Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 20 ~ Peraturan Di Kantor


__ADS_3

Pagi ini Shanum sudah siap berangkat ke kantor. namun rasanya dia sangat mala untuk pergi hari ini. mengingat apa yang telah Nabil lakukan semalam. Apalagi nanti dia akan menemani Nabil meeting dengan kliennya.


Jujur saja Shanum masih sakit hati mengingat ucapan Nabil semalam. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pria itu padanya. Susah payah Shanum mencoba melupakan kejadian malam itu, begitu hatinya sedikit lebih tenang, justru Nabil menganggap seolah ia mencari pelampiasan pada Kevin.


Shanum menguatkan hatinya untuk bertatap muka dengan Nabil lagi mulai hari ini. entahlah sampai kapan ia akan bertahan menyimpan perasaan cinta sekaligus lukanya terhadap Nabil. Tentunya Shanum berharap akan ada jalan yang terbaik untuk masalah itu.


“Mobilnya masih terparkir di sana.” Gumam Shanum melihat mengintip mobil Nabil lewat kaca jendela rumahnya.


Shanum mengira Nabil sudah berangkat lebih dulu, agar ia tidak harus bertemu dengan pria itu. tapi memang waktu masih pagi. akhirnya Shanum bertekat keluar rumah dan berjalan cepat dari halaman rumah Nabil. Setelah itu baru ia mencari taksi.


Shanum bisa bernafas lega setelah berhasil keluar dari halaman rumah Nabil tanpa bertemu dengannya. Setelah itu ia memesan taksi melalui aplikasi online untuk menjemputnya di tempat.


Sementara itu Nabil masih berada di rumahnya juga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. dia sudah berpakaian rapi dan duduk di ruang makan dengan beberapa menu makanan yang sudah tersaji di depannya.


Sebenarnya hari ini Nabil enggan sekali berangkat ke kantor. dia juga masih belum siap bertemu dengan Shanum setelah apa yang ia lakukan semalam pada wanita itu. namun tuntutan pekerjaan dan juga ada meeting membuatnya mau tidak mau harus tetap hadir ke kantor.


Tak lama Nabil menghabiskan makanannya. Setelah itu ia menenteng tasnya dan keluar rumah. dia melirik sekilas rumah sebelah dimana Shanum tinggal. Rumah itu terlihat sepi. Apakah Shanum sudah berangkat ke kantor atau belum. Nabil sangat ingin tahu sekaligus ingin melihat wajah Shanum pagi ini.


“Ehm, Bi! Apa Bibi lihat Shanum keluar rumah?” tanya Nabil pada pembantunya yang kebetulan sedang berada di luar.


“Sudah, Tuan. Tadi pagi Bibi sudah melihat Nona Shanum pergi.” Jawabnya dengan ramah.


Nabil hanya mengangguk samar dan segera memasuki mobilnya. Sepertinya memang Shanum sengaja berangkat lebih awal demi menghindar darinya.

__ADS_1


Beberapa saat berkemudi, akhirnya Nabil sudah tiba di kantor. Kantor yang selama seminggu ini ia tinggalkan karena sedang menenangkan hatinya yang tidak baik-baik saja. dan harusnya setelah itu hatinya sudah lebih membaik. Tapi sayangnya tidak.


Nabil memasuki ruangannya. Ternyata di dalam tidak Shanum. Biasanya wanita itu selalu standby di ruangannya di saat pagi seperti ini. apalagi jam kerja baru saja dimulai. Lantas kemana Shanum pergi.


Tak lama setelah Nabil duduk di kursi kebesarannya, Shanum masuk dengan membawa setumpuk berkas yang baru saja dia ambil dari ruangan Kevin. Tidak hanya itu saja, ternyata Kevin juga ikut masuk dengan membawakan tas Shanum karena sepertinya Shanum tidak bisa membawanya tadi.


“Selamat pagi, Tuan!” Sapa Kevin terkejut saat melihat keberadaan Nabil.


Kevin sama sekali tidak tahu kalau Nabil sudah pulamg dari luar kota. Shanum juga tadi tidak memberitahunya. Padahal pria itu sangat senang akan meeting dengan klien mewakili Nabil dengan ditemani oleh Shanum. Tapi kalau Nabil sudah masuk ke kantor, itu artinya harapannya hilang begitu saja.


Nabil hanya mengangguk sebagai jawaban Kevin. Sedangkan Shanum sejak tadi hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Nabil.


“Ini tas kamu, Num. ehm, jangan lupa nanti jam istirahat kita makan siamg bersama. Aku kembali dulu ke ruanganku.” Pamit Kevin sambil mengingatkan Shanum.


Nabil yang pura-pura sibuk dengan layar laptop di depannya mendengar dengan jelas apa yang baru saja diucapkan oleh Kevin. Entah kenapa dia tidak terima jika Shanum terlihat sangat akrab dengan Kevin. Dasar memang Nabil yang bodoh, karena sangat awam dengan yang namanya cinta.


“Persiapkan semua berkas untuk meeting nanti sore!” ucap Nabil pada Shanum yang sejak tadi fokus dengan pekerjaannya.


“Iya, Tuan.” Jawab Shanum sambil menganggukkan kepalanya. Menatap sekilas mata Nabil yang sangat tajam.


Shanum kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia bisa lebih rileks dan mempersiapkan hatinya untuk meeting nanti jam tiga sore.


“Buatkan aku kopi!” pinta Nabil tiba-tiba.

__ADS_1


Lagi-lagi Shanum menjawabnya dengan anggukan kepala, setelah itu keluar dari ruangan dan segera membuatkan kopi seperti permintaan Nabil.


Saat Shanum memasuki ruangan Nabil dengan membawa kopi pesanannya, terlihat Nabil sedang duduk di meja kerjanya sambil berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Shanum lantas meletakkan kopi pesanan Nabil di atas meja. Namun siapa sangka tiba-tiba saja Nabil menarik lengan Shanum hingga tubuhnya menempel dengan tubuh Nabil yang kini sudah berdiri sejajar dengannya.


“Tu..tuan. Maaf,-“


“Sejauh mana hubungan kamu dengan Kevin, hem?” tanya Nabil memotong ucapan Shanum.


“Maksud Tuan apa?” tanya Shanum tidak mengerti. Kenapa sejak kemarin malam bahasan Nabil selalu tentang Kevin. Padahal dia hanya berteman baik saja dengan Kevin. Tidak ada yang perlu dicurigai. Apakah itu artinya Nabil cemburu kalau dirinya sedang bersama Kevin. Entah kenapa rasanya Shanum bahagia membayangkan hal itu.


“Karena peraturan di kantor ini tidak mengijinkan karyawanya menjalin hubungan dalam bentuk apapun.” Jawab Nabil menatap intens mata Shanum. Bahkan wajah mereka berdua sangat dekat, dan Shanum bisa merasakan hembusan hangat nafas Nabil menerpa wajahnya.


Cklek


“Permisi, Tuu...uaan!”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2