Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Malam terakhir di rumah kakek


__ADS_3

Mencintai pria yang mencintai wanita lain ternyata rasanya tidak enak. Sinar merasakan hal itu. Sejak mengetahui tentang calon tunangan Danish. Sinar merasakan hatinya ragu untuk tetap bertahan menjadi calon istri pria itu. Setelah satu bulan sejak kejujuran Danish. Danish juga tidak membahas hubungan mereka berdua. Hari hari yang mereka lalui bersama masih seperti hari hari sebelumnya. Sinar yang selalu membantu Danish dan Danish dengan segala bentuk perhatiannya.


Berkat tanaman langka yang dijanjikan Sinar, Kesehatan Danish perlahan lahan membaik. Tulang kaki kanannya yang diperkirakan sembuh empat sampai enam bulan ternyata hanya dalam dua bulan sudah menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Danish sudah bisa berjalan pelan pelan tanpa bantuan Sinar. Pria itu sangat senang. Keinginannya untuk segera pulang ke rumah orang tuanya tidak terbendung lagi.


Kesehatan Danish yang semakin membaik disambut baik oleh penduduk perkampungan itu. Danish sudah menjanjikan banyak hal untuk pembangunan perkampungan itu termasuk pembangunan jembatan di atas sungai yang terkendala biaya.


Sedangkan Sinar, wanita itu tidak tahu harus menggambarkan perasaannya seperti apa. Melihat kesehatan Danish yang semakin membaik tentu saja dirinya sangat senang. Tapi di sisi lain, Sinar menyadari jika hal itulah yang akan memisahkan mereka.


Jauh di mata jauh di hati. Sinar takut hubungannya dengan Danish akan seperti itu. Hubungan mereka tidak akan berlanjut setelah terpisah jarak. Sinar sudah berusaha keras ihklas melepaskan Danish dari hatinya. Tapi sikap Danish yang masih tetap memperlakukan dirinya sangat baik membuat perasaan cinta itu sulit dihilangkan.


Malam terakhir bersama di rumah kakek Joni akhirnya tiba juga. Besok pagi, Danish akan kembali ke kota dan Sinar akan mengantarkan pria itu hingga ke desa seberang.


Sinar merasakan hal yang berbeda. Hatinya terasa kosong. Perpisahan itu sudah di depan mata di saat nama Danish terukir indah di hatinya. Hal berbeda yang dirasakan oleh Danish. Pria itu berkali kali tersenyum sendiri mungkin membayangkan kerinduannya kepada sang calon tunangan akan segera terobati.


Sinar tersenyum kecut melihat tingkah Danish. Mereka duduk bersebelahan di anak tangga rumah panggung itu. Danish menatap bintang bintang dengan senang hati sedangkan Sinar menundukkan kepala sambil meremas jemari tangannya.


"Danish," kata Sinar pelan. Danish menoleh sebentar kepada Sinar tapi kemudian kembali menatap bintang bintang di langit. Sinar kecewa dengan sikap Danish itu. Ini adalah malam terakhir mereka. Sinar ingin malam ini malam yang berkesan diantara mereka berdua. Melihat sikap Danish yang seperti itu. Sinar semakin yakin jika hubungan mereka hanya sebatas di perkampungan ini saja.


"Danish, apakah setelah kamu bertemu dengan kedua orang tua mu. Kamu akan segera datang melamar ku?".


Sinar ingin menanyakan itu ke Danish saat ini. Tapi kata kata yang sudah tersusun di otaknya itu seakan tertahan di kepala dan Sinar tidak percaya diri untuk mengungkapkanya. Sinar sebenarnya hanya ingin kepastiaan hubungan mereka berdua karena keluarga Roki juga sudah mendesak untuk menggelar pernikahan antara dirinya dan Roki.


Jika disuruh memilih antara Roki dan Danish. Tentu saja, Sinar pasti memilih Danish. Tapi jika Danish tidak memilih dirinya. Pernikahan paksa itu pun pasti akan terjadi karena tidak ada alasan bagi Sinar untuk menolak Roki kecuali dirinya bersedia mendekam di penjara. Pihak keluarga Roki memberikan waktu satu bulan ini kepada Sinar untuk berpikir.

