
Shanum merasa lega akhirnya bisa menempati kamarnya lagi. apalagi saat ini kondisinya telah berbeda. Yaitu ada nyawa di dalam kandungannya.
Shanum mengusap lembut perutnya yang masih rata itu. meskipun janin dalam kandungannya itu hasil perbuatan Nabil yang telah memaksanya, Shanum sama sekali tidak membenci kehadiran anak itu. lalu, apakah itu artinya dia akan memberikan kesempatan pada Nabil untuk memperbaiki kesalahannya dan memaafkannya? Mungkin jawabannya iya. hanya saja Shanum masih butuh waktu. Entah sampai kapan. Karena jujur saja rasa cinta Shanum terhadap Nabil sesungguhnya masih ada dan tidak pernah luntur.
Tok tok tok
Cklek
“Sayang, kamu sudah tidur?” Tanya Rosma yang baru saja masuk ke kamar anaknya.
“Ehm, belum Bunda.” Jawab Shanum yang kini tengah berbaring di atas tempat tidur.
Rosma mendekati Shanum untuk menanyakan keadaannya. Dia khawatir putrinya masih merasakan pusing atau hal lainnya yang berhubungan dengan kehamilannya.
“Shanum, Bunda hanya ingin anak-anak Bunda hidup bahagia. Terlebih dengan pasangannya masing-masing. Bunda tahu bagaimana perasaan kamu, hancurnya hati kamu akibat perbuatan Nak Nabil. Bahan Ayah dan Bunda tidak bisa menemani kamu setelah kejadian itu. kamu wanita yang kuat, yang bisa menghadapi masalah kamu sendiri. Tapi ingat Sayang, di dalam sini ada makhluk kecil yang tentunya sangat membutuhkan figure seorang ayah. Dalam masa pertumbuhannya, kehadiran sosok ayah sangat dibutuhkan. Bunda juga tidak mau kelak cucu Bunda ini lahir tanpa seorang ayah. Untuk itu, Bunda mohon kamu mau berbesar hati, berlapang dada untuk memberikan kesempatan pada Nak Nabil untuk menebus kesalahannya.” Ujar Rosma panjang lebar.
Shanum terdiam. Sebelumnya dia sudah tahu kalau orang tuanya akan bicara seperti ini, membujuknya atau menasehatainya. Tapi memang kenyataannya ucapan Bundanya itu semua benar.
“Tapi Shanum masih butuh waktu, Bun!” Ucap Shanum.
“Sayang, mau sampai kapan kamu membutuhkan waktu untuk berpikir? bukankah selama ini kamu sudah memilih untuk menyendiri, menghindar dari masalah itu. ingat, sebelum janin dalam kandungan itu membesar, Bunda ingin kalian menikah.” Ucap Rosma.
Rosma sebenarnya juga tidak ingin bicara seperti itu terlebih keadaan Shanum yang baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi sepertinya sifat keras kepala Shanum terpaksa membuat Rosma bicara seperti itu.
__ADS_1
“Lebih baik kamu istirahat sekarang dulu, Bunda tunggu jawabannya besok.” Ucapnya sebelum keluar dari kamar Shanum.
***
Sementara itu Nabil yang sudah kembali melakukan rutinitasnya, pria itu seharian ini sangat disibukkan dengan pekerjaan kantor. sesuai janjinya pada Shanum, besok dia akan kembali lagi menemui Shanum. Ia tidak peduli meskipun jarak rumah Shanum harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.
Nabil sama sekali tidak melihat ponselnya karena saking sibuknya dengan pekerjaannya. Dia berusaha hari ini bisa menyelesaikan pekerjaan itu, agar besok bisa bertemu Shanum lagi.
Rupanya di kantor Barra sedang ada masalah besar. Malam ini nilai saham perusahaan miliknya anjlok. Dan beberapa investor mendadak mengundurkan diri dan mencabut saham yang sudaj dditanam di perusahaan Barra. Dan malam ini juga Barra dan kedua anaknya, begitu juga para petinggi perusahaan mengadakan meeting.
Nabil tamapk berpikir keras. Kenapa ada masalah seperti ini. bukankah selama ini perusahaan berjalan lancar dan aman-aman saja. sepertinya ada pihak luar yang sengaja mengacaukan perusahaan. Tapi siapa.
Beberapa saat kemudian meeting selesai. semua petinggi perusahaan yang hadir dalam meeting satu per satu meninggalkan ruang meeting. Kini hanya tersisa Nabil. sedangkan Nabila ijin pulang lebih dulu lantaran anaknya sedang sakit.
“Belum. Papa sangat sibuk dan memang belum sempat. Tapi melalui sambungan telepon Papa sudah mengatakan permintaan maaf Papa padanya. Papa juga berencana bertemu langsung dengan Om Dedy untuk bicara baik-baik. Ada apa?” jawab Barra.
“Entahlah, Pa. bukannya Nabil ingin berburuk sangka. Tapi Nabil khawatir masalah yang sedang terjadi di perusahaan sepertinya ada campur tangan dengan Om Dedy.” Ucap Nabil sambil menerka-nerka.
Barra mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkinkah yang dikatakan oleh Nabil benar. Jika iya, sebaiknya ia segera bertemu dengan Dedy.
“Kita lanjutkan besok lagi. kamu juga butuh istirahat. Besok Papa akan menemui Om Dedy.” Ucap Barra.
***
__ADS_1
Hari berganti hari. Setiap hari khususnya setiap pagi, Shanum masih mengalami morning sickness. Dan ini sudah seminggu dia tinggal di rumahnya setelah pulang dari rumah sakit.
Sampai saat ini Shanum juga tak kunjung mendapat tanda-tanda Nabil akan datang ke rumahnya. Padahal tempo hari ia sudah memberikan jawaban pada kedua orang tuanya kalau ia akan memberikan kesempatan bagi Nabil untuk memperbaiki kesalahannya. Dan Shanum akan mengatakannya langsung saat Nabil datang.
Hati Shanum mendadak kecewa, sedih, dan entahlah. Dia sangat sulit menggambarkan perasaannya saat ini. apakah ucapan Nabil saat itu yang tidak akan menyerah untuk meminta maaf hanya kebohongan belaka. Karena sampai saat ini pria itu tak kunjung datang lagi.
Sedangkan kedua orang tua Shanum selalu mengatakan kalau kemungkinan Nabil memang sedang sibuk. Bagas juga tidak ingin menghubungi atau menanyakannya pada Barra. Dia akan memberi kesempatan pada Nabil untuk datang langsung ke rumahnya sekaligus meminta pria itu mempersiapkan acara pernikahannya dengan Shanum.
“Sayang, minum dulu teh hangatnya. Ini bisa mengurangi rasa mual kamu.” Ucap Rosma pagi ini saat Shanum tak henti-hentinya keluar masuk kamar mandi.
“Terima kasih, Bun.” Jawabnya lalu meneguk teh buatan Bundanya.
“Kamu yang sabar, ya? Mungkin Nabil memang sesdang-“
“Shanum mau istirahat dulu, Bun.” Potong Shanum dan segera berbalik badan.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!