Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Kamu masih Calon Istriku


__ADS_3

Sinar menarik nafas lega setelah keluar dari ruang ganti. Suasana kolam renang itu sudah sepi dan hanya terlihat para petugas memungut sampah. Danish dan Nathan tidak terlihat lagi di area kolam renang itu. Mobil pun tidak terlihat lagi ada di parkiran itu artinya memang dua pria itu sudah pulang terlebih dahulu.


Sinar meminta Hana untuk mencari makanan sebelum pulang. Sinar merasakan perutnya sangat lapar karena tadi tidak makan apapun sesudah selesai berenang. Hana pun seperti itu membuat wanita itu setuju saja dan mengarahkan sepeda motornya ke arah pusat jajanan di kota itu.


"Aku mau yang berkuah saja Sinar. Bagaimana dengan kamu," tanya Hana.


"Aku juga."


"Jadi deal ya. Kita cari warung bakso yang ada mie ayamnya," kata Hana. Sinar setuju dan menjawab iya. Meskipun sudah memutuskan penghasilan sendiri. Mereka tetap makan makanan sederhana dibandingkan dengan makanan ala ala luar negeri yang harganya sedikit lebih mahal.


Tiba di rumah. Sinar terkejut melihat sebuah mobil terparkir di teras rumah kontrakannya. Bukan mobil itu yang membuat Sinar dan Hana terkejut melainkan sosok pria yang menunggu kedatangannya. Dunis dengan berdiri dan ponselnya di tangannya sedang menunggu kepulangan Sinar dan Hana.


"Bagaimana dia mengetahui alamat ini?" bisik Sinar sebelum turun dari atas motor.


"Mana ku tahu. Yang berbicara dengan dia tadi kan kamu. Sudah Sana. Temui pria kenalan mu itu," jawab Hana sambil menyentuh kaki Sinar yang masih duduk di boncengan Hana. Sinar mendorong tubuh Hana dengan kesal karena dia mengetahui sahabatnya itu sedang menyindir dirinya.


Dengan malas, Sinar turun dari atas motor dan berdiri saja di tempat itu sambil menatap Danish dengan kesal. Pria itu baru saja mengundang dirinya di hari pernikahannya dua bulan lagi. Kini pria itu sedang di depan rumahnya. Sinar bukannya terlalu percaya diri menduga jika keberadaan Danish di tempat itu pasti untuk berbicara dengan dirinya.


"Apa sih maunya," kata Sinar pelan tapi dia yakin jika Danish mendengarnya. Dan pria itu terlihat sangat cuek dengan ponselnya di tangannya.


Danish melangkahkan kakinya ketika mendengar suara pintu rumah yang baru saja di buka oleh Hana. Danish ikut masuk ke rumah itu sedangkan Sinar masih diam memperhatikan punggung Danish. Tanpa dipersilahkan masuk. Pria itu masuk bagaikan dirinya ikut berhak di dalam rumah itu.


Sinar masuk ke dalam rumah dan melihat Danish sudah duduk sambil mengamati keadaan rumah itu. Hana sepertinya tidak menyadari Danish masuk ke rumah itu karena wanita itu berjalan lurus hingga ke dapur.


Tidak ada yang bisa dilakukan Sinar selain ikut duduk dengan Danish di ruang tamu itu. Jika mengingat lelah tubuhnya. Sinar sebenarnya sudah ingin masuk ke dalam kamar dan berbaring. Tapi bagaimana pun Danish adalah tamu di rumah itu meskipun tamu yang tidak diundang dan tidak diharapkan kedatangannya tapi sebagai tuan rumah yang baik Sinar berusaha menghargainya. Hanya satu pertanyaan yang sedari tadi mengusik pikiran Sinar. Bagaimana pria itu mengetahui alamat ini. Tidak mungkin dia mendapatkan alamat itu dari Hana. Karena seingatnya. Hana tidak berbicara dengan Danish di kolam renang itu.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui kalau aku tinggal di sini?" tanya Sinar akhirnya. Sinar sungguh penasaran akan hal itu.


