
Entah berapa lama Nabil tadi berada di kamar mandi. karena Shanum cukup lama tidak mendengar pintu kamar mandi terbuka, hingga membuatnya tertidur. Atau memang Nabil juga merasa gugup saat di kamar mandi, dan pria itu memilih berlama-lama di sana.
Saat Shanum baru saja membuka matanya, dia tidak menemukan siapapun yang sedang tidur di ranjangnya. Lalu kemana Nabil.
Shanum bangun hendak mandi dulu, karena waktu sudah sore. Namun tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada sosok pria yang beberapa jam lalu sah menjadi suaminya kini tampak tertidur di sofa. Meskipun posisi Nabil terlihat sangat tidak nyaman, namun pria itu tidur dengan sangat lelap.
Shanum akhirnya membiarkan Nabil tidur. Dia akan mandi lebih dulu, setelah itu membangunkannya.
Cklek
Shanum keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang digulung dengan handuknya. Lalu ia juga hanya memakai bathrope yang panjangnya di atas lutut. Karena memang itu sudah menjadi kebiasaan Shanum. Tapi tidak buat Nabil yang saat ini tengah duduk sambil menatap Shanum yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Glek
Nabil menelan salivanya kasar saat melihat pemandangan indah itu. kemudian ia memalingkan mukanya karena tidak ingin kelepasan. Ya, meskipun sah-sah saja dia melakukannya pada Shanum yang sudah sah menjadi istrinya. Tapi, dia memilih untuk menahannya dulu. Atau sampai Shanum benar-benar mengijinkannya.
Ehm…
Nabil mencoba menstabilkan suasana dalam kamar itu dimana hanya ada dirinya dan juga sang istri. Betapa terkejutnya Shanum saat baru menyadari Nabil sudah bangun. Apalagi dia juga sadar dengan penampilannya saat ini.
Shanum segera masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya. Sedangkan Nabil merasa lega, dan senjatanya sudah bisa dia jinakkan. Tak lama kemudian Nabil masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Nabil sudah selesai mencuci mukanya, bertepatan dengan Shanum yang baru saja menyisir rambutnya yang masih basah. Pria itu duduk di sisi ranjang ingin mengajak Shanum bicara.
__ADS_1
“Kemarilah sebentar, aku ingin bicara dengan kamu.” Ucap Nabil.
Dengan canggung Shanum mengangguk lalu duduk di samping suaminya. Nabil pun menyerongkan sedikit badannya agar bisa menatap Shanum.
“Lusa aku ada pekerjaan yang sangat penting di kantor. jadi aku akan mengajak kamu pulang besok.” Ucap Nabil.
“Pulang? pulang kemana? Rumahku di sini.” jawab Shanum.
Nabil menghela nafasnya pelan. Sepertinya akan sangat sulit untuk mengajak Shanum ikut pulang bersamanya.
“Tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Itu juga buat kamu dan anak kita.”
“Aku nggak minta kamu meninggalkan pekerjaan itu. kalau kamu mau pulang dan bekerja, aku tidak masalah. Aku akan tetap tinggal di sini.” ucap Shanum dengan santai.
Apa-apaan ini. sungguh Nabil tidak menyangka dengan jawaban istrinya. Bagaimana bisa ia akan tinggal terpisah dengan Shanum yang sudah menjadi istrinya. Kalau kemarin-kemarin saat belum sah menjadi suami istri, dia tidak masalah jika harus bolak-balik menemui Shanum. Tapi sekarang, bukannya dia tidak mau menemui istrinya yang memilih tinggal berjauhan. Tapi setidaknya, bisakah Shanum menurut dengan ucapan suaminya.
“Ya, seperti kemarin-kemarin kan bisa. Aku tetap ingin tinggal di sini dan dekat dengan Bunda.” Jawab Shanum.
Mungkin pemikiran Shanum belum dewasa mengenai arti sebuah pernikahan. Dan ini yang menjadi tugas utama Nabil untuk membuat istrinya memahami makna sebenarnya dari sebuah pernikahan. Meskipun ini juga pengalaman pertama Nabil, setidaknya pria itu masih bisa berpikir rasional.
Tak ingin berdebat telalu lama, karena ini adalah hari pertamanya menjadi pasangan suami istri, akhirnya Nabil memilih mengalah terlebih dulu. Kemudian ia mengajak Shanum keluar kamar. dan dia juga tidak berkata apa-apa lagi.
Keadaan Shanum saat ini baik-baik saja. wanita itu kini tampak makan cemilan dengan lahap. Kaarena sebelumnya Shanum sangat malas makan makanan seperti itu. sedangkan Nabil saat ini sedang berada di luar karena sedang melakukan panggilan dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
“Sepertinya pekerjaan kamu sangat padat ya, Bil?” tanya Bagas yang baru saja duduk di kursi teras rumahnya.
“Iya, Yah. Maaf, besok Nabil harus pulang. lusa ada meeting penting dengan klien.” Jawab Nabil.
“Ayah juga paham kok. Nggak apa-apa, asal Shanum di sana nyaman dengan tempat barunya. Ujar Bagas.
“Maaf, Ayah. Sepertinya besok Nabil akan pulang sendiri. Sepertinya Shanum lebih betah dan nyaman tinggal di sini. Nabil tidak mau memaksanya.” Ucap Nabil mengeluarkan unek-uneknya, berharap Ayah mertuanya bisa memberi solusi.
“Shanum tidak mau ikut kamu? Apa kamu sudah mengajaknya?” Tanya Bagas memastikan.
“Iya. tapi Nabil tidak ingin memaksanya. Nanti jika pekerjaan Nabil tidak padat, pasti akan datang ke sini.” jawab Nabil.
Bagas menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau anak perempuannya menolak tinggal bersama suaminya. setelah itu ia beranjak meninggalkan Nabil. sepertinya akan bicara sekaligus menasehati Shanum.
“Biar Ayah yang bicara dengan Shanum. Bagaimanapun juga dia harus menurut dengan ucapan suaminya.” ucap Bagas sebelum masuk ke dalam rumah.
Nabil hanya tersenyum sambil mengangguk samar. Dia berharap Ayah mertuanya berhasil menasehati Shanum agar mau ikut tinggal bersamanya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!