
Nabil dan Shanum menikmati makanannya tanpa bicara sepatah kata pun. Namun sesekali Nabil melirik istrinya yang tampak sangat lahap makan makanan yang dia pesan.
Usai makan, Nabil langsung mengajak Shanum pulang. pria itu tidak ingin membuat istrinya terlalu lelah. Apalagi setelah parjalanan jauh, ditambah lagi Shanum yang sedang hamil muda.
Sesampainya di rumah, kedatangan Shanum disambut hangat oleh adik iparnya yaitu Nabil. mungkin setelah ini kedua wanita itu akan menjadi sangat akrab layaknya sepasang sahabat. Karena memang jika Nabila sedang ditinggal sang suami ke luar kota untuk perjalanan bisnis, dia selalu kesepian. Meskipun ada anak, tapi dia juga butuh teman untuk diajak berbicara.
Nabila memeluk Shanum bahagia. Saudara kembar Nabil itu memang memutuskan pulang terlebih dulu karena Papanya meminta sang suami mengurus pekerjaan kantor.
“Akhirnya kakak ipar datang juga.” ucap Nabila.
Shanum menanggapinya dengan senyuman. Tak lama setelah itu Nabil mengaja Shanum menaiki lantai dua dimana kamarnya berada. Nabil membawa koper istrinya dengan diikuti oleh Shanum dari belakang.
“Ini kamar kita. Kamu bisa istirahat kalau masih capek. Biarkan baju-baju kamu nanti dimasukkan ke dalam lemari oleh pembantu. Jangan sungkan-sungkan bilang padaku kalau butuh sesuatu. Anggap saja ini kamarmu sendiri dan rumah kamu sendiri.” Tutur Nabil panjang lebar.
Shanum hanya mengangguk. Setelah itu ia membuka kopernya untuk mengambil baju ganti.
“Aku ke ruang kerja dulu di bawah. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan.” Pamit Nabil sengaja membiarkan istrinya beradaptasi dengan kamar barunya.
“Terima kasih.” Ucap Shanum setelah sejak tadi bungkam dan hanya menggunakan Bahasa isyarat.
***
__ADS_1
Malam harinya Shanum sudah duduk di meja makan dengan anggota keluarga barunya. Da sangat bahagia karena kehadirannya diterima hangat oleh keluarga Nabil. namun sanyangnya Nabil belum bergabung di meja makan karena sejak tadi masih berada di ruang kerjanya. Sedangkan Shanum sendiri tidak berani masuk ke sana, takut mengganggu suaminya.
“Ya sudah ayo makan dulu, Nabil sepertinya memang sangat sibuk.” Ucap Barra mengajak semua penghuni meja makan untuk segera makan.
Shanum menikmati makanannya sambil sesekali mencuri pandang adik iparnya yang terlihat sangat romantis dengan suaminya. bahkan Nabila tampak biasa saja mengumbar kemesraannya dengan suami di depan kedua orang tuanya. Meskipun diantara Nabila dan Jo ada sosok balita yang ikut merusuh mengganggu kedua orang tuanya makan.
Begitu juga dengan Barra dan Carissa. Meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi, kedua orang itu juga masih menunjukkan keromatisannya. Carissa dengan sabar memenuhi permintaan suaminya.
Andai saja Shanum tahu tentang masa lalu kedua mertuanya itu. Yang mana kisahnya hampir sama seperti dirinya dan Nabil. hanya saja dulu Barra yang sudah menaruh perasaannya lebih dulu pada sosok Carissa yang tak lain adalah kekasih dari sahabatnya. hingga suatu hari ada kejadian dimana Barra sengaja dijebak oleh mantan kekasihnya dengan diberi minuman yang sudah dicampur dengan perang**sang waktu menghadiri sebuah pesta. Saat itu Barra yang menyadari bahwa dirinya dijebak oleh mantan kekasihnya, akhirnya ia memilih Carissa untuk melampiaskan efek obat itu daripada melakukannya dengan mantannya. (Untuk ingin tahu lebih lanjut kisah Barra dan Carissa, ada di novel pertama author yang berjudul “Mencintai Kekasih Sahabatku”).
Tanpa Shanum sadari, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengisi kursi kosong di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan Nabil. beruntungnya Shanum segera menyadari kehadiran sang suami. sehingga dengan reflek wanita itu meletakkan sendoknya dan mengambilkan makanan untuk Nabil.
“Mau lauk yang mana?” tanya Shanum tanpa menatap mata suaminya.
Perhatian yang ditunjukkan oleh Shanum terhadap suaminya itu tak luput dari pandangan mertuanya. Begitu juga dengan Nabila. Mereka mengulum senyum melihat keromantisan pasangan pengantin baru itu.
Usai makan malam, Shanum memilih masuk ke kamar lebih dulu. Karena suaminya juga sepertinya sibuk dengan Papa mertuanya.
Shanum merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang cukup membuatnya nyaman. Namun entah setelah ini rasanya seperti apa, setelah si pemilik asli kamar akan masuk dan ikut tidur bergabung di sini. tidak mungkin juga Nabil akan tidur di sofa seperti saat di rumahnya kemarin. Bagaimanapun juga Shanum harus berbagi tempat tidur, selayaknya pasangan suami istri.
Shanum mengambil ponselnya untuk menghindari kegelisahannya saat Nabil akan masuk ke kamar sebentar lagi. wanita itu sibuk menscroll akun media sosialnya yang sudah lama tidak ia tengok. Saking fokusnya dengan benda pipih itu, Shanum sampai tidak tahu kalau saat ini Nabil sudah naik ke atas ranjang.
__ADS_1
“Jangan terlalu lama memainkan ponsel sebelum tidur. Tidak baik untuk kesehatan kamu dan anak kita.” Ucap Nabil cukup pelan namun membuat Shanum terkejut.
“Maaf mengejutkanmu.” Nabil merasa sangat bersalah.
“Hmm nggak apa-apa.” Jawab Shanum singkat lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
Setelah itu Shanum bingung mau ngapain lagi. terlebih Nabil masih terus memperhatikannya.
“Apa aku boleh mengusapnya?” Tanya Nabil melirik perut rata istrinya.
Shanum memberikan jawaban dengan anggukan kepala. Tak lama kemudian Nabil mengusap lembut perut istrinya dimana saat ini sedang ada calon buah hatinya.
“Tumbuhlah yang sehat ya, Sayang! Jangan membuat Mama kamu menderita terus.” Ucap Nabil dengan lirih, lalu tanpa Shanum duga suaminya tiba-tiba mengecup perutnya.
“Tidurlah! Lusa aku akan membawamu periksa kandungan. Aku ingin tahu keadaannya.” Ucap Nabil dengan menatap intens mata istrinya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!