
Pria itu menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sebelah Sinar. Dia meletakkan dua botol air mineral di atas meja. Dan mendorong satu air mineral itu ke arah Sinar. Sinar hanya terdiam dan memandangi orang orang yang sedang berenang. Sedangkan pria itu menatap Sinar sebentar kemudian meraih botol air minum kemudian membuka tutup botol.
Pria itu adalah Danish. Meskipun dirinya tidak mendekati Sinar tadi. Tapi ekor matanya selalu mengawasi Sinar bahkan mendengarkan permintaan Sinar kepada Hana untuk pulang terlebih dahulu. Danish mengetahui jika itu untuk menghindari dirinya.
"Kamu tidak mengenalku. Mengapa hanya diam saja?" tanya Danish.
"Aku mengenal kamu. Tapi tidak ada gunanya berbicara dengan kamu."
Sinar berkata yang sejujurnya. Dia mengenali Danish dan memang tidak ada gunanya berbicara dengan pria itu. Sinar tidak akan bersikap sok dekat pada pria itu. Mereka saat ini duduk seperti orang yang tidak saling mengenal. Mereka berbicara tapi dengan mata yang lurus ke arah kolam renang.
"Kamu masih marah kepada ku?" tanya Danish lagi.
"Aku tidak pernah marah kepada kamu.
"Kalau tidak marah. Mengapa kamu kabur dari rumah."
"Aku kabur bukan karena marah. Aku kabur untuk menentukan takdir ku sendiri."
"Lalu sudah seperti apa takdir mu sekarang?
Sinar merasa kesal dengan pertanyaan Danish itu. Dia melarikan diri dari rumah Danish karena dirinya tidak ingin menjadi istri dari Suami yang akan menikahi wanita lain lagi. Sinar merasa pertanyaan Danish seperti mengejek dirinya karena saat bertemu seperti ini. Dirinya masih gadis miskin dan belum tamat kuliah.
"Yang pasti masih gadis terhormat," jawab Sinar. Danish tersenyum. Danish sangat menyukai jawaban itu.
Sinar dan Danish kembali terdiam. Hiruk pikuk dari orang orang yang berenang itu memekakkan telinga dan terkadang mereka juga terkena air cipratan air.
Sinar tidak mau memulai pembicaraan karena itu tidak penting baginya. Bohong, jika Sinar tidak merasa terluka atas apa yang dilakukan Danish kepada dirinya. Danish memang tidak mengkhianati dirinya tapi tidak perlu mengikat dirinya dengan janji dan bahkan hampir menggunakan cara paksa untuk tetap bisa menikahi dirinya tanpa melepaskan wanita lain dari hatinya.
Sinar bisa bersyukur dan merasa beruntung. Tidak semua wanita bisa seperti dirinya. Disakiti oleh dua pria dengan berbeda alasan tapi Sinar bisa merespon luka hatinya dengan bermimpi untuk mengubah nasibnya sendiri.
"Mama sangat merindukan kamu dan menuntut aku untuk mempertemukan kalian berdua," kata Danish.
Sinar seketika mengingat Nyonya Amalia dan segala kebaikannya. Wanita yang memberikan janji kepada dirinya tapi sayangnya Sinar tidak ingin membuka diri akan janji itu lagi. Tapi jika berkata rindu. Sinar pun sebentar rindu akan wanita baik itu. Nasehat Nyonya Amalia yang membuat Sinar untuk berjuang mengubah hidupnya. Tapi Sinar memilih tidak menanggapi perkataan Danish karena dia khawatir disalah artikan untuk mendekatkan diri kepada keluarga Danish. Sinar sudah memilih keluar dari rumah itu. Maka dirinya juga ingin membatasi atau bahkan menutup diri yang berkaitan dengan keluarga Danish. Siapa pun itu termasuk pria yang menjadi lawan bicaranya saat ini.
"Mengapa hanya diam saja Sinar?" tanya Danish sedikit frustasi karena Sinar tidak menanggapi perkataannya.
"Aku harus berkata apa?"
Sekarang, Danish menatap wajah Sinar. Dia berpikir dengan menyebut nama mamanya. Pembicaraan mereka akan lancar.
"Apa kamu tidak merindukan mamaku, Sinar?"
Sinar terkejut mendengar pertanyaan Danish. Jika dirinya mengatakan tidak rindu. Dia merasa kurang enak dengan Nyonya Amalia. Jika dia mengatakan rindu. Sinar merasa malu untuk mengakui itu.
"Bagaimana kabar nyonya Amalia. Beliau sehat kan?" tanya Sinar akhirnya.
