Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 25 ~ Ceo Yang Kejam


__ADS_3

Sudah semingu ini Shanum tinggal di luar kota. Tepatnya di rumah mendiang Kakek dan Neneknya. Dan selama itu juga kedua orang tuanya masih belum juga menjenguknya untuk sekedar bertanya kabar atau tanya sesuatu yang terjadi di perusahaan Nabil.


Shanum beralasan pada Ayah Bundanya masih sibuk jalan-jalan, agar kedua orang tuanya tidak datang dulu di saat suasana hatinya masih sakit akibat ulah Nabil.


Jujur saja sampai saat ini hati Shanum masih sakit mengingat perbuatan Nabil saat itu. tapi lebih baik seperti sekarang ini daripada terus berada di dekat Nabil.


Shanum memutuskan untuk tinggal di rumah peningglan kakek dan neneknya. Kedua orang tuanya juga sudah menyetujuinya. Selain itu Shanum juga nantinya akan kembali melanjutkan karirnya di dunia modelling. Tapi entah kapan, karena saat ini dia masih sibuk mengobati luka hatinya.


Pagi ini Shanum ingin jogging di sekitar rumah. karena selama seminggu tinggal di rumah kakeknya, Shanum belum pernah keluar rumah sama sekali. Beruntungnya di rumah itu Shanum tidak tinggal sendirian. Ada sepasang suami istri yang memang sengaja menjaga dan membersihkan rumah kakeknya. Jadi Shanum tidak merasa kesepian.


“Non Shanum mau jalan-jalan?” tanya Bi Asih berbasa-basi.


“Iya nih, Bi. Seminggu tinggal di sini aku bosan di rumah terus. Mumpung ini masih sangat pagi dan udaranya masih segar, jadi lebih baik aku jalan-jalan saja.” jawab Shanum.


“Ya sudah silakan, Non. Tapi jangan jauh-jauh! Nanti Non Shanum nyasar dan nggak bisa pulang.” seloroh Bi Asih.


“Tenang saja, Bi! Meskipun sudah lama Shanum tidak datang dan tinggal di sini, tapi Shanum masih ingat jalan pulang kok.”


Setelah itu Shanum beerjalan keluar dari halaman rumah. kawasan tempat tinggal Shanum bukanlah kawasan perumahan elit. Melainkan kampung biasa yang kebanyakan dihuni oleh orang-orang dengan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan mereka bekerja di pasar dan juga di sawah atau di ladang pribadi mereka.


Shanum tersenyum ramah menyapa beberapa tetangga yang kebetulan melintas hendak pergi bekerja. Sungguh suasana yang sangat berbeda dan pertama kalinya Shanum rasakan selama hidupnya. Dulu ia hanya sesekali saja datang berkunjung ke rumah kakek dan neneknya. Hanya saja saat itu dia masih duduk di bangku sekolah. Namun sepeninggal kakek dan neneknya, Shanum sudah tidak pernah lagi datang ke sini.

__ADS_1


Meskipun tempat tinggal Shanum saat ini dihuni oleh penduduk kalangan ekonomi menengah ke bawah, tapi di sana juga dihuni beberapa kalangan orang berada. Biasanya mereka adalah pemilik perkebunan teh atau juragan yang memiliki banyak kios di pasar.


Saat sedang asyik berjalan-jalan dan menikmati udara sejuk lereng pegunungan. Ada seseorang yang sejak tadi melihat Shanum dari kejauhan. Sayanganya orang itu sedang buru-buru pergi, jadi tidak bisa menghampiri Shanum. Tapi orang itu juga tidak yakin kalau itu adalah Shanum.


Beberapa menit jalan-jalan di sekitar rumah, Shanum akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. namun langkahnya terhenti saat baru saja memasuki halaman luas rumah kakeknya. Karena di sana sudah terparkir mobil yang tidak asing lagi bagi Shanum.


“Ayah, Bunda?” Shanum terkejut saat memasuki rumah sudah ada kedua orang tuanya di sana.


“Sayang, maaf Ayah bdan Bunda baru bisa datang. bagaimana kabar kamu, Nak?” tanya Bunda Rosma memeluk erat Shanum mencurahkan kerinduannya yang mendalam.


Perasaan seorang ibu sangat peka. Entah kenapa saat baru saja melihat putrinya datang, wanita paruh baya itu seolah tahu kalau Shanum sedang mempunyai masalah yang dipendam sendirian.


Shanum membalas pelukan bundanya dengan erat sambil terisak. namun itu ia maksudkan sebagai pelampiasan rasa rindunya terhadap kedua orang tuanya yang memang selama ini tidak pernah bertemu. Bukan untuk memberitahu suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


Usai acara peluk-pelukan itu mereka bertiga segera bergabung ke ruang tengah. Di atas meja sudah tersedia minuman dan makanan ringan yang sudah disediakan oleh Bi Asih tadi.


“Ayah dan Bunda datang kok nggak ngasih tahu Shanum dulu sih?” protes Shanum kembali ke mode manjanya.


“Kebetulan hari ini Ayah free, jadi tanpa rencana langsung memutuskan untuk ke sini.” jawab Bunda Rosma.


“Apa kamu yakin akan tinggal di sini, Nak? memangnya bisa melanjutkan karirmu di sini yang pastinya sedikit jauh dari kota.” Tanya Bagas memastikan.

__ADS_1


“Gampanglah Yah urusan itu. nanti kalau Shanum sudah mendapatkan job, biar Shanum ambil mobil yang di rumah saja. lagi pula untuk ke kota besar juga hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.” jawab Shanum meyakinkan kedua orang tuanya.


Ayah dan Bunda Shanum hanya mengangguk saja. lebih ke membiarkan pilihan Shanum seperti apa. Karena Bagas juga menyesal telah memaksa Shanum belajar bisnis, dan justru membuat Shanum seperti kehilangan kebebasannya. Lagipula tinggal di sini juga aman-aman saja.


“Ayah sebenarnya ingin tahu bagaimana sikap Nabil selama kamu belajar bisnis dengannya? Apa dia termasuk CEO yang kejam pada bawahannya, hingga membuat anak Ayah yang cantik ini memutuskan untuk resign?” tanya Bagas tiba-tiba.


Deg


Di saat Shanum bersusah payah melupakan sosok pria yang telah menorehkan banyak luka, kenapa tiba-tiba harus diingatkan lagi. tapi memang kedua orang tuanya tidak tahu menahu tentang masalahnya dengan Nabil. Pantas saja bertanya seperti itu.


“Kak Nabil orangnya baik kok, Yah. Tapi Shanum bosan jika seharian penuh harus duduk manis di kantor. jadi, ya akhirnya Shanum memtuskan untuk resign.” Jawab Shanum dengan tenang.


“Ya sudah nggak apa-apa. Asal anak Bunda ini bahagia, apapun pekerjaan yang kamu pilih akan Bunda dukung.” Sahut Bunda Rosma kemudian.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2