Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 85 ~ Pesan Terakhir


__ADS_3

Dor


Dor


Polisi yang merasa kecolongan akibat ulah Vincent, dengan cepat menembak kaki pria itu, lalu segera meringkusnya.


“Papa!!”


Teriak Nabil dengan tubuh bergetar hebat saat melihat Papanya sedang merengkuh tubuh istrinya demi melindungi Shanum dari tembakan Vincent baru saja. dan dua peluru yang bersarang tepat di punggung Barra itu seketika membuat pria paruh baya itu hilang kesadaran.


Begitu juga dengan Shanum. Wanita itu memeluk Papa mertuanya yang bersimbah darah. Tubuhnya bergetar lebih hebat saat bisa merasakan sendiri detak jantung Papa mertuanya kian melemah.


Zaky dan Bagas yang baru saja sampai di tempat kejadian, segera membawa Barra masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit.


“Sayang, istriku!!”


Nabil memeluk istrinya dengan erat. Meskipun ada kejadian memilukan dari proses penyelamatan istrinya, namun fdalam hati kecil Nabil sangat bersyukur kalau istrinya baik-baik saja. hanya saja penampilan Shanum yang membuat Nabil teriris melihatnya. Shanum juga sepertinya butuh penanganan medis.


“Mas, Papa!” Shanum terisak saat melihat Barra yang baru saja dilarikan ke rumah sakit.


“Ayo, Sayang kita pergi ke rumah sakit sekaranf juga. kamu juga butuh penanganan medis. Maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu.”


Shanum hanya mampu terdiam saat suaminya menuntunnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kondisi Shanum benar-benar lemah. Sekarang justru memikirkan keadaan Papa mertuanya yang jelas-jelas terluka parah demi menyelamatkannya.


***


Mobil Zaky yang membawa Barra baru saja sampai rumah sakit. Pihak rumah sakit bertindak dengan cepat memberikan pertolongan pertama pada Barra. Tak lama kemudian disusul mobil Nabil yang membawa istrinya.


Nabil juga meminta pihak rumah sakit untuk memberikan pengobatan dan perawatan terhadap istrinya. Bahkan saat baru keluar dari mobil, Shanum sudah kehilangan pijakannya. Beruntungnya Nabil dengan sigap menangkap tubuh istrinya yang sudah tidak berdaya itu.


“Ayah, Nabil titip Papa dulu! Nabil mau menemani Shanum yang saat ini juga membutuhkan penanganan khusus.” Ucap Nabil pada Ayah mertuanya.


“Kamu jangan khawatir. Kamu fokus saja pada istrimu, biar Papa kamu menjadi urusan Ayah.” Jawab Bagas berusaha menenangkan menantunya.


Kini Nabil menuju ruangan dokter yang menangani Shanum. Saat ini Shanum sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah beberapa saat yang lalu tim dokter malakukan observasi.


“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”


“Istri anda sedikit mengalami guncangan. Saat ini saya memberikannya obat penenang. Biarkan dia tidur, karena dari hasil observasi kalau Nyonya Shanum butuh istirahat yang cukup. Selain itu, obat yang saya berikan nanti akan memberikan efek baik terhadap jiwa istri anda.” Tutur dokter panjang lebar.


“Apakah perlu penanganan lebih khusus lagi, Dok? Maaf, saya hanya ingin yang terbaik untuk istri saya.” tanya Nabil.


“Anda tenang saja, Tuan Nabil. istri anda memang mengalami guncangan jiwanya. Namun selama dalam masa penyekapan itu, sepertinya istri anda cukup pandai mengontrol emosinya. Jadi proses penyembuhan Nyonya Shanum saya perpkirakan tidak akan lama. Apalagi anda bisa membantunya dengan membawa anak anda.” Jawab dokter itu.


Nabil mengangguk paham. Setidaknya dia cukup lega dengan informasi yang diberikan oleh dokter itu. memang sebelumnya Nabil sudah mengatakan kalau dia memiliki seorang bayi. Khawatirnya keadaan Shanum memburuk lantaran mengalami baby blues selama disekap oleh Vincent.


Keesokan harinya, Nabil meminta seseorang untuk membawa Baby Queen ke rumah sakit. Meskipun tidak dianjurkan membawa seorang bayi ke rumah sakit, namun tidak ad acara lagi yang bisa Nabil lakukan untuk membantu proses penyembuhan istrinya. Apalagi semalam Shanum sudah sadar daritidur panjangnya.