"Mama sedang sakit."
"Sakit. Sakit apa?" tanya Sinar cepat. Nada suaranya terdengar khawatir.
"Entah lah. Akhir akhir ini mama sering tidak enak badan. Mungkin sudah faktor umur," kata Danish. Pria itu tidak berbohong memang seperti itulah yang sebenarnya. Akhir akhir ini Nyonya Amalia sering sakit.
"Semoga Nyonya Amalia cepat sembuh," kata Sinar tulus. Danish pun menganggukkan kepalanya karena dia juga mengingat seperti itu.
"Dan ada satu penyakit mama. Obatnya tidak ada dijual dimana pun."
"Penyakit apa itu?" tanya Sinar heran.
"Penyakit rindu. Rindu kepada kamu dan obatnya hanya kamu," kata Danish serius.
"Jangan berlebihan."
"Aku serius."
"Tapi aku percaya."
Danish menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sinar bersedia berbicara dengan dirinya tapi sepertinya Sinar tidak mempercayai kata katanya.
"Mengapa kamu tidak mempercayai aku Sinar."
"Karena apa yang terdengar dan yang terlihat menyakinkan belum tentu sesuai dengan yang sebenarnya."
__ADS_1
"Apa kamu kira aku berbohong."
"Apa aku mengatakan kamu berbohong."
Danish mengusap wajahnya dengan kasar. Andaikan Sinar adalah orang lain. Mungkin saja dia akan meninggalkan wanita itu secepatnya. Tapi hari ini, setelah sekian lama mempersiapkan diri untuk menemui Sinar. Hari ini, Danish tidak bisa menahan diri untuk menemui wanita itu. Selama enam bulan, dirinya hanya mendapatkan laporan dan video tentang Sinar. Danish bukan menutup mata apalagi menutup hati untuk wanita itu. Hanya saja, Danish merasa belum waktunya untuk menemui Sinar. Karena sampai saat ini. Urusannya dengan Bintang belum selesai juga yang menyebabkan nyonya Amalia terbebani pikiran.
Danish mengetahui apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh Sinar saat ini. Semua tentang Sinar. Danish mengetahuinya termasuk usaha keripik ubi itu dan perkuliahannya. Dia bangga dengan kerja keras wanita itu meskipun tidak membuat Sinar menjadi wanita kaya.
"Jika kata maafku terlambat. Sudi lah kiranya kamu memaafkan semua kesalahanku kepada mu Sinar."
Danish tidak ingin menunda waktu lagi untuk meminta maaf.
"Kamu tidak salah apa apa Danish. Pergilah dari sini. Teman ku sudah mendekat," kata Sinar. Hana yang asyik berenang di tengah kolam terlihat berenang ke tepi kolam.
"Kamu takut temanmu jatuh cinta kepadaku?"
"Heh."
Sinar menatap Danish. Percaya diri sekali pria itu jika sahabatnya jatuh cinta kepada dirinya. Pria yang ditatap tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. Sungguh, Sinar tidak pernah melihat sikap Danish seperti ini.
"Bukan takut. Tapi sebagai sahabat. Aku tidak akan membiarkan dia jatuh cinta kepada laki laki yang sudah bertunangan. Apalagi pria itu sangat mencintai tunangannya."
Danish menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Kata tunangan hanya menggoreskan luka di hatinya. Bintang bisa saja benar benar mencintai dirinya tapi cinta wanita itu dinodai oleh keserakahan kedua orang tuanya dan Bintang tidak menjaga kesucian cinta mereka. Dan saat ini, cinta itu sudah memudar dan bisa dikatakan hampir tidak ada lagi di hatinya. Yang membuat Danish pusing tujuh keliling. Bintang mempunyai seribu cara untuk mempertahankan pertunangan mereka dan bersikeras untuk melanjutkan ke pernikahan.
"Kamu benar. Kamu tidak boleh membiarkan sahabat mu itu jatuh cinta pada pria yang sudah mempunyai calon istri," kata Danish. Dia tidak mau kalah dengan perkataan Sinar.
"Dan nanti di Hari pernikahan aku. Aku harap kamu datang. Pernikahan akan diadakan dua bulan lagi," kata Danish.
"Asal kamu mengundang aku. Aku pasti datang," jawab Sinar dengan pasti.
"Terima kasih Sinar. Perkataan mu. Aku anggap sebagai janji," kata Danish. Sinar menganggukkan kepalanya dengan yakin karena wanita itu ingin menunjukkan jika dirinya baik baik saja setelah mendengar pernikahan yang dibicarakan oleh Danish.
