Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 78 ~ Pertanda


__ADS_3

Hari pertama tanpa seorang istri yang sangat dicintainya membuat Nabil seperti manusia tak bernyawa. Hatinya kosong. Tatapannya menerawang jauh seolah ingin sekali pergi menyusul Shanum berada sekarang ini.


Lagi-lagi tangisan bayi terdengar menyadarkan lamunan Nabil. tidak. Dia tidak boleh lemah. Ada darah dagingnya yang juga sama seperti dirinya. Sama-sama kehilangan sosok Shanum. Wanita kuat dan penyayang keluarga.


Suasana rumah masih berduka. Semua keluarga dari pihak Nabil maupun Shanum masih ada di kediaman Nabil. beberapa tamu masih datang silih berganti untuk memberikan ucapan belasungkawanya atas meninggalnya istri rekan bisnis mereka. Namun Nabil memilih menjauh dari keramaian itu. dia masuk ke dalam kamar, membawa Baby Queen yang mulai mereda tangisnya.


Nabil memeluk erat anaknya. menciumnya, menyalurkan kekuatan. Meskipun hatinya begitu rapuh, ia harus tetap menjadi ayah terhebat bagi anak semata wayangnya itu.


Nabil mengambil selembar baju mendiang istrinya, lalu menidurkan Baby Queen yang mulai meredup matanya. ia menyelimutkan baju milik Shanum ke tubuh Baby Queen. Setidaknya dengan cara seperti itu, mungkin Baby Queen merasa lebih baik. Merasa kalau Mamanya lah yang sedang membuai dalam tidurnya.


Semalaman Nabil tidak bisa memejamkan matanya. ia terjaga takut jika Baby Queen terbangun dan kembali menangis. Meskipun Mama dan Bundanya sudah menawarkan diri untuk menjaga cucu mereka, namun Nabil menolaknya.


“Sayang, bagaimana malam pertamamu di sana tanpa aku? apa kamu kesepian di sana?” Tanya Nabil dengan tatapan menengadah ke arah langit.


Saat ini Nabil sedang berdiri di balkon kamarnya. Menatap langit malam ini yang sama sekali tak menampakkan bulan maupun bintang di sana. Bahkan langit seolah tahu betapa kesepiannya jiwa Nabil malam ini tanpa hadirnya sang kekasih hatinya.


Tak berselang lama, tetesan air langit turun membasahi bumi. Nabil membiarkan tubuhnya terkena hempasan air hujan yang mulai deras itu. pria itu semakin deras mengalirkan air matanya. berharap seisi dunia ini tahu kalau dia tidak sanggup kehilangan wanita berharga seperti Shanum.


***


Hari berganti hari. Suasana hati Nabil masih sama. Hampa. Ini adalah hari ke tujuh kematian Shanum. Pria itu masih betah di rumah menemani sang buah hatinya yang tentunya masih membutuhkan pelukannya. Nabil juga tidak tega meninggalkan Baby Queen.

__ADS_1


Untuk sementara waktu Barra meminta Nabila dan suaminya lah yang memegang perusahaan. Dia juga akan ikut membantu, meskipun tidak seaktif dulu. Pria paruh baya itu sangat mengerti bagaimana suasana hati anak laki-lakinya saat ini.


Dan hari ini juga kedua orang tua Shanum memutuskan untuk pulang setelah seminggu berada di rumah Nabil. ada rasa tak rela di hati Rosma saat akan pergi meninggalkan cucunya. Namun Bagas mengingatkan kalau cucunya lebih membutuhkan Papanya daripada dirinya yang hanya kakek dan neneknya. Akhirnya Rosma mengerti. Dia juga berjanji akan sering berkunjung untuk melihat keadaan cucunya.


Nabil memaksakan senyum saat mengatar kepulangan mertuanya. ia berusaha baik-baik saja di depan mereka.


“Nak Nabil baik-baik ya? Bunda akan tetap menyayangi kamu seperti Bunda menyayangi Shanum.” Ucap Rosma menarik Nabil ke dalam pelukannya.


“Terima kasih, Bunda!” jawab Nabil singkat.


Setelah kepulangan mertuanya, Nabil beranjak ke kamarnya untuk menemui sang buah hati. Beruntungnya Baby Queen perlahan mau minum susu formula, karena stok ASI-nya sudah habis.


Carissa dan Barra memutuskan untuk tinggal di rumah Nabil. semua itu karena demi cucu mereka. Bagaimana pun juga mereka tidak akan tega membiarkan Nabil seorang diri merawat bayi yang masih belum genap dua bulan. Meskipun ada pembantu, tetap saja mereka tidak tega. Terutama pada Nabil. membiarkan anak laki-lakinya sendiri setelah ditinggal pergi oleh istrinya, jujur saja membuat pasangan Barra dan Carissa ikut merasakan hancur.


Seketika Nabil mengingat ucapan istrinya dulu tentang jam tangan pemberiannya itu.


“Jam itu tidak akan pernah melupakan pasangannya. Seperti kamu yang tidak akan pernah melupakan aku sebagai pasangan kamu, Mas!”


Lagi lagi airmata Nabil tumpah saat mengingat ucapan Shanum. Apakah ucapan istrinya itu memang pertanda bahwa Shanum akan pergi meninggalkannya? Nabil berjanji dalam hatinya, sampai kapanpun Shanum tidak akan tergantikan. Di dalam hatinya hanya ada Shanum dan Queen. Dua perempuan istimewa hadiah dari Tuhan.


***

__ADS_1


Nabil menguatkan hatinya. Dia tidak boleh terus terpuruk seperti ini. mau sesedih apapun dan meratapi kepergian Shanum dengan cara apapun, tetap saja wanitanya tidak akan kembali.


Nabil hari ini sudah mau kembali ke kantor. dia menitipkan anaknya pada sang Mama yang kini tinggal bersamanya.


“Ma, Nabil berangkat dulu. Nanti kalau ada apa-apa dengan Queen, Mama hubungi Nabil saja.” pamit Nabil pada Mamanya.


“Tenang saja. kamu jangan khawatir! Hati-hati di jalan.” Jawab Carissa mengulas senyum tipis pada Nabil.


Selepas kepergian Nabil ke kantor, air mata Carissa tidak bisa ditahan lagi. hati ibu mana yang kuat melihat anaknya yang sedang menguatkan hatinya saat ditinggal pasangannya untuk selamanya. Bohong jika selama ini Carissa tampak baik-baik saja dan selalu memberikan semangat pada anaknya. pada dasarnya wanita itu hatinya lemah, walau dari luar terlihat baik-baik saja.


Sementara itu Nabil yang baru saja sampai kantor, dia lagsung masuk ke dalam ruangannya. Beberapa karyawan berpapasan dengannya menunduk hormat pada Nabil, namun pria itu seolah berjalan dengan tatapan kosong.


“Permisi, Tuan. Ada tamu yang sejak tadi menunggu anda.” Ucap sekretaris Nabil.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2