Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 68 ~ Pergi Ke Mall


__ADS_3

Semenjak kehamilan Shanum memasuki trimester ketiga, mendadak sifat Nabil berubah menjadi manja. Padahal Shanum saat itu hanya mengira beberapa hari saja suaminya seperti itu. ternyata tidak.


Meskipun Nabil tidak setiap hari meminta istrinya datang ke kantor untuk membawakan bekal makan siang, namun dia tetap ingin makan masakan istrinya. Terkadang sopir pribadinya lah yang diminta untuk mengantar bekalnya kalau Shanum tidak bisa datang.


Hari ini Shanum berencana akan pergi berbelanja ke mall untuk membeli beberapa perlengkapan untuk menyambut kelahiran sang buah hatinya nanti. semalam dia sudah bilang pada suaminya, dan Nabil juga sanggup mengantarnya. Kebetulan juga hari ini weekend.


“Sayang, bagaimana kalau belanjanya kita tunda besok saja? hari ini aku mendadak ada pekerjaan yang sangat penting.” Ucap Nabil merasa tidak enak pada istrinya.


Shanum terdiam. Sebenarnya dia kecewa. Biasanya Nabil akan memprioritaskan dirinya di atas segalanya. Dan ini pertama kalinya sang suami lebih mementingkan urusan pekerjaannya di saat waktunya untuk keluarga. Sepenting apakah pekerjaan itu. apakah dia sangat egois jika melarang suaminya pergi.


“Tapi aku sudah terlanjur konsentrasi belanjanya sekarang, Mas.” Jawab Shanum.


“Maaf, Sayang. Aku sebenarnya juga tidak ingin mengingkri janjiku. Tapi ini juga pekerjaan mendadak dari Papa dan sangat penting.” Bujuk Nabil.


“Ya sudah nggak apa-apa kamu pergi saja, biar aku belanja sendiri.” Ucap Shanum tak mau mengalah juga.


Nabil menghembiskan nafasnya pelan. Dia tidak menjawab lagi perkataan istrinya. Namun dia mengambil ponselnya entah menghubungi siapa, sepertinya juga Nabil tidak ingin membiarkan Shanum belanja sendiri.


Cukup lama Nabil bicara melalui sambungan telepon dengan wajah serius. Bahkan setelah mengakhiri panggilan itu, wajahnya terlihat banyak beban.


“Gini saja, nanti kamu berangkat dulu diantar oleh sopir. Aku janji akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Setelah itu aku akan menyusul kamu ke mall. Bagaimana?” ucap Nabil memberi solusi.

__ADS_1


Tidak ada pilhan lagi, akhirnya Shanum mengangguk setuju. Mungkin karena efek hormon kehamilannya atau memnag dia sedang ngidam berbelanja. Jadinya dia tidak mau mengalah dan memilih pergi sendiri.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Nabil berangkat lebih dulu ke kantornya. Pria itu tampak buru-buru karena memang sedang ada masalah urgent di perusahaan. Hanya saja ia tidak ingin menceritakan pada istrinya.


Pukul sebelas siang Shanum baru berangkat ke mall dengan diantar oleh sopir. Matanya tampak berbinar saat baru saja memasuki outlet baju dan perlengkapan khusus bayi. Dengan semangat Shanum langsung memilih-milih berbagai macam model pakaian bayi perempuan.


Cukup lama Shanum memilih pakaian untuk calon buah hatinya. Wanita itu sama sekali tidak membutuhkan pendapat siapapun dan yakin dengan pilihannya. Sudah banyak sekali baju yang Shanum beli, hingga tanpa sadar dia sudah menghabiskan waktu yang lumayan banyak.


Shanum melirik jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Tapi tidak ada tanda-tanda suaminya datang ataupun memberi kabar. Akhirnya Shanum memilih untuk mengisi perutnya dulu sambil menunggu kedatangan Nabil.


Banyak sekali paaper bag yang Shanum bawa. Saking banyaknya, tangannya samapi tidak muat untuk menenteng paper bag itu alhasil jatuh berhamburan.


“Nona, anda baik-baik saja?” ucap seseorang yang baru saja datang dan membantu Shanum mengambil sebagian paper bag yang jatuh itu.


Deg


“Tidak perlu!” tolak Shanum saat pria itu akan membantu membawakan paper bag Shanum.


Shanum segera meraih salah satu paper bag’nya dari pria itu dan segera pergi tanpa mengucapkan sesuatu. Sepeninggal Shanum, pria itu tersenyum penuh arti sambil melihat punggung wanita itu yang berjalan semakin jauh.


Shanum kini sudah masuk ke sebuah restaurant. Dia meminta pelayan untuk membuatkan minuman dulu untuk mengusir kegugupannya setelah bertemu pria tadi.

__ADS_1


Shanum meminum segelas jus jeruk dengan sekali tegukan. Rasa cemas yng mendera sejak tadi kini berangsur pulih. Kemudian ia mengirim pesanpada suaminya untuk segera menjemputnya.


Sambil menunggu pesanan makanannya datang, Shanum mencoba untuk mengingat-ingat tentang pria yang sudah dua kali ia temui.


Deg


Jantung Shanum kembali berpacu saat berhasil mengingat siapa pria tadi. mungkin dia lupa namanya. Tapi tidak dengan waktu dan tempat dimana ia perna bertemu. Pria itu dulu pernah menjadi salah satu rekan bisnis Nabil saat ia masih menjadi asistennya waktu itu. bahkan Shanum bisa mengingat dengan jelas kalau berawal dari ucapan pria itulah yang akhirnya membawa dampak buruk baginya karena Nabil terbakar oleh api cemburu.


Tapi kenapa pra tadi bersikap biasa saja seperti tidak mengenalinya. Padahal waktu itu sangat jelas kalau pria itu sedang menggodanya. Namun Shanum juga merasa lega kalau pria itu sudah melupakan pertemuan itu.


“Sayang, maaafkan aku terlambat datang!” ucap Nabil yang tiba-tiba datang. sontak saja membuat Shanum terkejut, sampai wanita itu memegangi dadanya.


“Maaf, maaf jika mengagetkanmu.” Ucap Nabil merasa bersalah sambil mengusap-usap lengan istrinya.


“Nggak apa-apa, Mas. Apa kamu sudah makan? Kamu pesanlah, ini aku juga masih menunggu.” Jawab Shanum, kemudian Nabil memanggil pelayan resto untuk menambah menu makanannya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2