
Kini Nabil dan Nabila sedang berada di sebuah taman tepi danau. Taman dimana mereka berdua sering pergi ke sana dulu jika salah satunya sedang ingin menceritakan masalahnya. Terutama Nabila. Namun sekarang, Nabil lah yang ingin menceritakan masalahnya pada adiknya.
“Kapan kamu akan bertunangan dengan cewek jadi-jadian itu?” tanya Nabila membuka obrolan.
“Ck, kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak bisa menolak keinginan Papa.” Keluh Nabil mengingat ucapan Papanya tadi.
“Ya sudah, terserah kamu saja. semua keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu tidak ingin melihat Papa dan Mama sedih, ya terima saja untuk bertunangan dengan ikan Nila itu. Lagi pula kamu juga tidak pernah mengenal yang namanya cinta. Buat apa kamu bingung seperti itu.”
Nabil terdiam. Memang benar yang dikatakan oleh saudara kembarnya itu. tapi bukan itu masalahnya. Bisa saja ia menikah dengan Nila. Mungkin dengan perjanjian atau hanya sebatas status saja. lagipula Nila juga pasti tidak akan keberatan. Tapi masalahnya ada sesuatu yang mengganjal di hati Nabil saat ini. kenapa dia tidak bisa sama sekali menghilangkan nama Shanum.
“Memangnya cinta itu seperti apa, Bil?” tanya Nabil tiba-tiba.
Sontak saja Nabila tergelak mendengar pertanyaan kakaknya. Karena selama ini yang ia tahu kalau Nabil selalu menginginkan kebebasan dan tidak pernah sedikitpun mengenal yang namanya cinta. Namun, mendengar pertanyaan kakaknya, Nabila seperti bisa menyimpulkan kalau Nabil sedang jatuh cinta, hanya saja pria itu sulit mengutarakan isi hatinya.
“Cinta itu sama halnya seperti yang kamu rasakan pada Papa dan Mama. apa kamu tega menyakiti mereka? Apa kamu tega meninggalkan mereka? Lalu, apa kamu mau berpisah dengan mereka?” tanya Nabila dan dijawab Nabil dnegan gelengan kepala.
“Nah, seperti itu lah cinta. Apalagi cinta dengan lawan jenis. Sampai kapanpun kita tidak akan tega melepasnya, atau bahkan melihat dia didekati orang lain saja rasanya sangat sakit. Selalu ada namanya di setiap sudut hati kita dan pikiran kita.” Lanjut Nabila menggambarkan perasaannya seperti dulu pada calon suaminya.
Nabil terdiam meresapi setiap ucapan yang keluar dari mulut adiknya. Mungkinkah selama ini dia juga telah mencintai Shanum. Bahkan setelah kepergian wanita itu, Nabil benar-benar merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Terlalu bodohkah dirinya selama ini yang tidak pernah peka dengan perasaan Shanum. Sampai-sampai Shanum berani merendahkan dirinya dengan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. kalaupun dia tidak mencintai Shanum atau tidak bia membalas perasaannya, harusnya dia tidak setega itu membuat Shanum sakit hati.
“Apa kamu sedang jatuh cinta pada seseorang?” tanya Nabila setelah melihat kakaknya cukup lama terdiam.
__ADS_1
“Entahlah!” jawab Nabil dengan segala kegelisahannya.
Nabila tidak bisa memaksa kakaknya untuk bicara lagi mengenai isi hatinya. Mungkin Nabil memang sedang butuh waktu untuk sendiri dan merenung. Tapi melihat raut wajah Nabil yang berbeda dari sebelumnya, Nabila sepertinya tahu kalau kakaknya memang sedang jatuh cinta.
Tak lama kemudian dua bersaudara itu memutuskan untuk kembali lagi ke kantor. Nabil sendiri belum bisa memutuskan apakah memang dia jatuh cinta pada Shanum. Tapi mengingat luka yang pernah ia torehkan pada wanita itu, Nabil tidak yakin kalau Shanum masih menyimpan perasaan cintanya.
***
Sementara itu Shanum menikmati hari-harinya dengan baik di tempat tinggalnya yang baru. Kebetulan dia juga sudah mendapat job pemotretan dari salah satu agensi yang baru ia naungi. Karena masih awal, jadwal pemotretan Shanum untuk iklan produk kecantikan tidak terlalu padat. pihak perusahaan yang memakai jasa Shanum juga masih menilai hasil kerja Shanum.
Hari ini Shanum baru saja menyelesaikan pemotretan untuk iklan skincare terbaru. Dia memutuskan langsung pulang karena badannya sudah lelah dan ingin istirahat.
Sesampainya di rumah, Shanum mencari keberadaan Bi Asih untuk dibuatkan jus mangga muda. Minuman yang akhir-akhir ini menjadi minuman favorit Shanum.
Bi Asih hanya mengangguk patuh. Wanita paruh baya itu sebenarnya heran dengan keinginan majikannya akhir-akhir ini. tapi dia juga tidak bisa menolak perintahnya.
“Non Shanum ini seperti orang yang sedang ngidam saja.” gumam Bi Asih. Namun setelah itu dia menutup mulutnya rapat karena sadar dengan ucapannya yang salah.
Sementara itu Shanum yang sedang di dalam kamar, dia sudah berganti pakaian dan mencuci mukanya.
Semenjak Shanum kembali menjalani rutinitasnya menjadi model, dia perlahan bisa melupakan sosk pria yang sudah melukai hatinya. Walau hanya sedikit, tapi dengan pekerjaan barunya itu hati Shanum jauh lebih tenang dari sebelumnya. Apalagi dia sudah memiliki banyak teman dari agensi yang ia naungi.
__ADS_1
Tok tok tok
Shanum segera membukakan pintu kamarnya saat Bi Asih datang membawakan jus mangga sesuai permintaannya. Namun, saat Bi Asih baru saja hendak memberikan minuman itu, tiba-tiba saja perut Shanum terasa mual-mual. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Bi Asih ikut panik. Wanita itu ikut masuk ke kamar mandi menolong Shanum yang terus memuntahkan isi perutnya.
“Non kenapa? Apa salah makan sesuatu?” tanya Bi Asih dengan cemas.
Shanum hanya menggeleng lemah sembari mengusap bibirnya. setelah itu ia keluar dari kamar mandi dengan bantuan Bi Asih tentunya.
“Kepalaku pusing sekali, Bi. Mana jus pesananku?”
“Non jangan minum jus ini dulu, karena rasanya sangat masam dan Non baru saja muntah. Nanti lambung Non malah bermasalah.” Ujar Bi Asih memberi nasehat.
“Ya sudah, Bi Asih buatkan aku teh hangat saja.” jawab Shanum lalu ia merebahkan tubuhnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️