Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 69 ~ Bahagia Yang Luar Biasa


__ADS_3

“Bagaimana keadaan dia selama seminggu ini?” tanya seorang pria melalui sambungan telepon.


Pria itu mendengar dengan seksama atas penjelasan dari seseoraang dari balik sambungan teleponnya. Wajahnya tampak sangat bersedih, entah apa yang dikatakan oleh orang suruhannya yang bertugas memantau keadaan seseorang.


Pria itu mengakhiri panggilannya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Tangannya terkepal kuat saat mendengar kabar terkini tentang adik perempuannya sekaligus keluarga satu-satunya yang dia miliki keadaannya semakin memburuk di sebuah rumah sakit jiwa.


“Tunggu waktunya datang! kamu harus membayar semuanya.” Gumam Vincent penuh amarah.


Vincent tidak akan pernah menyangka kalau Ruby, adik satu-satunya yang sebelumnya telah mendekam di dalam penjara karena sebuah kasus yang menimpanya. Dan harusnya Ruby sudah keluar dari penjara beberapa bulan yang lalu, namun dia dikejutkan dengan kabar adiknya itu mengalami gangguan jiwa.


Memang selama Ruby menjalani hukuman, Vincent hanya beberapa kali saja menjenguknya. Hal itu dikarenakan dia yang sangat sibuk menjalankan bisnis peninggalan orang tuanya dan sering bepergian keluar kota.


Menurut kepala lapas, selama menjalani masa hukumannya, Ruby sudah menunjukkan tanda-tanda mengalami gangguan jiwa. Pantas saja itu terjadi padanya, karena sebelumnya wanita itu pernah menduduki posisi sebagai seorang model yang tengah naik daun. Dan di puncak kepopularitasnya justru ia mendapatkan masalah besar dari ulahnya sendiri. Namun Ruby menganggap kalau kesalahan yang dia perbuat masih ada campur tangan dengan sesama rekan modelnya, yaitu Shanum.


***


Usia kandungan Shanum sudah menginjak sembilan bulan. Perutnya juga semakin membesar. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Shanum diperkirakan akan melahirkan sekitar satu atau dua minggu lagi.


Hari ini adalah hari terkahir Shanum memeriksakan kehamilannya sebelum menjalani masa persalinannya. Nabil sebagai suami siaga pun ikut cemas melihat istrinya yang sering mengeluh kelelahan.


Kebetulan jadwa pemeriksaan kandungan Shanum masih jam dua siang nanti. Nabil juga masih berada di kantornya. Pria itu berencana akan pulang saat jam makan siang, sekaligus berangkat ke rumah sakit.


Saat ini Shanum sedang berada di meja makan untuk menyiapkan makan siang suaminya. sebenarnya kepala Shanum terasa pusing sejak tadi pagi. hanya saja dia tidak ingin bilang ke suaminya. lagi pula nanti siang ada jadwal ke rumah sakit.


“Nyonya, biar saya saja yang melanjutkan!” ucap Bi Murti yang bisa melihat wajah pucat majikannya.

__ADS_1


“Baiklah, Bi. Aku mau istirahat dulu di kamar. nanti kalau Mas Nabil sudah pulang, bilang saja kalau aku istirahat sebentar.” Jawab Shanum.


“Baik, Nyonya. Nanti akan saya sampaikan.”


Shanum meminum obat penambah darahnya sebelum tidur. Mungkin akan sedikit mengurangi rasa pusingnya. Setkah itu ia tidur.


Belum ada sepuluh menit, Shanum tiba-tiba terbangun karena perutnya terasa mulas-mulas. Rasa yang akhir-akhir ini sering ia alami dan kata dokter itu hanya kontraksi palsu. Tapi kenapa sekarang rasanya beda. Rasa nyeri bercampur mulas itu semakin lama semakin terasa sakit.


Cklek


“Sayang, kamu sudah bangun? Kata Bibi tadi kamu tiduuu,-“


“Mas, ini cairan apa?” tanya Shanum dengan panik saat melihat cairaan bening mengalir dari sela-sela pahanya.


Sepasang suami istri yang masih sama-sama awam itu jelas kebingungan. Namun Nabil segera bergerak cepat menggendong istrinya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


“Bi, ini istriku merasakan sakit perutnya. Ada cairan juga yang keluar.” Jawab Nabil dengan panik.


“Nyonya sebentar lagi melahirkan. Lebih baik cepat dibawa ke rumah sakit. Biar segala sesuatunya saya yang siapkan.” Usul Bi Murti.


Nabil mengangguk setuju, setelah itu dia segera membawa Shanum ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Shanum juga tak henti-hentinya menahan kesakitannya. Nabil yang ikut panik oun tetap berusaha menenangkan istrinya.


“Mas, apa masih lama? Lebih cepat lagi dong!” ucap Shanum sambil meremat lengan suaminya.


“Iya, Sayang. Sabar ya? Sebentar lagi sampai.” Jawab Nabil.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mobil Nabil sudah memasuki area rumah sakit. Pria itu langsung menggendong istrinya, karena terlalu lama jika memanggil petugas rumah sakit membawakan brankar untuk Shanum.


Beruntungnya pihak rumah sakit cepat menangani Shanum dan kini sudah dibawa ke ruang bersalin. Nabil juga ikut masuk menemani istrinya.


“Bu Shanum, pembukaannya sudah lengkap. Sekarang ikuti aba-aba dari saya ya?” ucap dokter kandungan itu.


Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, Shanum mengangguk menuruti perintah dari dokter. sedangkan Nabil yang kini berada di samping istrinya juga ikut memberikan semangat dan doa pada istrinya. Nabil tidak peduli dengan cakaran dari tangan istrinya pada lengannya. Asal istrinya berhasil melahirkan buah hatinya dengan selamat.


Memang proses persalinan tiap orang itu berbeda-beda. Apalagi baaru pertama kalinya melahirkan. Dan dalam kasus persalinan Shanum ini cukup memakan waktu lama, karena ukuran bayinya besar. Tapi Shanum tetap bertekat sebisa mungkin untuk melakukan persalinan normal.


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku yakin kamu wanita sangat hebat. Teruslah berjuang, Sayang!” bisik Nabil tepat di telinga istrinya.


Dengan menarik nafas dalam, Shanum mendorong kuat bayinya. Dan akhirnya, bayi itu lahir ke dunia dengan selamat.


Tangisan bayi perempuan yang begitu keras membuat hati Shanum dan Nabil merasa lega sekaligus bahagia yang luar biasa. Bahkan Nabil sampai menitikan air matanya saat menyaksikan sendiri perjuangan Shanum melahirkan anaknya.


“Aku sangat mencintaimu. Aku janji hanya ada kamu dan anak kita di dalam hati ini. terima kasih, Sayang!” ucap Nabil menggenggam jemari istrinya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2