Danish bangkit dari duduknya dan menatap Sinar sebentar kemudian pergi dari tempat itu tepat dimana Hana mencapai tepi kolam.
"Pertemuan apa seperti ini. Jika tahu begini. Aku tidak akan ke kolam ini," kata Sinar dalam hati. Pertemuannya dengan Danish hanya untuk mengetahui pernikahan pria itu. Dia membayar tariff kolam renang dengan Mahal bukan lagi untuk menyegarkan otaknya tapi membuat hatinya terasa sesak. Tidak bisa dipungkiri jika mendengar pernikahan Danish membuat Sinar merasa sesak. Danish akan berbahagia dengan wanita pilihannya sedangkan dirinya masih sendiri. Jangankan mempunyai kekasih hati untuk mengenal pria lebih dalam. Sinar merasa trauma.
Roki dan Danish pernah membuat dirinya merasa dicintai dan dihargai tapi itu semua hanya palsu. Membuat Sinar merasa enggan untuk memulai hubungan dengan pria lain. Bukan tidak Ada laki laki yang menaruh hati kepada dirinya di kampus. Tapi Sinar bertekad akan menjadi wanita yang mandiri dan mempunyai gelar terlebih dahulu baru membuka hati kepada laki laki. Penghinaan yang dia terima dari tuan Santosh merupakan pelajaran berharga bagi Sinar untuk membuat dirinya berbohong terlebih dahulu.
"Baru kenalan tadi," jawab Sinar cuek. Ekor matanya melihat Danish ke ruang ganti dan Sinar berharap pria itu secepatnya pulang dari kolam renang itu.
Hana Naik ke tepi kolam. Dia tidak mempercayai bahwa Sinar dan Danish baru saja berkenalan. Dia melirik pada botol minuman yang terletak di meja itu.
"Punya kamu Sinar?" tanya Hana. Sinar menggelengkan kepalanya.
"Punya pria itu tadi, mungkin lupa membawanya."
Hana semakin yakin jika Sinar berbohong. Hana melihat dengan jelas jika Danish membawa dia botol air mineral tadi dan ketika dirinya meninggalkan tempat itu membawa satu botol air minum minerel. Hana pun semakin bertanya dalam hati apa hubungan Sinar dengan pria itu. Hana menghubungkan sikap Sinar saat ini dan sikap Sinar ketika dirinya mengatakan jika si merah lebih ganteng daripada si biru.
"Sini, biar aku kembalikan kepada dia. Sepertinya dia masih di ruang ganti."
"Jangan. Biarlah saja disini. Aku juga haus. Biar aku minum saja," kata Sinar dengan cepat dan langsung meraih botol itu dan meminum sebagai isinya.
Melihat air minum itu. Sinar kembali mengingat bagaimana Danish mengingatkan dirinya harus menjaga kesehatan ginjal dengan banyak minum air putih.
"Mungkinkah dia memperhatikan aku tidak minum sedari tadi?" tanya Sinar dalam hati. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak boleh terlalu percaya diri diperhatikan oleh Danish apalagi pria itu akan segera menikah.
"Padahal air mineral itu hanya sebagai alasan untuk berkenalan dengan si ganteng. Tapi sepertinya kamu tidak rela jika aku berkenalan dengan dirinya."
"Susah, lupakan niat kamu untuk berkenalan dengan dia. Dia sebentar lagi akan menikah."
"Darimana kamu tahu dia akan menikah?"
Hana semakin yakin jika Sinar menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Sikap dan perkataannya mengatakan dirinya baru berkenalan dengan Danish tapi matanya tidak bisa berbohong. Kedua sorot Mata Sinar sangat berbeda sebelum Danish menghampiri dirinya duduk di tempat ini. Sorot mata Sinar seperti menyimpan Luka hati yang sangat dalam.
"Sudah. Untuk apa kita membahas laki laki iti. Ayo, Kita berenang!" ajak Sinar. Wanita itu langsung melompat ke air menciptakan percikan air yang mengenai wajah Hana.
Hana pun melompat ke dalam air. Tujuan mereka untuk bersenang senang hari ini. Dan Hana tidak akan bertanya lebih lanjut lagi Karena sepertinya Sinar enggan berbagi cerita. Biarlah kalau Sinar bersedia berbagi cerita dengan. Hana akan mendengarkan. Jika tidak. Hana tidak akan memaksa. Karena Hana sadar. Meskipun dirinya dan Sinar bersahabat. Dia tidak berhak untuk mengetahui urusan sahabatnya itu apalagi ikut campur di dalamnya.
