Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Pernikahan Yang Gagal


__ADS_3

"Danish, semua orang tahu. Hidup hanya sekali dan buat lah hidup itu bahagia. Aku memilih kamu karena hanya kamu yang memenuhi syarat untuk membahagiakan aku," kata Bintang. Mereka sudah selesai bertukar cincin dan kini mereka sudah duduk bersebelahan di tempat yang terpisah dari kedua pihak keluarga.


Seperti pasangan yang baru jatuh cinta. Bintang dan danish saling bergenggaman tangan. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.


"Kamu adalah wanita istimewa. Dan seharusnya juga aku membahagiakan kamu."


"Aku bahagia dicintai oleh Danish. Kalau aku meminta kamu menikahi aku hari ini. Apa kamu bersedia Danish?"


Kata menikah yang diucapkan Bintang. Mengingatkan Danish akan Sinar. Seketika, Danish mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Sinar. Danish merasa dirinya kecolongan karena tidak melihat Sinar di belakang bangku Nyonya Amalia.


"Tunggu sebentar sayang," kata Danish. Dia menghampiri Nyonya Amalia.


"Ma, Sinar kemana?" tanya Danish sedikit panik.


"Sinar berada di kamar. Biarkan saja dia di sana."


Danish menganggukkan kepalanya dan merasa lega. Dia kembali ke tempat duduknya bersama Bintang.


Di sebelah Nyonya Amalia. Tuan Santosh menghubungi seseorang setelah mendengar pembicaraan singkat antara Danish dan Nyonya Amalia. Tuan Santosh menyuruh orang tersebut untuk memastikan apakah Sinar berada di kamarnya atau tidak.


Beberapa menit kemudian. Tuan Santosh tersenyum membaca pesan dari orang suruhannya. Tuan Santosh merasa senang karena ternyata Sinar tidak ada di kamarnya maupun di sekitar rumah itu.


"Akhirnya si gembel itu pergi juga," kata Tuan Santosh dalam hati. Kemudian dia fokus acara ramah tamah itu.


Tepat tengah hari, acara pertunangan itu selesai yang dilanjutkan dengan acara jamuan makan mewah. Sebagai orang kaya dan terhormat. Jamuan makan itu sangat memuaskan lidah para tamu undangan. Tidak henti hentinya para tamu undangan memuji pasangan serasi Danish dan Bintang juga jamuan makannya. Meskipun acara itu diadakan di rumah. Tapi semua yang ada di dalam acara itu tidak kalah dengan acara yang dilakukan di hotel mewah.


Nyonya Amalia dan Danish berpikir acara itu sudah selesai karena para tamu undangan sudah pulang. Kini hanya keluarga inti dan kerabat yang tinggal di rumah itu atas permintaan Tuan Santosh. Sedangkan Danish dan Bintang sudah berpindah tempat ke taman belakang.


"Pak Santosh dan Ibu Amalia. Ada Hal yang ingin kami bicarakan dengan kalian berdua," kata Pak Idrus papanya Bintang. Pak Santosh berdehem sambil mempersilahkan pak Idrus dan istrinya untuk duduk. Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan pak Santosh dan Nyonya Amalia.


"Membicarakan apa pak?" tanya Nyonya Amalia lembut. Pak Idrus sekilas menatap tuan Santosh kemudian menarik nafas panjang.


"Ini tentang hubungan Danish dan Bintang."


"Hubungan Danish dan Bintang?. Mereka sudah bertunangan dan akan direncanakan menikah satu tahun lagi," jawab Nyonya Amalia bingung. Sedangkan Tuan Santosh bersikap tenang karena ini adalah bagian dari rencana mereka.


"Benar, mereka memang sudah bertunangan. Kita sama sama keluarga terhormat dan terpandang. Danish dan Bintang sudah menghabiskan liburan bersama selama satu minggu. Menurut kami berdua sebagai orang tua dari Bintang. Sebaiknya mereka dinikahkan sore ini. Karena kami khawatir hubungan mereka pasti sudah sangat dalam. Dua orang dewasa berlainan jenis bersama sama dalam satu minggu. Pasti sudah terjadi sesuatu."