"Apa yang tidak aku tahu tentang kamu Sinar. Semua aku tahu. Aku mau makan keripik ubi. Apa ada stok?"


Sinar menganggukkan kepalanya seperti terhipnotis hanya karena mendengar keripik ubi. Dia senang jika ada yang menyinggung tentang keripik ubinya. Hal itu membuat jiwa marketing nya meronta ronta untuk menawarkan keripik ubi itu. Dia lupa bahwa Danish bukan calon mitra kerjanya melainkan pria masa lalunya.


Wanita itu berdiri dan berjalan ke ruang tengah. Ada beberapa bungkusan keripik ubi yang masih tersisa di dalam keranjang. Dengan semangat, Sinar membawa keripik ubi itu ruang tengah. Tapi ketika baru menyadari jika keripik ubi itu untuk Danish. Sinar memberikan keripik ubi itu hanya dengan mengulurkan tangannya dengan wajah yang kurang bersahabat.


"Terima kasih Sinar," kata Danish sambil meraih keripik ubi itu dari tangan Sinar. Danish tersenyum melihat wajah Sinar itu.


"Tenang saja. Aku akan membayarnya nanti," kata Danish sambil membuka kemasan keripik ubi itu.


"Bagi kami. Tamu yang datang ke rumah ini tidak perlu membayar makanan dan minuman yang diberikan. Karena itu adalah tata krama menerima tamu."


"Maaf," kata Danish. Pria itu sadar karena mengeluarkan kata kata yang salah. Sinar hanya menganggukkan kepalanya karena dirinya tidak perlu memperpanjang hal itu.


"Rasanya jauh lebih enak dari keripik buatan kita ketika di rumah kakek Joni."


Ya ampun, Sinar sudah berusaha melupakan semua kenangan itu tapi mengapa kedatangan pria ini malah mengingatkannya. Apakah dia ingin menyiksa aku dengan mengingat semua kenangan itu sehingga aku tidak bisa melupakannya. Sinar menatap pria itu dengan jengkel. Sinar sebenarnya ingin mengusir pria itu tapi entah mengapa hatinya tidak rela. Dia hanya berharap seseorang menghubungi Danish supaya cepat pulang.


Tapi setelah beberapa bungkus keripik ubi itu berpindah ke dalam perut Danish. Tanda tanda pria itu untuk pamit belum juga ada. Sinar sengaja menunjukkan jika dirinya sedang mengantuk tapi itu juga tidak membuat Danish mengerti dan pamit pulang.


"Masih jam tujuh. Tidak apa apa kan kalau aku pulang jam sembilan."


"Apa?" tanya Sinar dengan cepat. Dia mengharapkan pria itu untuk secepatnya pergi dari rumah itu justru Danish meminta ijin kepada dirinya untuk pulang nanti jam sembilan. Menunggu dua jam lagi. Apa yang mereka bicarakan. Apa hanya berdiam seperti ini. Sinar merasa tidak mempunyai topik pembicaraan dengan pria itu.


"Kamu keberatan?" tanya Danish seperti merasa tidak bersalah.


Pertanyaan apa itu. Apakah dia tidak melihat jika Sinar sudah mengantuk?.


"Sebenarnya tidak keberatan. Hanya saja aku sudah mengantuk."


Sinar mengusir halus tamunya itu.


"Biasanya juga Kita tidur di atas jam sembilan. Apa kamu lupa?"


Sinar semakin kesal menatap pria itu.


"Dulu dan sekarang sangat berbeda. Suasana, tempatnya dan yang paling jelas berbeda yaitu kamu dan aku. Kamu sudah menjadi calon suami wanita lain. Tidak bagus berduaan dengan wanita yang bukan calon istrimu."


Sinar hanya berusaha mengingatkan status Danish saat ini. Dia tidak ingin pertemuannya dengan Danish hari ini menjadi bumerang bagi hubungan Danish dan Bintang. Dia sudah memutuskan mundur dari kehidupan Danish dan Bintang. Pantang baginya untuk masuk ke dalam kehidupan Danish untuk yang kedua kalinya.