Hana dan Sinar kini sudah berenang bersama. Mereka berenang dengan gaya sesuka hati. Terkejut mereka saling mengejar dan naik ke perosotan dan meluncur dengan mengeluarkan suara sekencang mungkin.
Sinar dan Hana terlihat menikmati wahana permainannya itu. Sinar seakan menunjuk jika dirinya baik baik saja dan tidak terpengaruh dengan pernikahan yang dibicarakan oleh Danish tadi.
__ADS_1
"Ayo pulang!" ajak Hana. Satu jam lagi. Kolam renang itu akan ditutup.
"Sebentar lagi. Setengah jam lagi," kata Sinar. Sinar masih aktif berenang kesana kemari. Dia tidak menyadari jika sepasang mata yang sedang memperhatikan gerak gerik dari tadi. Danish belum pulang. Setelah berganti pakaian. Dia duduk di kursi berpayung karena Nathan belum juga keluar dari kolam renang.
Sama seperti Hana. Nathan juga mempermainkan gerak gerik Sinar. Nathan sudah pernah melihat Sinar di depan kantor polisi dan sampai sekarang masih mengingat wajah wanita itu. Nathan juga melihat Danish menghampiri Sinar tadi. Dan dia senang akan hal itu. Sebagai sahabat, Nathan juga mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh Danish saat ini. Dia tidak menyangka jika dirinya yang sedikit memakai Danish berenang di kolam renang ini akan mempertemukan Danish dan Sinar.
Nathan masih berkeliaran di kolam renang itu menebar kebaikan yang mendadak seperti guru olah raga yang mengajari siswanya berenang. Nathan memang saat ini sedang membagi ilmu kepada wanita wanita yang sedang mengelilingi dirinya tentang gaya gaya renang. Pria itu juga terkadang mempraktekkan gaya renang yang dia sebutkan. Sangat jelas terlihat jika pria itu mengusai semua gaya renang.
Sinar terlihat enggan mendekat kepada pria itu karena tadi dirinya melihat Nathan dan Danish melakukan salto di udara. Sinar mendengar sendiri jika Danish melakukan salto itu karena permintaan Nathan itu artinya mereka berteman. Begitulah pemikiran Sinar.
Sedangkan Hana sudah bergabung dengan wanita lainnya mendengar arahan Nathan. Bukan seperti para wanita itu bertanya kepada Nathan karena ingin menikmati pesona pria itu karena benar benar ingin belajar berenang. Bahkan diantara para wanita yang mendengarkan arahan Nathan. Hanya Hana yang terlihat mempelajari dan mempraktekkannya tanpa bantuan Nathan. Sedangkan sebagian dari wanita itu harus dibantu Nathan hanya sekedar membentangkan tangan.
"Iya, seperti mbak ini. Gerak kan kedua lengannya bersamaan mbak," kata Nathan. Hana sepertinya sedang mempraktekkan gaya renang kupu kupu. Hana membentangkan kedua kedua tangannya, mengepak kemudian mengayuh menuju ke depan. Hana berhasil bergerak di air itu dengan gaya renang kupu kupu yang bisa dikatakan sebagai gaya renang yang sulit.
"Bagus," kata Nathan sambil memberikan acungan jempol kepada Hana.
"Mau aku ajari?" tanya Hana kepada Sinar. Sinar menganggukkan kepala. Hana pun memberi arahan seperti yang dia dengar dari Nathan tadi.
"Coba lihat aku ya," kata Hana. Hana mempraktekkan gaya renang kupu kupu sedangkan Sinar terlihat serius melihatnya.
"Ayo kamu. Coba lakukan seperti yang aku lakukan tadi," kata Hana. Sinar pun mempraktekkan seperti yang dia lihat. Sinar berhasil mempraktekkan gaya renang kupu kupu itu.
Danish yang memperhatikan gerak gerik Sinar spontan bertepuk tangan melihat Sinar yang sedang berenang dengan gaya kupu kupu. Sinar tidak melihat Danish yang bertepuk tangan tapi Hana melihatnya. Nathan juga melihat Danish bertepuk tangan dan pria itu tersenyum.
"Sepertinya kamu terlihat bahagia sekali bro," kata Nathan. Pria itu menghampiri Danish yang sudah berpakaian rapi.
"Kamu juga terlihat sangat bahagia di kelilingi wanita wanita yang cari perhatian itu," jawab Danish dengan sinis. Andaikan Sinar tidak ada di kolam renang itu. Danish sudah meninggalkan Nathan di Sana.
