
“Hai mantan tunangan! Wah, jangan bilang kalau kita satu pesawat!” ucap seseorang yang tak lain adalah Nila. Shanum melihat dan mendengarnya dengan jelas.
Nabil sangat terkejut dengan kehadiran Nila yang sudah berjalan di sampingnya dengan menarik koper. Lalu ia menoleh ke arah Shanum yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Nabil hendak menghampiri istrinya, namun rupanya peswat yang ia tumpangi akan segera take off. Terlebih saat ini Shanum sudah berjalan meninggalkan gate keberangkatan.
Nabil sangat geram melihat kehadiran Nila yang tiba-tiba. Dia menduga sepertinya Nila sengaja melakukan hal itu kalau saja terbukti dirinya berada dalam satu pesawat dengan wanita itu.
Dan beruntungnya Nila tidak satu pesawat dengannya. Penerbangan dia dan Nila hanya selisih beberapa menit saja. lebih dulu Nila daripada Nabil. akhirnya Nabil pun bisa bernafas lega. Kini dia tinggal menjelaskan pada istrinya. Tapi sayang, ponsel Shanum sedang tidak aktif.
Argghhh
Nabil semakin kesal dengan dirinya sendiri. Sudah bisa dipastikan kalau saat ini istrinya sedang marah. Dan marahnya Shanum selalu mendiamkannya. Apalagi sekarang mereka akan terpisah jarak selama beberapa hari, membuat Nabil semakin frustasi.
***
Shanum yang baru saja sampai rumah, wanita itu tiba-tiba merasa perutnya kembali mual. Dia tidak tahan untuk segera mengeluarkan isi perutnya. Pembantunya pun dengan sigap membantu Shanum dengan memijit tengkuk wanita itu.
“Nyonya lebih baik duduk dulu sebentar. Biar Bibi buatkan minuman hangat.” Shanum hanya mengangguk. Tubuhnya juga seketika lemas. Segitu kuatkah ikatan anak dalam kandungannya itu dengan Papanya. Padahal kalau ditinggal Nabil pergi ke kantor, Shanum baik-baik saja. dan kini baru saja ditinggal belum ada satu jam sudah dibuat menderita dengan drama mual-mualnya.
Shanum kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu. Seorang wanita cantik yang memanggil suaminya dengan sebutan mantan tunangan. Hati Shanum jelas sakit mendengarnya. Apalagi saat ini suaminya berada dalam pesawat yang sama.
Memang Shanum sudah tahu kalau Nabil sebelumnya sudah bertunangan dengan seseorang. Setelah itu Nabil membatalkan pertunangannya itu karena ingin bertanggung jawab atas kehamilannya. Pikiran buruk pun seketika memenuhi otak Shanum. Bagaimana kalau keduanya masih menyimpan rasa yang sama. Membayangkannya saja membuat Shanum kembali mual-mual.
__ADS_1
Shanum juga enggan membalas ataupun mengangkat panggilan suaminya saat Nabil sudah sampai di kota tempat tujuannya. Malas karena tubuhnya yang lemas karena sejak tadi mual-mual terus, sekaligus kesal saat mengingat kebersamaan suaminya dengan mantan tunangannya.
“Nyonya, ada mertua anda saat ini sedang di ruang keluarga.” Ucap Bi Murti yang baru saja masuk ke kamar Shanum.
“Mama sendiri atau sama Papa, Bi?” tanya Shanum.
“Nyonya Carissa saja. bagaimana? Apa Nyonya kan keluar atau Nyonya Carissa yang kesini?” Tanya Bi Murti.
“Suruh ke sini saja, Bi. Bilang kalau aku memang sedang tidak enak badan.” Jawab Shanum dengan kepala yang masih berdenyut.
Carissa yang sejak tadi menunggu menantunya di ruang tengah sangat terkejut diberitahu oleh Bi Murti kalau majikannya sedang tidak enak badan. Wanita paruh baya itu segera masuk kamar menantunya dengan perasaan cemas.
“Shanum, kamu pucat sekali. Kita ke rumah sakit ya?” ajak Carissa.
“Nggak usah, Ma. Buat istirahat seperti ini saja nanti pasti akan baikan. Maaf, membuat Mama khawatir. Mungkin lebih baik Shanum tinggal di rumah saja, nggak jadi menginap di rumah Mama.” jawab Shanum dengan suara lirihnya.
Carissa juga tidak mau memaksa menantunya. Justru ia yang akan tinggal di rumah Shanum demi menjaga wanita itu yang sangat tampak lemas dan pucat. Pantas saja sejak tadi Nabil menghubungi Shanum tidak ada jawaban sama sekali. Ternyata istrinya sedang sakit.
“Ya sudah, kamu buat tidur saja. Mama akn hubungi dokter kandungan agar datang ke sini untuk memeriksa keadaan kamu.” Ucap Carissa lalu kelouar dari kamar Shanum.
Carissa lebih dulu menghubungi Nabil untuk memberitahu keadaan istrinya saat ini. dia juga akan meminta Nabil untuk tidak terlalu cemas, biar Shanum menjadi tanggung jawabnya. Setelah itu Carissa menghubungi dokter kandungan sekaligus dokter keluarga untuk datang memeriksa kondisi menantunya.
__ADS_1
Nabil yang sedang bersiap-siap meeting dengan kliennya, mendapat panggilan dari Mamanya tentang keadaan Shanum saat ini, jelas membuat pria itu sangat cemas. Padahal pekerjaannya di kota ini belum ada sehari, lalu mendengar kabar tentng istrinya membuat Nabil ingin segera pulang.
“Tuan, apa kita bisa pergi sekarang?” Tanya sang asisten yang sejak tadi ikut bingung melihat bosnya mondar-mandir.
“Baiklah, kita pergi sekarang.” jawabnya lalu segera keluar dari lobby hotel.
Sepanjang meeting berlangsung Nabil tidak fokus. Dia masih memikirkan keadaan istrinya. Ditambah lagi pertemuannya dengan Nila saat di bandara tadi, ia sangat yakin kalau istrinya masih marah.
“Bagaimana dengan planning yang baru saja dijelaskan oleh asisten saya, Tuan Nabil?” tanya seorang wanita paruh baya yang menjadi rekan bisnis Nabil.
“Oh, ehm saya sangat percaya dengan hasil yang dipresentasikan oleh asisten anda. Maaf, untuk saat ini saya serahkan semuanya pada asisten saya Bu Mirna. Saya pamit undur diri terlebih dulu.” Ucap Nabil dengan sopan, setelah itu keluar dari ruangan vvip salah satu resto ternama di kota.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1