"Kamu benar Sinar. Dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Dulu aku yang dibutakan oleh cinta sehingga rela melakukan hal apapun. Tapi aku sadar. Di dalam kegelapan diriku saat itu. Aku menemukan terang yang tidak akan aku lepaskan lagi."


"Semoga pernikahan mu nanti bahagia sampai kakek nenek Danish."


Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Sinar untuk menanggapi perkataan Danish yang menjadikan wanita yang beruntung mendapatkan dirinya. Sinar memang pernah sakit hati karena mendengar alasan Danish untuk menikah dirinya. Tapi hal itu tidak membuat Sinar menutup mata akan kebaikan dan sikap pria itu. Dia masih bersedia menemani Danish duduk di ruang tamu itu karena melihat dampak kebaikan Danish akan kampung terilosi kakek Joni. Berkat bantuan Danish. Jembatan ke desa itu sudah selesai dibangun dan bahkan sudah dipergunakan oleh warga. Kampung itu tidak lagi kampung terilosi karena masyarakat sudah bebas keluarga masuk perkampungan itu. Sinar tidak akan melupakan itu. Selain itu, Danish juga tidak pernah melihat status sosial diantara mereka berdua.


" Amin. Semoga juga pernikahan kamu nantinya bahagia Dan langgeng sampai kakek Nenek."

__ADS_1


Danish mengatakan doa yang sama kepada Sinar.


Sinar menundukkan kepalanya. Dalam hati, dirinya juga berdoa semoga apa yang dikatakan oleh Danish terkabulkan siapapun nanti yang menjadi jodoh bagi dirinya.


"Kamu tidak ingin bertanya siapa nantinya yang akan menjadi istriku?" tanya Danish membuat Sinar mengerutkan kening.


Untuk apa bertanya. Bukankah dirinya sudah mengetahui siapa yang menjadi wanita yang sangat dicintai oleh Danish. Siapa lagi bukan Bintang. Tidak mungkin orang lain kan. Ada saja si Danish ini membuat pertanyaan.


Sinar menggelengkan kepalanya. Dan Danish terlihat menatap wajah Sinar.


"Jadi benar, kamu tidak penasaran. Siapa yang akan menjadi istriku kelak?" tanya Danish lagi. Sinar kembali menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu tidak ingin tahu tentang diriku lagi?" tanya Danish dengan sendu. Sinar menganggukkan kepalanya.


"Mengapa?"


"Karena aku tidak berhak untuk mengetahui seperti apa dirimu saat ini dan saat yang akan datang."


"Itu artinya, kamu tidak perduli kepada ku."


"Kamu benar. Perduli dengan kehidupan mu hanya akan menyakiti wanita lain. Aku tidak tidak ingin menyakiti sesama wanita karena aku percaya karma tidak salah alamat," kata Sinar sangat yakin. Danish semakin menatap wajah wanita itu.


"Tapi aku masih sangat perduli kepada mu Sinar."


"Terima kasih kalau seperti itu Danish. Tapi mulai saat ini. Kamu boleh membuang rasa perduli kamu itu kepadaku."


"Bagaimana aku membuang rasa perduli ku itu jika wanita yang akan aku nikahi dua bulan lagi adalah dirimu. Kamu masih calon istriku dan dua bulan lagi kamu akan berganti status menjadi istriku."


Sinar terkejut luar biasa mendengar perkataan Danish. Dari tadi dirinya memikirkan tentang pernikahan Danish ternyata wanita nya adalah dirinya sendiri. Tapi hal itu tidak membuat Sinar merasa bahagia. Mungkin jika tidak ada rencana poligami dan Bintang diantara mereka. Sinar pasti akan merasa senang. Tapi kini situasinya sudah sangat berbeda. Danish bahkan sudah bertunangan dan yang terpenting dirinya sudah mengaku mundur dari kehidupan Danish dan mengaku kalah dari Bintang.