"Aku masih normal bro. Melihat paha mulus dan dada montok tentu saja berat beranjak dari kolam renang," kata Nathan dengan santai sedangkan Danish sudah berdecih. Untung saja, Sinar tidak memamerkan pahanya.
"Kamu saja yang tidak normal. Aku bahkan dapat mangsa. Kamu mau satu?" bisik Nathan. Danish mendorong kepada Nathan supaya menjauh dari telinganya.
"Tentu saja aku mau. Tapi hanya wanita itu yang aku mau," tunjuk Danish ke arah kolam renang. Dan tangannya mengarah ke arah Sinar.
"Yang pakai pakaian renang hitam ya," kata Nathan.
"Dasar mata kamu yang tidak bisa melihat dengan benar. Lihat arah telunjuk ku dengan benar," kata Danis kesal. Sinar memakai pakaian renang berwarna pink bercampur hitam.
"Telunjuk mu ke arah pakaian renang hitam," kata Nathan sambil menahan ketawa. Danish pun memperhatikan arah telunjuknya dan benar saja telunjuknya itu ke arah pakaian warna hitam. Kepada seorang wanita yang berambut warna ungu dan usianya sepertinya sudah di atas empat puluhan.
"Mana dia," kata Danish sambil mencari keberadaan Sinar.
"Ah itu dia," kata Danish dengan cepat ketika kepala Sinar muncul dari air.
"Yakin. Wanita itu yang kamu mau. Coba lihat wanita wanita yang di sana," kata Nathan sambil menunjuk beberapa wanita yang Naik ke atas tepi kolam dengan pakaian renang yang menunjukkan kemolekan tubuh dan paha mulus.
"Tidak. aku hanya mau wanita itu," kata Danish menegaskan.
"Bagaimana dengan Bintang kecil di langit yang biru?" tanya Nathan lagi. Danish menatap Nathan dengan tajam.
"Kan aku hanya bertanya bagaimana Bintang kecil di langit yang biru?"
"Seperti tidak tahu saja," kata Danish kesal.
"Oke baiklah. Aku akan menghampiri wanita yang kamu mau itu. Baik baik disini ya bro," kata Nathan membuat Danish semakin kesal. Andaikan dirinya masih berpakaian renang. Danish akan mengejar sahabatnya itu supaya tidak menemui Sinar dan Hana yang masih terlihat berbincang di air itu dengan bersandar ke dinding kolam. Danish seketika menyesal karena sudah berganti pakaian. Danish khawatir. Nathan berkata yang tidak tidak pada Sinar mengingat Nathan kadang bercanda tidak memandang tempat dan pada siapa dirinya bercanda.
"Bisa bergabung," kata Nathan setelah dirinya sudah mendekat kepada Sinar dan Hana. Di tempat duduknya. Danish merasa lega karena melihat Sinar memasukkan tubuhnya ke air hingga yang terlihat hancur kepalanya saja. Danish tidak ingin Nathan melihat dada Sinar dari jarak yang dekat.
"Bergabung. Boleh saja. Tapi kami sudah hendak keluar," kata Hana. Dia melirik jam dinding besar yang ada dinding kantin. Dia dan Sinar tidak langsung keluar dari air itu karena malas mengantri di depan ruang ganti.
"Sama. Aku juga sebentar lagi akan keluar kok. Kalian berdua. Bisa melihat pria yang matanya dibingkai dengan kaca mata hitam itu?" kata Nathan sambil menunjuk Danish yang duduk sedang menghadap mereka dan sepertinya juga melihat mereka bertiga. Sinar terkejut menyadari pria itu adalah Danish. Meskipun Nathan masih berada di kolam ini. Dia berpikir jika Danish pulang terlebih dahulu atau menunggu di mobil atau menunggu di kafe yang ada di luar kolam renang itu.
Di tempat duduknya. Danish mengepalkan tangannya. Dia melihat Nathan menunjuk dirinya. Itu artinya jika pria itu membicarakan dirinya kepada Sinar.
"Siapa nama kamu," tanya Nathan kepada Hana.
"Hana."
"Nama yang bagus. Dan kamu pasti Sinar kan?" tanya Nathan kepada Sinar. Hana yang menjawab pertanyaan Nathan.
"Kamu menanyakan nama kami. Untuk apa?" tanya Hana. Dia juga sudah mengetahui jika pria yang berbicara kepada dirinya adalah teman dari pria yang menjumpai Sinar tadi.
__ADS_1
"Hanya untuk test kuping dan daya ingat saja. Apa setelah berenang. Pendengaran dan daya ingat kalian masih bagus," jawab Nathan. Pria itu kemudian menyelam dan pergi dari hadapan Hana dan Sinar.