Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 26 ~ Jadi Obat Nyamuk


__ADS_3

Kedua orang tua Shanum tidak bisa berlama-lama singgah. Keesokan harinya mereka berdua ssudah harus pulang karena Bagas ada meeting penting dengan kliennya. Shanum cukup senang dengan kedatangan orang tuanya, walau hanya sebentar.


“Nanti sesampainya di rumah, Ayah akan langsung menyuruh orang untuk mengantar mobil kamu. Biar kamu bisa bepergian kemana-mana.” Ucap Bagas pada Shanum.


Memang selama seminggu ini Shanum belum pergi kemana-mana. Dia berbohong pada kedua orang tuanya dengan mengatakan sering jalan-jalan. Karena Shanum sedang membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan hatinya.


“Terserah Ayah saja. padahal Shanum juga bisa minta diantar oleh Pak Dirman jika mau pergi kemana-mana.” Ujar Shanum pasrah.


“Sudah, nggak apa-apa. Nanti biar Ayah minta orang untuk mengantarnya kesini. Ya sudah, Bunda dan Ayah pulang dulu. Kalau ada apa-apa kabari kami. Kamu jaga kesehatan dan jangan sering begadang!” sahut Rosma dengan segala kecerewetannya.


Shanum menganggukkan kepala, setelah itu mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim. Tak lupa memeluknya secara berhantian sebagai tanda perpisahan.


Pagi itu setelah kedua orang tuanya pulang, Shanum kembali masuk ke rumah. tanpa sengaja ia berpapasan dengan Bi Asih yang sedang menentang tas kosong seperti hendak pergi ke pasar.


“Bibi mau kemana?” tanya Shanum.


“Bibi mau belanja sayur, Non. Kebetulan stok sayuran di rumah menipis.”: jawab wanita paruh baya itu.


“Sekalian dong Bi nanti beliin Shanum buah mangga. Yang masih muda saja. sepertinya sangat segar jika dinikmati siang-siang nanti.” pesan Shanum pada Bi Asih.


“Iya, Non. Semoga saja ada. Karena kalau belum musimnya agak susah.”


“Usahain dong, Bi!” pinta shanum dengan wajah memelas.

__ADS_1


Bi Asih akhirnya mengiyakan permintaan Shanum. Lagi pula aneh sekali keinginan majikannya itu. mau makan mangga tapi yang muda. Memangnya ada orang jualan mangga yang masih muda. Kebanyakan yang dijual sudah masak pohon.


***


Sementara itu saat ini Nabil sedang duduk di kursi kerjanya. Sudah seminggu ini dia kembali ke kantor pusat dan menduduki posisi wakil Papanya.


Hari-hari Nabil setelah kembali ke rumah orang tuanya benar-benar sangat membosankan. Apalagi dia sudah tidak bisa berkumpul dengan teman-temannya. Tapi bukan itu sebenarnya penyebab utama yang membuat hari-hari Nabil membosankan. Dia merasakan ada sesuatu yang tertinggal di rumahnya terdahulu. Entah itu apa. Rasanya Nabil ingin kembali lagi ke rumahnya yang saat ini ditempati oleh sepupunya. Tapi kalaupun dia kembali ke sana, dia juga bingung mau menemui siapa. Lagipula seseorang yang beberapa waktu yang lalu sempat singgah, kini sudah hilang entah kemana tanpa ada kabar sedikitpun.


Ya, sampai saat ini Nabil masih penasaran kemana sebenarnya Shanum pergi. Padahal bisa saja ia mencari informasi tentang keberadaan Shanum. Bisa melalui Papanya atau Naya, sepupunya. Tapi Nabil masih bimbang. Dia belum siap dan tidak tahu memakai alasan ap ajika ditanya kenapa mencari Shanum.


Sekelebat bayangan wajah Shanum melintas di otak Nabil. Bayangan wajah Shanum yang sedang menangis saat terakhir kalinya mereka bertemu. Lalu bayangan wajah Shanum yang kecewa setelah Nabil merenggut mahkotanya.


Argghhh!!!


Cklek


Tiba-tiba saja pintu ruangan Nabil terbuka. Di sana muncul sepasang suami istri yng sedang berdiri tepat di depan Nabil dengan tangan saling bertaut. Nabil hanya melirik malas pada sosok wanita yang mempunyai wajah mirip dengannya. Menurutnya Nabila, saudara kembarnya itu sangat lebay karena sering sekali memamerkan kemesraannya.


“Makan siang bareng yuk, Bil!” Ajak Nabila pada kakaknya.


“Ogah. Mau jadi obat nyamuk kalian berdua? Ingat, Bila! Aku ini kakak kamu. Nggak ada hormat-hormatnya sama kakak sendiri.” Tolak Nabil sekaligus memprotes saudara kembarnya yang selalu memanggilnya dengan menyebut nama saja.


“Biarin saja, lagi pula kita lahirnya hanya selisih beberapa menit saja. ya sudah, yakin nih nggak mau makan siang bareng?” tawar Nabila sekali lagi.

__ADS_1


Sementara Jo, suami Nabila hanya tersenyum samar melihat kedekatan istrinya dengan Nabil.


“Sana-sana pergi! Kalian makan siang berdua saja.” Tolak Nabil.


“Ya sudah. Tadi aku juga lihat Om Dedy datang dengan siapa itu anak kesayangannya? Ah iya, Nila. Sepertinya mereka akan makan siang bersama. Ya sudah, siap-siap saja kamu menikmati makan siang bersama calon istri dan calon mertua kamu. Yuk, Sayang!” ucap Nabila dan bergegas menggandeng tangan suaminya keluar dari ruangan Nabil.


“Tunggu beberapa menit lagi! aku bereskan sebentar pekerjaanku.” Ucap Nabil mencegah langkah Nabila dan Jo.


Nabila pastinya sudah tahu kalau Nabil akan ikut makan siang bersamanya demi menghindari Nila yang kedengarannya akan dijodohkan dengan saudara kembarnya itu. begitu juga dengan Nabil yang sudah tahu rencana Papanya sejak awal, ia lebih memilih menghindar saja. karena memang untuk saat ini Nabil belum ingin memikirkan tentang suatu hubungan. Apalagi dipaksa untuk menikah dalam waktu yang cukup singkat.


Nabil segera keluar dari ruangannya sebelum Papanya datang. setelah itu ia segera menyusul Nabila dan Jo yang sedang menunggu di basement.


“Nabil! Kamu mau kemana?” Ucap seseorang dan berhasil menghentikan laangkah Nabil.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2