar membuat Sinar tidak nyaman. Entah sudah berapa Kali tuan Santosh menatapnya dengan tajam seakan mengusir Sinar secepatnya keluar dari rumah itu.


Sinar semakin merasakan otaknya buntu saat Nyonya Amalia melambaikan tangan ke ayahnya. Lewat pergerakan tangannya, Nyonya Amalia menyuruh Sinar duduk di belakang bangku tempatnya duduk. Sinar seketika tidak tahu harus berbuat apa. Menurut ke Nyonya atau tetap duduk di tempat duduknya. Menurut kepada Nyonya Amalia. Itu artinya, gerak geriknya akan dengan mudah diamati oleh Danish.


Lambaian tangan itu tidak hanya sekali membuat Sinar akhirnya bangkit dari duduknya. Sinar duduk di belakang bangku Nyonya Amalia seperti permintaan wanita itu. Danish sekilas menatapnya dan tersenyum.


Sinar mengedarkan pandangannya ke arah tamu undangan. Sinar terkejut, tidak jauh dari tempat duduknya. Para tamu tamu terhormat duduk berdampingan dengan pasangannya. Sinar membulatkan matanya memperhatikan para tamu itu. Tamu tamu itu sangat familiar baginya. Setelah Sinar berpikir, ternyata dia sering melihat para tamu itu di televisi. Para tamu itu adalah para pejabat yang berpengaruh di negeri ini.


"Jika keluarga Danish bisa mengundang para pejabat itu. Itu artinya, keluarga Danish bukan orang kaya biasa," kata Sinar dalam hati. Dia pun memaklumi keinginan Tuan Santosh yang harus mempunyai menantu dari keluarga terhormat. Sinar semakin merasakan rendah diri dan memang tidak seharusnya berada dalam keluarga Danish.


"Nyonya, bisakah aku membagikan air minum kepada para tamu?" bisik Sinar tepat di telinga nyonya Amalia. Nyonya Amalia memperhatikan para tamu undangan sebentar kemudian menganggukkan kepalanya.


"Mau kemana?" tanya Danish pelan. Danish yang duduk diapit oleh kedua orang tuanya menyadari pergerakan Sinar.


"Membagikan air minum sebentar," jawab Sinar.

__ADS_1


"Tidak perlu. Duduklah dengan tenang. Itu bukan pekerjaanmu."


Sinar kembali duduk. Ternyata pembicaraan pelan antara dirinya dan Danish diperhatikan oleh Bintang dan membuat wanita itu terlihat tidak suka.


Sinar merasakan rangkaian acara sebelum tukar cincin itu sangat membosankan. Otaknya terus mencari cara bisa kabur dari acara itu.


"Nyonya, Bisakah aku di kamar saja?" bisik Sinar kepada Nyonya Amalia ketika terdengar suara pembawa acara meminta Danish dan Sinar untuk berdiri. Sebentar lagi, tukar cincin antara Danish dan Bintang akan dilakukan.


Nyonya Amalia menoleh ke belakang dan menatap Sinar. Wanita itu menduga Sinar tidak sanggup melihat Danish memasangkan cincin ke jari manis Bintang.


"Pergilah ke kamar mu Sinar," jawab Nyonya Amalia pengertian.


Seperti mendapat angin segar, Sinar bangkit dari duduknya. Dia berlalu dari tempat itu tapi bukan ke arah kamarnya melainkan menuju pintu keluar. Danish tidak memperhatikan hal itu karena dia fokus untuk acara tukar cincin itu.


Bersamaan dengan suara tepuk tangan yang meriah karena Danish dan Bintang sudah bertukar cincin, Sinar juga sudah berhasil melewati pintu utama.


"Sekali lagi selamat Danish," kata Sinar dalam hati. Sinar berjalan sambil menundukkan kepalanya. Mungkin karena penampilannya berbeda hari ini, petugas keamanan yang sedang berjaga berpikir jika Sinar adalah salah satu tamu undangan Danish. Kini Sinar sudah berhasil keluar dari gerbang rumah mewah itu.


Apa yang ada di pikiran Sinar ketika memutuskan kabur tidak semudah yang dia alami saat ini. Setelah melangkah sekitar lima ratus meter dari depan rumah danish, Sinar bingung harus melangkah kemana. Sinar merasakan kakinya kaku dan berat melangkah. Sinar merasakan kepalanya pusing memandang sekeliling itu.


"Sinar."


Sinar menoleh ke arah suara yang sangat dikenalinya itu.


"Tino."


"Kamu serius dengan tindakan mu ini?" tanya Tino. Sinar menganggukkan kepalanya.


"Masuklah ke dalam rumah. Tunjukkan dirimu kepada Danish supaya dia tidak curiga aku kabur," jawab Sinar.


"Pergilah secepatnya ke ujung sana. Temui wanita yang bernama Hana di ujung sana," kata Tino. Tino akhirnya bersedia membantu Sinar karena melihat keseriusan Sinar ketika meminta tolong kepadanya. Tino tidak tega membiarkan Sinar kabur begitu saja mengingat wanita itu baru menginjakkan kaki di kota ini. Dia khawatir Sinar tersesat dan akhirnya menjadi santapan para preman.


"Terima kasih Tino. Aku akan mengingat kebaikan kamu ini sepanjang hidupku."


Sinar berlari meninggalkan Tino yang sudah membelakangi tubuhnya karena harus kembali masuk ke rumah Danish.

__ADS_1


__ADS_2