
Nabil kini sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia hanya memakai handuk sebatas pinggang karena masih malas berganti pakaian. Nafasnya juga masih memburu saat baru saja menyelesaikan pelepasannya yang kedua kali di dalam kamar mandi tadi.
Nabil meraih ponselnya untuk memesan makanan. Perutnya terasa lapar setelah bergulat seorang diri di dalam kamar mandi yang cukup membuang tenaganya. Tapi percayalah, permaiannya hari ini sangat memuaskan. Padahal hanya membayangkannya saja. bagaimana kalau bermain langsung dengan orangnya.
“Tidak mungkin. Dia masih sepupuku. Bisa dicincang Papa dan Om Bagas kalau sampai aku kelepasan.” Gumam Nabil sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian ia mencari pakaian ganti, karena sebentar lagi pesanan makanannya datang. dengan penampilan yang lebih segar, Nabil keluar rumah untuk mengambil makanan yang diantar oleh kurir berbaju orange. Siapa sangka ternyata Shanum juga memesan makanan dan diantar oleh kurir yang sama.
Shanum hanya mengangguk samar dan tersenyum pada Nabil. Sedangkan Nabil hanya bersikap acuh walau sangat terpesona dengan kecantikan Shanum saat ini.
Usai mengambil pesanan makanan masing-masing, mereka berdua masuk ke rumahnya sendiri-sendiri dan menikmatinya seorang diri.
***
Sudah seminggu Shanum bekerja dengan Nabil. Setelah kedatangan Laura saat itu, sampai sekarang Shanum sudah tidak pernah lagi melihat wanita itu. dia tidak tahu kalau Nabil sudah berpesan pada satpam agar tidak membiarkan Laura masuk ke kantornya lagi.
“Num, buatkan aku kopi hitam sekarang!” perintah Nabil tanpa melihat Shanum.
“Baik, Tuan.” Jawab Shanum dengan sopan.
Shanum kini sudah terbiasa membuatkan minuman untuk Nabil. Apalagi hanya kopi hitam. Dia sangat bisa, karena sudah terbiasa membuatkan kopi untuk kakaknya dulu sewaktu masih tinggal bersama keluarganya.
Shanum memasuki pantry. Ternyata di sana juga ada Kevin yang sedang membuat minuman juga. Shanum mengangguk ramah pada Kevin yang tengah mengaduk kopi.
__ADS_1
“Kamu juga ngopi, Num?” tanya Kevin basa-basi, karena baru kali ini ia melihat Shanum membuat kopi di pantry.
“Tidak. Aku hanya membuatkan Tuan Nabil.” Jawab Shanum sembari menakar kopi dan gula ke dalam cangkir.
“Wah, boleh dong sekali-kali buatin aku, Num?” seloroh Kevin mencoba akrab dengan Shanum.
Sedangkan Shanum hanya menanggapinya sengan senyuman. Lalu ia menuangkan air panas ke dalam cangkir. Dan Kevin juga masih berada di sana walau pria itu sudah selesai membuat kopi.
“Ehm, kapan-kapan bisa ngopi bareng nggak, Num? kali aja saat weekend.”
Shanum yang merasa tidak keberatan hanya mengangguk. Karena ia juga tidak punya teman di sini. seminggu ini ia menghabiskan waktu hanya di rumah. paling jauh pergi ke minimarket untuk belanja. Jika membutuhkan sesuatu yang tidak tersedia di minimarket, ia akan membelinya secara online.
“Boleh bagi kontak ponsel kamu?” Kevin menyodorkan ponselnya pada Shanum.
“Terima kasih. Nanti aku hubungi kapan kamu punya waktu untuk hangout.” Ucap Kevin dnegan wajah sumringah.
Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan oleh suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam pantry. Ternyata dia adalah Nabil. Sejak tadi Nabil menunggu kopi buatan Shanum namun tak kunjung kembali. Karena penasaran, Nabil sampai masuk ke pantry untuk melihat apakah Shanum masih berada di sana. Dan ternyata Shanum malah asyik ngobrol dengan Kevin.
“Kamu ingat dengan perintahku? Berani kamu mencuri waktu di saat jam kerja malah bersantai seperti ini. dasar murahann!” ucap Nabil lalu pergi meninggalkan pantry.
“Tuan, maaf. Tadi saya tidak sengaja bertemu dengan Shanum di sini.” Kevin berlari mengejar Nabil untuk memberi penjelasan. Karena jujur saja ia tidak terima saat mendengar bosnya menyebut Shanum dengan kata murahan.
“Kembali ke ruanganmu!” ucap Nabil tanpa melihat Kevin.
__ADS_1
Kini Nabil sudah kembali masuk ke ruangannya. Tak lama kemudian disusul oleh Shanum dengan membawa secangkir kopi pesanan Nabil.
“Kamu tahu kan kalau di sini pekerjaan kamu sebagai asistenku? Aku tidak mau lagi melihat kamu berduaan dengan pria manapun saat jam kerja.” Ucap Nabil masih menunjukkan wajah kesalnya.
Shanum hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun karena masih sakit dengan kata hinaan yang dilontarkan oleh Nabil baru tadi.
Perasaan Shanum sangat sensitif. Jelas saja ia tidak terima dengan sebutan yang diberikan oleh Nabil tadi. padahal dia tidak melakukan apa-apa dengan Kevin. Mau protes juga sepertinya tidak mungkin, karena memang sifat Nabil yang sudah seperti itu.
Setelah duduk sebentar di kursinya, Shanum beranjak keluar dan hendak ke toilet. Hatinya mendadak mellow dan tidak ingin melihat wajah Nabil lebih lama. Takutnya ia tidak bisa menahan air matanya lagi jika terus berhadapan dengan bos arogan seperti Nabil.
“Mau kemana lagi kamu? Mau berduaan lagi dengan Kevin?” tanya Nabil dengan suara datar menghentikan langkah Shanum yang akan membuka pintu.
“Saya ijin ke toilet, Pak!” jawab Shanum dengan suara lirih nyaris tak terdengar karena menahan tangis.
“Kembali ke tempat dudukmu! Kamu bisa menggunakan toilet di dalam ruangan ini.” titah Nabil tanpa melihat bagaimana wajah Shanum saat ini yang sudah tampak mendung.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️