
“Tidurlah! Lusa aku akan membawamu periksa kandungan. Aku ingin tahu keadaannya.” Ucap Nabil dengan menatap intens mata istrinya.
Shanum salah tingkah mendapat tatapan seperti itu dari suaminya. dia akhirnya mengangguk samar dan segera merebahkan tubuhnya dengan menarik selimut sebatas dadanya. Memejamkan mata mencoba agar kantuk segera datang. ini adalah posisi yang paling mendebarkan buat Shanum dan juga Nabil. hanya saja Nabil yang pembawaannya santai, tidak terlalu kentara jika dia saat ini juga tampak gugup.
Bagaimana tidak gugup. Karena ini adalah kedua kalinya Nabil tidur dengan Shanum, namun dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
Nabil melihat Shanum sudah memejamkan mata dengan posisi terlentang. Dia pun ikut menyusul dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Namun Nabil bisa merasakan kalau saat ini istrinya belum tidur sungguhan. Karena saat ini Shanum sedang berbalik badan dan membelakanginya. Wanita itu juga terlihat resah.
Nabil memberanikan diri memeluk Shanum dari belakang. Mengalungkan tangannya tepat pada perut Shanum. Mungkin calon anakanya lah yang membuat Shanum susah tidur.
Dan benar saja. Shanum yang awalnya kaget dan merasa geli saat tangan Nabil memeluknya. Perlahan kantuk menghampirinya. Hingga akhirnya terdengar dengkuran halus dari bibir wanita itu.
“Aku mencintaimu. Maafkan aku yang telah membuatmu terluka.” Gumam Nabil sebelum akhirnya ikut tidur.
***
Keesokan paginya Shanum terjaga lebih dulu. Wanita itu mengucek matanya perlahan sebelum bergerak bangun dari pembaringan. Menyadari posisinya yang sedang menghadap Nabil dengan tangan pria itu masih mendekapnya, dengan pelan Shanum melepaskan pelukan itu. karena dia sudah tidak tahan untuk buang air kecil.
Usai dari kamar mandi, Shanum melihat Nabil masih tidur dengan nyenyak. Dia membuka sedikit korden jendela yang ternyata langit masih tampak gelap. Mau tidur lagi pun sudah tidak bisa.
Shanum menyadari ada keanehan dalam tubuhnya saat ini. semenjak hamil, dia memang sering bangun pagi-pagi buta seperti ini. namun itu karena dia tidak tahan dengan rasa mual yang menyerangnya. Dan sekarang, Shanum sama sekali tidak merasakan hal itu.
“Suami kamu itu adalah obat dari morning sickness. Karena anak dalam kandungan kamu ingin selalu dekat dengan ayahnya.”
Shanum teringat dengan ucapan Bundanya saat dia menolak ikut Nabil pulang. dan sekarang kenyataannya seperti ini. Shanum mengulas senyum tipis sambil mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
“Kenapa kamu sudah bangun? Ini masih sangat pagi.” tanya Nabil saat melihat istrinya tengah berdiri di tepi jendela kamar.
Nabil yang tanpa sengaja merasa pelukannya kosong, akhirnya bangun untuk mencari istrinya. Dia khawatir kalau Shanum pergi karena merasa tidak nyaman. Setelah itu dia melihat istrinya sudah bangun dan sedang berdiri di tepi jendela.
“Ehm, aku tidak bisa tidur lagi setelah bangun tadi.” Jawab Shanum menoleh sekilas pada Nabil yang masih bermuka bantal.
Nabil juga ikut bangun dan menghampiri Shanum. Pria itu khawatir jika istrinya akan mengalami morning sickness seperti yang diceritakan oleh ibu mertuanya.
“Apa kamu mual-mual lagi? biar aku minta Bibi buat minuman hangat.” Tanya Nabil dengan cemas.
“Tidak. Aku baik-baik saja. tadi karena tidaj tahan buang air kecil, jadinya bangun lebih dulu.” Jawab Shanum.
Akhirnya Nabil juga tidak bisa tidur lagi. pria itu ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu menghampiri Shanum yang kini sudah membuka pintu balkon kamarnya.
Sepasang pengantin baru yang mulai hangat itu kini sedang berada di dapur. Shanum duduk tak jauh dari suaminya yang tengah membuatkan susu. Shanum teringat dengan sikap datar Nabil saat dulu masih ikut bekerja dengannya. dan sikap itu berbanding terbalik dengan sekarang, dimana Nabil begitu perhatian dengannya.
“Minumlah, mumpung masih hangat!” Ucap Nabil ikut duduk berhadapan dengan istrinya.
Shanum menghabiskan susu khusus ibu hamil itu dengan sekali tegukan. Jarang sekali dia pagi-pagi seperti ini minum susu. Karena setiap pagi jika drama mualnya datang, untuk makan ataupun minum saja Shanum sangat malas.
Usai menghabiskan susunya, Nabil mengajak istrinya keluar rumah menuju halaman belakang. Jalan-jalan di pagi hari khususnya buat ibu hamil memanglah sangat bagus untuk kesehatan dan memperlancar peredaran darah. Nabil jelas tahu tentang hal itu, karena dulu dia pernah melihat Nabila seperti itu saat sedang hamil.
Nabil dan Shanum jalan-jalan di halaman rumah yang cukup luas itu. keduanya jalan berdampingan. Shanum yang cenderung diam perlahan mulai bisa membuang kecanggungannya karena Nabil yang lebih aktif mengajaknya bicara.
Bagi Nabil, jika Shanum sudah memberi kesempatan untuk menebus kesalahannya, pria itu sama sekali tidak ingin mengingat kejadian pahit itu. apalagi sifat Nabil yang mudah bergaul dan pandai membawa diri membuat Shanum juga lama-lama merasa nyaman.
__ADS_1
“Kamu duduk dulu di sini, pasti capek bukan?”
“Nggak. Mumpung kondisi badanku baik-baik saja, aku ingin jalan-jalan lagi.”
“Jangan dipaksakan. Nanti kamu capek. Aku sangat yakin kalau selama kamu tinggal bersamaku, aku jamin kamu tidak akan mengalami morning sickness lagi dan kamu bisa bebas jalan-jalan pagi seperti ini setiap hari.” Ucap Nabil dengan tersenyum hangat.
“Aku juga nggak tahu kenapa bisa seperti ini. tapi aku juga sangat bersyukur.”
“Kamu tahu nggak alasannya?” tanya Nabil dan Shanum menggelengkan kepalanya.
“Karena dia senang dekat dengan Papanya.” Jawab Nabil sambil mengusap perut Shanum.
.
.
.
*TBC
Happy Mother's Day😚🤗
Selamat hari ibu buat para emak pembaca karya othor ini ya🤗🤗😗😗
Semoga tetap strong jiwa dan raganya dalam membentuk anak-anak yg hebat dan berkarakter🤗😗
__ADS_1