"Danish, seharusnya dengan aku melarikan diri dari rumah Kamu. Kamu tidak perlu mengharapkan aku lagi. Itu adalah jawaban penolakan ku atas segala rencana yang sudah ditetapkan. Jadi, fokuslah untuk hubungan kamu dengan Bintang. Karena sampai kapanpun. Aku tidak akan bersedia menikah dalam pernikahan poligami."


Entah sudah berapa kali, Sinar mengatakan hal itu kepada Danish. Meskipun sakit melepaskan pria yang pernah singgah di hatinya tapi bagi Sinar. Dirinya harus rela melepaskan pria tersebut. Cinta bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan dan Sinar sudah merasakan itu ketika dirinya mengetahui alasan Danish menikahi dirinya hanya karena balas budi.


Danish menundukkan kepalanya. Sebenarnya untuk menceritakan masalah antara dirinya dengan Bintang. Danish merasa malu kepada Sinar. Apalagi Sinar sudah mengetahui seperti apa dirinya mencintai Bintang dan pengorbanan apa yang sudah dia lakukan untuk wanita itu.


"Aku dan Bintang memang sangat saling mencintai. Tapi itu dulu. Bintang bisa saja mencintai aku. Tapi cintaku sudah memudar kepada dirinya. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.


Sinar memilih diam dan tidak bersedia untuk menanggapi perkataan Danish. Baginya, masalah Danish dan Bintang bukan urusan bagi dirinya. Meskipun dirinya penasaran mengapa bisa seperti itu. Sinar tidak akan bertanya akan hal itu kecuali Danish bersedia menceritakannya.


"Kamu layak disebut duta janji," kata Sinar sinis.


"Kamu mungkin tidak membaca tulisan yang aku letakkan di balik ponsel pemberian Nyonya Amalia. Hutang budi mu lunas karena aku sudah membawa kalung pemberian mu..Aku rasa itu cukup untuk memutus hubungan diantara kita," kata Sinar.


"Itu tidak sah."


"Sah," kata Sinar dengan cepat. Sebenarnya hatinya tercubit perih karena perkataan Danish yang mengatakan janji adalah harga mati. Bagi para kaum pria. Mungkin sikap Danish itu adalah sikap seorang ksatria tapi bagi Sinar tidak. Dia hanya ingin dinikahi karena dicintai, di hargai dan dibahagiakan nantinya. Dan terpenting tidak akan dihadirkan seorang madu bagi dirinya.


"Bagaimana aku mengatakan kepada dirimu. Bahwa antara aku dan Bintang tidak akan ada lagi pernikahan?" tanya Danish terdengar sedikit frustasi.


"Tidak perlu menjelaskannya Danish karena itu tidak penting bagiku," kata Sinar tenang.


Bagi Sinar. Bisa saja, Danish merasakan cintanya memudar bagi Bintang. Tapi bagaimana jika pria itu menemukan wanita lain Dan jatuh cinta kepada dirinya. Mengingat Danish setuju dengan rencana pernikahan poligami itu. Sinar berpikir jika di dalam diri Danish sudah mempunyai bibit bibit poligami. Pernikahan poligami itu bisa saja terjadi meskipun Danish dan Bintang tidak jadi menikah.


"Itu tidak penting bagiku tapi sangat penting bagiku."


"Jangan menolakku Sinar. Bagiku kamu masih calon istriku. Dan Pak Ilham, ibu Yanti juga kakek Joni merestui hubungan kita daripada kamu menikah dengan Roki," kata Danish lagi membuat Sinar mengingat nama Roki dan segala kejahatannya.


"Apa maksud kamu?" tanya Sinar tajam.


"Jangan menatap diriku dengan tajam seperti itu. Bola mata mu membesar dan menambah kecantikan ku membuat aku tidak ingin pulang. Apa aku menginap saja di rumah ini?"


Sinar semakin tidak mengerti melihat kekonyolan Danish sementara pria itu tersenyum.


