Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 8 ~ Membayangkan


__ADS_3

Shanum tidak menyangka kalau yang berhenti di depanya adalah mobil Nabil. Selain hujan yang semakin deras dan suasana sangat sepi, mau tak mau akhirnya Shanum menerima tawaran Nabil untuk ikut pulang bersamanya.


Shanum berlari menuju mobil Nabil. Meskipun jaraknya dekat, namun hujan yang sangat deras tetap membuat baju Shanum basah.


“Terima kasih, Kak.” Ucap Shanum setelah duduk tepat di samping Nabil.


Nabil sama sekali tidak menjawab. Dia segera mengemudikan mobilnya pulang. tak peduli hujan deras dan membuat jalan hampir tak terlihat.


Shanum yang bajunya sedang basah ditaambah AC mobil Nabil yang tetap menyala membuatnya sangat kedinginan. Dia menggosokkan kedua telapak tangannya berharap bisa mendapatkan kehangatan. Sedangkan Nabil melirik sekilas, lantas ia mengurangi suhu ACnya agar Shanum tidak kedinginan.


Keduanya sama-sama diam selama perjalanan pulang. kepala Shanum juga terasa pening karena terkena air hujan. Ditambah lagi dia teringat dengan kejadian siang tadi dimana ada wanita sekssi yang datang dan mencium Nabil.


“Kamu baik-baik saja, Num?” tanya Nabil saat melihat tubuh Shanum menggigil kedinginan.


“Iya. aku baik-baik saja, Kak. Appa masih lama?”


“Sebentar lagi sampai.” Jawab Nabil sedikit menambah kecepatan mobilnya.


Beberapa saat kemudian mobil Nabil memasuki halaman rumahnya. Rupanya hujan sudah reda, tinggal gerimis yang tersisa. Shanum segera keluar dari mobil tanpa mengucapkan sesuatu karena kepalanya benar-benar sangat pusing.


Sesampainya di rumah Shanum segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Setelah dirasa cukup, ia keluar dengan hanya menggunakan bathrope. Sekarang kepalanya sudah tidak sepusing tadi saat masih kedingingan. Lalu ia keluar kamar hendak mencari sesuatu untuk membuat tubuhnya hangat. Namun di dapur tidak ada apapun. Bahkan kompor saja tidak ada.


“Minumlah teh hangat ini!” ucap seseorang yang sudah berdiri di dapur sambil membawa nampan.

__ADS_1


Nabil tidak tahu pakaian apa yang dikenakan Shanum saat ini, karena tubuh Shanum tertutup oleh pintu kulkas saat dia mencari sesuatu di dalam sana untuk dimakan. Namun Nabil melihat rambut basah Shanum, sepertinya memang habis mandi.


“Kak Nabil?” Shanum terkejut saat melihat keberadaan Nabil di dalam dapur dengan membawa teh hangat.


Glek


Nabil menelan salivanya saat melihat Shanum hanya memakai bathrope yang panjangnya di atas lutut. Ia ingin membuang muka, namun rasanya ia sangat tertari dengan pemandangan itu.


“Kak Nabil nggak usah repot-repot seperti ini.” ucap Shanum mendekati Nabil tanpa melihat bagaimana tatapan Nabil saat ini.


Saat tubuh mereka berdua semakin dekat, Nabil semakin merasakan hawa panas di sekitarnya. Apalagi belahan dada Shanum sedikit terlihat menonjol saat tali bathropenya tidak mengikat terlalu kencang.


Shanum yang memang masih merasa kedinginan, ia segera meraih teh hangat di atas meja yang baru saja dibuatkan oleh Nabil. Dan Nabil melihat bagaimana cara Shanum minum hingga terlihat leher jenjang perempuan itu dengan kulit yang putih nan mulus.


Nabil benar-benar tidak bisa menahan sesuatu di bawah sana. Ia ingin sekali menyerang Shanum seperti yang ia lakukan pada teman kencannya. Tanpa sadar tangan Nabil bergerak menyentuh pergelangan tangan Shanum hingga membuat perempuan itu terkejut.


Nabil segera melepas tangannya dan membuang mukanya. Untung saja Shanum memanggilnya. Bagaimana kalau tidak. Sudah bisa dipastikan dia akan memaksa Shanum berbuat khilaf.


“Ya sudah aku pulang dulu. Besok belilah peralatan masak agar tidak merepotkanku lagi.” ucap Nabil dan berlalu pergi meninggalkan Shanum.


Shanum sungguh bingung dengan maksud ucapan Nabil baru saja. kenapa mendadak sikap nabil tadi aneh.


“Kalau kamu butuh obat, ada di kotak obat dekat ruang tengah.” Rupanya Nabil masih belum benar-benar keluar dari rumah Shanum.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak.” Jawab Shanum sedikit berteriak. Lalu ia mengembangkan senyumnya karena merasa diperhatikan oleh Nabil.


Sementara itu Nabil yang sudah berada di dalam rumahnya, ia segera masuk ke kamar. lebih tepatnya ke kamar mandi. sepertinya ia butuh pelepasan setelah melihat kemolekan tubuh Shanum tadi.


Nabil berada di dalam mandi untuk bersolo karir seperti yang biasa ia lakukan. Namun kali ini permainannya itu lebih nikmat dari biasanya. Mungkinkah pengaruh dengan objek yang sedang ia bayangkan? Karena saat ini Nabil sedang membayangkan wajah Shanum dengan tubuh yang sangat sekssi dan menggoda.


“Ah siallll! Kenapa harus dia?” gumam Nabil setelah menyelesaikan pelepasannya dengan nafas masih tersengal.


“Bodo amat. Dia juga tidak akan tahu.” Gumamnya sekali lagi dengan perasaan yang lebih rileks.


Setelah itu Nabil mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Namun rupanya bayang-bayang Shanum masih belum hilang saat perempuan itu memakai bathrope di atas lutut seperti tadi. bahkan saat ini Nabil memejamkan matanya di bawah guyuran shower sambil membayangkan Shanum seolah ikut mandi bersamanya.


Tanpa disadari inti Nabil kembali bereaksi saat membayangkan tangan mungil Shanum menyentuh miliknya lalu memainkannya dengan lembut.


“Oh, Shanum!!!” racaunya sambil meremat sendiri rambutnya yang basah.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


 


__ADS_2