"Benar ma. Aku sependapat dengan pak idrrus. Sebaiknya kita nikahkan saja mereka sore ini. Nikah agama saja dulu, yang lainnya bisa besok besok," kata Tuan Santosh cepat. Mamanya Bintang menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan suaminya Dan tuan Santosh.


"Apa kalian berpikir, menikahkan anak itu seperti membeli nasi goreng. Dipesan saat ini, setengah jam lagi sudah tersedia. Merencanakan pernikahan saat ini setengah jam lagi sudah ada pernikahan."


Nyonya Amalia tidak habis pikir dengan jalan pikiran suami dan kedua besannya itu. Baginya menikah butuh persiapan yang lama dan minimal satu bulan.


"Ini demi kebaikan hubungan Danish dan Bintang ma. Juga hubungan kita dengan mereka sebagai calon besan. Mereka menikah hari ini untuk resepsinya bisa kita adakan satu tahun lagi."


"Tidak, aku tidak setuju pa. Sesuai kesepakatan awal. Hari ini pertunangan Danish maka dua hari lagi. Danish dan Sinar akan menikah. Kita harus memikirkan perasaan Sinar juga. Dia sudah menerima semua persyaratan yang kamu buat. Maka jaga perasaannya juga."


Mamanya Bintang mendengus kesal tapi tidak terlihat oleh Nyonya Amalia. Dia tidak terima putrinya mempunyai madu. Apalagi Sinar yang akan menjadi istri pertama Danish. Apa yang mereka bicarakan saat ini adalah rencana supaya Danish dan Bintang menikah hari ini dengan alasan karena sudah berlibur bersama. Liburan itu juga bagian dari rencana supaya Danish dan Bintang menikah secepatnya.

__ADS_1


"Apa alasan kami harus menerima Sinar sebagai madu putri kami," tanya pak Idrus. Dia sudah mengetahui jika Sinar yang menolong Danish. Tapi pemikiran pria itu sama dengan pemikiran Tuan Santosh. Pertolongan Sinar bisa dibalas dengan sejumlah uang tidak harus Danish menikahi Sinar. Dan dia juga tidak terima jika Bintang mempunyai madu.


"Tanya Bintang pak. Mengapa dia bisa menerima Danish sebagai madunya. Apa yang membuat Sinar bisa menerima dan itu juga jawabannya untuk kalian," jawab Nyonya Amalia.


"Sudahlah ma. Apa bedanya sekarang dan tahun depan," kata Tuan Santosh.


"Ada pa. Biarkan Sinar merasakan istri satu satunya untuk Danish selama satu tahun. Tanpa Sinar, Danish tidak kembali kepada kita."


"Ibu Amalia. Sebelum adanya Sinar. Kita sudah mengetahui bagaimana Danish dan Bintang saling mencintai. Kita sebagai orang tua selalu menasehati mereka untuk menjaga harga diri kita sebagai orang tuanya untuk tidak berhubungan melewati batas. Tapi lihat, beberapa minggu yang lalu. Mereka berlibur bersama sebagai wujud cinta mereka. Sebagai orang tua dari Bintang. Aku tidak terima putriku berduaan dibawa seperti itu."


"Apa maksud ibu berkata seperti itu. Bukankah Bintang berlibur dengan Danish atas ijin kalian?. Aku sendiri mengetahui mereka berlibur setelah berangkat dari rumah."


Mamanya Bintang menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak mengetahuinya. Kami berpikir, Danish berani bertindak seperti itu karena dia juga ingin menikahi Bintang secepatnya," kata Pak Idrus berbohong.


"Tidak, tidak mungkin. Danish tidak mungkin seperti itu."


"Apa yang tidak mungkin bu. Danish sangat mencintai Bintang. Sedangkan gunung terjal dia lalui untuk mengambil Bunga edelweiss kesukaan Bintang. Kami sangat yakin. Danish berjanji menikahi Sinar hanya karena tekanan dari orang tua wanita kampung itu. Dan liburan itu untuk menunjukkan kepada Sinar bahwa dia sangat mencintai Bintang."