"Seperti inilah diriku Sinar. Terkadang konyol. Kamu harus mengetahui sejak sekarang supaya kamu tidak terkejut nantinya setelah kita menikah."


"Aku tidak mau menikah dengan kamu."


"Kita lihat saja nanti," kata Danish sambil berdiri.


"Aku pulang. Tidur dan istirahat lah. Oya, jangan lupa makan," kata Danish. Dia mengulurkan tangannya hendak mengelus kepala Sinar tapi dengan cepat wanita itu menjauhkan kepalanya. Tadi ketika baru bertemu di kolam renang, pria itu seperti tidak mengenalnya tapi di rumah ini sudah sok akrab.


"Jangan pernah kabur lagi dari diriku. Karena banyak mata mata yang mengawasi pergerakan kamu sejak aku enam bulan yang lalu," kata Danish pelan. Pria itu menyunggingkan senyumnya dan akhirnya berlalu dari rumah itu. Sinar membuka tirai sedikit melihat pria itu yang berjalan ke arah mobilnya. Sinar melepaskan tirai itu dengan cepat karena dirinya ketahuan mengintip. Hal itu diketahui Sinar karena Danish tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Jadi dia pria itu yang membuat kita menjadi bertemu dan bersahabat?"

__ADS_1


Sinar memegang dadanya sambil membalikkan tubuhnya setelah mendengar suara Hana.


"Katanya baru kenalan ternyata calon suami," sindir Hana.


"Sindir, sindir terus sampai puas," kata Hana lagi. Hana terdengar tertawa sambil menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Eh, calon istri tidak boleh kesal seperti itu. Nanti auranya hilang," kata Hana lagi.


"Calon Istri apa. Aura apa. Aura kasih?" tanya Sinar terlihat galak tapi tidak cocok untuk wajahnya. Sinar terkejut karena mendengar suara mesin mobil Danish.


"Syukur lah, sudah pulang. Saat berbaring cantik dan istirahat," kata Sinar. Dia berkata seperti itu supaya Hana tidak bertanya apapun lagi kepada dirinya karena Sinar masih tidak ingin kisah antara dirinya dan Danish diketahui oleh orang lain termasuk sahabatnya itu sendiri.


"Yeah. Ciri ciri calon Istri yang baik ini. Suruh istirahat langsung istirahat," kata Hana. Hana mendengar semua pembicaraan antara Sinar dan Danish karena kedua orang itu berbicara seperti berdebat dan suara yang agak lumayan kencang. Mungkin para tetangga kiri kanan juga mendengarnya meskipun samar samar.


"Dasar tukang menguping," kata Sinar sambil meninggalkan Hana dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kuping untuk mendengar," teriak Hana kencang kemudian tertawa.


Di dalam kamar, Sinar tidak langsung tidur. Wanita itu masih memikirkan semua perkataan Danish. Jika benar apa yang dikatakan Danish, dirinya diawasi oleh mata mata suruhan Danish. Itu artinya segala gerak gerik diketahui oleh Danish. Sinar merasa dirinya sangat bodoh. Dia terlalu polos dan merasa dirinya tidak dicari oleh Danish. Ternyata pria itu melakukan lebih dari itu. Sinar percaya jika dirinya diawasi karena Danish bisa mengetahui alamat rumah ini.


Sinar semakin yakin dengan hal itu ketika ponselnya berdering dan ada pesan masuk.


"Kamu pasti memikirkan aku dan pertemuannya Kita."


Bunyi pesan masuk itu dari Danish dan Sinar sudah membacanya. Istirahat lah, jangan terlalu berpikir. Oya. Aku minta dibuatkan keripik ubi yang rasa asin ya."


"Darimana lagi dia mendapatkan nomor ponsel ku," kata Sinar pelan. Bukan hanya mendapatkan nomor ponsel. Pria itu meminta Sinar membuat keripik ubi rasa asin. Seakan tidak ada masalah diantara mereka selama ini.


