
Nabil sedikit kecewa saat membaca pesan yang baru saja dikirim oleh kliennya yang tak lain adalah Vincent. Tapi, ya sudahlah. Dia tetap harus melihat sendiri bagaimana proses pembangunan mall itu. nanti dia bisa berkomunikasi langsung dengan Vincent di lain waktu.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, kini Nabil sudah tiba di lokasi pembangunan mall barunya. Dia segera turun dan langsung disambut oleh seorang pria yang mengaku asisten Vincent.
Nabil berjalan melihat proses pembangungn mall itu. di sana banyak pekerja yang bisa Nabil tanyai langsung dan mengecek sendiri kualitas bahan bangunan yang dipakai. Nabil cukup puas, karena memang Vincent bukan pengusaha sembarangan. Meskipun awalnya Nabil tidak suka dengan perangai pria itu yang cenderung mata keranjang.
Cukup lama Nabil berjalan mengitari proyek pembangunan itu. tentunya dengan ditemani oleh asisten Vincent. Kini Nabil istirahat sejenak karena merasa lelah dan kepanasan.
Nabil mengambil tempat duduk seorang diri tak jauh dari beberapa pekerja yang sedang bekerja. Dia membaca beberapa lembar dokumen yang diberikan oleh asisten Vincent tadi.
“Apa Tuan Vincent tidak datang lagi hari ini?”
“Tidak. Aku tadi hanya melihat asistennya saja.”
“Mungkin Tuan Vincent sedang ke rumah sakit jiwa. Aku dengar keadaan adiknya semakin parah.”
“Kasihan sekali. Ruby gila juga akibat ulahnya sendiri.”
Nabil dengan jelas menangkap dengar dua orang pria yang sedang membicarakan Vincent. Dia tidak tahu siapa dua orang pria itu, namun yang pasti sepertinya dekat dengan Vincent. Tapi Nabil juga tidak ingin tahu terlalu dalam masalah kliennya itu.
Setelah istirahat sejenak, Nabil kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia menemui asisten Vincent untuk membahas sedikit kekurangan dari dokumen yang dibawanya sekarang.
Drt drt drt
Nabil mengabaikan suara getaran ponselnya dalam saku jasnya. Karena dia masih sibuk bicara dengan asisten Vincent. Dia pikir itu panggilan tidak terlalu penting. Namun ponselnya kembali berhetar untuk yang ketiga kalianya.
“Saya permisi sebentar untuk menerima panggilan!” pamit Nabil menjauh dari asisten Vincent.
“Iya, Pa? ada apa?” tanya Nabil yang saat ini sedang melakukan panggilan dengan Papanya.
__ADS_1
“…..”
“Nabil sedang meninjau proyek di kota X”
“…..”
“Apa? Shanum?”
Seketika tubuh Nabil lemas dan ponselnya terjatuh begitu saja saat mendengar kabar dari Papanya kalau istrinya baru saja mengalami kecelakaan. Nabil juga tidak sempat mendengar kelanjutan ucapan Papanya, karena dia sudah terlanjur shock dengan kabar itu.
Nabil mengambil ponselnya yang tadi terjatuh. Setelah itu dia berpamitan pada asisten Vincent.
Sepanjang perjalanan, Nabil terus memikirkan keadaan istrinya. Bagaimana bisa Shanum mengalami kecelakaan. Dia hanya berharap keadaan istrinya baik-baik saja.
“Pak, bisa lebih cepat sedikit nggak bawa mobilnya?” tanya Nabil pada sopir pribadinya.
“Maaf, Tuan. Di depan juga sedang macet.” Jawab pria paruh baya yang sedang memegang kemudi itu.
Setelah melewati kemacetan jalanan, kini Nabil sudah merasa sedikit lega karena beberapa saat lagi akan tiba di rumah sakit.
Nabil berlari masuk, setelah sopirnya baru saja sampai parkiran rumah sakit. Belum juga Nabil bertanya pada resepsionis tentang keberadaan kamar istrinya, Barra sudah berdiri menyambut kedatangan anaknya.
“Nabil!” panggil Barra dengan suara lemah dan raut wajah yang sudah pucat pasi.
“Papa! Istriku dirawat di kamar apa nomor berapa? Bagaimana bisa Shanum mengalami kecelakaan, Pa?” tanya Nabil bertubi-tubi.
“Kamu yang sabar ya, Nak!” Barra memeluk putranya dengan menahan tangis.
Nabil tidak mengerti apa arti ucapan Papanya baru saja. dia hanya ingin berpikiran positif kalau istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
“Aku ingin lihat keadaan istriku, Pa! dimana kamarnya?” Nabil berjalan menarik tangan Papanya agar mengantar ke ruangan istrinya.
Barra belum siap mengatakan yang sesungguhnya. dia tidak sanggup melihat kesedihan anaknya kalau tahu kenyataan yang terjadi.
Nabil terus menarik tangan Papanya. Barra akhirnya menuntun Nabil menuju ruangan dimana saat ini mantan menantunya berada. Bukan di ruang rawat inap ataupun ruang operasi. Melainkan di kamar jenazah.
“Pa! aku ingin bertemu dengan istriku? kenapa Papa menuntunku ke sini? Apa yang terjadi Pa?” ucap Nabil setengah berteriak tak terima saat Papanya berhenti tepat di depan kamar jenazah.
“Nak, kamu yang sabar! Ikhlaskan Shanum pergi!” Barra tidak kuat menahan tangisnya. Pria itu tergugu sambil memeluk tubuh Nabil yang kini sudah bergetar hebat.
“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin, Pa! Shanum!!!!”
Nabil masuk ke dalam kamar jenazah untuk memastikan sendiri kalau yang ada di dalam kamar itu bukan istrinya. Dia membuka satu brankar dimana seseorang berbaring di sana dan tubuhnya tertutup kain putih.
Wajah itu. wajah yang pucat, dengan mata tertutup rapat. Wajah yang sangat cantik yang selalu mengisi hari-hari Nabil kini sedang terbujur kaku tak bernafas di atas brankar.
“Shanum!! Istriku!! kenapa kamu meninggalkanku????” teriak Nabil sembari memukul-mukulkan tangannya pada lantai.
Dunia Nabil benar-benar hancur. Ini seperti mimpi buruk sepanjang sejarah hidupnya. Wanita yang dicintainya sepenuh hati telah tega meninggalkan dirinya bersama seorang bayi cantik yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Ya, Shanum meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal yang terjadi beberapa saat lalu.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!😭😭😭😭
__ADS_1