Nyonya Amalia sangat kecewa. Dirinya hampir mati mendengar kecelakaan Danish yang ternyata demi Bintang. Rasa tidak sukanya kepada Bintang semakin menumpuk.


"Dan kata Bintang. Seharusnya dia datang bulan minggu lalu. Tapi sampai hari ini tidak datang juga. Jangan jangan putriku hamil. Jika itu terjadi, betapa malunya kita sebagai orang tua."


Nyonya Amalia tidak dapat menahan diri lagi ketika mendengar perkataan mamanya Bintang. Tanpa kata, dia meninggalkan tuan Santosh dan calon besannya itu di ruangan tempat pertunangan tadi.


"Mana Danish," tanya Nyonya Amalia pada pekerja yang melewati dirinya. Pekerja itu terlihat takut karena melihat kemarahan di wajah nyonya Amalia.


Nyonya Amalia merasakan Amarah yang luar biasa melihat apa yang dilakukan oleh Danish dan Bintang di taman belakang itu. Di dalam pendopo, Nyonya Amalia melihat Danish dan Bintang saling bertukar air liur dengan sangat liar dan juga tangannya keduanya yang saling berpetualang di tubuh lawan mainnya. Saat itu juga, nyonya Amalia merasa gagal mendidik Danish karena berani melakukan hal itu di alam terbuka yang bisa dilihat siapa saja yang datang ke taman itu.


"Danish," panggil Nyonya Amalia kencang. Meskipun Danish adalah putranya sendiri. Dia jijik menyaksikan adegan dewasa itu.


Danish dan Bintang terkejut Dan saling melepaskan diri. Mereka memang masih berpakaian lengkap kemeja Danish sudah hampir terbuka.


"Apa tidak ada tempat lain sehingga kalian melakukannya disini?" tanya Nyonya Amalia sinis.


"Maaf ma," kata Danish malu. Sedangkan Bintang menundukkan kepalanya. Setelah ini, dia sangat yakin jika pernikahan antara dirinya dan Danish hari ini akan benar benar terjadi.


"Bintang, tinggalkan kami berdua."


"Iya tante."


"Danish, kedua orang tua Bintang khawatir putrinya hamil. Apa kalian sudah sejauh itu?" tanya Nyonya Amalia hati hati.


"Hamil ma. Apa maksudnya?" tanya Danish terkejut dan bingung. Nyonya Amalia menceritakan pembicaraan mereka tadi membuat Danish semakin terkejut.


"Aku masih punya moral ma. Aku hanya pernah hampir melakukan kesalahan itu kepada Sinar," kata Danish pelan dan kesal. Bayang bayang kejadian dimana dirinya hendak melakukan cara paksa kepada Sinar masih terbayang di pikirannya.


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


Kini Nyonya Amalia yang bingung. Danish menceritakan kesalahannya di malam itu. Nyonya Amalia terlihat kecewa dengan perbuatan Danish.


"Gunakan hatimu untuk memilih yang terbaik Danish. Kedua orang tua Bintang berkata seperti itu pasti ada dasarnya. Bintang sudah membohongi mereka. Sesuatu yang sudah diawali dengan kebohongan. Ke depannya pasti tidak baik."


Apa yang didengar oleh Danish tentang kekhawatiran kedua orang tua Bintang. Membuat Danish berpikir lain. Satu minggu liburan bersama Bintang. Dia mengetahui apa yang dilakukan oleh wanita itu terhadap dirinya. Jika menuruti keinginan tubuhnya, hubungan mereka pasti sudah sangat dalam. Tapi Danish berusaha keras menjaga kesucian cinta mereka.


"Bintang, apa yang kamu katakan kepada kedua orang tua kamu. Apa ada laki laki lain yang melakukannya kepada kamu dan menuntut pernikahan denganku?" tanya Danish pelan tapi dengan nada suara yang terdengar menahan marah.


