
Baik Rosma maupun Bagas sangat terkejut saat mendengar kalau saat ini Shanum sedang dirawat di rumah sakit. Pasalnya tadi pagi mereka berdua melihat keadaan Shanum baik-baik saja. dan malam itu juga akhirnya dua pasang suami istri itu segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Shanum.
Sesampainya di rumah sakit, Barra segera menuju ruangan dimana saat ini Shanum dirawat. Di depan ruang rawat Shanum terlihat Nabil yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Carissa merasa iba melihat anak laki-lakinya yang sedang bersedih.
“Bil!” Panggil Barra seketika Nabil mendongak.
“Papa, Mama!” Sahut Nabil lalu melihat kedua orang tua Shanum juga berada di sana.
Nabil mengangguk hormat pada Bagas dan Rosma. Setelah itu dia meminta maaf karena telah menyebabkan keadaan Shanum seperti sekarang ini.
“Sudah, Om dan Tante sudah memaafkan kamu. Sekarang tunjukkan kesungguhan kamu untuk menebus kesalahan itu pada Shanum.” Ucap Bagas dengan bijak.
Nabil mengangguk. Ada rasa lega dalam hatinya setelah mendapatkan maaf dari kedua orang tua Shanum sekaligus kesempatan untuk menebus kesalahannya. Setelah itu Nabil mempersilakan kedua orang tua Shanum dan juga orang tuanya untuk masuk melihat keadaan Shanum. Sedangkan dirinya masih memilih di luar saja. takut Shanum akan kembali marah padanya.
**
“Ayah, Bunda?” Ucap Shanum terkejut saat melihat kedua orang tuanya datang.
Shanum juga melihat ada kedua orang tua Nabil di sana. Itu tandanya Nabil lah yang memebritahu tentang keadaannya saat ini. tapi beruntung pria itu sudah tidak menampakkan wajahnya lagi setelah tadi siang sempat ia usir.
“Bagaimana keadaan kamu, Sayang?” tanya Rosma mendekati brankar anaknya.
“Shanum sudah lebih baik, Bunda.” Jawabnya sedikit canggung karena ada Barra dan Carissa di sana.
__ADS_1
Tak lama kemudian Barra dan Carissa juga mendekati brankar Shanum. Kedua orang paruh baya itu juga menanyakan keadaan Shanum. Apalagi tahu kalau Shanum saat ini sedang hamil. Tentunya jika Shanum setuju menikah dengan Nabil, anak dalam kandungan Shanum itu adalah cucunya.
Rosma beranjak dari duduknya. Dia memberikan kesempatan untuk Carissa bicara dari ke hati dengan Shanum.
“Shanum, kamu juga boleh membenci Tante dan juga Om karena perbuatan anak Tante pada kamu. Tapi sebenarnya Tante tidak berharap seperti itu.” ucap Carissa menjeda kalimatnya lalu menatap lembut mata Shanum.
“Tante juga tidak membenarkan perbuatan Nabil pada kamu. Om dan Tante tidak menyangka kalau Nabil telah melukai kamu sedalam itu. maafkan anak Tante, Shanum! Tolong beri Nabil kesempatan untuk menebus kesalahannya.” Carissa tak kuat menahan tangisnya.
Wanita itu juga serba salah. Dia tentu bisa merasakan sakit yang dirasakan Shanum saat ini. tapi sebagai seorang ibu, dia juga tidak tega melihat anaknya yang telah berjuang untuk meminta maaf pada Shanum.
Shanum juga ikut menitikan air matanya. dia tidak bisa berkata-kata lagi. jujur saja rasa sakit akibat ulah Nabil masih membekas di hatinya. Bahkan rasa cinta yang dulu sempat ada kini seolah tertutupi oleh rasa benci.
Barra menarik pelan tangan istrinya saat melihat Shanum tak menunjukkan reaksi apapun. Apalagi saat ini keadaan Shanum baru saja membaik. Dia tidak ingin membuat Shanum teertekan akibat kedatangannya.
Barra mengajak istrinya keluar. Membiarkan Shanum untuk beristirahat. Sedangkan kedua orang tua Shanum masih berada di sana menemani Shanum.
Sedangkan malam ini Bagas dan Rosma yang menemani Shanum di rumah sakit. Pembantu yang sejak tadi menunggui Shanum sudah diperbolehkan pulang ke villa. Mungkin setelah ini Bagas akan mengajak Shanum pulang ke rumah. lagi pula Nabil sudah mengetahui keberadaannya.
“Tidurlah, Sayang! Bunda tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon cucu Bunda.” Ucap Rosma sambil mengusap lengan Shanum.
Shanum hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Dia juga belum ingin bicara apapun pada Bunda dan Ayahnya. Jujur saja dia masih butuh waktu untuk menjawab ucapan Carissa tadi.
***
__ADS_1
Sementara itu Nabil yang baru saja sampai penginapan, dia juga mengajak kedua orang tuanya tinggal di sana, dengan memesan satu kamar lagi. Nabil membiarkan kedua orang tuanya untuk istirahat karena pastinya sangat lelah setelah perjalanan panjang.
Nabil keluar kamar untuk mencari udara segar. Kebetulan Andra juga ingin bertemu dengannya setelah diberitahu pembantunya kalau Shanum sedang dirawat di rumah sakit.
“Bagaimana keadaan Shanum?” tanya Andra khawatir.
“Kenapa kamu sangat mengkhawatirkan Shanum? Sudah aku katakan bukan, kalau jangan sekali-kali kamu berharap lebih pada Shanum. Dia milikku.” Jawab Nabil dengan nada ketus.
“Ck, aku bertanya bukan berarti aku naksir dia. Tapi aku masih punya rasa empati. Tidak seperti kamu yang setelah mencampakkannya baru mengklaim dia milikmu.” Andra benar-benar muak menghadapi sikap labil Nabil.
Nabil membuang nafasnya kasar. Dia membenarkan ucapan Andra kalau dulu sempat mengabaikan Shanum. Atau lebih tepatnya mencampakkan wanita itu setelah apa yang sudah diperbuatnya.
“Keadaannya sudah membaik. Tapi dia masih belum ingin bertemu denganku.” Jawab Nabil akhirnya.
“Teruslah berjuang dan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Shanum. Maaf, hanya semangat yang bisa aku berikan padamu.” Ucap Andra dengan tulus.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!