
Nabil segera berdiri saat melihat Shanum sudah jatuh pingsan. Pria itu segera mengangkat Shanum dan membawanya pergi ke rumah sakit, karena ia melihat wajah Shanum sangat pucat.
“Bi, tolong bantu saya. Bibi di belakang memangku Shanum, biar saya yang menyetir.” Ucap Nabil pada pembantu Andra.
“Baik, Tuan.” Jawabnya dan dengan sigap membantu Nabil.
Nabil melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Dia merasa sangat bersalah karena telah membuat Shanum pingsan. Lebih tepatnya pingsan setelah melihat kehadirannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Shanum. Apalagi Andra juga mengatakan kalau keadaan Shanum tidak baik-baik saja.
“Apa Shanum selalu seperti ini, Bi?” Tanya Nabil pada pembantu Andra yang saat ini sedang duduk di belakang memangku Shanum yang sedang pingsan.
“Kalau pingsan, baru kali ini, Tuan. Tapi setiap harinya Non Shanum selalu mengalami morning sickness.” Jawab wanita itu.
Morning sickness. Seketika itu Nabil teringat dengan saudara kembarnya yang dulu pernah mengalami hal serupa dengan Shanum, saat sedang hamil. Jadi benar kalau saat ini Shanum sedang mengandung anaknya. walau Andra juga sudah mengatakan, tapi mendengar langsung dari pembantu yang sering menemani Shanum kalau Shanum memang benar-benar hamil, ada rasa bahagia dalam hati Nabil.
Beberapa saat kemudian mobil Nabil sudah tiba di rumah sakit. Pihak rumah sakit cepat tanggap dan membawa Shanum menuju ruang pemeriksaan. Keadaan Shanum sangat lemah. Jadi wanita itu meskipun sudah sadar, tapi matanya sangat sulit terbuka.
Nabil mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan Shanum. Dia sudah tidak sabar ingin tahu kondisi Shanum saat ini.
Cklek
“Dok, bagaimana keadaan pasien?” Tanya Nabil pada seorang dokter wanita yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
“Tekanan darah pasien sangat rendah. Tubuhnya masih lemah. Saya sudah memberikan cairan infus, dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang inap.” Jawab dokter itu.
Nabil melihat dua orang perawat keluar dari ruang pemeriksaan Shanum dengan mendorong brankar Shanum. Dia mengikuti kemana Shanum akan dipindahkan. Terlihat mata Shanum masih terpejam dengan wajah yang pucat pasi.
__ADS_1
Nabil duduk di sebuah kursi di tepi brankar. Tangannya terulur mengusap lembut tangan Shanum. Ingin sekali pria itu memeluk Shanum. Tapi dia masih takut jika akan semakin memperburuk keadaan Shanum. Namun setelah itu tatapan Nabil tertuju pada perut rata Shanum. Dengan tangan gemetar, Nabil memberanikan diri menyentuh perut itu dan mengusapnya lembut.
Entah apa yang digumamkan Nabil saat mengusap perut Shanum. Tiba-tiba saja Shanum yang posisinya maasih memejamkan matanya merasa ada yang aneh dengan perutnya. Lebih ke rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan selama ini. Namun Shanum masih enggan membuka matanya, karena sangat menikmati sentuhan itu.
Nabil menghentikan kegiatan mengusap perut Shanum sebelum wanita itu bangun dan kembali marah saat mengetahui kebaradaanya.
Nabil keluar dan menemui pembantu yang ikut bersamanya tadi. Nabil meminta wanita itu masuk dan menemani Shanum. Sedangkan dia akan menghubungi kedua orang tuanya dan mengatakan tentang kondisi Shanum saat ini.
Hingga malam menjelang, Nabil tidak lagi masuk ke kamar inap Shanum. Dia hanya mengintip wanitanya melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Karena saat ini Shanum sudah bangun dan sedang disuapi oleh pembantunya. Kemudian Nabil kembali menutup pintu itu setelah memastikan keadaan Shanum lebih baik.
“Bi, apa Bibi yang membawa Shanum kesini?” tanya Shanum setelah menghabiskan makanannya.
“Iya, Non. Dibantu Den Andra.” Jawabnya berbohong.
“Apa yang Non rasakan saat ini?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Aku sudah lebih baik, Bi. Tadi aku sempat merasa kalau perutku sangat nyaman. Tidak seperti biasanya. Tapi aku sulit membuka mata.” Ucap Shanum.
***
Malam ini juga kedua orang tua Nabil sudah tiba di kota tempat tinggal Shanum setelah diberitahu oleh Nabil. namun Barra dan Carissa tidak langsung menuju rumah sakit, melainkan datang ke rumah Bagas.
“Ada perlu apa kamu datang ke sini, Bar?” tanya Bagas dengan raut wajah tak ramahnya.
“Gas, aku dan istriku datang ke sini untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat oleh anakku.” Jawab Barra.
__ADS_1
Bagas membuang nafasnya kasar. Sebenarnya dia juga tidak ingin membenci Barra yang sudah menjadi rekan kerjanya sekaligus sepupunya itu. tapi mengingat keadaan Shanum saat ini, apalagi penyebabnya adalah Nabil, pria itu sangat sulit untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi pada anak perempuannya.
“Aku sangat tahu bagaimana perasaan kamu saat melihat anak perempuannya disakiti oleh pria baj***an seperti anakku. Aku bahkan tidak percaya kalau anak kandungku tega berbuat seperti itu.” Ucap Barra benar adanya.
“Jujur, aku juga tidak akan terima jika anak perempuanku diperlakukan seperti itu. mungkin saat itu juga aku akan membunuh pria itu. aku juga tidak ingin membela kesalahan yang Nabil lakukan. Namun saat melihat kesungguhan hatinya mengemis maaf pada aku dan istriku, aku lebih memberikan kesempatan padanya. Dia juga tidak menyerah untuk mencari keberadaan Shanum. Jadi aku mohon padamu, maafkan kesalahan Nabil dan beri dia kesempatan untuk menebus kesalahannya.” Tutur Barra panjang lebar.
Bagas dan istrinya terdiam mendengar ucapan Barra. Memang benar, sebaik-baiknya manusia adalah yang mau memaafkan kesalahan orang lain. Butuh keikhlasan dan hati yang lapang untuk memberikan maaf sekaligus memberi kesempatan buat Nabil untuk memperbaiki kesalahannya.
“Baiklah, aku akan memberikan kesempatan untuk Nabil.” jawab Bagas akhirnya.
“Syukurlah! Terima kasih, Gas! Sekarang Shanum sedang dirawat di rumah sakit setelah bertemu dengan Nabil tadi siang.” Ucap Barra memberitahu.
“Apa??” pekik Rosma terkejut.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1