Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 7 ~ Memikirkan Shanum


__ADS_3

Nabil buru-buru mendorong tubuh Laura saat wanita itu hendak mengalungkan tangannya pada lehernya. Selain ia sudah memutuskan hubungannya dengan Laura semalam, Nabil juga sadar kalau di ruangannya ada Shanum yang bisa dipastikan melihat Laura menciumnya. Tapi tunggu dulu, kenapa dia memikirkan Shanum.


“Kenapa sih, Bil?” tanya Laura dengan kesal.


“Bukannya semalam aku sudah mengatakan kalau kencan kita sudah selesai? jadi untuk apa kamu kesini lagi?” jawab Nabil dengan suara datar.


“Tapi aku nggak ingin kencan kita berakhir. Aku tahu kamu pasti sangat merindukan sentuhanku, bukan?” ucap Laura dengan percaya diri.


“Cukup Laura! Berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak suka terikat hubungan dengan siapapun. Jangan berharap lebih padaku.” sentak Nabil tanpa peduli Shanum yang pasti mendengarnya.


Laura sangat kesal mendengar bentakan Nabil. Lalu tanpa sengaja ia melihat ada sosok perempuan sedang duduk tak jauh dari Nabil.


“Siapa wanita itu, Bil?” tanya Laura penasaran.


“Bukan urusan kamu. Lebih baik kamu segera keluar dari sini dan jangan lagi datang ke kantorku.” Lagi-lagi Nabil berbicara dengan suara datar.


Laura hanya mendengus kesal. Tapi dia tidak pantang menyerah. Baginya dekat dengan Nabil sudah menjadi keberuntungan baginya. Karena belum tentu kebanyakan wanita di luaran sana bisa dekat Nabil. Akhirnya dia memilih keluar dari ruangan Nabil dan akan mencari cara lain bagaimana agar bisa dekat lagi dengan pria tampan itu.


“Baiklah. Jaga diri kamu baik-baik. Aku pasti sangat merindukan kamu.” Pamit Laura dengan nada sok peduli.


Laura keluar dari ruangan Nabil sambil melirik Shanum yang menurutnya lebih cantik dari dirinya. Ada rasa takut dalam diri Laura kalau Shanum mempunyai hubungan special dengan Nabil.


Setelah Laura keluar dari ruangan Nabil, Shanum kembali melanjutkan pekerjaannya. Walau sejak tadi di mata Nabil dia tetap sibuk dengan dokumen di tangannya. tapi percayalah kalau saat ini hati Shanum mendadak sakit saat melihat ada wanita mencium bibir Nabil.


Shanum mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya yang baru saja terdengar vibrasinya.


“Jangan sekali-kali melaporkan kejadian tadi pada Papa!” Ucap Nabil membuat Shanum terkejut saat hendak mengambil ponselnya.

__ADS_1


“Sampai aku dengar Papa memarahiku dan mendapat laporan dari kamu, aku tidak segan-segan membuat hidupmu tidak nyaman.” Peringat Nabil sekali lagi.


“Tidak, Tuan. Anda tenang saja. saya tidak akan melakukan hal itu.” jawab Shanum dengan sopan.


Nabil hanya mendengus kesal. Ia segera keluar dari ruangannya dan meninggalkan Shanum seorang diri. Hari ini mood Nabil benar-benar berantakan setelah kedatangan Laura. Padahal pada siapapun wanita yang dekat dengannya, Nabil tidak pernah sekalipun membentak Laura seperti tadi. biasanya ia cukup mengatakannya dengan alasan sibuk, pasti Laura akan mengerti sendiri. Tapi entah kenapa hari ini hatinya tidak baik-baik saja.


***


Seharian ini Shanum bekerja cukup santai. Dia masih mempelajari dokumen yang diberikan oleh atasannya tadi. tapi berhubung si pemilik ruangan tidak kembali lagi, jadi Shanum bisa bernafas dengan lega.


Tepat jam pulang kantor tiba, Shanum segera membereskan pekerjaannya. Tak lupa ia juga membereskan meja kerja Nabil sebelum ia pulang.


Shanum keluar dari ruangan CEO berpapasan dengan seorang pria yang menghuni ruangan di sebelah ruangan Nabil. Dia hanya mengangguk sopan tanpa berani menyapa atau bertanya apapun.


“Nona siapa?” tanya pria yang usianya kisaran dua puluh enam tahun itu.


“Saya asisten baru Tuan Nabil.” Jawab Shanum.


Kevin tampak mengerutkan keningnya. Untuk apa atasannya itu harus memakai seorang asisten. Apalagi wanita cantik seperti Shanum. Bahkan ruangannya berada di dalam ruangan CEO. Pikiran buruk Kevin tentang Shanum pun tiba-tiba muncul.


“Saya asisten sekaligus sepupu Tuan Nabil. Jadi saya direkrut sebagai asisten sekaligus belajar mengenai bisnis.” Lanjut Shanum seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Kevin.


Kevin lega mendengarnya. Kalau Shanum sepupu atasannya, berarti dia tidak sepatutnya mencurigai Shanum.


“Perkenalkan, saya Kevin. Sekretaris Tuan Nabil.” Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya pada Shanum.


“Shanum.” Jawab Shanum membalas uluran tangan Kevin.

__ADS_1


Setelah itu Shanum dan Kevin turun ke lantai dasar bersamaan. Kevin cukup banyak bicara dengan Shanum. Sedangkan Shanum sendiri tampak biasa saja. dia juga merasa lega karena sudah mendapatkan teman baru. Setidaknya dia tidak kesepian jika berada di kantor, karena posisi jabatan Shanum tidak memungkinkan untuk berbaur dengan karyawan lainnya.


“Kamu tinggal dimana, Num?” tanya Kevin setelah keduanya sampai lobby.


“Oh, aku tinggal di dekat sini kok. Ya sudah, aku duluan ya?” pamit Shanum sebelum Kevin bertanya hal lainnya.


Shanum akan pulang menaiki taksi. Karena tidak mungkin dia pulang bersama Nabil, sedangkan Nabil sendiri sejak tadi entah pergi kemana.


Saat Shanum hendak menuju halte, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Ia pun berlari agar lebih cepat sampai halte sebelum bajunya basah kuyup.


“Baru saja kerja, sudah apes begini.” Gumam Shanum saat sudah sampai halte yang cukup sepi di saat hujan semakin deras menerjang.


Tin tin


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Lalu si pengemudi mobil itu membuka kaca jendelanya.


“Cepat masuklah!”


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2