__ADS_1


Benar saja, wajah Shanum langsung cerah saat melihat suaminya masuk ke dalam ruangan dengan menggendong seorang bayi. Bayi yang setiap malam suara tangisnya selalu mengisi malam-malam Shanum di ruang kegelapan itu.


“Queen, anak Mama!” Tangis Shanum pecah dengan tangan bergetar saat Nabil mendekatkan wajah anaknya.


Shanum langsung menghujani ciuman di seluruh wajah Queen. Bahkan pipi Queen sampai basah karena air mata Mamanya.


“Sayang, kamu cepat sembuh ya? Aku berjanji setelah ini akan membuat hidup kalian bahagia. Maafkan aku selama ini yang telah lalai menjadi suami kamu.” Ucap Nabil yang kini sudah duduk di tepi brankar istrinya sambil menggendong baby Queen.


“Jangan menyalahkan diri kamu, Mas! Semua ini memang musibah. Yang terpenting saat ini kita bisa kumpul bersama. Aku janji akan segera sembuh, biar cepat pulang dan bisa menimang Queen lagi.” jawab Shanum dengan tatapan sendu yang tertuju pada anaknya.


“Lalu bagaimana keadaan Papa, Mas? Aku ingin lihat Papa.”


“Sudah, yang terpenting kamu harus sembuh dulu. Papa baik-baik saja.” jawab Nabil berbohong.


Saat ini Barra memang masih berada di ruang perawatan intensif. Setelah semalam selesai operasi pengambilan peluru yang bersarang di punggungnya, keadaan Barra semakin memburuk. Dan harus mendapatkan perawatan intensif.


Nabil diminta Mamanya untuk fokus terhadap kesembuhan Shanum saja. karena yang berjaga di depan ruang perawatan Barra saat ini adalah Carissa dan Nabila.


***


Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, keadaan Shanum semakin membaik. Dan hari ini juga ia sudah diperbolehkan pulang. wanita itu mempunyai semangat besar untuk sembuh karena sangat ingin bertemu dengan buah hatinya.


Shanum terlihat kecewa saat akan pulang dan ingin melohat keadaan Papa mertuanya dilarang oleh suaminya. Nabil beralasan kalau saat ini Baby Queen sedang menangis dan ingin segera bertemu dengan Mamanya. Padahal Nabil tidak mau membiarkan istrinya melihat keadaan Papannya yang masih terbaring lemah di ruangan ICU.


Entahlah Nabil sendiri juga dilanda kebimbangan saat ini. memang dia sangat bahagia dan bersyukur kalau istrinya selamat dan bisa kembali ke pelukannya lagi. di sisi lain, Nabil juga sangat mengkhawatirkan keadaan Papanya. Karena Papanya lah yang selama ini ikut membantunya dalam menyelamatkan Shanum. Apalagi Barra sampai rela mempertaruhkan nyawanya demi Shanum.


Sesampainya di rumah, Nabil membiarkan istrinya bersama Baby Queen. Sementara ia masuk ke ruang kerja untuk menghubungi Nabila guna menanyakan keadaan sang Papa.


***


“Sayang, apa tidak ada yang kamu keluhkan lagi?” tanya Nabil memastikan keadaan Shanum.


“Aku sudah baik, Mas. Terlebih setelah bersama Queen, aku merasa tubuhku jauh lebih baik.” Jawab Shanum.


“Kalau begitu, apa kamu mau pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Papa?”


“Mau sekali, Mas. Baiklah, aku akan bersiap dulu. Biar Queen bersama Bibi.” Jawab Shanum antusias.


Semenjak kejadian yang menimpa istrinya, Nabil telah menyewa bodyguard untuk berjaga di rumahnya. Jadi dia tidak akan khawatir lagi saat meninggalkan Baby Queen bersama pembantunya di rumah.


Kini Nabil dan Shanum sudah tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang perawatan Barra. Entah kenapa perasaan Nabil tidak enak, saat melihat ruangan Papanya terbuka dan ada seorang dokter baru saja keluar dari ruangan itu.


