Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 10 ~ Sangat Tajam


__ADS_3

Shanum kembali duduk di kursi kerjanya. Dia urung pergi ke kamar mandi yang tadinya ingin menenangkan hatinya yang sedang sakit karena ucapan Nabil. Entah kenapa Shanum jadi malas bekerja hari ini. apalagi berada dalam satu ruangan dengan orang yang telah menyakiti perasaannya.


Sudah menjadi kebiasaan Shanum jika hatinya sedang tidak baik-baik saja, dia akan malas melakukan apapun. Berdiam diri di dalam kamar adalah cara yang sering ia lakukan untuk menenangkan hatinya. Meskipun sebelumnya Shanum tidak pernah mengalami hal seperti ini. hanya saja dulu saat ia mempunyai masalah dalam pekerjaannya, dimana namanya ikut terseret dalam kasus yang dibuat temannya hingga menyebabkan sang Ayah memaksanya untuk berhenti menjadi model. Dan selama itu Shanum selalu menyendiri di dalam kamar.


Karena tidak tahan dalam situasi seperti sekarang ini, akhirnya Shanum nekat berbicara dengan Nabil untuk meminta ijin pulang lebih dulu.


“Tuan, bisakah hari ini saya ijin pulang lebih dulu?” tanya Shanum yang sudah berdiri di depan meja kerja Nabil.


Shanum menundukkan kepalanya demi menghindari tatapan Nabil sekaligus menyembunyikan kesedihannya.


“Jangan kamu kira akan mudah pulang pergi seperti yang kamu inginkan meskipun kamu masih sepupuku. Aku tidak akan mengijinkan.” Jawab Nabil dengan suara datar.


Shanum mundur pelan-pelan. Dia sebenarnya sudah tahu kalau jawaban Nabil akan seperti ini. lalu bagaimana sekarang. dia tidak bisa bertahan seperti ini. semangatnya bekerja sudah hilang begitu saja.


Tak tahan dengan kekesalan hatinya, air mata Shanum akhirnya tumpah begitu saja. ia duduk dengan posisi agak miring sembari mengusap air matanya.


Sedangkan Nabil yang juga tidak fokus dengan pekerjaannya tapi tatapannya sejak tadi tertuju pada layar laptop di depannya, samar-samar ia mendengar isakan kecil orang sedang menangis. Lalu ia menatap ke meja Shanum dimana tampak perempuan itu sedang tertunduk sambil mengusap air mata dan ingusnya yang keluar bersamaan.


“Begitu saja kamu sudah menangis? Dasar cengeng! Bagaimana kamu bisa belajar bisnis kalau mental kamu lembek seperti itu?” Ucap Nabil yang kini sudah berdiri tepat di depan meja kerja Shanum.

__ADS_1


Shanum mendongakkan kepalanya. Hatinya semakin sakit tapi sayangnya ia tidak bisa marah pada sosok pria yang mungkin sudah menjadi cinta pertamanya.


“Maaf, Tuan. Anda mengijinkan atau tidak, saya ijin pulang.” ucap Shanum dengan mata sembabnya lalu ia meraih tasnya dan pergi keluar dari ruangan Nabil.


Nabil sungguh terkejut melihat mata sembab Shanum. Seketika itu ia merasa sangat bersalah karena ucapannya tadi telah menyakiti Shanum. Tapi sayangnya dia tidak bisa menahan ataupun mengejar Shanum karena dua puluh menit lagi dia ada meeting.


“Sialll!” umpat Nabil sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Andai saja sebentar lagi tidak ada meeting penting atau meetingnya bisa diwakilkan, sudah dipastikan kalau saat ini juga ia akan pulang menyusul Shanum.


Nabil mendadak bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa semenjak kehadiran Shanum hidupnya seperti ini. selain ia tidak memiliki ruang gerak yang bebas, Nabil juga merasa kalau hati dan pikirannya mulai terisi dengan nama Shanum.


***


Sementara itu Shanum saat ini sudah berada di rumah. dua puluh menit yang lalu ia baru saja sampai rumah setelah sebuah taksi mengantarnya.


Shanum sejak tadi belum juga melepas baju kerjanya. Perempuan itu masih menutup wajahnya dengan bantal lalu menuangkan segala kesedihannya dengan menangis tersedu. Shanum sedikit banyak tahu sifat Nabil kalau berbicara agak kasar. Padahal kalau dilihat dari mimik wajahnya, pria itu terlihat sangat ramah dan murah senyum. Apalagi ucapan Nabil yang menyebutnya murahan tadi. kenapa Nabil sampai tega bicara seperti itu.


Lelah menangis dengan menutup wajahnya dengan bantal, akhirnya mata Shanum terpejam juga. hingga saat waktu menunjukkan pukul tujuh malam ia baru terbangun.

__ADS_1


“Hah?? Aku tidur selama itu.” gumamnya sambil melihat jam dinding.


Perasaan Shanum sudah lebih baik. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perutnya juga sudah lapar. Mungkin setelah ini akan pergi keluar untuk mencari makan sekaligus berbelanja bahan makanan, karena selama ini ia belum pernah memasak sama sekali.


Selesai mandi Shanum bersiap untuk pergi. Namun tiba-tiba saja terdengar deringan ponselnya yang berada di dalam tas kerjanya. Ternyata yang menghubunginya adalah Kevin. Pria itu mengajak Shanum jalan seperti yang diucapkan tadi siang saat sedang di pantry. Shanum menyetujui ajakan Kevin. Bahkan pria itu dengan senang hati akan menjemputnya.


Shanum dan Kevin sepakat untuk pergi makan malam. Kevin akan mengajak Shanum pergi ke sebuah restaurant yang cukup hits di kota ini. keduanya tampak akrab selama perjalanan. Shanum juga merasa nyaman bisa berteman dengan Kevin.


Beberapa saat kemudian Shanum dan Kevin sudah sampai restaurant. Mereka berdua memilih tempat duduk di tempat terbuka karena akan membuat Shanum nyaman.


Kini Shanum dan Kevin tampak berbincang-bincang sembari menunggu pesanan makanan mereka datang. saat tengah asyik ngobrol dengan Kevin, tanpa sengaja mata Shanum melihat sosok pria yang telah membuat hatinya sakit hari ini. bahkan tatapan mata pria itu sangat tajam.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2