Tuan Santosh dan kedua orang tua Bintang terlihat terkejut. Sebelumnya, mereka berpikir jika Danish akan dengan sangat hati menerima pernikahan itu karena pria itu sangat mencintai Bintang. Yang terlihat seperti saat ini. Danish terlihat dingin memperlakukan Bintang. Ketika dirinya muncul di hadapan tuan Santosh. Bintang menghampiri Danish dan bergelayut manja di lengannya. Tapi Danish menjauhkan dirinya dari Bintang.


"Apa maksud kamu Danish. Aku hanya melakukannya dengan kamu."


Danish membulatkan matanya karena tidak percaya dengan kebohongan yang dikatakan Bintang saat ini.


"Bintang, kamu bukan seperti dirimu. Apa yang kamu katakan. Jangan berbohong Bintang."


"Sudah Danish. Papa merestui kamu menikah dengan Bintang saat ini," kata Tuan Santosh.


"Tapi aku tidak setuju," kata Nyonya Amalia dengan cepat. Sungguh, rasa simpatinya hilang terhadap Bintang karena kebohongan wanita itu.


"Apa kamu yakin tidak melakukannya Danish?" tanya pak Idrus.


"Sangat yakin seratus persen Om."


"Tapi bagaimana dengan pengakuan Bintang. Apa menurut kamu dia berbohong?" tanya pak Idrus lagi.


"Mungkin, bisa saja dirinya hamil saat ini. Tapi pelakunya bukan aku. Jika dia benar benar hamil. Maka pertunangan tadi batal."


"Tidak. Tidak Danish. Jangan, pertunangan kita tidak boleh dibatalkan. Aku memang berbohong. Aku melakukan ini karena sangat mencintai kamu dan ingin hidup bersama kamu secepatnya. Aku cemburu kepada Sinar yang sebentar lagi akan hidup bersama dengan kamu."


Tidak ada pilihan lain bagi Bintang selain mengakui kebohongannya. Dia tidak akan rela pertunangan mereka dibatalkan.


"Benar Danish. Jangan batalkan pertunangan kalian. Apa yang dikatakan oleh Bintang benar," kata Pak Idrus takut. Mamanya Bintang terlihat mengusap wajahnya dengan kasar karena kecewa pernikahan itu tidak terjadi yang ada pertunangan terancam batal.


"Keluarga yang aneh. Apa papa juga mengetahui kebohongan Bintang pa. Siapa keluarga Bintang bagi papa sehingga tega ikut bekerja sama berbohong seperti ini demi pernikahan mereka. Apa kalian menyembunyikan sesuatu sehingga mendesak putraku harus menikahi Bintang?" tanya Nyonya Amalia. Wanita itu sangat terlihat kecewa. Andaikan lebih awal dirinya mengetahui sifat Bintang yang rela berbohong demi mencapai tujuannya. Nyonya Amalia tidak akan menyetujui pertunangan hari ini.


Tuan Santosh dan kedua orang tua Bintang tidak menjawab.


"Danish, Temui Sinar di kamarnya. Aku akan menyuruh supir untuk mengantarkan kalian ke kampung halaman Sinar. Besok aku dan papamu menyusul."


Sesuai rencana, sebenarnya bukan hari ini Danish dan Sinar berangkat ke kampung halaman Sinar. Seharusnya mereka berangkat besok. Nyonya Amalia sengaja menyuruh Danish dan sinar berangkat hari ini supaya tidak ada waktu bagi Bintang berduaan.


"Baik ma."


Rasa kecewa yang dirasakan oleh Danish dan Nyonya Amalia membuat mama dan anak itu berlalu dari tempat itu tanpa pamit.


"Sinar," panggil Danish sambil mendorong pintu kamar. Dia mengerutkan keningnya melihat kamar itu kosong. Melihat pintu kamar mandi yang terbuka membuat Danish tidak memanggil nama wanita itu lagi. Dia berjalan ke arah dapur mencari Sinar.


"Kalian melihat Sinar?" tanya Danish.

__ADS_1


"Tidak tuan." Danish melangkah ke taman belakang.


Danish merasakan jantungnya berdegup kencang ketika tidak melihat Sinar di Sana.


__ADS_2