
Nabil kini sudah memakai bajunya. Setelah itu ia akan pergi sebentar sekaligus mengisi perutnya. Mungkin setelah perutnya terisi ia bisa mengajak bicara baik-baik dengan Shanum tanpa mengeluarkan emosinya.
Beberapa saat setelah selesai makan dan pergi ke suatu tempat, Nabil sudah kembali ke rumahnya. Pria itu tidak masuk ke rumah, melainkan masuk ke rumah Shanum.
Sebenarnya ada rasa tak tega saat tadi pagi Nabil meninggalkan Shanum begitu saja. apalagi perasaan perempuan itu pasti sedang hancur setelah apa yang terjadi semalam. Namun Nabil tetap mengelak dan tidak mau disalahkan sepenuhnya atas kejadian itu.
Cklek
Nabil masuk ke rumah Shanum, tapi ruangan itu sangat sepi. Apa mungkin sejak tadi Shanum masih berada di kamarnya dan tidak keluar sama sekali.
“Shanum!” panggil Nabil sambil mengetuk pintu kamarnya.
Tiga kali mengetuk tapi tak kunjung mendapat sambutan dari si pemilik kamar. Nabil khawatir terjadi sesuatu dengan Shanum tanpa sepengatahuannya.
“Sha-“
Di saat Nabil hendak mengetuk pintu lagi, tiba-tiba Shanum membuka pintu kamarnya. Wajah perempuan itu terlihat sangat sembab dengan rambut yang masih basah. Lalu pakaian yang digunakan Shanum tanpa sadar membuat jakun Nabil naik turun.
“Kita harus bicara.” Ucap Nabil setelah berhasil menormalkan degupan jantungnya.
Shanum masih diam. tapi dia segera keluar kamar dan memilih duduk di sofa ruang tengah sekaligus menjadi ruang tamu. Dia juga sama sekali tidak menatap Nabil, karena hatinya masih sakit mengingat tadi pagi Nabil pergi begitu saja meninggalkannya.
__ADS_1
Nabil mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Dan diletakkan di atas meja. Tentunya itu buat Shanum, tapi Shanum sendiri tidak tahu apa isi dalam bungkusan plastic kecil itu.
“Maaf, Num. aku berharap tidak akan terjadi sesuatu pada kamu setelah kejadian semalam.” Ucap Nabil membuka obrolan.
Shanum yang sejak tadi membuang muka, kini menatap Nabil penuh tanda tanya. Apa maksud ucapan pria yang ada di hadapannya itu.
“Itu obat pencegah kehamilan. Minumlah, agar tidak terjadi seseuatu yang tidak diharapkan.” Lanjut Nabil memberitahu.
Hati Shanum semakin sakit mendengarnya. Bagaimana bisa Nabil bisa melakukan itu semua. Bahkan tidak ada inisiatif sama sekali untuk meminta maaf atas kejadian semalam. Jujur saja dalam hal itu Shanum lah yang sangat dirugikan. Terlepas dari alasan Nabil kalau Shanum lah yang menggodanya. Tapi bukankah dia memang tidak sadar dan sedang tidak sadar karena dalam pengaruh obat.
“Kita ini sepupu, bukan? Tidak mungkin aku bertanggung jawab atas kejadian semalam. Lagipula itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Jadi, tolong kamu lupakan kejadian semalam dan segera lah minum obat itu.” ucap Nabil tanpa perasaan.
“Kalau sudah selesai bicara, Kak Nabil bisa pulang. aku mau istirahat.” Ucap Shanum yang sudah tidak kuat lagi menahan sesak di hatinya.
Nabil melongo mendengar ucapan Shanum yang telah mengusirnya dengan halus. Tapi dia juga tidak sampai hati untuk kembali bersuara karena melihat wajah Shanum yang masih sembab.
Setelah kepergian Nabil, Shanum mengambil obat pencegah kehamilan pemberian Nabil, lalu masuk ke kamar. Shanum menangis sejadi-jadinya. Hatinya sangat sakit mengetahui bahwa Nabil adalah sosok pria yang tidak mempunyai perasaan sama sekali.
Shanum meremat plastic berisi obat pencegah kehamilan itu dengan kuat dan penuh emosi. Lalu ia membuangnya begitu saja. entah nanti dirinya hamil atau tidak setelah kejadian semalam, Shanum tidak akan meminta pertanggung jawaban Nabil.
“Tega sekali kamu, Kak!!” Shanum kembali menangis meratapi nasib sial yang menimpanya.
__ADS_1
***
Arggghhh!!!!!
Nabil berteriak frustasi. Dia benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini. dia juga tidak tega melihat raut kesedihan Shanum tadi. betapa mudahnya dirinya mengatakan kalau semua itu bukan kesalahannya, karena Shanum sendiri yang menggodanya. Harusnya Nabil yang tidak terpengaruh obat itu, dia lebih bisa berpikir sehat dan berusaha sekuat mungkin menolak Shanum. Tapi kenapa justru dirinya seolah seperti memanfaatkan keadaan dan berdalih Shanum yang terus menggoda.
“Tidak!! Aku tidak mencintainya. Aku juga tidak akan bertanggung jawab atas kejadian yang sepenuhnya bukan salahku.” Gumam Nabil kembali ke mode keras kepalanya.
Bagi Nabil memang cinta hanyalah omong kosong. Dia sama sekali tidak berminat menjalin sebuah hubungan dengan siapapun karena tidak percaya dengan adanya cinta. Melihat pengalaman percintaan saudara kembarnya, yaitu Nabila yang menurutnya diperbudak oleh cinta, maka sebab itulah Nabil sangat anti menjalin hubungan. Dia memutuskan untuk memegang perusahaan cabang milik Papanya memang karena menginginkan sebuah kebebasan. Karena Nabil tahu jika masih saja bekerja di perusahaan pusat bersama Papanya, sudah dipastikan kalau Papanya akan menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya.
Nabil tiba-tiba teringat dengan kejadian di pesta semalam saat menemukan Shanum berada dalam pengaruh obat peranggsang. Nabil mengepalkan kuat tangannya. dia harus cari tahu siapa orang yang telah menjebak Shanum. Karena ulah orang itulah yang patut disalahkan hingga membuat Nabil khilaf dalam kenikmatan.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1