Perasaan Nabil semakin cemas saat sudah tiba di ruangan Papanya. Di sana ada Mamanya, dan Nabila bersama suaminya. apalagi tatapan Nabil tertuju pada saudara kembarnya yang sedang menangis dalam pelukan Jo.


“Mama!” panggil Nabil pada Mamanya yang sedang duduk di sisi brankra Barra.


Barra sendiri tampak tidur. Tapi kenapa wajah Mamanya terlihat sendu. Begitu juga dengan adiknya.

__ADS_1


“Nabil, Shanum! Kalian datang juga akhirnya. Papa sejak tadi menunggu kalian berdua.” Ucap Carissa berusaha tegar.


Tak lama kemudian Carissa membisikkan sesuatu pada suaminya. setelah itu menjauh dan membiarkan Nabil mendekat bersama istrinya.


Tampak Barra memaksa membuka matanya. dia melihat anak laki-lakinya dan juga menantunya yang ditunggu sejak tadi.


“Papa, Papa cepat sembuh biar kita bisa kumpul bersama lagi.” ucap Shanum.


Barra hanya tersenyum tipis menatap menantunya. Menantu yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Dan kini dia lega setelah tahu kalau keadaan Shanum baik-baik saja.


“Pa, ada yang Papa inginkan?” kini Nabil yang bicara dengan Papanya.


“Nabila, istriku Carissa kemarilah!” panggil Barra dengan suara yang lirih namun berusaha kuat.


Nabila, Jo, Carissa kini sudah ikut bergabung berdiri di sisi brankar Barra. Namun Nabila tak kuasa menahan tangisnya setelah mendengar ucapan dokter tadi kalau keadaan Papanya kembali drop.


“Papa sangat senang melihat anak-anak Papa hidup rukun dengan pasangannya masing-masing.” Ucap Barra menjeda kalimatnya. Karena pria itu tampak kesusahan mengambil nafasnya.


“Mas, jangan banyak bicara dulu! Lebih baik kamu istirahat saja.” ucap Carissa sambil mengusap lengan suaminya.


“Nabil, Nabila, Papa berpesan pada kalian berdua. Sampai kapanpun Papa harap kalian tetap rukun, dan..”


Nabila menggelengkan kepalanya sambil membekap mulutnya. Ia tidak sanggup mendengarkan ucapan Papanya yang seolah ingin memberikan pesan terakhir. Begitu juga dengan Shanum yang menolak segela pemikiran buruknya.


“Dan, jagalah Mama kalian! sayangi Mama kalian seperti Mama menyayangi dan mencintainya sejak dulu. Karena Mama kalian adalah Mutiara hati Papa sampai kapanpun.” Lanjut Barra dengan nafas yang mulai tak beraturan.


“Sudah, Mas! Jangan bicara lagi! kamu istirahat saja!” ucap Carissa yang semakin tak kuasa melihat keadaan suaminya. namun Barra sama sekali tidak mengindahkan ucapan istrinya.


“Berjanjilah kalian, anak-anak kebanggaan Papa!” ucap Barra.


“Papa tenang saja, kami akan selalu mencintai dan menyayangi Mama. sekarang lebih baik Papa istirahat, agar cepat sembuh dan kita bisa berkumpul lagi.” jawab Nabil tak ingin membuat Papanya semakin memburuk keadaannya.


“Terima kasih banyak anak-anak Papa dan menantu Papa. Carissa, terima kasih atas cinta kamu yang begitu besar padaku. jaga diri kamu baik-baik, sayang!” lanjut Barra dengan nafas yang semakin lama tidak terasa hembusannya.


Barra menutup rapat matanya dengan senyum tipis terukir di bibirnya. pria paruh baya itu dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami komplikasi pasca operasi pengangkatan peluru yang bersarang di punggungnya.


.


.


.


*THE END


Akhirnya tamat juga novel ini. maaf jika endingnya seperti ini. terima kasih buat semua reader yang setia mengikuti novel “Skandal CEO Playboy” dari awal sampai akhir.


Dan untuk GA di novel ini akan author adakan di novel author yang baru yang berjudul “Perseteruan 2 Calon Pewaris”.

__ADS_1


Terus dukung karya author ya, dengan cara like, komen, vote, dan gift sebanyak-banyaknya. Seperti biasa nanti akan ada pulsa gratis bagi kalian yang paling banyak memberikan poin.


THANK YOU🤗😚😚


__ADS_2