__ADS_1


Jujur, Sinar memang merasa dirinya saat ini wanita yang egois. Sinar sadar tidak seharusnya dia mengharapkan Danish menikahi dirinya karena pria itu sudah menjadi kekasih wanita lain sebelum dirinya mengenal Danish. Tapi atas nama cinta dan terbebas dari Roki. Sinar masih mengharapkan janji Danish akan datang melamar dirinya akan menjadi kenyataan. Dan di malam terakhir ini, Sinar ingin mendengar janji itu terucap kembali dari mulut Danish.


"Aku masuk," kata Sinar akhirnya. Melihat Danish asyik sendiri menatap bintang. Sinar merasa tidak ada gunanya mereka duduk berduaan di tangga itu.


"Masih jam delapan. Di kamar juga kamu pasti hanya menghayal. Duduk, temani aku melihat bintang," kata Danish tanpa merasa bersalah. Sinar yang sudah berdiri menatap Danish sebentar tapi akhirnya dia duduk kembali.


Sinar ikut memperhatikan bintang bintang di langit itu.


"Mana yang paling indah?" tanya Danish.


"Semuanya indah."


"Kamu harus memilih salah satu."


"Aku rasa kamu cukup pintar untuk membedakan mana bintang yang paling indah dan bagus," kata Sinar lagi.


Entah mengapa Danish menarik nafas panjang. Sinar merasa bingung mengapa Danish seperti itu tapi Sinar berusaha tidak mau tahu dan tidak perduli.


Lumayan lama mereka saling terdiam dan hanya memperhatikan bintang. Sinar tidak berminat lagi membahas tentang hubungan mereka setelah malam terakhir ini.


"Sinar, ikut lah dengan aku besok ke Kota."


Sinar terkejut. Sinar sungguh tidak menyangka jika Danish akan mengajak dirinya ikut ke Kota. Apakah itu pertanda jika hubungan mereka berlanjut dan pernikahan antara dirinya dan Danish akan nyata?. Sinar menduga dalam hati jika selama ini ternyata Danish juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Tapi bagaimana dengan wanita calon tunangan Danish?.

__ADS_1


"Mengapa aku harus ikut?"


"Karena kamu calon Istriku."


"Lalu bagaimana dengan wanita calon tunangan kamu?" tanya Sinar. Sungguh, dia tidak sanggup melihat luka di mata wanita lain ketika melihat Danish membawa dirinya ke Kota. Sinar ingin, Danish menyelesaikan hubungannya dengan wanita calon tunangannya itu terlebih dahulu kemudian menepati janji untuk menikahi dirinya.


"Pasti akan ada jalan keluar. Kita selesaikan bersama sama. Aku, kamu dan dia."


"Aku tidak mempunyai urusan dengan dia. Aku hanya mempunyai urusan dengan kamu. Jangan libatkan aku dalam hubungan kalian," tolak Sinar dengan tegas.


Danish menarik nafas panjang. Sinar mengerti jika Danish pasti saat ini sedang bingung untuk mempertahankan dirinya atau mempertahankan calon tunangannya. Tapi Sinar tidak akan mau disebut perusak hubungan mereka dengan menunjukkan dirinya di hadapan calon tunangan Danish.


"Aku sudah meminta ijin kepada kakek Joni untuk membawa kamu ke kota. Kakek mengijinkan. Aku akan memperkenalkan kamu kepada kedua orang tuaku. Sebagai calon istri dan juga orang yang sudah menolong aku."


"Tapi aku tidak bisa Danish."


Sinar beranjak dari duduknya dan meninggalkan Danish sendirian di anak tangga itu.


"Sinar kemari," panggil kakek Joni dari arah dapur.


"Apa kakek."


"Ikut lah dengan Danish besok ke Kota. Keluarga Roki berubah pikiran. Ada salah salah satu penduduk perkampungan ini yang menceritakan hubungan kamu dengan Danish. Besok, mereka akan ke rumah ini menjemput paksa kamu."

__ADS_1


__ADS_2