Baru saja, Sinar hendak meletakkan ponsel itu. Panggilan video masuk dengan nomor yang sama yang mengirimi dirinya sebuah pesan. Mau tidak mau. Sinar menggeser tombol warna hijau itu dan terlihat lah wajah Danish di layar ponsel itu.


"Aku sudah tiba di rumah. Sebagai calon suami yang baik aku harus selalu memberi kabar kepada calon istriku," kata Danish. Sinar mengenali latar belakang video itu di adalah di depan rumah Danish.


"Ah terserah kamu lah Danish. Pusing aku," jawab Sinar. Danish terkekeh di seberang.


"Selamat tidur calon istriku. Mari kita berdoa biar secepatnya bisa tidur bersama."


Sinar tidak mau mendengar perkataan Danish yang semakin aneh di telinganya. Wanita itu langsung menutup panggilan tanpa menginformasi kepada Danish.


"Ya ampun. Sejak kapan kamu seperti ini Danish. Apa selama enam bulan ini kamu pernah mengalami kecelakaan sehingga otak kamu sedikit bergeser?" tanya Sinar kepada yang di hadapan. Sinar menggelengkan kepalanya mengingat semua tingkah aneh selama mereka berbicara satu hari ini.


Sebagai manusia biasa. Bohong jika Sinar tidak ingin tahu tentang perkembangan hubungan Danish dan Bintang saat ini apalagi Danish menegaskan bahwa antera mereka berdua tidak akan ada lagi pernikahan. Sinar merasa penasaran mengapa bisa seperti itu apalagi Danish dan Bintang adalah pasangan restu seperti yang dikatakan wanita itu.


Tapi bukan hanya itu yang dipikirkan oleh Sinar. Dia juga memikirkan tentang kesehatannya nyonya Amalia yang diceritakan oleh Danish lagi.


"Semoga kamu cepat sembuh Nyonya," kata Sinar dalam hati.


Lalu bagaimana dengan Tuan Santosh. Sinar pun akhirnya mengingat pria itu dan segala penghinaannya. Apakah dia mengetahui jika diantara Danish dan Bintang tidak akan pernah terjadi pernikahannya.


Sinar berputar putar di ranjang itu karena memikirkan pertemuannya dengan Danish. Memikirkan kesehatan nyonya Amalia dan Tuan Santosh.


Sinar merasa dirinya sangat bodoh karena memikirkan Danish dan keluarganya. Seharusnya dia tidur sekarang supaya ada tenaga untuk besok mengolah ubi menjadi keripik yang enak. Sinar berusaha memejamkan matanya tapi tetap juga tidak bisa tidur. Sinar akhirnya keluar dari kamarnya.


"Biasanya kalau tidak bisa tidur setelah bertemu seperti itu. Itu artinya kamu sekarang berbunga bunga."


Sinar disambut dengan kata kata Hana yang yang terdengar tidak enak di telinga Sinar.


"Sok tahu kami," kata Sinar sambil menggosok telinga dengan tangan kanannya dan duduk di sebelah Hana.


"Yeah. Sesekali percaya dengan perkataan kakak kamu ini. Kenapa Sinar?" kata Hana.


"Kata kata mu tidak bermutu makanya tidak layak dipercaya."


"Kamu tidak percaya dengan yang aku katakan?"


"Aku tidak percaya karena saat ini aku yang mengalaminya. Tidak ada hati yang berbunga bunga," jawab Sinar.


"Mungkin karena kamu belum menyadarinya."


"Sok tahu."


"Sinar, jika pria itu sampai mengawasi kamu. Itu artinya karena dia sangat mencintai dan tidak ingin kehilangan kamu," kata Hana. Sinar menggelengkan kepalanya.


Sinar boleh menolak kata kata Hana itu lewat mulutnya. Tapi hatinya diliputi oleh pertanyaan.


"Jika Danish mengakui dirinya mencintai aku. Apakah aku bersedia menikah dengan pria itu?" tanya Sinar pada hatinya.

__ADS_1


__ADS_2