
Shanum jelas lebih kesal dengan ucapan suaminya. namun wanita itu memilih diam dan keluar dari kamar.
Shanum masuk ke dapur dengan menggendong Queen. Kebetulan Bi Murti juga terbangun, akhirnya wanita itu membantu Shanum untuk mengambilkan makanan.
“Terima kasih, Bi. Bibi boleh kembali istirahat.” Ucap Shanum.
“Biar Non Queen sama saya saja, Nyonya.” Ucap Bi Murti yang merasa kasihan dengan majikannya.
Dengan pelan Shanum memindahkan tubuh Queen ke tangan Bi Murti. Dan bayi itu tidak menangis lagi. masih tidur dengan nyenyak. Shanum pun segera mengisi perutnya dengan cepat sebelum anaknya terbangun dan menangis lagi.
Setelah menyelesaikan makan singkatnya, Shanum memilih tidur di kamar tamu daripada kamarnya sendiri. Mungkin dia masih kesal dengan suaminya, atau takut nanti Queen terbangun lagi.
Keesokan paginya Nabil terbangun dari tidurnya tanpa melihat dua perempuan yang sangat dia cintai di dalam kamarnya. Bantal di sofa yang ia siapkan untuk Shanum juga masih berada di tempat yang sama.
Nabil segera keluar kamar, mungkin istrinya sudah bangun dan kini sedang bersama Queen tentunya. Namun saat keluar kamar, dia tidak melihat siapa-siapa. Akhirnya dia masuk ke dapur dna bertanya pada Bi Murti.
“Bi, tahu istri dan anakku dimana?”
“Di kamar tamu, Tuan. Semalam habis makan, Nyonya meminta saya untuk disiapkan kamar tamunya karena takut Non Queen nangis lagi kalau masuk ke kamar.” jawab Bi Murti lalu melanjutkan masaknya lagi.
Nabil langsung menuju kamar tamu. Dia membuka pelan pintu yang tidak dikunci itu. di sana tampak sang istri yang sedang tidur sangat tidak nyaman karena Queen masih berada dalam gendongannya. Dan jangan lupakan kantung mata hitam Shanum yang terlihat cukup jelas. Seketika itu Nabil merasa sangat bersalah.
__ADS_1
“Sayang, bangun!” Nabil membangunkan istrinya dengan pelan.
Tangan Shanum terasa sangat pegal. Dia hanya mengerjapkan matanya tanpa bergerak sama sekali. Ada sorot mata kecewa saat melihat sang suami sudah berada di hadapannya. Kemudian ia melirik Queen dan menempelkan punggung tangannya pada kening Queen. Demamnya sudah turun.
“Sayang, maafkan aku tentang semalam.” Ucap Nabil saat melihat istrinya masih diam.
Tanpa menjawab, Shanum bergegas bangun dan menuju kamarnya. Dia akan memandikan Queen dulu, karena bayi itu juga baru saja bangun. Sedangkan Nabil ikut mengekori istrinya dari belakang.
Untuk menebus kesalahannya semalam, Nabil dengan sigap menyiapkan air hangat untuk anaknya mandi sekaligus mengambil baju gantinya. Shanum masih diam membiarkan suaminyaberbuat sesuka hatinya. Apalagi saat ini kepalanya sangat pusing karena kurang tidur.
Selesai memandikan Queen, Nabil mengambil alih bayi itu dari gendongan istrinya. Queen juga tidak lagi menangis seperti kemarin. Kemudian Shanum ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
“Sayang, hari ini aku ada meeting penting. Mungkin nanti aku pulangnya agak terlambat dari biasanya. Nggak apa-apa, kan?” ucap Nabil saat dia baru saja keluar dari kamar menuju meja makan bersama Shanum.
“Nggak apa-apa, Mas. Itu memang sudah tugas kamu. Aku bisa menjaga Queen sendiri. Lagi pula ada Bi Murti juga. jadi nggak perlu khawatir.” Jawab Shanum.
Nabil tersenyum lega mendengarnya. Pria itu berjalan sambil sibuk memakai jam tangannya yang baru. Lebih tepatnya jam hadiah pemberian sang istri. Sebenarnya jam tangan itu couple. Tapi sayangnya Shanum tidak memakainya karena sedang di rumah.
Jam tangan itu juga satu-satunya hadiah yang baru pertama kalinya Nabil terima dari orang yang ia cintai. Meskipun kedua orang tuanya dan juga saudara kembarnya memberikan hadiah, tetap saja hadiah dari sang istri adalah hadiah teristimewa.
“Segitu sukanya sama jam tangan itu, Mas?” Tanya Shanum saat mereka sudah duduk di ruang makan.
__ADS_1
“Iya, dong. Kan dari istri tercinta. Andai saja kamu setiap hari ikut memakainya, Sayang. Pasti kita akan terlihat semakin romantis.” Seloroh Nabil sedikit lebay.
“Kamu ini ada-ada saja. tanpa aku memakai jam pasangan itu, tentunya kamu sudah tahu kalau dia memiliki pasangan. Tak perlu diumbar-umbar, dia pasti tahu siapa pasangannya.” Ucap Shanum dengan nada serius.
“Dan satu lagi, jam itu tidak akan pernah melupakan pasangannya. Seperti kamu yang tidak akan pernah melupakan aku sebagai pasangan kamu, Mas.” Tambahnya, lalu mengambilkan nasi untuk Nabil.
Nabil hanya diam dan tersenyum mencerna ucapan istrinya yang begitu dalam. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri, sampai kapan pun akan menjadikan Shanum sebagai ratu dalam hidupnya. Baik di kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang.
Usai sarapan, Shanum mengantar suaminya sampai depan rumah. namun kali ini dia mengantar Nabil sampai mobilnya keluar dari halaman rumah.
Shanum melambaikan tangannya seraya tersenyum hangat pada sang suami. namun saat Shanum hendak berbalik badan masuk kembali ke rumah, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang mengikuti laju mobil suaminya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1